Taran berjalan tepat di depan lemari kamar yang masih terbuka. Tangannya gemetar saat menyentuh jas dokter Faten yang tergantung rapi di sana. Ia mendekatkan kain itu ke wajahnya, menghirup sisa aroma tubuh suaminya yang masih melekat, sedikit parfum segar, dan bau khas rumah sakit yang selalu menempel di baju Faten. Ia memberikan pelukan terakhir Air matanya tak mampu ia bendung jatuh mengalir, membasahi lengan jas “Maaf,” bisiknya, seperti berbicara pada Faten. “Ini demi Om…demi karir… demi keluarga yang sudah berharap menantu seperti Gladis.” Ia melepaskan sentuhan pada jas dengan hati-hati, tak ingin meninggalkan kerutan. Lalu ia berbalik. Koper kecil sudah tertutup rapat di samping pintu. Cincin kawin perak polos diletakkan di atas laci meja rias bukan di dalam laci, tapi tepat di

