Diana Annora

1404 Kata
"Oh astaga Diana! Kamu itu sekolah, masa iya hitung aja bisa salah!"    Diana meringis. Namanya juga gugup berdiri di depan cowo ganteng. Eh cowo sombong! "Iya maafin Nana Bu, potong aja deh sama uang harian aku gapapa, Nana yang salah." "Emang kamu yang salah sekarang!" Diana menghela napasnya kasar. Bukannya untung malah buntung! Nyesel kan minta tuker uang sama si Mba-mba itu!     Bagaimana tidak menyesal kalau pesanan yang Ia antar tadi seharusnya seharga dua ratus empat puluh lima ribu dan Diana malah berkata kalau semuanya senilai seratus empat puluh lima ribu. Kurang seratus ribu! Astaga! Gajianku dikurang seratus ribu! Huaa. "Kasian deh loh, katanya pinter ngitung tapi itung harga kue aja salah." goda Keke dan memeletkan lidahnya lalu masuk ke dalam dapur. "Ck. Nyebelin dasar!" gumam Diana.     Ponsel yang berada di saku Diana bergetar, dia melihat siapa yang menelponnya. Dan ternyata Mamanya. "Hallo Ma?" "Kamu masih di toko Na?" Diana mengangguk. "Iya Ma, abis Maghrib Nana baru pulang, kenapa?" "Gapapa, Mama mau roti manis Kikan, tolong bawain ya satu aja buat Mama." "Danu enggak?" "Nggak usah, nanti berdua aja sama Mama." "Yaudah nanti Nana bawain ya, aku lanjut kerja dulu ya Ma, Assalamualaikum." "Waalaikumsalam sayang."     Diana mematikan sambungannya dan memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celananya, mengambil satu bungkus kertas lalu memasukkan roti manis dan roti kering masing-masing satu. Mengambil uang yang berada disakunya tiga puluh lima ribu dan memasukkan ke dalam mesin uang. "Harus di pisahin. Yang ada kehabisan kayak kemarin." ucap Diana dengan terkekeh, melihat sekeliling toko belum ada tanda-tanda yang ingin membayar pesanannya, Ia masuk ke dalam dapur dan memasukkan roti itu ke dalam tasnya. "Ibu, Nana beli kue ya dua buat Mama sama Danu." Ibu Kikan mengangguk. "Ambil aja Na, nggak usah bayar." Diana menggeleng. "Nana udah masukin uangnya, dari kemarin-kemarin gratis mulu nanti bangkrut lagi." Adonan kecil terlempar ke wajah gadis itu. "Kalau ngomong nih anak!" ujar Ibu Kikan. Diana mengelap wajah dengan tangannya dan terkekeh "Ibu ih jorok tahu." ucapnya lalu keluar lagi dan berdiri di belakang mesin uang. "Mau pesan Pak?" tanya Diana saat lelaki yang hampir seumuran Mamanya masuk ke dalam toko melihat-lihat beberapa kue. Lelaki itu mengangguk. "Kalau mau pesan kue untuk anniversary wedding bisa?" tanyanya. Diana mengangguk dan tersenyum. "Bisa Pak, bapak mau model seperti apa? Di sini kita bisa buat satu sampai empat tingkat, beragam warna dan beberapa patung wanita dan laki-laki yang kecil lucu it---" "Oke tiga tingkat saja boleh dan saya minta warna putih dan hijau dengan tema garden bisa?" Diana terdiam sebentar lalu mengambil kertas kecil. "Bisa Pak! Saya tulis yaa, kue anniversary wedding tema garden dan berwarna putih, hijau?" Lelaki itu mengangguk membenarkan ucapan Diana. "Atas nama siapa Pak? Oiya Bapak mau yang ada patung wanita da--" "Matthew Belvanno. Boleh ada patung wanita dan laki-laki kalau bisa anak-anaknya juga boleh." ujarnya dengan terkekeh. Diana tertawa. "Si Bapak bisa aja." gumamnya dengan menuliskan nama lelaki tersebut. "Semuanya tujuh ratus dua puluh lima ribu Pak. Untuk kapan Pak?" "Lima hari ke depan apa bisa?" tanyanya dengan memberikan delapan lembar ratusan. Diana mengangguk. "Besok juga bisa Pak, tapi sekarang lagi sibuk buat cookies jadi lima hari ke depan aja ya Pak?" Lelaki yang bernama Matthew itu tertawa kecil. "Iya, nanti anak saya yang akan datang ke sini untuk mengambil kuenya. Sisanya kamu pegang aja." Diana memberikan hormat kepadanya dengan tersenyum senang. "Makasih Pak, Siap Pak laksanakan, terimakasih sudah mau pesan di toko kami."     Lelaki itu tersenyum dan mengangguk lalu berjalan keluar dengan tangan yang dimasukan ke dalam saku celananya. "Papa bentukannya kaya gitu nggak ya kira-kira?" gumam Diana dengan menganggumi lelaki yang tadi berada di depannya dengan menopang dagunya. "Ih kalau emang iya, aku bakalan bawa Papa ke Mal muter-muterin gedung, mau sombong kalau Papa aku ganteng." ucapnya dengan terkekeh dengan berangan-angan. Diana menggelengkan kepalanya. "Mimpi mulu kamu Na." gumamnya sendiri. --- "Pa, Aku lagi kerja, kan ada Mama." "Kan suprise buat Mama! Udah sana kamu sekarang! Sebelum tutup. Papa lupa minta nomer telponnya." "Ck, iya." "Ikhlas! Nggak ikhlas dosa lu sama orangtua!" "Di mana toko kuenya?" "Di jalan Merpati putih, yang rame itu Kak." "Yaudah, Ero jalan." ucap Keyro dengan malas lalu mematikan sambungannya.     Dia menekan tombol yang langsung menyambung ke sekretarisnya, pintu terbuka dan menampakkan sosok wanita yang cantik. "Ada apa Pak?" "Key, kamu ke toko kue gih, Papa pesen kue tapi lupa kasih nama Mama sama Papa. Cuma mesen doang." ujar Keyro menyuruh sekretarisnya yang adalah adiknya sendiri, Keyza. "Ogah. Kakak aja, kerjaan gue banyak banget, lo mau ngerjain emang?" jawab Keyza. Keyro menghela napasnya pelan dan mengangguk, berdiri dan mengambil kunci mobilnya. "Kalau ada tamu bilang saya nggak bisa di ganggu." ucapnya dingin. "Baik Pak." jawab adiknya itu dan berjalan keluar ruangan itu melanjutkan pekerjaannya lagi.     Keyro berjalan menuju lift dan turun ke bawah, dengan sangat terpaksa dia menuruti suruhan orangtuanya itu. Walaupun pekerjaannya di kantor sangat banyak. "Sore Pak." Sapa para karyawan yang melihat bosnya berjalan, namun karena Keyro dalam mood yang tidak baik, dia tidak membalas sapaan itu, tersenyumpun juga tidak.     Masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya ke jalan merpati putih, tidak perlu waktu lama Ia memarkirkan mobilnya di depan toko kue tersebut dan masuk ke dalam toko. "Selamat sor--" Keyro terkekeh melihat pekikan gadis yang berada di belakang mesin kasir. Dia lagi. "Saya Keyro Karl anak dari Matthew Belvanno yang tadi baru saja memesan kue Anniversary Wedding." Gadis itu mengangguk. "Ada apa?" tanyanya. "Ada yang kurang, bisa saya pinjam kertas dan pulpen?"     Gadis itu mengangguk lagi dan memberikan kertas lembar juga pulpen. Keyro menuliskan nama orangtuanya dan memberikan ke Diana. "Matthew Belvanno Leonnard dan Mikaila Barretto Karl." gumam Diana yang sedang membaca kertas itu. "Oh kamu anaknya Bapak ganteng itu." ujar Diana. Keyro menaikkan satu alisnya. Papa dibilang ganteng? Dia belum tahu aja bagaimana kalau Papa lagi di rumah. "Apa ada yang harus dibayar lagi?" tanya Keyro. Diana menggeleng. "Sudah di bayar semua sama Bapak ganteng dan nggak ada lagi yang harus di bayar." "Bagaimana? Uang dariku sudah dibeli ikat rambut yang baru?" tanya Keyro dengan tersenyum jahil. Diana melebarkan bola matanya. "Maaf maaf aja ya, uang yang Om kasih ke aku, aku kasih ke resepsionis di tempat Om kerja!" jawabnya dengan kesal. "Kenapa? Padahal uang itu bisa membeli lima ikat rambut." "Mending Om minggir deh, itu ada yang mau beli! Ganggu aja." ucap Diana kesal. Keyro melihat ke belakang lalu berpindah tempat ke samping memberikan tempat untuk orang yang ingin membayar pesanannya.     Diana melirik ke pria yang sedari tadi melihatnya. Mau apa sih dia? Nggak ada kerjaan selain ngeliatin aku? Senyum-senyum sendiri lagi, dia gila? batin Diana. Ponsel milik Keyro berbunyi, Ia mengambil ponsel tersebut dan melihat siapa yang menghubunginya. "Apa Key?" "Bapak ada meeting satu jam lagi, tolong untuk sampai di kantor sebelum satu jam. Terimakasih." Sambungan terputus. Dasar adik sialan. batin Keyro dengan melihat layar ponsel yang sudah diputuskan sepihak oleh adiknya itu.     Keyro melihat sudah tidak ada lagi pelanggan yang ingin membayar atau memesan, dia berdiri lagi di depan kasir. Diana hanya memutar bola matanya melihat tingkat pria itu. "Papaku menyuruhku untuk menanyakan nama yang melayaninya tadi saat dia ke toko ini, siapa?" ujar Keyro dengan memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Diana mengerutkan alisnya tidak mengerti. "Aku nggak ngerti sama apa yang Om katakan." "Papa saya bertanya, siapa nama wanita yang berada di depan saya saat ini." jelasnya lagi. "Bilang aja kamu yang mau tahu namaku." gumam Diana pelan. Keyro menaikkan alisnya. "Saya? untuk apa saya menanyakan namamu? tidak penting." jawabnya dengan terkekeh. "Kalau tidak penting, lebih baik Om keluar untuk melanjutkan pekerjaan Om yang tertunda. Menganggu saja." Diana menjawabnya dengan ketus, Ibu Kikan baru saja masuk dan mendengar ucapan anak buahnya itu. "Diana!" Diana tersentak dan menoleh ke belakang melihat Ibunya sedang melotot ke arahnya, Bu Kikan mendekat ke arah kedua pria dan wanita itu. "Maafkan anak saya ya Pak, maklum dia memang seperti ini." ucap Bu Kikan, lalu menyenggol lengan Diana menyuruh masuk ke dapur. Diana masuk dalam hati yang lega karena bisa menjauh dari makhluk itu. "Tidak apa-apa Bu, kalau boleh saya tahu, siapa nama gadis tadi itu?" tanya Keyro. Padahal dia sudah tahu kalau namanya Diana. "Diana." jawab Bu Kikan. "Diana Annora." jelasnya lagi. Keyro menganggukan kepalanya dan tersenyum. "Saya permisi dan lima hari lagi saya datang untuk mengambil kue pesanan orangtua saya." "Baik, saya pasti kerjakan dengan baik, terimakasih Pak." Keyro tersenyum dan berjalan keluar dengan tangan yang berada di saku celana. Diana Annora.    _____________________________________________________________________________________________ Selamat membaca!  Jangan lupa vote dan komen yaa! :)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN