"Aku takut, Viccent," jujur Sivia ketika mengintip dari balik tirai. Gadis itu menatap horor pada keadaan dalam ruangan yang tadi ia tempati. Wajahnya memang tidak terlihat pucat karena polesan make up artis, tetapi tangannya sangat dingin. "Tenanglah, Eve. Kau pasti bisa. Percayalah padaku," tukas Viccent menenangkan. Ia menggenggam tangan Sivia yang terasa seperti es, lalu menggosok-gosokkannya ke telapak tangannya. Sesekali Viccent meniup tangan Sivia agar menjadi lebih hangat. “Kau akan baik-baik saja,” yakin Viccent sekali lagi. Menatap penuh keyakinan pada iris mata cokelat gelap yang menjadi favoritnya. Sivia mencoba menarik napas dalam lalu mengeluarkannya melalui mulut. Ia ulang sebanyak tiga kali. Setelah merasa lebih baik ia mengangguk pada Viccent. “Aku percaya padamu,” kat

