Alex memasuki apartemennya dengan perasaan sedikit jengah. Hari ini adalah hari yang cukup menguras emosi dan tenaganya. Selain karena mood-nya sedikit memburuk setelah bertemu gadis menyebalkan yang sudah ia cap sebagai setan mungil yang wajib dihindari –well, sebenarnya sejak insiden pertengkaran mereka yamg pertama, Alex sudah melabelinya sebagai musuh— ia juga merasa lelah dengan pelajaran-pelajaran kuliahnya yang mulai padat karena harus melakukan banyak sekali riset, presentasi dan kerja kelompok.
Sebenarnya tiga hal tersebut bukanlah sesuatu yang rumit baginya (Alex termasuk sebagai salah satu mahasiswa terbaik di kampus), hanya saja terkadang padatnya jadwal bisa tiba-tiba terasa melelahkan.
Setelah mengganti pakaian dengan setelan jas berwarna cokelat kayu dan memakai sepatu kulit hitam mengkilat dengan harga sekian puluh ribu dollar, ia segera bergegas meninggalkan apartemen menuju salah satu kendaraan mewahnya. Sebuah Ferrary Laferrary putih. Alex memang memiliki banyak sekali koleksi mobil mewah yang kebanyakan mobil-mobil tersebut adalah hadiah ulang tahun dari ayah, paman, sepupu dan bahkan relasi bisnisnya.
Selain Ferrary Laferrary putih, pria dengan rambu hitam gelap itu juga mempunyai dua mobil kesayangan yang lain, yaitu Lamborghini Reventonnya yang berwarna silver dan juga Bugatti Veyronnya yang berwarna hitam. Ketiganya memiliki satu hal yang sama, kecepatan yang tinggi di atas rata-rata mobil biasa. Itulah hal utama yang membuatnya menyukai ketiga mobil tersebut.
Kaya? Ya, keluarga Alex termasuk dalam salah satu keluarga terkaya di Amerika. Perusahaan keluarga McKenzie atau yang biasa disebut dengan McKenzie Group, bergerak dalam banyak bidang bisnis. Salah satunya yang paling besar adalah mereka mempunyai sebuah perusahaan yang bergerak di bidang batu bara dan batu mulia. Selain itu mereka juga memiliki usaha di bidang otomotif transportasi, fashion dan juga sudah masuk dalam industri perhotelan.
McKenzie Group memiliki banyak cabang perusahaan di berbagai belahan dunia. Perancis, Italy, London, Turki, Arab, Dubai, adalah sekian dari banyak negara yang berdiri perusahaan milik mereka. Sekarang bahkan sudah mulai merambah ke berbagai negara di Asia, seperti di Korea, China, Malaysia, Singapura, Thailand, Jepang dan Indonesia.
Alex masuk ke dalam kendaraannya dan segera menuju ke salah satu kantor cabang McKenzie Group yang berada di Ohio. Alex memang sengaja kuliah di kota ini sebab selain di sana terdapat salah satu Universitas Terbaik di Amerika, ia juga berkewajiban untuk mengawasi kantor cabang terbesar setelah kantor pusat.
Saat ini, jabatan Alex hanyalah sebagai seorang CEO di salah satu cabang perusahaan, tetapi semua orang tau jika kelak dia lah yang akan mewarisi seluruh aset perusahaan McKenzie Group. Adapun jabatan CEO utama tertinggi saat ini masih dimiliki oleh Valentino McKenzie, ayah Alex.
Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, mobil berkecapatan seratus kuda itu memasuki area parkir kantor. Alex turun dan langsung masuk ke loby. Di sana, ia sudah di sambut hormat oleh seorang resepsionis.
"Selamat siang, Mr. Mckenzie," sapanya dengan menampilkan senyum terbaik yang ia miliki.
Alex hanya mengangguk sekilas dan melewatinya. Pria yang kehadirannya bisa membuat perhatian seluruh karyawan wanita di kantor tersita karena aura yang ia pancarkan. Membuat hati para kaum hawa mencakar-cakar tubuh mereka sendiri dan berteriak lantang, ‘hei, lihat aku! Aku siap untuk menjadi penghangat ranjangmu malam ini!’
Dengan langkah tegap, Alex memasuki sebuah lift eksekutif yang disediakan khusus untuk pemilik perusahaan atau para investor terbesar di sana. Sesekali orang-orang yang memiliki jabatan tinggi juga diperbolehkan memakai lift tersebut dalam situasi darurat, seperti saat tiba-tiba Alex mengadakan rapat dadakan atau ada pertemuan mendadak dengan para investor besar agar lebih efisien.
Setelah menekan tombol dua puluh satu, lift bergerak naik. Alex menyandarkan tubuh di dinding lift, menarik napas panjang lalu menghembuskannya pelan. Setelah ini, ada banyak pekerjaan yang menanti di ruang kerjanya dan ia harus menyelesaikan secepat mungkin.
Ting!
Pintu lift terbuka. Alex melangkah keluar dan melihat sosok wanita yang sedang membenahi make-up di balik meja kerjanya. Dan saat menoleh, wanita itu tersentak dan langsung berdiri. Ia tersenyum dengan bibir merah yang menggoda. Sedangkan pakaian kerjanya menempel dengan ketat hingga menonjolkan bagian-bagian tubuh yang bisa merangsang lawan jenis.
"Selamat siang, Mr.Mckenzie," sapa Anne, si sekretaris dengan nada ramah dan serak. Sudah lama ia memang tertarik dengan atasannya sendiri dan hubungannya dengan Alex memang sudah sejauh itu. Menurutnya.
Alex tersenyum miring, sengaja menghentikan langkah sesaat sebelum memasuki ruang kerjanya demi untuk menberikan sebuah tatapan tertarik yang luar biasa. Pria itu mengamati penampilan Anne dari atas hingga perut, karena bagian perut ke bawah terhalang oleh meja kerja wanita tersebut. Tapi Alex yakin, penampilan bagian bawah Anne tak kalah seksi dengan tubuh bagian atasnya.
Detik berikutnya, Alex pun segera memasuki ruang kerja, meninggalkan Anne yang tampak merona karena tatapan Alex yang mengundang. Mungkin suatu saat nanti, mimpinya menjadi Nyonya Besar McKenzie akan terwujud.
***
Setelah mendaratkan b****g dengan kasar di meja kerja, Alex menatap tumpukan map yang berisi berkas-berkas telah menumpuk menunggu untuk ia cek dan tanda tangani. Alex menghela nafas. Belum-belum ia sudah merasa lelah.
Beginilah kehidupannya selain sebagai mahasiswa tingkat akhir. Ia sudah dituntut untuk bekerja di salah satu anak cabang perusahaan milik Sang Ayah. Alex sudah melakukan pekerjaan ini selama bertahun-tahun. Sebenarnya bahkan dari nol. Sejak ia memasuki bangku SMA, Alex sudah bekerja.
Awalnya ia hanya seorang pegawai biasa, tapi ia bisa belajar dengan cepat. Sampai akhirnya ia mencapai jabatan ini. Ia sama sekali tidak peduli dengan bisikan-bisikan orang-orang yang iri dengan menyebutnya sebagai ‘hasil nepotisme’. Mereka hanya tidak tau, jika darah Valentino McKenzie mengalir dalam dirinya, menyebabkan apapun yang ia sentuh bisa menjadi emas.
Alih-alih memberikan langsung perusahaannya pada sang anak, Valentino masih ingin bukti konkret dari kerja keras Alex. Ia sengaja memberikan sebuah perusahaan cabang terbesar agar melihat mampukah Alex menambah profit perusahaan dalam jangka panjang dan meminimalisir kerugian yang diderita. Dan selama kurang lebih tiga tahun, terbukti jika ia memang mampu. Bahkan Alex terbukti mampu dan dikenal oleh dunia bisnis sebab kemampuannya yang tidak main-main dalam mengeksekusi sebuah usaha hingga dapat berkembang dan menghasilkan banyak laba.
"Anne, ke ruanganku sekarang!" Alex berbicara setelah menekan sebuah interkom yang terhubung langsung ke sekretaris pribadinya. Tak lama kemudian, terdengar pintu di ketuk dan di buka. Anne pun masuk dan langsung menutup pintunya pelan.
"Ada apa, Alex?" tanya Anne. Sengaja memakai nama depan Alex sebab Alex sudah mengijinkan. Syaratnya hanya ketika mereka hanya berdua dan ada di ruang kerja pria itu. Mereka tidak pacaran, setidaknya belum sampai saat ini.
"Anne, jelaskan padaku tentang rapat pagi tadi!" seru Alex dengan dahi mengernyit dalam. Ia baru saja membaca sebuah laporan yang menjelaskan tentang rapat tadi pagi dengan seorang klien yang katanya berjalan kurang baik tanpa kehadirannya langsung.
"Itu ... ada beberapa poin yang diajukan oleh klien, dan kurasa itu sedikit merugikan perusahaan kita," jelas Anne dengan tenang. Jantungnya berdebar kencang dan nyaris melompat keluar hanya dengan melihat ekspresi serius Alex yang sedang membaca sebuah laporan dengan teliti. Rasanya ingin sekali ia menjadi kertas laporan itu.
"... semua sudah kujelaskan di laporan yang saat ini kau baca," tambahnya cepat sebelum ia mulai kehilangan akal sehat.
Alex mengangguk-angguk saat melihat poin-poin di halaman ketiga. "Mereka mengajukan hal ini? Ini namanya manipulasi!" ucapnya sembari membanting map berisi laporan itu itu ke atas meja kacanya. Pria itu mengusap wajah lalu menghela napas.
"Tarik saja semua investasi kita dari perusahaannya. Mereka pikir kita bodoh? Aku tidak ingin bekerjasama dengan perusahaan kotor semacam itu!"
“Tapi itu akan membuat perusahaan kita juga akan kehilangan banyak laba dan—“
“Kita bisa mendapatkan pengganti dengan cepat, Anne. Kau tau itu!” sela Alex. Anne mengangguk. Memang, ia sudah menolak banyak sekali surat permintaan kerjasama bisnis oleh berbagai macam perusahaan yang cukup besar dan ternama.
"Baiklah," Anne mengangguk lalu tersenyum. Wanita yang baru saja mengecat kukunya berwarna merah itu memberanikan diri berjalan mendekat, “... tapi sebelum itu ... apakah kau tidak membutuhkanku?" bisiknya tepat di depan wajah Alex. Ia berdiri membungkuk menyeberangi meja, jari telunjuknya terjulur untuk mengikuti garis rahang tegas milik Alex.
Bagaikan seekor kucing yang diberi ikan, Alex menyeringai. Ia menyambut Anne dengan menarik tangannya hingga wanita bertubuh sintal itu jatuh di pangkuan Alex. Tanpa sabar, Alex sudah mencium dan melumat bibir Anne dengan kasar. Hari-harinya memang terasa melelahkan, tetapi kadang bermain dengan Anne bisa melepaskan penatnya. Ia butuh mengeluarkan hasrat kelelakiannya sekarang!
~
"Pergilah... aku tak mau melakukan lebih dari ini!" Napas Alex masih berat, suaranya serak dan tubuuhnya meremang. Ia dapat merasakan tangan lembut Anne yang menggoda berusaha melepas kancing kemeja kerjanya.
Sudah dua kali Alex membuat Anne k*****s dengan lidah dan jemarinya. Rambut dan pakain Anne bahkan sudah tampak berantakan. Dan baru saja wanita itu juga membuat Alex k*****s dengan mulut seksinya. Alex tau jika saat ini Anne menginginkan lebih, wanita itu jelas ingin sekali merasakan Alex berada di dalamnya.
“Anne ...” Alex mencekal tangan Anne yang sudah siap menarik celana Alex ke bawah.
Anne menghentikan kegiatannya, kepalanya menyentak memandang mata Alex. Bisa Alex lihat bahwa mata Anne menyiratkan sebuah gairah yang besar, seakan memohon untuk pada snag pemilik tubuh untuk mengijinkannya melanjutkan keinginannya, untuk sekali saja dapat benar-benar merasakan tubuh hot pria itu.
Alex tidak terpengaruh. Meskipun saat ini benda panjang itu sudah siap untuk melakukan ronde kedua, tetapi tekat Alex lebih kuat. Ia mendorong Anne menjauh, lalu ia berdiri.
Anne mendelik, matanya tidak terlepas dari satu titik saat celana Alex akhirnya melorot ke bawah, meninggalkan sebuah boxer ketat pendek yang masih menggantung setengah paha.
“Pergilah... Sudah cukup untuk hari ini. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku!” lanjut Alex. Ia menarik naik bokser lalu celananya, meringis karena rasa sesak di sana. Menyisakan seluruh kancing kemejanya yang masih terbuka, membuat kini Anne mengamati tubuh Alex. Meskipun tidak banyak yang bisa ia lihat, tetapi Anne masih bisa menikmati pemandangan perut kotak-kotak berikut dengan d**a bidangnya.
“Kau ... yakin?” suara Anne terdengar semakin serak, ia kesulitan sekali meneguk salivanya sendiri.
Alex berbalik membelakangi Anne, membuat wanita itu menghela napas kecewa.
“Iya, kau tau batasanku.”
Ketegasan dalam suara Alex menyadarkan Anne kembali ke dunia. Jadi, inilah Alex yang sesungguhnya. Pria itu tidak akan pernah membiarkan orang lain dengan mudah dapat menguasainya. Alex memiliki batasan-batasan yang sulit ditembus seberapa keras usahamu.
Akhirnya Anne mengangguk. "Kalau begitu saya permisi dulu, Mr.Mckenzie," pamitnya dengan sedikit membungkukkan badan. Sejenak, ia merapikan baju serta rambutnya yang sedikit kusut akibat perbuatan Alex tadi sebelum ia keluar dari ruangan tersebut.
Alex menghela napas panjang. Ia berjalan menuju sofa lalu membaringkan tubuh dengan kasar di atas sana. Gairahnya jelas masih sangat tinggi namun ia tidak bisa berbuat lebih. Jika tadi ia melanjutkan, bisa saja ia akan berakhir meniduri Anne. Dan Alex, mempunyai sebuah komitmen yang aneh bagi orang-orang barat; tidak akan meniduri siapapun sebelum ia menikahinya.
TRING ... TRING ... TRING ....
Alex sedikit terkejut ketika ponselnya berbunyi nyaring memecah kesunyian ruangan berukuran sepuluh kali sepuluh meter itu. Dengan malas, ia kembali beranjak menuju meja kerjanya demi meraih ponsel tersebut. Tanpa melihat siapa yang menelepon, Alex langsung menggeser tombol hijau.
"Hall-"
"Alex!! Kau dimana? Kau lupa dengan janjimu? Dasar CEO sialan!"
Alex mengerutkan dahi, menjauhkan ponsel dari telinga dan melihat sebuah nama yang tertera di sana. Pantas saja! b*****h sialan ini!
"Aku sibuk, George!”
"Ck, dasar workaholic! Cepat kemari karena pesta akan segera dimulai!"
“Aku tidak—“
“Jika kau tidak kemari sekarang juga, aku akan mengirimimu sebuah kejutan spesial yang tidak akan kamu lupakan seumur hidupmu!”
Alex berdecak. "Oke, oke! Aku akan segera kesana dan jangan mengirimiku kejutan apapun yang saat ini sedang kau pikirkan!”
Terdengar sebuah tawa renyah di sana. Alex pun mematikan sambungan telepon.
George sialan! Umpat Alex. Ia ingat kekejaman apa yang bisa dilakukan oleh sepupunya itu. Terakhir kali pria itu mengatakan mengirimkan sebuah kejutan ulang tahun (saat itu Alex menolak hadir di pesta ulang tahunnya yang sudah disiapkan oleh George), ada sepuluh gigolo yang hampir memperkosanya! Dan George ada di sana, merekamnya dengan sebuah handycam sambil makan kacang atom. Sungguh sepupu laknat!
Setelah mengancingkan kemeja dengan cepat dan kembali memakai jas nya, Alex pun segera keluar dari kantor. Ia bersumpah akan mengobrak-abrik pesta George malam ini. Tidak peduli jika sudah dua tahun mereka tidak bertemu setelah kecelakaan itu.
Sebuah kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya tetapi George datang dan menyelamatkannya...