Dengan gerakan pelan, Alex mendekatkan bibirnya pada Sivia. Matanya yang semula fokus melihat bibir mungil tersebut perlahan menutup. Begitupun dengan Sivia. Gadis itu juga melakukan hal yang sama dengan Alex, yaitu memejamkan mata. Namun, ia memilih diam tidak bergerak maju untuk menyambut. Melainkan hanya akan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Jantung Sivia berpacu lebih cepat dari detik ke detik. Kedua tangannya mencengkeram erat pada kursi mobil saat merasakan napas berat Alex sudah menerpa wajahnya. Tring ... Tring ... Tring ... Suara ponsel Alex tiba-tiba berbunyi dengan nyaring, membuat baik Alex maupun Sivia langsung membuka mata. Alex mendengus kasar dan mengumpat kecil karenanya, sedangkan Sivia langsung membuang muka, mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Mere

