"C'mon Eve! Cepatlah!" Peter berteriak penuh semangat. Pria itu menyisir rambutnya ke belakang, lalu melirik jam tangan yang melekat di bawah jaket kulit yang ia pakai. Peter sedang berdiri di bawah pohon yang tumbuh kokoh hingga menjulang tinggi tepat di depan jendela kamar Sivia. Pada hari-hari biasa, Peter akan memanjat pohon itu dan mendarat langsung ke dalam kamar Sivia untuk sekedar menghabiskan waktu sore atau malam luang yang dia punya bersama perempuan itu. Bukannya dia tidak punya sopan santun, tapi Peter setuju soal Sarah yang seperti Nenek Sihir. Sebab setiap kali Peter bertamu, Sarah akan mengatakan jika Sivia tidak ada di rumah dan langsung menutup pintu tanpa sama sekali repot untuk beramah tamah. Kepala Sivia melongok dari jendela, lalu berteriak. "Bisakah kau sedikit ber

