Li Ning terlihat jelas amat menyesal, ia menyesali mengapa dirinya mengambil laporan yang salah! Raut mukanya merah padam, ia tidak dapat bersuara sama sekali. Pria itu benar-benar kebingungan kali ini sampai-sampai ia tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun.
“Wakil Manajer Li, apa yang sebenarnya terjadi di sini?” Direksi Cao meraung dengan penuh kebencian karena ia amat membenci seorang penipu!
“Pak Direksi Cao, saya ... saya ... saya buta sebelumnya, saya tidak tahu kalau Tuan Mu ternyata ...” Li Ning tidak melanjutkan kata-katanya.
Seorang pria dewasa nyaris menangis di hadapan para direksi. Akhirnya, aku bangkit berdiri dan berjalan menghampiri dengan membawa slip gajiku sambil bercanda, “Wakil Manajer Li, tolong tanda tangani berkas ini dan bantu aku supaya mendapatkan gajiku selama kau masih menjadi wakil manajer. Kalau nanti kau dipecat, aku harus minta tanda tangan pada siapa?”
Mata Li Ning terlihat memerah. Pria itu meraih tanganku dan memohon sepenuh hati, “Mu Feng, eh bukan … maksudku Tuan Mu, tolong maafkan saya. Demi pertemanan kita selama bekerja dulu, maafkan saya untuk sekali ini saja, ya? Saya pasti akan berubah dan tidak akan mengulanginya, Tuan Mu, saya mohon!”
“Li Ning, kau tidak pantas menerima pengampunan dariku, apa kau tahu seperti apa dirimu? Seperti tikus! Karena kau, Departemen Keuangan menjadi kacau balau! Oleh karena itu, sekarang giliranmu untuk berkemas dan pergi,” jawabku dengan dingin.
Aku menepis tangannya. Tidak peduli sebanyak apa pun dia memohon, aku mengabaikannya. Direksi Cao yang mendengarkan percakapanku dengan Li Ning sedari tadi merasa muak kepada Li Ning dan segera memanggil satpam untuk menyeret pria itu keluar.
“Saya tidak menyangka kalau Tuan Mu berada di perusahaan kami sebelumnya. Itu bagus sekali. Saya khawatir Anda tidak akan mengerti situasi perusahaan kami!” ujar direksi senior itu sambil tersenyum.
“Saya sudah berada di perusahaan Anda selama dua tahun. Kondisinya biasa-biasa saja, tidak baik maupun tidak buruk. Namun birokrasinya terlalu serius, tidakkah kalian merasa demikian?”
Seolah mendapatkan tamparan telak di pipi mereka, para direksi itu tersenyum malu dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Pada kenyataannya, semua orang di tempat ini sudah mengetahuinya dengan sangat baik. Mereka berjanji kepadaku bahwa acara penyambutan untukku akan diadakan besok. Semua karyawan perusahaan akan hadir di sana.
Aku mengangguk dan menjawab, “Acaranya tidak usah terlalu besar-besaran. Bagiku yang penting niatnya saja.”
Namun, para direksi membantahku, “Mana mungkin bisa begitu? Anda adalah penyelamat bagi seluruh perusahaan kami, Tuan Mu, Anda tidak perlu khawatir!”
Saat berjalan keluar dari kantor direksi, aku merasa sangat segar. Diriku menjadi lebih bersemangat ketika memikirkan seperti apa Li Ning tadi. Aku langsung saja melangkah kembali ke Departemen Investasi sambil bersenandung gembira. Di saat yang sama, Kepala Departemen Investasi, Li Nan, baru saja menerima berita baik.
Ia terdengar sedang menelepon, “Benarkah? Pembiayaannya berhasil? Tiga puluh juta yuan! Ya Tuhan, itu bagus sekali!”
Aku menunggu wanita itu sampai ia menutup teleponnya. Setelah ia selesai menelepon, barulah aku memasuki ruangannya. Ketika aku menemuinya, Li Nan sedang tersenyum dengan manisnya. Jika ia diibaratkan dengan bunga, maka ia adalah bunga yang mekar dengan sangat indah saat ini.
Wanita itu berlari menghampiriku dan memberitahuku tentang kabar baik tersebut, “Mu Feng, apa kau sudah tahu? Perusahaan kita telah berhasil mengumpulkan uang! Tiga puluh juta yuan itu cukup untuk membentuk rantai modal!”
“Benarkah? Itu benar-benar bagus sekali,” jawabku sambil tersenyum simpul.
Didengar dari nada bicaranya, sepertinya Li Nan tidak mengetahui kalau orang yang mengucurkan dana itu adalah aku. Selain itu, aku juga menanggapinya dengan berpura-pura bodoh.
“Oh, perasaan ini benar-benar luar biasa, senang sekali rasanya!” serunya dengan nada gembira.
Kepala Departemen Investasi yang biasanya selalu bersikap dingin dan tegas ini tiba-tiba berubah drastis layaknya seorang gadis kecil yang merasa senang karena baru saja diberi permen. Li Nan terlihat begitu menggemaskan dan menawan di saat yang bersamaan.
“Apakah Bu Kepala Departemen tetap akan pergi ke jamuan makan malam nanti malam? Ayo kita pergi sekarang saja!” pintaku.
Wanita itu langsung mengangguk, “Baiklah, ayo kita pergi! Klien-klien itu semuanya merupakan bos-bos dari perusahaan yang berbeda-beda. Hubungan perusahaan kita dan mereka tidak terlalu baik. Apa kau benar-benar mau menemaniku?”
Li Nan tersenyum manis, entah kenapa senyumnya membuatku merasa sedikit berdebar-debar.
“Baiklah, aku akan menemanimu untuk menuangkan wine! Kita tidak tahu seberapa banyak niat jahat yang mereka sembunyikan!” ujarku.
Ia menenangkanku, “Tidak apa-apa, kau ‘kan pergi menemaniku. Kau ikut pulang bersamaku dulu. Aku akan mengganti pakaianku dan bersiap-siap, barulah kita pergi!”
Aku setuju dengan usulannya, “Ayo!”
Setelah meninggalkan kantor, aku memerintahkan Kepala Pelayan agar pergi untuk saat ini dan berjanji akan menelepon mereka jika terjadi sesuatu. Aku merasa sedikit gugup saat duduk di dalam mobil Li Nan. Selama ini, aku belum pernah berkunjung ke rumah Li Nan.
Mobilnya terus melaju ke kawasan perumahan kelas atas di pusat kota yang belakangan ini sudah langka. Harga rumah di kawasan ini tentu sudah dapat dibayangkan sendiri. Li Nan mengatakan bahwa dia membeli rumah itu sendiri dan biasanya tinggal sendirian.
Setelah naik lift dan tiba di rumahnya, Li Nan menuangkan segelas air untukku. Wanita itu lalu menyuruhku untuk bersantai seraya ia masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian dan bersiap-siap.
“Kau bersiap-siap saja, tidak usah mengkhawatirkan aku, Bu Kepala Departemen,” godaku sambil tersenyum.
Ia menimpaliku dengan ramah, “Panggil nama saja kalau di rumah, ini ‘kan bukan kantor!”
“Oke, Li Nan,” jawabku dengan gembira.
Aku memandangi ruang tamu Li Nan. Ruangan itu begitu besar dengan interior bergaya minimalis. Aku duduk di sofa sambil membaca majalah untuk menghabiskan waktuku. Setengah jam kemudian, Li Nan keluar dari kamarnya. Begitu aku melihatnya, aku terkesiap dengan penampilannya.
Setengah jam kemudian, Li Nan keluar dari kamarnya. Aku tertegun untuk beberapa waktu saat melihatnya. Sebuah gaun ungu panjang membalut tubuhnya dengan anggun, memperlihatkan tulang selangkanya dengan jelas. Ia juga memakai seuntai kalung kristal yang semakin memancarkan kecantikannya bagaikan sinar yang berkilauan di jurang yang begitu dalam.
Aku benar-benar dibuat kagum. Meskipun Li Nan pada dasarnya memang cantik, tapi kecantikannya saat ini tak dapat diragukan lagi. Wanita itu bak mawar merah berduri yang membuat orang-orang berhasrat untuk menaklukkannya!
Li Nan merasakan tatapan mataku yang penuh hasrat dan merasa sedikit malu. Rona merah tiba-tiba menghiasi pipinya.
“Mmm … apakah ini terlihat bagus?” tanya Li Nan dengan ragu-ragu dan tampak sedikit malu-malu.
“Bagus sekali, kamu terlihat sangat cantik mengenakan gaun ini,” pujiku dari dasar lubuk hati yang terdalam, membuat Li Nan tersenyum dengan sangat gembira.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, kami akhirnya tiba di hotel tepat pada waktunya. Kami langsung menuju ke sebuah ruangan privat. Namun, siapa yang mengira kalau di dalamnya ternyata sudah ada beberapa orang pria yang duduk mengelilingi meja dan mereka terlihat sudah selesai makan. Awalnya kupikir kalau aku masuk ke ruangan yang salah, tetapi ternyata tidak.
Ketika melihat Li Nan, beberapa dari mereka berhenti minum, diam terpaku menatapnya seperti sekawanan serigala jahat yang sedang mengincar seekor domba. Aku merasa jijik saat melihat raut wajah m***m mereka.
Suasana terasa sangat canggung untuk beberapa saat. Li Nan, sebagai seorang pencari dana, berkata dengan suara lembut, “Maaf, Tuan Qin, Tuan Li, dan Tuan Zhao, saya sedikit terlambat. Saya benar-benar minta maaf.”
“Ya Tuhan, ternyata Anda yang bernama Li Nan! Kami baru saja membahas apakah Li Nan itu laki-laki atau perempuan. Saya tidak menyangka kalau Kepala Departemen Li begitu cantik! Ini benar-benar di luar dugaan. Ayo, kemarilah dan duduk bersama kami!”
Selama berbicara, pria itu ingin memegang tangan Li Nan, tetapi Li Nan bergerak refleks menghindarinya. Hal ini membuat Tuan Qin merasa sangat malu. Aku langsung menempati posisi di samping Li Nan sambil menyaksikan sekawanan serigala ini dan berusaha untuk melindungi satu-satunya domba di dalam ruangan.
“Kemarilah, Kepala Departemen Li. Saya akan mengenalkan mereka pada Anda, pria ini adalah wakil direktur Chery Technology, Tuan Zhao. Lalu, ada Direktur Keuangan Feiyue Media, dan yang ini … “
Setiap kali memperkenalkan seseorang, Li Nan harus mengangkat gelasnya untuk bersulang. Wanita itu melakukannya satu per satu. Aku sebenarnya ingin minum untuknya, tetapi Li Nan memberiku isyarat agar tidak bergerak dari bawah meja.
Setelah meminum beberapa gelas anggur putih, wajah Li Nan terlihat semakin merah. Aku dapat mendengar suara orang-orang ini menelan ludah mereka. Ketika mereka mengangkat gelas untuk bersulang lagi, aku tiba-tiba berdiri dan berkata sambil tersenyum, “Tuan-tuan sekalian, sepertinya kepala departemen kami sudah tidak mampu minum lagi. Bagaimana kalau selanjutnya saya yang menemani Anda-anda sekalian minum?”
Mendengar ini, beberapa bos menunjukkan ekspresi wajah menghina, merasa berani untuk mengabaikanku.
“Ayolah, Kepala Departemen Li, mari kita minum bersama gelas terakhir ini! Setelah minum, kita akan istirahat dan nanti melanjutkan minum lagi,” ajak seorang pria dengan genit.
Rasanya ingin sekali aku menghajar pria itu, tetapi mukaku belum setebal itu. Saat gelas anggur beradu, aku berkata kepada Wakil Direktur Chery, “Senang rasanya dapat makan malam bersama Pak Wakil Direktur. Minuman ini sebagai tanda hormatku padamu.”
Hal ini membuat wajah Wakil Direktur Chery menjadi tak sedap dipandang. Pada saat yang bersamaan, bos Feiyue berkata kepada Li Nan dengan nada suara kesal, “Kepala Departemen Li, apakah orang ini karyawan perusahaan Anda? Kenapa pria ini begitu tidak tahu aturan?”
“Oh, dia sekretarisku. Aku ingin mengajaknya keluar untuk mengembangkan keterampilannya. Ini pertama kalinya dia berada di acara besar. Jangan pedulikan dia, Tuan-tuan,” Li Nan berupaya menenangkan mereka.
“Huh, mana mungkin kami tidak peduli? Kami sedang bersenang-senang minum bersama, sedangkan sekretaris Anda? Merusak kesenangan kami saja!”
Mata Li Nan memberi isyarat agar aku segera duduk, tapi aku tidak memedulikannya, “Maaf, Tuan-tuan sekalian. Kepala departemen saya benar-benar sudah tidak mampu minum lagi. Kalau dia minum lagi, takutnya nanti tak sadarkan diri.”
“Apa yang kau takutkan? Apa mungkin kau takut kalau kami akan mencelakainya?” tanya seorang bos dengan gusar.
Aku membalas dengan tenang, “Saya sebenarnya tidak takut, tetapi hanya saja saya takut akan ada orang-orang jahat yang ingin mencari kesempatan dalam kesempitan, bukan begitu?”
“Kau …”
Semuanya sudah terbongkar, ketegangan antara diriku dan para bos itu menjadi semakin memuncak. Li Nan yang berada di sampingku terus memberikan isyarat dengan matanya. Aku tidak peduli sama sekali.
“Kepala Departemen Li, saya rasa Anda ke sini tidaklah benar-benar menginginkan proyek ini. Jadi, kami pikir lebih baik kita melupakan proyek kerja sama ini.”
Tuan Li berpura-pura akan pergi dengan marah agar Li Nan menurut dengannya. Dengan melihatnya sekilas saja, aku langsung mengetahui niat jahat para bos bermuka m***m ini. Hanya saja Li Nan sudah minum terlalu banyak anggur dan pikirannya menjadi sedikit lebih kusut sehingga ia menjadi lebih tidak waspada daripada sebelumnya.
“Maaf, Tuan Li, saya akan minum anggur ini! Ayo kita minum bersama!” seru Li Nan.
Setelah meminum dua gelas anggur putih lagi, aku bisa melihat pandangan mata Li Nan yang mulai kabur. Wanita ini seharusnya sudah tidak bisa minum lagi.
Begitu melihat Li Nan yang sudah mulai kehilangan kesadarannya, mereka duduk dengan perasaan yang sangat puas. Obrolan pun dilanjutkan kembali. Bahkan, para bos ini mulai berbicara dengan berani tanpa basa-basi membicarakan bra dan celana dalam. Mereka sama sekali tidak membicarakan mengenai pembiayaan atau pun kerja sama.
Pembicaraan mereka yang begitu tidak karuan dan menghina membuat Li Nan beberapa kali tidak dapat berkutik. Aku sudah tidak tahan lagi dengan mulut-mulut m***m mereka yang sangat menjijikkan di telingaku.