Sivia mengerjapkan mata beberapa kali. Yang pertama kali dia lihat adalah atap langit-langit yang berwarna putih. Seketika itu juga Sivia langsung menebak jika dia ada di rumah sakit. Terlebih bau khas yang hanya ia jumpai saat pergi ke klinik. Semakin menguatkan dugaan keberadaannya kini. Merasa kepala bagian belakangnya berdenyut nyeri dan sakit, membuat Sivia mengerang. Efek obat bius pada tubuhnya mungkin sudah habis sama sekali. Sivia hendak mengangkat tangan ketika menyadari ada tangan lain yang menahan. Tangan itu menggenggam tangan Sivia erat. Mata Sivia bergerak ke bawah dan mendapati wajah Alex. Pria itu tertidur dengan posisi duduk dan posisi kepala bersandar di tepi kasur. Tersenyum. Sivia tau jika Alex menungguinya semalaman. Ada sekelumit rasa senang karena rasa tanggung j

