Begitu aku sampai di lantai bawah, Kepala Pelayan sudah menungguku. Di samping pria tua itu, ada beberapa orang pengawal berjas dan berkacamata hitam yang membawa sejumlah koper kulit berukuran besar. Aku yakin kalau koper-koper itu pastilah berisi uang tunai.
Kepala Pelayan segera memohon maaf padaku, “Saya membuat Anda menunggu lama, Tuan Muda.”
“Tidak apa-apa. Kepala Pelayan, ada perusahaan yang rantai modalnya terputus. Aku ingin membantu mereka mengumpulkan dana. Seharusnya tiga puluh juta yuan ini sudah cukup.”
Kepala Pelayan mengangguk dan kemudian berbicara, “Tentu saja bisa, Tuan Muda. Akan tetapi, setelah saya pikir-pikir, Anda tidak memiliki identitas.”
“Identitas? Maksudmu bagaimana?” tanyaku.
“Benar, Tuan Muda. Saya sudah mengaturnya untuk Anda. Ini adalah kartu nama Anda yang baru,” jawab pria tua itu sambil menyodorkan sebuah kartu nama.
Sejujurnya, aku merasa sedikit terkejut ketika mengambil kartu nama tersebut dari Kepala Pelayan. Itu adalah pertama kalinya aku melihat kartu nama berukir tulisan berwarna emas. Namaku tertera di atasnya, Mu Feng, CEO HSBC Technology Co., Ltd.!
Aku tidak begitu mengenal perusahaan HSBC Technology. Kepala Pelayan hanya memberitahuku bahwa perusahaan itu adalah sebuah perusahaan kecil milik ibuku. Selain itu, aku tidak mengetahui lebih jauh tentang HSBC Technology. Aku langsung membawa Kepala Pelayan dan yang lainnya ke lantai atas. Kali ini diriku tidak lagi berencana untuk bersikap low profile dan langsung menuju ke kantor direksi.
Setelah mengetuk pintu, aku masuk ke dalam ruangan. Para direksi sedang mengadakan rapat guna membahas masalah pendanaan. Saat melihatku, wajah mereka tampak keheranan.
“Halo, para direksi sedang rapat, harap tunggu di luar,” kata seorang sekretaris yang melangkah maju untuk menghentikan diriku, tetapi ia diberhentikan oleh salah seorang direksi.
“Izinkan saya untuk bertanya siapakah Anda?” tanya direksi senior itu dengan lembut seraya bangkit dari tempat duduknya.
Kepala Pelayan menyodorkan kartu namaku kepadanya. Tiga detik kemudian, direksi tersebut meminta si sekretaris untuk menambahkan kursi dan membuatkan teh! Aku tetap diam tak bersuara ketika aku duduk semeja dengan para direksi ini. Di saat itulah, untuk sesaat aku merasa bahwa aku seseorang yang superior.
Setelah suasana begitu hening untuk beberapa saat, aku akhirnya memulai pembicaraan, “Maafkan saya telah mengganggu para jajaran direksi.”
“Tidak apa-apa, Tuan Mu,” jawab para direksi itu serempak.
Ketika aku mendapatkan respon dari mereka, aku kembali melanjutkan pembicaraan, “Saya yakin para direksi yang terhormat telah melihat kartu nama saya. Saya tahu bahwa perusahaan ini sedang mengalami permasalahan dengan rantai modal belakangan ini. Adanya proyek yang tertunda di tengah jalan, mengakibatkan kerugian dalam jangka panjang. Sekarang, saya ingin memberitahu kalau saya dapat membantu perusahaan dengan mengucurkan dana sebesar tiga puluh juta yuan, dan saya telah membawa uangnya.”
Setelah aku selesai berbicara, para pengawal yang dibawa oleh Kepala Pelayan mendekat dan meletakkan beberapa koper di atas meja. Totalnya ada lima buah koper dengan nilai total sejumlah 5 juta dolar AS yang dikonversi menjadi bernilai lebih dari tiga puluh juta yuan.
Para direksi yang berada di ruangan pun tercengang. Meskipun mereka semua adalah orang kaya, ini adalah pertama kalinya mereka melihat uang tunai sebanyak itu. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang uang tunai memang berdampak jauh lebih besar dibandingkan dengan transfer uang elektronik.
Setelah aku mengungkapkan keinginanku untuk membantu mereka dengan tulus, para direksi segera melangkah maju satu per satu dan menjabat tanganku dengan hormat. Mereka tidak sabar untuk bekerja sama denganku.
“Tuan Mu, niat Anda begitu tulus untuk membantu kami. Perusahaan kami akan segera merumuskan surat kontraknya. Kami menjamin bahwa periode pengembalian dananya tidak akan lebih dari setengah tahun,” kata salah seorang direksi.
Aku mengangguk dengan senyum sebagai balasannya, “Saya tidak meragukan hal itu, tetapi saya punya satu syarat.”
“Tuan Mu, silakan katakan kepada kami,” kata para direksi.
Aku langsung mengutarakan keinginanku, “Saya ingin menjadi CEO perusahaan ini.”
Pergantian CEO bukanlah perkara yang main-main. Bahkan para direksi harus mengadakan rapat untuk membahasnya secara cermat. Hanya atas dasar memastikan strategi pengembangan ke depan, penyesuaian personel baru dapat dilakukan. Waktu aku mengutarakan syarat ini, semua direksi yang hadir tampak sulit untuk menerimanya.
Aku menyadari kekhawatiran mereka dan melanjutkan, “Kenapa? Apa para direksi yang terhormat ini meragukan kemampuan saya?”
Mereka berkata dengan nada yang penuh dengan keraguan, “Tidak, Tuan Mu! Bukan itu yang kami maksud, hanya saja-”
Mereka tidak melanjutkan pembicaraan karena terlihat begitu bimbang. Melihat para jajaran direksi termenung, aku mengisyaratkan kepada Kepala Pelayan untuk pergi beserta para pengawal. Sesudah mereka meninggalkan ruangan, para direksi terlihat ketakutan. Mereka semua segera bangkit dari kursi mereka. Bagi para direksi ini, aku dianggap sebagai penyelamat hidup mereka yang amat penting. Tindakan sekecil apa pun yang kulakukan pastinya akan menggetarkan hati mereka.
“Tuan Mu, kami akan segera mengurusnya. Dapatkah Anda menunggu sebentar? Xiao Zhang, pergilah dan panggil Pak Qin kemari. Cepatlah!” seru seorang direksi.
“Baik, Pak Direksi!” kata Xiao Zhang.
Pak Qin, atau yang juga dipanggil dengan Qin Ming, yang disebut-sebut oleh salah seorang direksi barusan adalah CEO perusahaan ini yang sebelumnya membentak Li Nan, si Kepala Departemen Investasi. Sepuluh menit kemudian, sang CEO memasuki kantor direksi. Meskipun Pak Qin adalah pemimpin tertinggi di perusahaan, pria itu tetaplah seorang pekerja biasa. Jadi, pria itu bersikap sangat rendah hati di depan para direksi.
“Pak Qin, saya ingin mendengar strategi pengembangan masa depan perusahaan dari Anda. Mari kita bicarakan,” kata salah seorang direksi senior kepada Qin Ming dengan raut muka yang sangat serius, membuat Qin Ming merasa tidak enak.
Aku yang duduk di samping direksi senior tersebut mendengarkan dengan sabar penjelasan Qin Ming sambil meminum teh yang telah dibuat oleh si sekretaris.
“Saya pikir pengembangan perusahaan di masa yang akan datang harus ditempatkan pada perusahaan e-commerce kecil dan menengah. Oleh karena itu, kita harus memperbaiki pelayanan guna meningkatkan kepuasan pengguna … “
Penjelasan Qin Ming itu begitu bertele-tele dan memakan waktu sehingga para direksi mulai kehilangan kesabaran mereka. Bahkan, salah satu direksi tidak mengindahkan penjelasan yang begitu panjang dari CEO itu dan memerintahkan pria itu dengan dingin, “Bawakan laporan keuangan selama dua kuartal kemarin ke sini!”
“Baik, saya akan segera memanggil orang dari Departemen Keuangan yang terkait,” kata Qin Ming.
Mengingat Manajer Departemen Keuangan sedang melakukan perjalanan bisnis, maka Qin Ming memanggil Li Ning selaku Wakil Manajer Departemen Keuangan. Saat Li Ning memasuki ruangan ini, aku dapat melihat dengan sangat jelas betapa paniknya pria yang membuatku dipecat itu. Bahkan, tubuhnya sedikit gemetaran. Kelakuannya mengingatkanku ketika aku dimarahi habis-habisan oleh Manajer Departemen Keuangan.
Aku tidak tahu apakah Li Ning menyadari kehadiranku atau tidak, tetapi wajah dingin dari sejumlah direksi mungkin sudah cukup membuatnya gemetar!
Laporan keuangan kuartal terakhir terpampang di presentasi PPT. Melihat grafik penurunan yang seperti tebing di garis laba, wajah Qin Ming menjadi semakin tak sedap dipandang dan akhirnya berubah menjadi pucat pasi. Presentasi yang panjangnya tiga menit ini tidak diragukan lagi amat menyiksa dirinya. Aku hanya melihat presentasi itu seraya terdiam.
“Pak Qin, saya rasa Anda tidak cocok untuk menjadi CEO,” kata salah satu direksi senior dengan terus terang.
Namun, Qin Ming habis-habisan membela dirinya, “Pak Direksi, masalahnya bukan terletak pada diri saya. Jika perusahaan memiliki cukup dana untuk beroperasi, saya berjanji untuk menghidupkan kembali perusahaan ini.”
“Apa? Jadi, menurut Anda, kalau kami tidak punya dana operasional, kami akan bangkrut? Begitu maksud Anda? Semua orang di sini mengerti bahwa memang membutuhkan uang untuk menghasilkan uang, tetapi bagaimana cara memimpin perusahaan untuk keluar dari situasi yang begitu sulit inilah yang membutuhkan keahlian seorang CEO! Bukan hanya omong kosong saja!” tegur direksi senior itu seraya menunjuk Qin Ming.
Teguran itu membuat Qin Ming langsung tidak berkutik. Lagi pula, tidak ada pencapaian yang ia raih selama ia menjabat sebagai CEO, dan dia pun tidak dapat memberi penjelasan yang jelas mengenai hal itu. Akhirnya tidak ada jalan lain lagi, Qin Ming harus diturunkan menjadi Wakil CEO.
Mendengar kabar yang begitu mengagetkan, Qin Ming langsung saja memprotes penurunan jabatannya, “Para direksi, apakah menurut Anda ini akan berhasil? Saya masih harus menjabat sebagai CEO terlebih dahulu. Jika Anda memiliki kandidat lain yang lebih baik, saya akan turun jabatan. Jabatan CEO tidak boleh kosong walau hanya sehari!”
“Tidak perlu, kami telah menemukan seseorang untuk menggantikan Anda. Anda tidak perlu khawatir tentang hal itu!” seru para direksi dengan serempak.
“Siapa itu?” Qin Ming bertanya dengan gusar.
“Itu adalah aku!” jawabku sambil berdiri menatap pria yang dulunya hanya bisa kupandangi.
Terlihat jelas kebencian di tatapan matanya, aku dapat merasakannya. Di sisi lain ruangan, wajah Li Ning menjadi semakin pucat. Pria itu tidak dapat memercayai apa yang ia lihat. Ia pastinya tidak menyangka bahwa aku menjadi CEO tempatnya bekerja!
Lagi pula, aku sedang mengurus segala formalitas terkait pengunduran diriku tadi pagi dan memohon padanya untuk menandatangani slip gajiku. Setelah para direksi memperkenalkanku, Qin Ming tidak lagi mengatakan apa pun.
Pria itu adalah seseorang dengan keinginan untuk berkuasa yang kuat, ia tidak mengizinkan siapa pun berada di atasnya. Kehadiranku pastinya akan menimbulkan permusuhan darinya, tapi aku tidak peduli sama sekali.
“Baiklah, kami yakin bahwa Anda dan para karyawan sedang sangat sibuk. Selain itu, infokan pada setiap departemen bahwa dana telah didapatkan. Segera hubungi produsen, penjual, dan pemasok barang yang biasanya memasok!”
Mendengarkan perintah dari si direksi senior, Qin Ming nampaknya paham kenapa ia harus turun jabatan. Pria itu tidak lagi mengatakan apa pun, ia hanya mengangguk dan undur diri dari ruangan itu.
Sementara itu, Li Ning juga ingin mengikuti Qin Ming. Ia segera berkata dengan tubuh yang masih gemetar, “Bapak-bapak direksi yang terhormat, jika tidak ada hal lain, maka saya akan kembali bekerja.”
“Baik, kau bisa pergi,” kata sang direksi senior tadi.
Li Ning mengangguk, “Baik, Pak Direksi!”
Pria itu langsung berbalik dan menghela napas panjang. Rupanya ia bersyukur karena dirinya berhasil lolos dari bencana. Akan tetapi, aku tidak ingin dia melepaskan diri begitu saja.
“Tunggu, Wakil Manajer Li, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu,” kataku dengan tenang.
Li Ning merasa ada yang tidak beres dan segera berbalik. Wakil Manajer Departemen Keuangan itu tidak berani lagi menatap langsung ke arahku. Ia berkata dengan pasrah, “Tuan Mu, silakan katakan.”
“Buka lagi presentasi PPT-nya. Di halaman ketiga, di baris kelima laporan keuanganmu. Ada biaya operasional perusahaan yang belum tercatat sebesar 20.000 yuan,” kataku dengan nada tajam.
“Ah!”
Jantung Li Ning berdebar kencang, ia tertegun di tempat seperti orang bodoh. Ketika pria itu membuka PPT itu lagi, ada kesalahan kecil, seperti yang telah kukatakan.
Sudah dapat diperkirakan bagaimana raut wajah para direksi, salah satu dari mereka langsung menegurnya, “Tidak heran perusahaan terus merugi, sepertinya kau dibayar terlalu banyak sehingga kau hanya bermalas-malasan dan melakukan kesalahan. Bonusmu kuartal ini dipotong, kembali dan segera kerjakan tugasmu yang lain!.”
“Ya, baik, Pak Direksi Cao, saya akan segera kembali bekerja,” kata Li Ning dengan lemas.
Pria itu ingin segera meninggalkan tempat yang mengerikan ini. Namun, semakin dia ingin pergi, semakin aku menolak untuk melepaskannya!
Aku menghentikannya, “Untuk apa terburu-buru, Wakil Manajer Li!”
“Tuan Mu, ada lagi yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan menggunakan bahasa yang lebih sopan dibandingkan dengan ketika ia berbicara denganku tadi pagi.
“Apakah kau tahu kenapa aku bisa melihat kesalahan kecil seperti itu?” tanyaku balik padanya.
Ia langsung menggunakan kata-kata manisnya, “Tuan Mu sangat cerdas dan teliti dalam pekerjaannya. Anda adalah panutan saya untuk belajar. Di masa yang akan datang, saya pasti akan-”
Belum selesai ia berbicara, aku langsung saja memotongnya, “Jangan menyanjungku, Li Ning! Aku benar-benar tidak tahu apakah kau ini pintar atau bodoh! Ketika aku masih bekerja di perusahaan ini, kau menipuku dan merusak laporanku yang menyebabkan aku dipecat oleh Manajer Departemen Keuangan. Sekarang, kau malah membawa laporan yang sama, kau tampaknya sangat gembira, bukan?”