bc

SURGA PILIHAN KAMI

book_age12+
16
IKUTI
1K
BACA
family
mate
powerful
brave
drama
twisted
city
weak to strong
spiritual
stubborn
like
intro-logo
Uraian

Tap love dulu sebelum baca, ya.

Surga itu telah pergi. Meninggalkan kami, jiwa-jiwa yang mendadak kosong namun harus tetap tegak berdiri, menapaki peran kami yang belum usai. Jika kemudian hadir surga yang lain, akankah semudah itu kami bisa menerimanya, serta menggantikan kenangan-kenangan yang terpatri indah sekalipun telah terpisah oleh waktu? Kurasa tak akan semudah itu. Maka biarkan kami memilih surga kami sendiri.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Meminta Izin
"Ayah mau minta izin kalian untuk menikah lagi.” Ibarat petir di siang terik, kalimat itu sekonyong-konyong menyentak kedamaian kami. Kami bertiga saling bertatap mata dengan mulut masing-masing terkatup rapat, tak mengerti harus bereaksi bagaimana. Kami masih berduka. Iya. Duka yang belum lagi kami mampu berdamai dengannya. Karena virus s****n itu kami harus merelakan kepergian wanita paling berharga dalam kehidupan kami. Ibu. Kami menggelepar selayaknya ikan yang membutuhkan air untuk bertahan hidup. Jangankan untuk memandikan jasadnya, lalu mengantarkan ke peristirahatan terakhirnya sebagai penghormatan terakhir kami, memeluk raganya untuk yang terakhir kalinya pun kami tak bisa. Berhari-hari kami meredam tangis tertahan. Bagai tersayat bilah pisau tajam, luka tak kasatmata ini entah kapan kami mampu sembuh darinya. Kami tahu bahwa tak seharusnya kami menggugat takdir. Pak ustaz yang memberikan ceramah pada acara tahlilan, yang digagas oleh tetangga-tetangga kami di masjid dekat rumah mengatakan, bahwa kapan pun dan bagaimanapun cara kembali seorang anak manusia ke pangkuan Tuhannya, tak boleh sedikitpun kita mempertanyakannya. Semua dalam goresan takdir-Nya. Satu-satunya bekal yang pak ustaz berikan kepada kami adalah keyakinan bahwa tidaklah manusia menuntaskan perjalanannya di muka bumi ini, melainkan telah cukup bekalnya untuk ia persembahkan kepada Tuhannya. Inilah yang akhirnya menguatkan batin kami untuk mengikhlaskan kepergian ibu. Kami percaya bahwa bekal ibu telah cukup untuk perjalanan berikutnya. Ibu orang baik, itu kesaksian orang-orang yang mengenalnya. Beliau tak pernah berpikir panjang untuk mengulurkan tangannya untuk memberi bantuan kepada siapapun. Mungkin itulah yang menjadi jembatan masuknya virus s****n itu ke dalam tubuhnya. Namun di saat kami masih berjuang untuk mengikhlaskan takdir yang berlaku kepada kami ini, haruskah beban baru ditimpakan ke pundak kami? Menerima kehadiran pengganti ibu. Oh tidak. Kami tidak siap untuk itu. Bukannya kami mau menjadi anak yang durhaka terhadap ayah. Kami tahu ayah juga sangat berduka atas kepergian mendadak ibu. Berkali-kali kami menemukan ayah duduk melamun di kursi teras, tempat favorit ayah dan ibu sering menghabiskan waktu senja bersama dulu. Ditemani secangkir teh hangat dan kudapan yang dibuat ibu, sambil memperbincangkan kesibukan mereka seharian. Bedanya sekarang, tak ada lagi cerita yang mengalir dari bibirnya. Bahkan secangkir teh yang kubuatkan untuknya tak ia sesap barang sedikitpun. Kalut. Itu yang kami rasa. Apalagi jika nanti aku sudah harus kembali ke kost saat perkuliahan kembali dimulai. Adik keduaku juga sebentar lagi akan mendaftar masuk kuliah. Dipastikan nantinya ayah hanya akan berdua dengan adik bungsuku yang masih kelas sebelas di rumah besar ini. “Tapi, Yah, tanah makam ibu saja masih basah, kenapa Ayah sudah mau menikah lagi? Apa Ayah sudah melupakan ibu?” Pertanyaan Rizki, adik nomor duaku, yang akhirnya memutus rasa terperangah kami. Kulihat gusar memenuhi wajahnya, dengus napas kasar juga nampak ia embus berkali-kali. Sementara adik bungsuku, Raka, masih terdiam di kursinya sambil terus menunduk. Kami tahu, Raka lah yang paling merasa kehilangan ibu. Dialah yang paling bersikap manja kepada almarhumah ibu. Bahkan dia sempat kehilangan suaranya selama tiga hari setelah pulang dari makam ibu. Kata dokter hanya dampak dari stres yang ia tahan. “Mbak, bicara. Jangan diam saja, aku enggak mau punya ibu tiri!” Kembali kudengar suara Rizki melengking, kali ini matanya tajam menatap ke arahku. Adikku yang satu itu memang yang paling tidak bisa mengontrol emosinya. Berkali-kali orang tua kami dipanggil ke sekolah karena ulahnya yang sering berkelahi dengan temannya, padahal hanya karena masalah sepele. Skorsing satu minggu menjadi langganan hukuman untuknya. Jika bukan karena kondisi ibu yang kemudian drop, karena diabetes yang belakangan ini diidapnya kambuh setelah panggilan sekolah yang terakhir, mungkin dia tidak akan belajar untuk mengendalikan emosinya. “Kenapa Ayah mau menikah lagi? Rania enggak setuju, Yah!” Susah payah kutelan ludahku, napasku serasa terhenti di tenggorokan saja. Bola mataku pun mulai terasa panas. Aku yakin sebentar lagi genangan air di dalamnya akan meluncur bebas. Ayah hanya memandang kami satu per satu. Lama. Napas panjang terlihat ia embus pelan, seakan ingin menceritakan beban berat yang ditanggungnya kepada kami. “Ayah butuh teman.” Lama kami menunggu kalimat selanjutnya yang mungkin akan ayah katakan, namun hingga sempurna satu putaran jarum detik tak ada kalimat yang terluncur dari bibir ayah lagi. Hanya itukah alasan dari keinginannya untuk menikah lagi? “Tapi, kan, ada kami, Yah. Kami akan terus temani Ayah. Rania akan berhenti kuliah dan temani Ayah di sini.” Kubujuk dengan sangat supaya ayah mau membatalkan niatnya. Sungguh kami tidak siap menerima kehadiran orang asing untuk menggantikan almarhumah ibu. Bagaimana jika wanita yang akan ayah nikahi nanti hanya akan mencintai ayah, atau lebih parahnya hanya mencintai harta ayah? Bagaimana jika nanti dia hanya akan hidup berfoya-foya menghabiskan harta benda kami? Bagaimana jika dia nanti hanya akan bersikap baik kepada kami ketika di hadapan ayah, lalu bersikap buruk ketika ayah tak ada? Ketakutan-ketakutan seperti itu wajar, ‘kan? Seperti penggambaran ibu tiri-ibu tiri di serial-serial televisi itu. Kulihat ayah menggeleng kepalanya lemah, kemudian tangannya menyentuh kepalaku, diusapnya rambutku lembut. “Jangan, Ibu ingin semua anak-anaknya jadi sarjana. Kamu tidak boleh berhenti kuliah.” Airmataku tumpah pada akhirnya. Aku dalam dilema. “Siapa wanita itu, Yah?” Entah mengapa tiba-tiba kalimat itu meluncur dari bibirku setelah mereda isakku. Ingin kutarik kembali saja andai bisa. Mungkin otakku sedang tidak berfungsi normal. “Mbak!” seruan keras dari bibir Rizki semakin membuatku menyesali kalimat yang sudah kadung terucap itu. Aku tahu aku salah. Namun kita juga harus tetap adil terhadap ayah. Aku pikir kita harus mencari alasan kuat seandainya kita bersikukuh menolak keinginan ayah itu. Seandainya wanita itu benar-benar bukan wanita yang baik, tidak akan ada yang bisa melawan keberatan kami, ‘kan? Begitu asumsiku. Kuangkat telapak tangan kananku ketika Rizki sudah hendak menumpahkan kata-katanya lagi. Aku yakin dia tahu alasan aku berbuat demikian. “Seorang teman ayah mengenalkan kami kemarin. Dia wanita yang lembut, santun tutur katanya, ayah yakin dia akan bisa jadi Ibu yang baik buat kalian.” Ayah menggenggam lembut tanganku yang terpaut di atas meja, seakan ingin menyalurkan keyakinan yang ia punya. “Dan Ayah sudah jatuh cinta sama wanita itu? b******k!!” suara keras gebrakan meja menyentak kami. Diiringi napasnya yang memburu. “Rizki!! Jaga sopan santun kamu. Ayah dan Ibu tidak pernah mengajarkan kita untuk berlaku kurang ajar.” Penuh geram kuarahkan tatapan mataku ke arahnya. Bagaimanapun tidak sukanya kita terhadap keinginan ayah, tidak akan aku biarkan satu anaknya pun berlaku tidak sopan kepadanya. Sementara Raka, entah mengapa dia masih tetap diam saja. Apakah dia menyetujui keinginan ayah? Padahal biasanya dia yang akan lebih banyak bersuara ketika diskusi-diskusi keluarga kami lakukan dahulu. Aku tak bisa menebak apa yang ada di benaknya sekarang. Namun entah mengapa sikap diamnya justru terlihat menakutkan bagiku. “Bagaimana statusnya, Yah?” Terus kugali informasi yang mungkin bisa menjadi s*****a bagi kami untuk menentang keinginannya. Aku berjudi dengan berbagai kemungkinan. “Umurnya dua puluh sembilan tahun dan masih gadis. Sempat akan menikah, namun calon suaminya meninggal dalam perjalanan saat akad nikah akan dilakukan, karena kecelakaan lalu lintas.” Ya Salam! Kepalaku langsung berdenyut nyeri. Bagaimana mungkin ayah akan menikahi wanita yang berjarak dua puluh tahun darinya? Bahkan dia lebih pantas untuk kupanggil “mbak” daripada “ibu”. Astaga. “Tolong pertimbangkan lagi, Yah. Apa dia akan bisa jadi Ibu yang baik bagi kami? Selisih umur Ayah sangat jauh dengan dia. Apa kata para tetangga nanti?” Ayah menggeleng kembali kepalanya pelan. “Keputusan ayah sudah bulat.” “Aku tetap tidak setuju Ayah mau menikah lagi. Titik!” Rizki tetap kekeh dengan keputusannya, menolak tanpa berpikir panjang lagi. “Kalau begitu ayah tarik kata permintaan izin ini. Ini adalah pemberitahuan. Ayah akan tetap menikah dengannya.” Tersentak kami dengan kalimat itu. Ini adalah kali pertama ayah tidak memedulikan pendapat kami. Satu hal tidak pernah kami temui saat ibu masih hidup dulu. Kemana sikap demokratis yang sering ayah gaungkan? “Kalau Ayah tetap ingin menikah dengan wanita itu, Raka akan pindah ke rumah Bude.” Akhirnya satu kalimat terucap dari bibir Raka yang sedari tadi terkatup. Kalimat yang sungguh tidak kami duga bisa keluar dari bibirnya, dan ekspresi wajah datar yang mengiringi kepergiannya masuk ke dalam kamar. ***** Hai.... new story. Jangan lupa klik "love" dan follow akun aku, ya. Follow juga IGku @sayocamar_165

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook