Tanpa aba-aba, Layvi langsung menghujami Vino dengan pukulan, tak menjeda, begitu membabi buta. Kesal, marah, kecewa dan tak terima dengan semua perlakuan lelaki itu pada keluarganya. Vino sudah tega menfitnah adiknya, bahkan hanya dengan barang imitasi?. "Ampun... gue minta ampun, tapi tolong jangan pukulin gue lagi!" kata Vino yang sudah babak belur, matanya sembab karena terlalu banyak dipukul. "Sekali lagi lo injekin kaki lo kesini, mampus lo!" ancam Layvi yang sudah berdiri, tangannya masih berlumuran darah Vino, ia menatap ketiga adiknya yang sesaat hanya mampu membeku ditempatnya. "Erick, bawa Emma dan Erin keluar rumah, dan lo cepat pergi!" titahnya serius Vino langsung bangun, ia sempat dibantu oleh lengan Erin agar lelaki itu cepat bangun, sejahat-jahatnya fitnah yang dilaya

