PRIA SOMBONG
Mahesa menatap tiga orang yang sekarang sedang berbincang santai itu dengan malas. Jika bisa menolak, tentu saja ia tidak akan pernah menginjakkan kakinya di tempat tersebut.
“Maaf, saya terlambat.” Mahesa sedikit membungkukkan tubuhnya, kemudian duduk di samping kakeknya. “Jadi hal penting apa yang ingin kakek bicarakan? Waktuku tidak banyak.”
Mahesa tidak suka berlama-lama di sana, bersama para kakek-kakek dan satu perempuan dengan penampilan yang tidak menarik sama sekali untuknya.
‘Ck! Tidak tahu sopan santun. Dia, CEO? Sangat meragukan sekali,’ batin Kanaya.
“Baik, kakek akan mengatakannya sekarang dan kakek tidak mau mendengar penolakan darimu!” tegas Wirata.
“Perkenalkan, dia Kanaya Anindita, calon istrimu.” Wirata menyesap minumannya sedikit kemudian melirik cucunya.
‘Apa kakek buta? Bagaimana bisa dia menjodohkan aku dengan wanita seperti dia?’ batin Mahesa.
“Calon istri? Yang benar saja!” Kanaya dan Mahesa mengucapkan kalimat yang sama.
Kein tidak bicara apa-apa, namun ia melayangkan sebuah tatapan penuh tanya pada sang kakek yang sekarang duduk di sampingnya.
“Kakek ingin melihatmu menikah, juga kakek ingin ada pria yang bisa menjagamu jika suatu hari nanti Tuhan memanggil kakek.”
“Ta-tapi Kek—”
Alvaro hanya menggeleng pelan, dia tidak ingin rayuan apa pun dari cucunya. Dia lemah jika Kanaya sudah memohon. Baru saja Kanaya ingin bicara, tiba-tiba Mahesa memotongnya lebih dulu.
“Apa saya bisa bicara berdua saja dengan Nona Kanaya.” Pinta Mahesa pada kedua kakek tersebut, sebenarnya bisa saja ia langsung pergi, namun jabatannya sebagai CEO akan menjadi taruhannya.
Kedua pria itu saling pandang, sampai akhirnya mereka mengangguk bersamaan. Keduanya hanya berdo’a agar cucu mereka menerima perjodohan ini tanpa ada drama apa pun. Wirata yang tahu watak cucunya merasa harus lebih menekan Mahesa agar mau menerima perjodohan ini.
Sementara itu, Mahesa memilih meja kosong yang jauh dari meja kakeknya dan cukup sepi untuk membahas hal sensitif seperti ini.
“Silahkan.” Mahesa bersikap gantle dan menarikkan kursi untuk Kanaya.
“Terima kasih.”
“Saya tidak suka basa-basi! Anda harus menolak perjodohan ini karena saya sudah mempunyai kekasih dan tidak mungkin saya menikah dengan perempuan seperti—” Perkataan Mahesa terhenti, namun sorot matanya jelas menyiratkan apa yang ingin dia ucapkan.
“Apa maksud anda? Memangnya ada yang salah dengan saya?” Kanaya sedikit tersinggung dengan perkataan dan tatapan yang Mahesa berikan.
“Jujur saja, kekasih saya model ternama dan sebentar lagi ia akan go internasional. Sementara anda—?” Mahesa menatap penampilan Kanaya yang sederhana. “Dress yang anda pakai saja hanya seharga alas kaki kekasih saya dan anda berharap saya mau menerima perjodohan ini?” Mahesa menggeleng sambil membuang muka sekilas, di matanya Keinan tetaplah tidak pantas menjadi jodohnya.
“Hah!” Kanaya terperangah, ia terkejut dengan penilaian Mahesa terhadapnya. Bagaimana bisa pria itu menganggap pakaian yang Kanaya kenakan semurah itu?
“Bagaimana anda bisa merendahkan dress yang saya pakai, sedangkan harganya saja pul—“ perkataan terjeda, wajah Kanaya merah padam menahan amarah. Seumur hidup, ini kali pertama Kanaya berhadapan dengan pria sombong dan angkuh seperti Mahesa.
Dari sekian banyak teman pengusaha dan konglomerat yang Kanaya kenal, baru Mahesa yang berani menghinanya seperti ini. Namun Kanaya bukanlah gadis arogan, dia cukup tenang menghadapi Mahesa, bahkan bisa membalikkan keadaan dan membuat Mahesa bungkam.
Kanaya menghela napas dalam. “Siapa Anda sampai bisa menilai saya seperti itu?”
“Jangan terlalu sombong. Dan jangan pernah memandang orang dari penampilan luarnya saja, Tuan Mahesa! Anda berani berkata demikian, bahkan sebelum tahu siapa saya.” Senyum manis di bibir Kanaya lenyap seketika.
“Kekasih anda memang seorang model. Mungkin, ya—seperti yang anda katakan. Tapi apakah anda yakin jika dia lebih baik dari saya?” Mahesa bungkam. Sikap Kanaya yang begitu tenang membuat Mahesa terkejut.
“Dan ya, saya tidak pernah berniat untuk berjodoh dengan pria yang sombongnya selangit. Tapi saya terlalu sayang pada kakek dan tidak mungkin saya menolak keinginannya. Jika anda ingin menolak, silahkan katakan sendiri!” tegas Kanaya.
Mahesa mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. “Saya tidak bisa menolak! Jadi anda harus bisa meyakinkan mereka bahwa kita tidak cocok. Saya tidak suka perempuan seperti anda dan—” Belum selesai Mahesa bicara, Kanaya memotong lebih dulu.
“Semua sudah jelas! Saya tidak bisa menolak, jadi saya permisi, Tuan Mahesa.” Kanaya berdiri dan meninggalkan Mahesa begitu saja tanpa peduli bertapa kesalnya pria itu.
“Bagaimana? Kakek rasa kamu dan Mahesa bisa cocok, kalian terlihat sangat serasi,” bisik Alvaro.
“Kanaya tidak akan menolak ataupun menerima, semua terserah kakek saja. Karena Kanaya tahu, pilihan kakek selalu yang terbaik.” Perkataan Kanaya membuat Al dan Wirata tersenyum bahagia, artinya perjodohan ini akan tetap berlangsung karena Kanaya tidak menolak. Tanpa mereka tahu sekarang Kanaya sedang mengumpat sejadi-jadinya dalam hati.
“Tapi sepertinya Mahesa tidak menyukai Kanaya, Kek.”
“Kamu tenang saja, Mahesa tidak akan pernah menolak semua keputusan kakek.” Wirata tentu saja akan memaksa cucunya untuk menerima perjodohan yang sudah dia atur.
“Aku pergi sekarang, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.” Mahesa menatap geram pada gadis yang terlihat begitu anggun tersebut.
“Makan malam dulu, masih ada hal penting yang ingin kakek sampaikan.” Wirata berusaha menahan cucunya, ia begitu ingin melihat Kanaya dan Mahesa bersama malam ini.
“Jika hal penting itu berkaitan dengan perjodohan ini, maka silahkan kakek urus sendiri!” Tukas Mahesa dengan ekpresi sedingin es. Mahesa berlalu begitu saja, namun suara Wiarat berhasil membawa pria angkuh itu kembali mendekat.
“Kakek akan mengijinkanmu pergi! Tapi bersiaplah, karena dua minggu lagi kamu dan Kanaya akan bertunangan,” ucap Wirata.
“Apa aku tidak salah dengar?” Mahesa memutar kembali tubuhnya dan menatap Wirata. “Ini terlalu—” Rahang Mahesa mengetat, ia menatap Wirata dengan tajam, bahkan Keinan bisa melihat dengan jelas ada permusuhan antara keduanya.
“Setelah kamu bertuangan, dua minggu berikutnya kalian akan melangsungkan pernikahan!” tegas Wirata.
Kanaya yang mendengar itu hanya diam mematung. Bukankah semua yang ia dengar itu terlalu cepat?
‘Kenapa tidak besok saja sekalian,’ Kanaya membatin, ia kesal.
Mahesa tidak mengatakan jika dia setuju, tapi tidak ada pilihan lain. Mahesa akhirnya pergi dalam keadaan marah. Ia tidak tahu jika kakeknya akan mengatur semua dengan begitu cepat, bahkan tanpa meminta persetujuanya sedikitpun.
“Maafkan Mahesa, Al, sejak kematian kedua orang tuanya ia jadi keras kepala dan sering membangkang. Dan kamu juga pasti terkejut, tolong beri dia waktu.” Wirata menatap Kanaya yang hanya diam tanpa ekspresi.
“Tidak masalah, aku tahu sekali pasti semua yang terjadi begitu memukul mentalnya.” Alvaro mengangguk, ia mengerti karena pada kenyataannya kedua orang tua Kanaya pun telah tiada.
Akhirnya hanya mereka bertigalah yang menikmati makan malam, meskipun Kanaya sama sekali tidak berselera, ia diam hanya untuk mengharga kedua kakek tersebut.
***
Selama perjalanan pulang, Kanaya memilih untuk diam dan menyibukkan diri dengan gawainya. Sesekali gadis itu tersenyum seakan perjodohan itu bukan beban untuknya. Kanaya memang tidak menyukai Mahesa, namun ia benci dengan seseorang yang sombong dan suka merendahkan orang lain hanya melihat dari penampilan luarnya saja.
‘Pria seperti dia harus diberi pelajaran! Seenaknya saja dia merendahkan orang, dia pikir dia siapa?’ Kanaya membatin.
Setiabanya di rumah Alvaro, Kanaya memilih untuk masuk ke kamarnya dan membersihkan diri. Sampai tiba saatnya ponselnya berdenting keras.
“Nomor siapa ini?” Karena penasaran, Kanaya membuka aplikasi pesan tersebut dan mengerenyit bingung.
‘Temui saya besok di Hesa Kafe and Resto jam 10 pagi.’
‘Maaf, anda siapa?’
‘MAHESA ADIWIRATA.’