Ketika si Kepala Pelayan melihatku termenung, pria tua itu melangkah maju dan berkata dengan suara yang amat lembut, “Anda tidak perlu merasa tertekan, Tuan Muda. Lakukan saja yang terbaik.”
“Aku mengerti,” kataku.
Ia kemudian bertanya, “Lalu, apa yang akan Tuan Muda lakukan selanjutnya?”
Aku menjawab pertanyaannya, “Dari mana aku berasal, ke sanalah aku akan pergi. Aku akan kembali ke tempat kerjaku, kau tidak perlu mengantarku. Aku akan naik taksi sendiri.”
“Baik, Tuan Muda. Selanjutnya, jika ada keadaan darurat, silakan hubungi nomor ini, dan kami akan mengurusnya sesegera mungkin untuk Anda, 757XXXX,” katanya dengan hormat.
Aku mengucapkan terima kasihku, “Terima kasih, Kepala Pelayan. Aku mengerti!”
Sekarang, aku merasa siap untuk pergi ke kantor, di mana tidak hanya ada barang-barangku yang tertinggal, tetapi juga harga diriku ikut diinjak-injak. Aku akan meminta mereka untuk membayar rasa sakitku sedikit demi sedikit! Dengan menggunakan taksi, aku akhirnya tiba di kantor dan langsung menaiki lift ke lantai 10.
Saat aku sampai di kantorku, Li Ning sedang menggertak dan menceramahi para bawahannya di Departemen Keuangan, aku tidak tahu siapa yang memberikannya kekuasaan melakukan hal itu. Ketika melihatku, Li Ning langsung berpura-pura tidak menyadari kehadiranku dan melanjutkan ceramahnya di tempat itu. Pria itu tampaknya mendapatkan promosi, jika tidak, ia tidak akan berani menggertak bawahannya.
“Kalian harus selalu mempertimbangkan kepentingan perusahaan dan mengesampingkan kepentingan pribadi! Jangan bersikap seperti beberapa orang! Salah mencatat tagihan, merugikan orang lain dan merugikan diri sendiri! Mengerti?” bentaknya pada sekumpulan orang.
Semua orang menjawab dengan suara pelan, “Mengerti, Wakil Manajer!”
Aku membereskan barang-barangku yang berserakan di atas meja dan tidak memperhatikan yang lainnya. Biasanya aku adalah orang yang memperhatikan detail. Tak peduli jam berapa pun, mejaku akan selalu rapi, tetapi sekarang meja ini terlihat seperti kandang anjing! Aku menahan amarahku. Pada saat itu, Li Ning berjalan menghampiri seperti orang yang baik.
“Oh, jadi itu mantan rekan kerjaku, Mu Feng, apa kau sudah menemukan pekerjaan baru?” tanyanya dengan nada mencemooh.
Aku menyadari kalau dia memiliki niat jahat, jadi kujawab saja dengan acuh tak acuh, “Aku sedang berusaha mencari pekerjaan.”
“Ya, mencari nafkah itu benar-benar tidak mudah belakangan ini, tapi kau tak perlu khawatir, aku akan membantumu. Kalau kau mengalami kesulitan, hubungi aku kapan saja. Aku sudah menjadi Wakil Manajer Departemen Keuangan sekarang!” katanya dengan bangga.
Dia menekankan kata “Wakil Manajer” itu dengan sangat serius, ia rupanya ingin sekali memamerkan padaku kalau ia yang dulunya seorang bawahan telah mendapatkan posisi yang tinggi.
“Hehe, kalau begitu aku ingin memberi selamat kepadamu, Wakil Manajer Li. Aku berharap Wakil Manajer Li akan sukses dan tak henti-hentinya bekerja keras!” kataku sambil tersenyum sinis.
Balasan yang ia berikan tidak kalah sinis, “Ah, Mu Feng, kalau kau berbicara seperti ini sebelumnya, mungkinkah kau akan dipecat? Di masa yang akan datang, belajarlah untuk menjadi lebih cerdas dan berbicara yang lebih enak didengar, mengerti?”
Aku sangat membenci seseorang yang mendapatkan promosi dengan cara menusuk orang lain dari belakang, dan orang ini merasa ia pantas untuk memberikanku nasihat seperti ini di hadapanku. Muak sekali aku mendengar ucapannya yang begitu munafik. Aku bertekad untuk melepaskan label pecundang dari diriku sepenuhnya. Prosedur pengunduran diri adalah langkah pertamaku. Setengah jam kemudian, aku sudah menyelesaikan berkas-berkasnya. Langkah terakhir sebelum aku membebaskan diri dari tempat ini adalah tanda tangan atasanku sebelum aku dapat menerima sisa gaji bulan ini.
Aku menyerahkan berkas-berkas pengunduran diriku pada Li Ning, tapi Li Ning nampaknya tidak bersedia memberikan gaji terakhir milikku. Pria itu mengerutkan kening, wajahnya tampak tidak senang. Ia menatapku dengan pandangan remah seraya berkata, “Mu Feng, aku tidak bisa menandatangani berkasmu!”
“Kenapa?” tanyaku.
Ia membalas dengan santainya, “Alasannya sangat sederhana. Perusahaan tidak akan membayarkan gajimu kalau kau dipecat karena kelalaian pribadi di tempat kerja.”
Aku kembali bertanya, “Apa ada aturannya? Kenapa aku tidak tahu?”
Aku merasa amat marah karena perusahaan tidak pernah memiliki aturan seperti itu.
“Hehe, maafkan aku, aturan ini baru saja ditetapkan. Sebagai seorang Wakil Manajer, aku memiliki kuasa untuk melakukan itu!” katanya sambil terus memandang seolah aku ini sampah.
Aku sudah tidak tahan lagi. Dengan sigap, aku mengambil berkas-berkasku dari tangannya, “Aku akan pergi menemui Pak Manajer.”
Ia segera berkata, “Pak Manajer sedang melakukan perjalanan bisnis. Sekarang, aku yang bertanggung jawab atas semua masalah keuangan.”
Aku merasa sangat kesal saat menatap wajah pria sialan itu sampai-sampai aku ingin sekali menggertakkan gigi saking kesalnya. Namun, semakin aku bersikap seperti ini, Li Ning akan semakin tersenyum puas! Orang-orang seperti dia senang menginjak-injak martabat orang lain dan menganggap kemalangan orang lain sebagai kegembiraan mereka.
“Aku yakin kau akan menandatangani berkasku,” kataku dengan tegas.
Ia membalas sambil terkekeh, “Oke, aku akan menunggu di sini!”
Saat aku meninggalkan Departemen Keuangan, wajah angkuh Li Ning terus menerus muncul dalam benakku. Akan tetapi, aku tahu akan ada saatnya bagi pria itu menyesali perbuatannya. Sebagian besar alasan mengapa perusahaan ini merugi dan memberhentikan karyawannya disebabkan oleh rantai modal. Gara-gara sebuah proyek perusahaan multinasional, perusahaan gagal menyelesaikan pesanan tepat waktu dan kehilangan banyak uang karena harus membayar denda pelanggaran kontrak.
Aku bisa mengetahui ini karena aku sebenarnya adalah seorang akuntan. Aku sudah menghitung dengan menyeluruh bahwa perusahaan sedang membutuhkan dana setidaknya tiga puluh juta yuan agar dapat melalui krisis ini. Aku akan melakukan sesuatu untuk perusahaan ini!
Aku langsung mengarahkan kakiku ke Departemen Produksi dan mengetuk pintu ruangan Kepala Departemen Produksi. Kepala Departemen Produksi merasa sangat khawatir tentang bahan baku produk. Kertas-kertas berisi program kerja berserakan di lantai ruang kerjanya. Sangat jelas bahwa aku datang pada waktu yang tidak tepat. Aku memberanikan diri untuk bilang padanya, “Halo, Pak Kepala Bagian. Saya Mu Feng, akuntan perusahaan. Alasan utama saya kemari kali ini untuk-”
Sebelum aku menyelesaikan perkataanku, Kepala Departemen Produksi mencibir, “Hehe, apakah sekarang giliran akuntan yang datang untuk mendesak jadwal produksi? Mendesak tapi tidak ada uang, apa yang bisa aku gunakan untuk produksi?”
Aku langsung saja diperlakukan layaknya samsak oleh Kepala Departemen Produksi. Namun, aku tetap bersikap tenang dan berkepala dingin. Lagi pula, aku sekarang adalah orang kaya. Aku memberitahunya dengan tenang, “Pak Kepala Departemen Produksi, saya bisa membantu Anda.”
Mendengar aku berbicara dengan terus terang, Pak Kepala Departemen Produksi langsung saja tertawa terbahak-bahak dari yang sebelumnya.
Ia terus menghinaku, “Membantuku? Bisakah kau membantuku memasang sekrup? Atau membantuku membongkar bahan baku?”
“Saya bisa menyediakan dana untuk proses produksi. Dengan demikian, bahan bakunya akan tersedia dan masalah pesanan dapat diselesaikan,” ujarku.
“Lalu berapa banyak uang yang akan kau berikan kepadaku? Tiga ribu yuan? Atau lima ribu yuan?” tanyanya dengan nada menantangku.
Pria itu sepertinya sudah tidak memiliki tenaga untuk berbicara denganku. Sambil memegangi kepalanya, ia mengarahkan telunjuknya kepadaku dan berseru dengan marahnya, “Pergi sana! Buang-buang waktuku saja!”
Aku diusir keluar begitu saja oleh jari telunjuk yang ia arahkan ke hidungku. Aku tersenyum getir seraya menghela napas pelan dan kemudian menekan nomor telepon yang diberikan si Kepala Pelayan kepadaku. Aku segera menelepon nomor itu.
“Halo, apakah ini Kepala Pelayan?” tanyaku pada si penerima telepon.
Suara si Kepala Pelayan langsung terdengar, “Tuan Muda, silakan memberi perintah.”
Aku segera memberikannya perintah, “Aku minta uang tunai tiga puluh ribu yuan dan antarkan padaku di lantai 10 Jalan Tongzhou, bisa ‘kan?”
“Baik, Tuan Muda, tunggu sebentar, kami akan segera ke sana!” katanya.
Sambil menunggu Kepala Pelayan datang, aku menuju ke Departemen Investasi. Kepala Departemen Investasi sedang berjalan hulu-hilir untuk mengumpulkan uang. Nada suaranya pun tidak terdengar seperti seorang Kepala Departemen. Kepala Departemen Investasi adalah seorang wanita karir yang sukses. Aku mengenalnya, ia adalah orang yang sangat baik. Gaun ketat dengan blazer hitam yang dikenakannya memancarkan aura yang membuatku sedikit terpana.
Aku langsung saja mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan itu. Kepala Departemen Investasi, Li Nan, meletakkan dokumen di tangannya. Ketika melihat kalau yang masuk itu adalah aku, Li Nan tersenyum manis. Setiap hari aku mengirimkan laporan keuangan kepadanya. Ia lalu akan membiayainya sesuai laporan yang kuberikan.
“Ternyata Mu Feng, kali ini kau agak terlambat ya. Bagaimana dengan laporannya?” Li Nan bertanya dengan suara yang selembut sutra.
“Bu Kepala Bagian, aku… aku dipecat!” kataku dengan agak malu-malu.
Alisnya langsung sedikit mengerut. Muka Li Nan yang biasanya teduh sekarang menjadi tidak terlalu enak dilihat. Wanita itu langsung saja berdiri dari tempat duduknya dan berkata dengan tegas, “Aku akan berbicara dengan atasanmu. Perusahaan memang sedang mengalami krisis sekarang, tapi agaknya terlalu berlebihan jika memecatmu dan membuatmu harus bergantung pada istrimu.”
Aku buru-buru menjabat tangannya untuk menunjukkan rasa hormatku padanya. Hatiku langsung saja terasa hangat. Aku merasa cukup gembira, setidaknya ada seseorang yang peduli padaku di perusahaan ini! Ketika telapak tangan kami bersentuhan, rasanya telapak tangan kami seperti tersengat aliran listrik. Kami berdua saling memandang satu sama lain dengan sekejap mata. Setelah hening sesaat, aku tidak lagi merasa malu. Sebaliknya, aku merasa sangat nyaman.
“Bu Kepala Bagian, tidak apa-apa. Saya tidak berencana untuk bekerja kembali. Saya datang menemui Anda kali ini untuk-”
Sebelum aku selesai berbicara, CEO perusahaan tiba-tiba masuk dengan wajah marah dan tak sedap dipandang. Bruk! Setumpuk dokumen dibanting ke meja. Li Nan terlihat sangat ketakutan sehingga dia menundukkan kepalanya saat mendengarkan ceramah sang CEO yang kurang lebih berisi membahas mengenai masalah pembiayaan.
Sejauh yang aku tahu, Li Nan tergolong orang yang tidak sabar. Akan tetapi, saat ini, ia hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya dengan mendengarkan kata-kata yang dikeluarkan oleh CEO itu.
“Saya beritahu pada Anda ya! Kalau Anda tidak bisa mengumpulkan uang lagi sampai akhir bulan ini, Anda harus melepaskan jabatan Anda, jangan menyia-nyiakan sumber daya yang ada!” perintah CEO.
Wanita itu langsung mengangguk hormat, “Baik, Tuan Li.”
Lalu, CEO melanjutkan, “Selain itu, saya kedatangan sejumlah klien hari ini. Anda temani saya nanti malam dan berusahalah untuk memenuhi berbagai kebutuhan klien. Bila perlu, Anda tidak usah pulang!”
Li Nan tidak mengatakan sepatah kata pun. Wanita itu terlihat muak dengan jamuan makan malam bisnis seperti itu. Akan tetapi, sebagai Kepala Departemen Investasi, dirinya tak dapat melarikan diri. Beberapa menit kemudian, CEO itu meninggalkan ruangan. Li Nan menatapku dan memaksakan sebuah senyum tipis.
Pada saat itu, aku pun merasa bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang benar-benar hidup dengan mudah. Semua orang hidup dengan membawa beban yang berat, tidak ada seorang pun yang melaluinya tanpa kesulitan.
“Kau lihat ‘kan? Mungkin kita berdua akan segera senasib, hehe,” katanya sambil berusaha bercanda.
“Apakah Bu Kepala Departemen akan tetap pergi ke jamuan makan malam bisnis nanti malam?” tanyaku dengan iba.
Ia menarik napas sebelum menjawab, “Ah, mengenai hal itu, mau tak mau aku harus pergi. Ada beberapa hal yang tak bisa kuhindari.”
“Ajak saya. Saya bisa membantu Anda!” pintanya.
Wanita yang menjadi Kepala Departemen Investasi itu merasa geli mendengar ucapanku dan berkata, “Mu Feng, kau ini bocah bau kencur, apa yang bisa kau lakukan untukku? Menuangkan alkohol? Apa kau bisa minum lebih banyak dari aku?”
Aku menjawab dengan siap, “Bisa!”
“Baiklah, ikutlah denganku ke Departemen Keuangan untuk berbicara dengan manajer sehingga kau tetap dapat bekerja di perusahaan ini,” katanya.
Aku merasa sangat tersentuh dengan kebaikannya. Baru saja aku akan membalasnya, tiba-tiba ponselku berdering. Rupanya, Kepala Pelayan sudah membawakan uang tunai yang kuminta dan ia berada di lantai bawah.
“Bu Kepala Bagian, percayalah padaku. Badai pasti akan berlalu! Aku permisi dulu,” kataku dengan tersenyum simpul.
Li Nan mengerutkan alisnya dan bertanya, “Kau mau ke mana?”
“Saya akan ke Kantor Direksi, sampai jumpa!” jawabku sebelum pergi meninggalkannya.
Kepala Departemen Investasi itu hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatapku dengan tatapan bingung dan curiga. Aku tidak dapat menjelaskannya lebih lanjut.