Kurang dari sepuluh menit kemudian, Ferrary putih milik Alex telah sampai di cafe milik George. Sebuah plang bertuliskan The BBG Cafe Coffee menyala sempurna di tembok bagian atas pintu masuk.
Sejauh ingatan Alex, The BBG masih terlihat sama seperti dulu. Terakhir kali Alex datang ke tempat ini adalah sekitar dua tahun yang lalu, sehari sebelum sepupunya mengalami kecelakaan. Namun setelah memperhatikan sekali lagi dengan seksama, Alex menyadari jika terdapat sedikit perubahan dekorasi di beberapa bagian kanan dan kirinya. Selebihnya benar-benar masih sama.
Setelah turun dari mobil, Alex melangkahkan kakinya masuk ke dalam cafe. Sudah banyak sekali orang di dalam. Ternyata kecelakaan itu memang tidak berarti apa-apa bagi pria bernama belakang William itu. Hobinya masih tetap sama; yaitu mengadakan sebuah pesta liar dengan banyak wanita-wanita cantik di dalamnya.
Kepribadian George yang ramah dan pandai bergaul membuatnya memiliki banyak sekali teman, entah itu orang tua, muda, kaya ataupun orang miskin. Dan Alex tidak akan heran jika sepupunya bahkan memiliki kenalan seorang psikopat, sosiopat atau mafia sekalipun. George sangat susah untuk ditebak. Namun, satu hal yang Alex tau, bahwa Geoge menyayangi seluruh keluarganya.
Bau dari asap rokok, alkohol dan parfum yang berbeda merek bercampur menjadi satu di udara. Dentuman musik DJ memenuhi cafe dengan pencahayaan yang malam ini telah sengaja dibuat minim. Sepertinya tempat ini telah berubah tema seperti yang George kehendaki untuk sehari semalaman, pasalnya sebenarnya cafe ini adalah sebuah cafe seperti pada umumnya.
Alex memperhatikan sekitar, mencoba mencari wajah sepupunya di antara puluhan wajah-wajah yang ada. Ternyata banyak sekali yang tampak familiar. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang ia tahu pernah bersekolah di tempat yang sama dengannya saat SMA bersama dengan George. Mereka tampak gembira, mungkin senang dengan kabar kembalinya sang Raja Pesta.
Tak butuh waktu lama bagi Alex untuk menemukan sosok George. Pria bermata abu-abu dan berambut pirang yang menyadari kedatangan Alex itu langsung melambaikan tangan antusias, dan Alex pun melambai balik.
Berbeda jauh dengan George yang menangkap adanya hawa ingin menerkam dari para wanita yang hadir pada Alex, pewaris tunggal McK Group itu justru terlihat acuh. Pria itu melangkah tegap membelah kerumunan menuju ke tempat George berada.
Entah karena ia yang terlalu acuh sehingga ia tidak memperhatikan sekitar atau karena kecerobohan semata, seseorang menabrak d**a bidang Alex. Membuat Alex otomatis menangkap tangan sosok yang ternyata adalah seorang wanita berambut hitam panjang. Wangi harum shampo yang sangat lembut dan manis menusuk ke indera penciuman Alex.
Diam-diam Alex tersenyum. Sepertinya ia harus membawa wanita ini barang semalam bersamanya untuk sekedar menciumi harum rambut yang langsung ia sukai itu.
*****
Sivia memutar bola mata jengah ketika melihat dua temannya, Alice dan Jeni, sedang tertawa terbahak-bahak dengan dua orang pria di depannya. Oh, sial! Mereka tampaknya mulai melupakan keberadaannya di sana.
Kalau bukan karena permohonan Alice untuk menemaninya ke pesta yang diadakan oleh kekasihnya yang sudah lama pergi karena sakit, Sivia pasti akan menolak mentah-mentah. Ada hal yang lebih bermanfaat untuk ia lakukan di rumah seperti misal; menyembunyikan lingerie kesayangan ibu tirinya atau membakar bikini baru yang kemarin dipamerkan oleh Alea. Bukannya ia iri pada barang-barang milik mereka berdua, tapi ibu dan anak itu telah mengambil piyama kuda poninya untuk dijadikan kain lap.
Menutup hidung dan mengibas-ngibaskan udara di depannya, Sivia berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menghirup asap rokok yang mengudara. Sungguh, ia benci rokok. Dan ia tidak tau pikiran apa yang merasuki banyak orang yang membeli barang itu hanya untuk membakarnya lalu mendapatkan penyakit yang bernama kanker paru-paru atau mulut.
Sivia mengedarkan pandangan, menangkap sosok-sosok familiar di cafe tersebut. Sebagian besar yang berada di pesta tersebut Sivia kenal di kampus, entah itu senior maupun juniornya. Semua membaur menjadi satu. Tampaknya sang empu pesta tidak mempermasalahkan bagi siapa saja yang ingin hadir ke pestanya.
Cukup lama mata Sivia mengamati, hingga tatapannya jatuh pada sosok pria berambut blonde dengan kedua lesung pipit menghiasi wajah tampannya telah dikerumuni oleh banyak wanita. Mulut Sivia menganga. Sejak kapan Peter, temannya yang cupu menjadi populer di kalangan cheerleaders?
"Hei, Sivia! Gadis manis dari Indonesia!” Merasa seseorang menyebut namanya, Sivia menoleh dan mendapati sorang pria berambut hitam dengan sebuah tatapan geli. Dia George William, pacar Alice.
“Kau terlihat tidak merasa nyaman di pestaku,” tukasnya, lalu mencium kening Alice yang sedari tadi betah melingkarkan tangannya pada George, sedangkan tangan yang lain memegang segelas alkohol berwarna merah.
“Oh, aku baik-baik saja. Nikmati saja pestamu dan abaikan aku,” jawabku tersenyum tanpa dosa.
“Tenang saja, Sayang. Ini adalah kali pertama bagi Sivia datang ke sebuah pesta liar yang menyerupai kelab malam. Biarkan dia menyesuaikan diri,” jelas Alice pada George dengan tatapan jahil pada Sivia.
Sivia mendesis. Terkuak sudah tujuan utama Alice memaksanya datang ke pesta ini.
"Hei, Sivia! Kau harus mencoba ini. Rasanya saaaangat luar biasa!" Nathan tiba-tiba muncul di depan Sivia. Pria dengan rahang bekas cukur yang sudah ditumbuhi kembali bulu-bulu halus itu menyodorkan satu gelas minuman beralkohol padanya.
"Nate, kau tau aku tidak minum alkohol!" Sivia mengernyit, mendorong gelas itu kembali pada Nathan. Salah satu teman sekelasnya di kampus.
"Oh, ayolah, Eve. Kau harus mencobanya sekaliiiii saja! Hei, kau sudah dua puluh tahun! Kau sudah boleh meminum minuman ini!"
"Nate, berhenti memaksanya!" George mencoba membela.
Bukannya mendengar, Nathan justru semakin kekeuh memaksa Sivia. "Ck, ... bukankah kau sudah lama hidup di Amerika? Hilangkan budaya timurmu itu! Kau harus terbiasa dengan gaya hidup orang barat. Aku yakin kau akan menyukainya."
"Nate ...!"
"Oh, shut up George! Aku hanya ingin sharing dengan wanita yang barangkali masih gadis ini!"
Lagi, Sivia memutar bola mata. Nathan memang selalu seperti ini. Salah satu pria playboy yang pantang menyerah dan hidup sesukanya.
"Omong-omong, aku penasaran. Apakah kau benar-benar masih virgin?"
Cetak!
Alice menjitak kepala Nathan karena perempuan itu sangat tau pada apa yang sedang berada di otak pria itu. Sebenarnya bukan hanya Alice, bahkan George yang baru setengah jam yang lalu mengenal pria itu pun sepertinya tau. Semua orang yang hadir juga pasti jika malam ini Nathan sedang mencari seorang wanita untuk dibawa ke ranjang. Rekor dan sepak terjangnya di dunia tidur-satu-malam benar-benar sudah mengampus alias semua penduduk kampus tau siapa saja wanita-wanita yang sudah tidur dengannya.
"Jangan racuni otak polos Sivia dengan otak kotormu itu, Nate!" peringat Alice galak diiringi kekehan dari George dan Jeni. Inilah salah satu alasan kenapa Sivia senang berteman dengan Alice. Perempuan itu sangat menghormati budaya timur yang Sivia anut saat ini.
"Arghhhh, kalian ini ... hei, aku hanya ingin mengajaknya bersenang-senang! Apa salahku?" Nathan berusaha membela diri karena merasa seperti pria b******k. Padahal memang benar itu kenyataannya.
Sivia tersenyum datar, lalu mengacungkan jari tengahnya, membuat Nathan terperangah.
Nathan mendengus. Dengan cepat, pria bermata biru itu meneguk gelas alkoholnya hingga habis, lalu dengan seringaian licik ia menatap Sivia.
"Aku akan menciummu dan membawamu ke ranjangku malam ini jika sampai aku berhasil menangkapmu, gadis nakal!" serunya.
Wajah Sivia langsung pias. Tanpa menunggu hitungan ketiga, Sivia sudah berbalik. Ia harus segera kabur dari tempat itu. Terbang kalau perlu!
Sivia mendengar banyak sorak-sorai, sebagian menyemangati Sivia dan memberi jalan untuk kabur, sebagian lagi menyoraki Nathan untuk bisa menangkapnya. Meskipun Sivia tau Nathan tidak mungkin menyeretnya ke ranjang dengan sungguh-sungguh, tapi ciuman? Bahkan Betty, cewek paling cupu di kampus pun barangkali pernah dicium oleh Nathan playboy penjahat kelamin itu!
Sivia terus berlari, tanpa sadar membawa tubuhnya menabrak sesuatu yang keras. Sivia mendesis dan meringis sakit. Refleks ia pun mendongak dan matanya membulat sempurna melihat sosok familiar yang selalu membuatnya sakit kepala.
"Kau lagi?" seru Sivia, menatap tajam pada sosok pria yang kini tersenyum tipis dan menahan lengannya agar tidak jatuh karena sempat sedikit terpental tadi.
“Gotcha! Kau tertangkap, gadisku malam ini!”
Tubuh Sivia menegang. Itu Nathan, tepat di belakang tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan?" Pria yang tadi Sivia tabrak bertanya dengan heran saat Sivia tiba-tiba berlari dan bersembunyi di balik tubuhnya.
"Selamatkan aku darinya!" jawab Sivia sambil menunjuk ke arah Nathan.
Pria itu mengangkat sebelah alis, kemudian menatap Nathan lurus. Diluar dugaan, dia malah tersenyum lebar ke arah Nathan yang sekarang berjalan ke arahnya.
"Kau menggoda wanita lagi, Nate?" Pria itu langsung memeluk Nathan sekilas dan dibalas oleh Nathan.
"Lama tidak bertemu, Alex. Apa kabarmu? Tapi sebelum kau memberiku jawaban yang aku yakin tidak jauh-jauh dari pekerjaanmu yang luar biasa membosankan itu... aku mempunyai urusan dengan perempuan yang sekarang sedang bersembunyi di balik punggungmu. Jadi, bisakah kau-"
"Tentu saja!" Alex menjawab cepat tanpa pikir panjang. Ia menoleh ke belakang demi menatap Sivia lalu melanjutkan,"... dia pasti akan menyukai permainanmu."
Mulut Sivia terbuka. Ia mengumpat dalam hati, ‘dasar senior-senior berotak m***m!’
"Alex!!"
Perhatian mereka sekarang terpecah ke arah asal suara. Ternyata George yang memanggil. Ia datang dengan Alice yang kini menatap khawatir pada Sivia. Sivia mengangguk, mengatakan lewat tatapan mata bahwa dia tidak apa-apa.
"Kau terlambat, dude!” George memeluk Alex erat. Menepuk punggung Alex beberapa kali dengan telapak tangannya.
"Maaf, George. Dan hai, Alice!” sapa Alex setelah melepas pelukan. Alice tersenyum mengangguk.
Sivia yang tadi memperhatikan saja jadi bertanya-tanya. Tunggu dulu, sejak kapan Alice yang baik hati mengenal pria menyebalkan ini?
"Sejak aku berpacaran dengan George, tepatnya tiga tahun yang lalu,” jelas Alice. Sivia terkejut karena tidak sadar ia mengucapkan pikirannya dengan keras tadi.
"Siapa yang kau maksud dengan pria menyebalkan, Nona?" Alex menatap tajam Sivia. Matanya menyipit, berusaha mengintimidasi seperti biasa.
"A-aku tidak mengatakan apa-apa!" elak Sivia. Mukanya memerah karena kepergok. George, Alice dan Jeni tampak menahan tawa, tetapi Nathan sialan itu malah sudah terpingkal-pingkal.
"Omong-omong, jika saja kau belum tau. Alex adalah sepupuku,” tambah George. "Jadi ... Alex, apa aku ketinggalan sesuatu? Jangan bilang jika dia adalah kekasihmu?”
"Dia bukan kekasihku!"
“Aku bukan kekasihnya!”
Alex dan Sivia mengucapkannya bersama-sama. Membuat tawa Nathan semakin meledak.
"Hentikan tawaan konyolmu itu, Nate!" tukas Alex jengah. Namun Nathan tidak peduli.
"Hmm... jadi kalian ini apa? Sepertinya aku ketinggalan suatu berita yang menarik?” George masih saja penasaran. Pasalnya, pria itu baru kali ini melihat Alex tampak begitu peduli dengan seorang wanita. Mungkin orang-orang tidak menyadari, tetapi George mengenal Alex sejak ia masih memakai pampers. Jenis tatapan yang tadi sempat ia tangkap sekilas dari mata Alex pada Sivia jelas baru kali ini terlihat.
"Ceritanya sangat panjang, Sayang,” bisik Alice. Geroge mengangguk mengerti.
"Baiklah, kau bisa menceritakan padaku nanti di apartemenku, Honey," balas George yang langsung melumat bibir Alice.
"Ehm, Alex. Aku Jenifer Loxton, tapi kau bisa memanggilku Jeni." Jeni mengulurkan tangan kanannya. Tapi pria arogan itu sama sekali tidak menggubris. Tatapan matanya tetap tertuju lurus pada Sivia, sang pemilik iris berwarna coklat gelap, bibir mungil, pipi yang sedikit tembam dan mata yang tampak berbinar indah. Rambut hitam gelombang yang semakin membuatnya cantik dan masih ia ingat aroma harumnya membuat sebuah debaran asing nan lembut lagi-lagi menyusup ke hatinya.
"Alexandro McKenzie." Tiba-tiba Alex mengulurkan tangannya. Bukan pada Jeni yang tangan kanannya masih mengambang di udara menunggu untuk disambut, tetapi pada Sivia. Seorang wanita yang selalu sanggup menghadirkan perasaan aneh dan asing yang tidak tau ia sebut sebagai apa. Yang jelas, rasanya menyenangkan.
Sivia menatap uluran tangan Alex sekilas, lalu mendongak menatap wajah Alex yang kini menampilkan sebuah senyum miring tipis. Sivia menghela napas. Mungkin sudah saatnya ia berdamai dengan pria menyebalkan ini. Barangkali mereka bisa menjadi teman mengingat pacar teman baiknya, Alice, adalah sepupu dari pria ini.
"Sivia. Sivia Angelina Russel," ucap Sivia membalas jabat tangan itu. Dan entah untuk alasan apa, ada sebuah getaran aneh saat mereka bersalaman. Bukan hanya Sivia yang merasakan, tetapi Alex pun sama.