14

1292 Kata

Faten keluar dari kamar dengan menggandeng istrinya dan tangan satu lagi memegang koper serta tas ransel besar yang ia kenakan di pundaknya. Taran yang masih menangis, bahunya bergetar, mata membengkak tak berani melihat ke arah lain selain lantai, napas tak beraturan seperti tersendat-sendat. Adrian sudah berada di mobil dan baru saja memasukkan ranselnya lalu ia duduk di kursi belakang sambil terus mengamati kondisi Taran. Faten dan Taran baru saja menuruni tangga, Ibu Siti tiba-tiba menghadang dari samping, suaranya pecah. “Faten! Kamu mau apa ini? Mau bawa istrimu pergi? Kamu itu anak durhaka kalau ninggalin orang tuamu hanya karena perempuan!” Faten menghela napas, tak menatap ibunya. Tangannya menggenggam tangan Taran makin kuat. “Bu… tolong minggir. Taran butuh waktu untuk tena

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN