bc

Karena Diana

book_age16+
693
IKUTI
4.7K
BACA
possessive
arrogant
goodgirl
CEO
boss
princess
drama
sweet
bxg
like
intro-logo
Uraian

Wanita periang yang tak kenal lelah yang sudah menjadi tulang punggung keluarganya dipertemukan oleh dua orang lelaki yang mencintainya. Diana Annora harus memilih pilihan terakhirnya, lelaki yang Ia cintai.

Namun, siapa sangka ternyata lelaki yang Ia cintai memiliki penyakit yang Ia tidak prenah ketahui sebelumnya. Mencoba untuk menerima semuanya karena cinta.

Dan Karena Diana semua berubah dengan sempurna dan indah.

chap-preview
Pratinjau gratis
Sepeda Hitam
    Dipagi hari yang cerah dan sejuk, awan putih yang bersahabat dengan langit biru membuat dunia semakin indah, melukiskan senyuman kepada semua orang yang mengaguminya. "Selamat pagi semua!" pekik gadis yang baru saja membuka pintu toko kue. "Ups! Maaf." ujarnya lagi saat melihat sekumpulan para lelaki berjas yang sedang berbicara penting di meja bundar dengan kopi dan kue di atas meja yang sedang melihat ke arahnya. "Diana!" Wanita paruh baya itu memanggil gadis yang baru saja membuat seisi toko melihat ke arahnya. Ia menghampiri wanita paruh baya itu dan tersenyum manis dengan dua jari yang di angkat di depan wajahnya. "Maafin Diana Bu, aku nggak tahu kalau ramai kaya gini." ucapnya seraya melepas tas yang ada di punggungnya. "Sekarang sudah siang bukan pagi lagi, sudah sana ganti baju kamu!" jawab wanita paruh baya itu dan melanjutkan pekerjaannya lagi.     Gadis itu tiba-tiba menepuk keningnya sendiri. "Aku lupa!" gumamnya lalu berlari keluar dan melihat sepedanya yang di sandarkan ke mobil hitam. "Kamu itu murah, jangan deket-deket sama yang mahal, aku nggak mau bikin kamu malu." ucapnya sendiri dengan menepuk-nepuk sepedanya, dia meletakkan sepeda cantiknya ke tempat yang sudah seharusnya.     Saat ingin masuk kembali ke dalam toko, matanya menyipit melihat mobil hitam tadi yang disandarkan sepedanya. God! Kok bisa bergaret gini? Gara-gara si blacky? Ah nggak mungkin!     Gadis itu menutup mulutnya dengan melihat sekeliling mencari siapa pemilik mobil tersebut, Ia jalan perlahan lalu masuk ke dalam toko dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Di dalam pikiran gadis itu hanya garis putih yang berada di sisi mobil tersebut. Dia mengingat ulang apa yang telah dia lakukan sebelumnya. "Perasaan aku pelan-pelan kok." gumamnya. "Hello!" "Eh bukan aku!" jawabnya, sontak saat melihat siapa yang membuyarkan lamunannya gadis itu terdiam. Kok ganteng sih? "Saya mau membayar pesanan saya." ujar pria yang berada di depannya. "Oh iya, sebentar ya. Maaf meja nomor berapa?" "Empat." jawab pria itu seadanya. "Totalnya dua ratus tiga ribu Om." ucap gadis itu dengan tersenyum melihat pria itu. Pria yang baru saja di panggil Om itu menaikkan sebelah alisnya. Aku masih muda tapi dipanggil om?     Ia mengeluarkan dompetnya dan mengambil tiga lembar ratusan. "Sisanya ambil saja. Dan satu lagi, terlalu tua jika kamu memanggil saya dengan sebutan om." ucapnya lalu meninggalkan gadis itu dengan terdiam. "Aku salah ya? Ah bodo lumayan sembilan puluh tujuh ribu buat aku!" gumamnya dengan terkikik lalu memasukan uangnya ke dalam mesin. "Diana!" "Apa!" pekiknya, melihat sekeliling toko yang belum ada tanda-tanda pelanggan ingin membayar, lalu dia masuk ke dalam dapur. "Kamu bantuin Keke bikin kue, ada pesanan lima ratus cookies untuk besok, Ibu yang jaga kasir." ujar wanita paruh baya itu lalu berjalan keluar kitchen. "Kok aku sih?" gumamnya. Padahal enakan di kasir, selalu dapet tips. "Na kamu bikin adonannya ya, aku ambil bahan yang lain." ucap perempuan yang bernama Keke. Diana mengangguk dan memasukkan bahan-bahan ke dalam wadah besar dengan bersenandung kecil. "Na kamu tahu? Para lelaki tadi yang memakai jas itu?" tanya Keke tiba-tiba dengan bahan-bahan kue yang di tangannya. Ia mengangguk. "Iya aku tahu, kenapa?" "Banyak yang bilang kalau mereka itu generasi muda yang uangnya tidak akan habis!" ujarnya dengan antusias. Diana memberikan wajah datarnya. "Terus? Hubungannya sama kita apa? Mau deketin mereka? Jangan mimpi Ke! Bagi mereka kita itu cuma orang kecil yang mereka sentil---" "Stop stop! Males aku dengerin ceramahan kamu. Panjang." potong Keke lalu menjauh dari Diana. "Huh aku ngomong bener juga." gumamnya lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.     Aduh jadi kepikiran sama garetan di mobil tadi, itu salah blacky bukan sih? Perasaan aku lembut banget kok nempelin blacky sama si hitam tadi. Gadis itu terdiam. Memikirkan bagaimana kalau nanti ada orang yang bertanya soal garetan di mobilnya. "Gimana kalau dia minta ganti rugi? Aku mana punya uang!" gumamnya.     Dia menggeleng menghilangkan bayangan-bayangan uang simpanannya hilang karena membayar ganti rugi. Engga. Bukan salah aku dan blacky. Santai santai Na. "Na! Keke mana?" Diana tersontak dan melihat siapa yang bertanya kepadanya. "Ih Ibu bikin aku kaget tahu!" lalu Ia menggelengkan kepalanya. "Tadi ada di belakang aku, sekarang nggak tahu ke mana." jawabnya. Wanita yang biasa di panggil Ibu Kikan itu melihat jam di dinding, lalu berdecak. "Kamu aja deh Na, tolong bawain kue ini ke sini. Cepet!" ucapnya dengan memberikan lembar kecil. -MB Leonnard Corp. Bapak Keyro Karl- "Harus Nana ya Bu? Keke aja deh tunggu dia dateng, aku nanggung lagi bikin adonan kue." elak gadis itu dengan setengah hati. "Kamu Na! Sekarang. Cepet!"     Ia menghela napasnya dan mengangguk lemah, mencuci tangan hingga bersih lalu melepaskan apronnya, mengambil kantung plastik yang sudah di siapkan dan keluar dari toko. "Anterin aku ke gedung tinggi yaa black." ucapnya lalu menaikki sepeda cantiknya membelah jalan raya. ... "Permisi Pak." sapa Diana kepada satpam yang sedang duduk di depan gedung tinggi. "Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya. "Saya mau tanya Pak, kalau mau parkir sepeda saya di mana Pak?" Satpam itu terkekeh dan menggelengkan kepalanya. "Ade mau ke mana?" Diana menunjuk ke gedung tinggi yang berada di depannya. "Ke dalem situ Pak, nih kasih kue buatan Ibu Kikan." jawabnya. "Ya sudah sepedanya taruh di sini saja, apa biar saya yang ambil pesanannya nanti saya kasih ke dalam?" Diana menggeleng. Nanti yang ada nggak dikasih tips Pak! "Nggak usah Pak, biar saya aja masuk. Saya titip sepeda saya ya Pak!" ujarnya dengan meletakkan sepedanya di samping pos. Lalu berjalan ke dalam gedung tinggi itu. "Bapak Keyro Karl. Ribet banget namanya." gumamnya dengan membaca lembaran kertas kecil yang di berikan Bu Kikan tadi.     Diana sudah masuk ke dalam gedung yang dingin ini, berjalan ke resepsionis dan tersenyum ke perempuan yang berada di balik meja. Coba aja aku bisa bekerja di sini. Pasti kulit aku lembut kaya dia. "Ada yang bisa saya bantu?" "Oh iya, saya mau kasih pesanan kue ini untuk Bapak Keyro Karl." Perempuan itu tersenyum dan mengangguk. "Sebentar ya." Ia lalu mengangkat gagang telpon dan berbicara kepada seseorang. "Bisa di titipkan di sini, nanti sekretaris Bapak yang ambil, apa sudah di bayar?" Astaga aku lupa tanya Ibu! Kalau belum di bayar gimana? Diana terkekeh. "Aku lupa tanya udah dibayar atau belum." kekehnya dengan menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal sama sekali. "Belum saya bayar." Diana menoleh ke belakang. Astaga! Dia lagi? "Berapa semuanya?" tanyanya dengan mengambil dompet di dalam saku celananya. Diana langsung melihat isi kantung plastik tersebut dan menghitung. "Seratus empat puluh lima ribu Om." Pria yang bernama Keyro itu terkekeh, mengambil uang dua lembar ratusan lalu memberikan ke Diana. "Ambil saja sisanya, untuk membeli ikat rambutmu." Keyro langsung mengambil kantung plastik yang berada di tangan Diana dan melihat ke gadis itu. "Saya masih muda dan tidak perlu memanggilku Om." ujarnya lalu berjalan meninggalkan Diana dan perempuan yang berada di balik meja itu. Diana terdiam dan tak lama kemudian Ja mengerjapkan matanya. Aku menyesal bilang dia ganteng! Sombong. "Mba. Ada uang seratus empat puluh lima ribu nggak?" Perempuan itu mengangguk. "Ada, untuk apa?" "Nih buat Mba, uang Mba sini buat aku, aku nggak mau ambil dari pria sombong itu." ujar Diana dengan kesal. "Tap---" "Udah Mba cepet, pacar saya sudah nunggu di depan nih." Pacar dari hongkong! Perempuan itu memberikan uang yang diminta Diana, menukar uangnya mengucapkan terimakasih lalu berjalan keluar. "Dia belum tahu kalau ikat rambut ini bersejarah? Dasar sombong." rutuk Diana dalam perjalanan menuju sepedanya.     Dan di jendela lantai sembilan, Bapak CEO atau Bapak Keyro Karl Leonnard itu terkekeh melihat wanita yang di bawah sedang menghentakkan kakinya seraya menyentuh ikat rambutnya.         "Lucu." gumam Keyro.  _________________________________________________________________________________________________ Hallo! Selamat datang di Karena Diana! Salam kenal dari author! Terimakasih sudah mau mampir dan membaca yaaa. Selamat membaca! :) 

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
220.1K
bc

My Ex Boss (Indonesia)

read
3.9M
bc

Rujuk

read
937.2K
bc

Saklawase (Selamanya)

read
69.9K
bc

Loving The Pain

read
3.0M
bc

Sweetest Pain || Indonesia

read
78.2K
bc

Nonieseindria

read
245.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook