Bab 4 Vila Pribadi

1881 Kata
Mi Cai, ibunya, dan Zhang Jie terus menerus memojokkanku dengan kata-kata mereka seolah mereka sedang mengikuti lomba debat, tetapi aku mengabaikan mereka. Si Kepala Pelayan pun hanya bisa tersenyum melihat kelakuan ketiga orang ini yang tampak terlihat bodoh baginya. Tak lama kemudian, aku mengedipkan mata untuk memberi isyarat kepada pria tua itu. Dia mengangguk paham, lalu berkata sambil tersenyum, “Nyonya, silakan turun ke lantai bawah bersama saya.” Ibu mertuaku terus mencibir tiada henti dan ikut turun bersama, “Akting saja terus! Aku ingin lihat bagaimana lagi kau bisa terus berakting!” Aku melihat iring-iringan mobil panjang yang berjajar di depan pintu gerbang perumahan kami. Semua mobilnya adalah mobil Rolls-Royce yang membuat suasana seketika megah. Warga sekitar juga tidak mengerti tentang apa yang sedang terjadi. Mereka mengira kalau saat ini sedang berlangsung sebuah pesta pernikahan atau ada orang penting yang hadir! Mobil yang berada paling depan adalah Rolls-Royce Phantom edisi terbatas keluaran tahun ini seharga ratusan juta yuan. Ibu mertuaku tidak mengetahui apakah itu mobil asli atau pun palsu, tapi Zhang Jie berbeda. Pria itu telah berkecimpung di bisnis penjualan selama bertahun-tahun. Ia mengetahui jenis mobil apa ini dengan pasti. Rolls-Royce Phantom ini hanya ada beberapa buah saja di dunia. Sangat tidak mungkin untuk menyewa mobil jenis ini. Ibu mertuaku masih tidak percaya denganku. Si wanita tua itu kembali mencercaku dengan kata-kata tajamnya, “Cih, memang cukup layak! Katakan padaku, berapa banyak uang yang kau keluarkan? Mu Feng, kapan kau akan dewasa? Kuberitahu kau, meskipun kau melakukan sesuatu sebesar ini, aku tak akan memberimu uang satu yuan pun untuk membayarnya!” Raut muka Zhang Jie menjadi semakin tidak sedap dipandang. Ia yang awalnya menikmati pertunjukan ini langsung berubah menjadi iri. Aku langsung berjalan ke sebelahnya dan bertanya padanya dengan sopan, “Zhang Jie, benar, ‘kan? Apa pendapatmu tentang mobilku?” “Bagus sekali,” komentar pria itu dengan suara yang sangat pelan, seolah ia lemas karena belum makan. “Lalu, menurutmu berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menyewa mobil ini sehari?” pancingku lagi. Zhang Jie terdiam seperti orang yang hampir mati lemas. Akhirnya, ia tidak punya pilihan selain pergi begitu saja dengan malu. Ia segera beralasan, “Bibi, aku tiba-tiba teringat kalau ada sesuatu yang harus aku kerjakan di kantor, jadi aku permisi dulu.” “Hei, Zhang Jie, kau belum makan. Bibi berencana memasak iga babi rebus favoritmu!” seru ibu mertuaku. Ia langsung menolak dengan kesal, “Aku tidak ikut makan!” Lalu, Zhang Jie berbalik dan pergi sembari menatapku dengan seram, tapi aku tidak takut padanya! Kalau seseorang memiliki uang, mereka akan menjadi lebih kuat! Begitu juga denganku. Pada saat ini, Mi Cai juga menyadari ada sesuatu yang salah. Dia mungkin mengira aku ini benar-benar memenangkan lotre. Ia kemudian berkata padaku, “Mu Feng, ayo kita naik ke atas dan bicara. Ada terlalu banyak orang di sini.” Nada bicaranya kali ini sangatlah lembut, berbeda dari nada bicara yang sebelumnya. Aku balik bertanya kepada wanita cantik itu, “Kau tidak kecewa padaku?” “Aku…,” Mi Cai terhenti, wanita itu tidak lagi melanjutkan pembicaraan. Dari awal sampai akhir, mereka semua mengira ini adalah lelucon yang aku lakukan. Mereka tidak pernah menyangka bahwa aku adalah tokoh utama yang sesungguhnya. Aku segera memerintahkan si Kepala Pelayan, “Kepala Pelayan, segera bawa pergi dan masukkan hadiah-hadiah itu ke dalam mobil karena istriku tidak menyukainya. Ayo kita bicara di tempat lain!” “Jangan! Aku suka hadiah-hadiah itu kok, aku…,” sanggah Mi Cai, tetapi aku tidak ingin lagi mendengarnya. Si Kepala Pelayan hanya mematuhi perintahku. Aku langsung masuk ke mobil Rolls-Royce Phantom edisi terbatas itu dan menaikkan kaca jendelanya sampai tertutup rapat. Mobil langsung pergi meninggalkan perumahan. Mi Cai perlahan-lahan menghilang dari pandanganku. Sebelumnya, aku sangat mencintai wanita itu. Bahkan bisa dibilang kalau diriku ini terobsesi padanya! Fitur wajahnya, perawakannya, dan sikap dinginnya membuatku mabuk kepayang. Bagiku, aku mendambakan Mi Cai bagaikan pungguk yang merindukan bulan! Namun, ketika aku duduk di kursi kulit ini seraya memandangi Mi Cai melalui gelapnya kaca jendela mobil, aku tiba-tiba mendapati kalau dia ternyata biasa-biasa saja. Kupejamkan mataku. Aku ingin menikmati kenyamanan ini tanpa gangguan. Saat teringat bagaimana raut wajah ibu mertuaku yang ketakutan barusan, aku tak bisa menahan tawaku. Aku merasa sangat lega! Si Kepala Pelayan yang berada di sampingku berkata dengan ramah, “Tuan Muda, sekarang saya akan membawa Anda ke tempat beristirahat.” Aku segera mengucapkan terima kasihku padanya, “Ya, terima kasih banyak untuk hari ini! Aku…,” “Tidak perlu bilang apa-apa lagi, Tuan Muda. Saya mengerti, memang inilah yang harus kami lakukan,” si Kepala Pelayan berkata dengan ramah. Tanpa basa-basi, aku langsung bertanya padanya, “Bisakah kau menceritakan lebih banyak tentang ibuku?” “Beliau tidak ingin saya terlalu banyak bercerita pada Anda, Tuan Muda, akan tetapi ingatlah bahwa ibu Anda sangat mencintai Anda. Beliau bukan hanya seorang pengusaha sukses saja, tetapi juga seorang miliarder,” jawab pria tua itu. Kepala Pelayan itu tersenyum padaku, aku pun ikut tersenyum. Walaupun belum pernah bertemu ibuku sekali pun sejak aku lahir, aku tetap merasa sangat dekat dan sayang padanya. Tidak butuh waktu lama sebelum akhirnya mobilku masuk ke sebuah vila pribadi yang terletak di area vila terbesar dan memiliki pemandangan terbaik di kota ini. Vila ini begitu besar. Bangunan utamanya saja terdiri dari lima lantai. Tempat ini memiliki area bersantai, pusat kebugaran, area hiburan, ruang tamu, karaoke, kamar tidur, dan lain-lain. Semua yang aku dibutuhkan tersedia di sini. Tidak hanya itu, interior vila ini adalah interior terindah yang pernah kulihat. Belum lagi, ada taman yang begitu luas disertai kolam renang serta berbagai fasilitas mewah lainnya di luar bangunan utama. Aku tidak tahu berapa nilai vila pribadi ini, aku tak pernah membayangkan akan tinggal di tempat semegah ini! Tempat ini sangat luar biasa. Malam harinya, aku menerima panggilan telepon yang tak terhitung banyaknya dari Mi Cai. Tidak berlebihan bila aku mengatakan bahwa jumlah panggilan telepon Mi Cai malam ini lebih banyak daripada gabungan pesan yang dikirimkannya selama dua tahun ini. Aku tidak menjawab panggilan telepon maupun membalas pesan darinya, aku juga ingin agar wanita itu merasakan apa yang aku rasakan selama ini. Bagaimana rasanya diabaikan dengan dingin, dianggap sebagai beban, dan diperlakukan secara acuh tak acuh. Aku akhirnya tertidur dalam keadaan setengah tersadar. Keesokan paginya, Kepala Pelayan menyuruh tiga atau lima orang pelayan wanita muda untuk mengurusku. Pria itu meminta agar mereka menungguku terbangun, layaknya seorang tuan muda zaman dulu. Pastinya, mereka dibayar dengan gaji yang di atas rata-rata untuk bertanggung jawab dalam mengurus pakaianku dan memperbaiki gaya rambutku! Tubuhku yang proporsional dengan tinggi 185 cm ini membuat diriku terlihat semakin gagah ketika aku mengenakan pakaian apa pun. Sebelumnya aku tidak punya uang sama sekali, itulah alasan mengapa diriku merasa tidak percaya diri. Saat berdiri di depan cermin ini, aku tersenyum cerah. “Tuan Muda, Anda terlihat sangat keren mengenakan pakaian ini!” puji salah satu pelayan sambil tersenyum yang membuatku tercengang. “Benar sekali, coba Anda pakai ini!” ujar pelayan lain yang mengenakan Rolex Green Water Ghost, jam seharga 100.000 yuan yang melambangkan kekayaan, di pergelangan tanganku yang amat kusukai. Ketika aku keluar dari kamarku, seorang pelayan lain segera menyiapkan sarapan. Pelayan ini pasti pelayan yang bertanggung jawab dalam memberikanku makanan yang lezat sekaligus bergizi. Ia mengarahkanku ke ruang meka. Aku dapat melihat meja makan yang penuh dengan beraneka ragam sarapan yang disiapkan dengan sepenuh hati. Senyumku semakin lebar begitu aku melihat makanan-makanan yang tersaji, “Banyak sekali. Bisakah aku memakan semua ini? Hei, kalian kemarilah, ayo kita makan bersama!” Aku memanggil para pelayan yang baru saja membantu mendandaniku. Mereka menjawab sambil tersenyum, “Tuan Muda, Anda makan terlebih dahulu, kami akan makan nanti!” “Nanti apanya, cepat ke sini! Apa kalian mau tidak menurut?” kataku sambil tersenyum. Mereka langsung menuruti perintahku, “Baik, Tuan Muda, kami akan segera ke sana!” Meskipun diriku menjadi kaya dalam semalam, aku percaya bahwa kebaikan dalam diri seseorang tidak boleh hilang. Dengan mengajak mereka makan, aku mengawali pagiku dengan sarapan ditemani para pelayan wanita. Mereka semua seumuran denganku. Tidak hanya itu, semuanya adalah lulusan dari universitas terkemuka. Cara mereka berbicara membuat siapa pun akan merasa sangat nyaman dengan mereka, tetapi yang paling penting adalah kecantikan muka mereka. Para pelayan itu menyebutkan nama mereka satu per satu padaku. Sayangnya, aku kesulitan mengingat nama mereka dengan baik. “Kalian begitu hebat tidakkah kalian merasa menyia-nyiakan bakat kalian dengan datang ke sini untuk melayaniku?” tanyaku dengan penasaran. “Tidak, Tuan Muda. Saya pikir tidak peduli apa pun pekerjaannya, asalkan dapat mendedikasikan diri, itu sudah cukup!” jawab Yuan Yuan yang memiliki lesung pipit manis saat ia tersenyum. “Hehe, sebenarnya ada alasan lain, ‘kan? Contohnya karena gajinya sangat besar!” godaku pada Yuan Yuan. Wajah gadis itu langsung semerah tomat, rasanya aku ingin terus menggodanya dan para pelayan lainnya. Aku tahu kalau gaji mereka pastilah cukup besar. Mereka harus melalui proses seleksi berkali-kali untuk dapat bekerja di sini. Level persaingannya tidak kalah dengan ujian masuk ke universitas ternama. Hanya yang terbaik di antara yang terbaik yang dapat diterima. Tidak heran mereka semua terlihat sangat cerdas! Pada saat ini, Kepala Pelayan masuk dan berkata sambil tersenyum, “Tuan Muda, apakah Anda tidur nyenyak tadi malam?” “Ya, tadi malam merupakan tidur ternyaman yang pernah aku rasakan. Kepala Pelayan, panggil saja aku dengan namaku. Jangan panggil Tuan Muda, kau kan lebih tua dari aku,” jawabku dengan muka berseri-seri. “Tidak apa-apa, Tuan Muda. Saya sudah terbiasa. Dulu sekali, ibu Anda pernah menyelamatkan hidup saya. Jadi, sudah seharusnya saya berjanji untuk menjadi Kepala Pelayan Anda selama tiga generasi.” “Hehe, ya, kalau begitu kau harus bekerja keras! Masih ada satu generasi lagi!” kataku sambil menggoda si pria tua itu. Kepala Pelayan hanya tersenyum tipis, “Tuan Muda bisa saja bercanda!” Matanya mengisyaratkan kepada para pelayan untuk segera keluar. Begitu para wanita cantik itu keluar, ia langsung mengeluarkan sebuah kaset video. Aku tahu dia akan memberitahuku sesuatu. Sejujurnya, aku merasa sedikit gugup, tapi diriku siap menerima semuanya! Tirai jendela segera ditutup dan Kepala Pelayan menyalakan kaset video itu. Seorang wanita tak dikenal muncul di hadapanku saat ini. Aku tidak mengenal wanita itu sama sekali, tetapi ia terlihat amat ramah begitu aku melihatnya untuk pertama kali. Jadi, aku langsung menebak sesuatu! Benar saja dugaanku. Ketika video berputar, wanita itu langsung berbicara, “Xiaofeng, aku adalah ibumu. Maafkanlah ibumu ini karena meninggalkanmu ketika kamu masih kecil. Selama bertahun-tahun, Ibu tidak pernah berhenti mencarimu. Sekarang adalah saatnya bagiku menebus kesalahanku padamu. Kepala Pelayan seharusnya sudah memberitahumu sesuatu. Ibu ingin menyampaikan padamu bahwa saat ini Ibu adalah orang terkaya di Dubai, dan kamu akan menjadi satu-satunya pewaris Ibu. Akan tetapi, sebelum mewarisi semua harta milik Ibu, Ibu akan memberimu sebuah ujian sebelum memutuskan apakah kamu mampu mengelola kekayaan yang akan Ibu berikan padamu.” Rekaman video itu tidak mengatakan apa ujiannya secara spesifik. Aku bertanya kepada Kepala Pelayan dengan ragu-ragu. Pria tua itu hanya menjawab sambil tersenyum, “Tuan Muda, ujiannya ada di uang saku yang saya berikan pada Anda!” Aku mengerutkan kening. Sepertinya aku mengerti jika ibuku ingin melihat bagaimana caraku berpikir serta kemampuanku dalam menggunakan uang yang ia berikan setelah aku menjadi kaya dalam semalam. Ia ingin melihat mulai dari uang yang ia berikan kemarin sampai uang yang akan kuhabiskan. Aku dapat merasakan beratnya ujian uang ini!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN