Alex menahan tawa yang ingin sekali keluar dari tadi. Melihat wajah Sivia yang ditekuk-tekuk sebal karena harus menurut di suruh ini itu sesuai dengan taruhan perjanjian mereka, membuat Alex luar biasa senang. “Alex, aku bukan pembantumu! Tasmu berat sekali! Bisakah kau membawanya sendiri?” ketus Sivia. Entah apa isi ransel Alex karena benar-benar sekali terasa berat di pundaknya. Sivia curiga, jangan-jangan Alex mengisinya dengan batu. “Jangan merengek! Ranselku hanya berisi sepuluh buku perkonomian yang masing-masing memiliki kurang lebih tiga ratus lembar di tambah lima buku biografi yang masing-masing memiliki lima puluh halaman. Sebenarnya aku akan membawa dua buku sejarah yang masing-masing juga berisi lima ratus lembar tetapi ranselku sudah penuh!” Sivia membulatkan mata tidak pe

