Satu minggu berlalu, tapi sepertinya Axa memang tidak berniat untuk pulang ke apartemennya lagi. Dan alasan utamanya adalah, karena keberadaan Lyra.
Ia sudah berjanji untuk tidak memberikan ruang pada gadis itu masuk ke dalam kehidupannya. Karena bagi Axa, hanya Gracia satu-satunya wanita yang berhak mendapat cintanya.
“Aku bingung, apa yang membuatmu jarang pulang?”
Entah sudah keberapa kali Hazel menanyakan hal yang sama. Tapi, Axa selalu berhasil menghindari pertanyaan itu.
“Aku sibuk! Kau tahu itu kan?”
Hazel menarik napas dengan pelan. Karena jawaban yang diberikan Axa sama sekali tidak membantu, pria itu selalu saja memberikan alasan.
“Kau punya masalah apa? Sudah 1 minggu kau tidak pulang ke apartemen.”
“Aku pulang ke rumah!”
Dan kali ini Hazel memilih diam, meski ia tidak percaya dengan ucapan Axa. Memaksanya pun akan sangat percuma.
Benar saja, akhir-akhir ini Axa memilih pulang ke rumah. Bahkan setelah dia kembali dari luar kota. Dan sekarang, kedatangan pria itu disambut oleh kepala pelayan di rumah keluarga Cole.
“Selamat datang Tuan Muda.”
Axa menganggukkan kepala, lalu dia memberikan tas dan juga jasnya. Sambil melonggarkan dasi yang ia pakai.
“Dimana yang lain?”
“Nyonya dan Nona Laura sedang pergi. Kalau Tuan ada di ruang santai lantai atas. Dan Tuan Muda Matt belum pulang.”
Axa menganggukkan kepala. Setidaknya malam ini dia tidak mendapat banyak pertanyaan dari Mamanya, yang selalu menuntut dia untuk menikah.
“Saya ingin istirahat.”
“Baik Tuan, akan saya siapkan.”
Kehidupan mewah keluarga Cole sudah diketahui banyak orang. Alden Cole merupakan pemilik rumah sakit besar di kota itu. Sementara Runie Cole, seorang sosialita yang sangat sangat dikenal publik.
Sedangkan Axa, seorang Ceo di perusahaan rintisannya sendiri. Mereka dikenal dengan keluarga elite, yang memiliki kekayaan luar biasa.
“Akhirnya, kau tahu jalan pulang juga, Axa.”
Langkah pria itu terhenti, saat dia mendengar sebuah suara dari belakang. Dan ternyata di sana berdiri Ayahnya, Alden Cole.
“Papa?”
“Papa pikir kau sudah lupa jalan pulang ke rumah.”
Ucapan itu terdengar seperti sebuah sindiran. Tapi Axa terlihat tersenyum tipis, karena memang ia menyadari kesalahannya.
“Akhir-akhir ini sibuk sekali, Pa.”
“Hm, Papa tahu! Pergilah istirahat sebelum Mamamu pulang dan mengomel.”
Axa tertawa kecil, dia menganggukkan kepala lalu melanjutkan langkah menuju kamar. Papanya itu memang sangat pengertian, berbeda dengan Mama yang akan langsung menyerbu dengan seribu pertanyaan.
Sementara itu, Lyra terlihat berusaha untuk menikmati hidupnya meski ia sendiri terkadang merasa takut dan kesepian.
“Kota ini indah! Tapi, aku bahkan tidak tahu apa-apa di sini.”
Gadis itu menghela napas panjang. Saat ini dia berdiri di balkon apartemen, menatap pemandangan kota di malam hari.
“Aku rindu Mama dan Papa.”
Matanya tampak berkaca-kaca, tapi Lyra berusaha untuk menahan agar tidak jatuh. Dia menatap ke atas, dan kembali menarik napas panjang.
“Pa, bagaimana keadaan Papa dan Mama sekarang? Aku hanya tidak ingin kalian berpisah, itu sebabnya aku kabur dari rumah. Aku ingin keluarga yang utuh seperti dulu.”
Lyra masih terlihat sangat tegar—lebih tepatnya, memaksakan diri untuk terlihat tegar. Kedatangannya ke negara ini, tanpa diketahui oleh orang tuanya. Diam-diam pergi untuk mencari kedua sahabat Papanya.
Dan sialnya, dia malah terjebak dengan Axa dalam hubungan kacau seperti sekarang.
“Aku tidak bisa berlarut seperti ini! Aku harus bangkit!” ucap gadis itu yang berusaha bersemangat.
“Apa aku bisa mencari pekerjaan di sini?” gumam Lyra. Karena bagaimanapun dia harus bisa menyambung hidup. Dia tidak akan bisa bergantung pada Axa.
Lagi pula, entah seperti apa kejelasan hubungan mereka saat ini. Waktu itu, Axa hanya membawanya ke kantor catatan sipil untuk mengurus pernikahan secara kenegaraan.
Lyra benar-benar bingung harus menjelaskan hubungan mereka saat ini. Ingin sekali ia mengatakan yang sejujurnya pada Axa, tapi bahkan detik ini pria itu tidak pernah menunjukkan wajahnya.
“Andai saja ada orang yang mau membantuku!” ucapnya dengan suara lirih.
Niat ingin menenangkan diri, Lyra memilih untuk jalan-jalan keluar. Perlahan dia mulai terbiasa dengan suasana di sana.
Ketika Lyra menyusuri jalanan dengan santai, tiba-tiba seorang pria berhenti di depannya. Gadis itu panik, karena merasa trauma dengan kejadian beberapa waktu lalu.
“Jangan mendekat! Atau aku akan teriak!” ucap gadis itu, sambil memejamkan mata dengan erat.
Meski ia mengatakan ingin berteriak, percayalah saat ini dia justru sangat ketakutan. Bahkan untuk melangkahkan kaki saja sudah tidak sanggup.
“Hei, ini aku Matt!”
Suara lembut itu, berhasil membuat Lyra menjadi sedikit lebih tenang. Perlahan dia membuka sebelah kelopak matanya, untuk memastikan orang itu.
Dan benar saja, dia adalah Matteo, Kakak Laura yang dikenalkan padanya beberapa hari yang lalu.
“Matt?”
Pria muda itu menganggukkan kepala. Lalu memperhatikan sekitar Lyra dengan seksama, seolah mencari seseorang.
“Kamu sendirian?”
“Hm. Omong-omong, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Lyra. Sekarang dia sudah tidak takut, saat tahu siapa yang ada di sampingnya.
“Ah—aku….”
Matteo bingung harus menjelaskannya. Karena tidak mungkin ia berkata jujur, sejak kemarin dia sudah datang kesini untuk bertemu dengan Lyra.
“Aku—hanya kebetulan lewat! Tidak sengaja melihatmu berjalan sendirian.”
Dia tersenyum kikuk, sementara Lyra tampak menganggukkan kepala. Keduanya berjalan bersama, dan larut dalam obrolan ringan.
“Kamu tinggal di sekitar sini?”
Gadis itu terdiam sejenak. Tidak mungkin ia mengaku jujur pada orang yang baru dikenal, walau Lyra yakin Matteo adalah laki-laki yang baik.
“Aku menumpang di rumah saudara.”
“Jadi, asal kamu dari mana?”
Lyra semakin bingung harus memberikan jawaban seperti apa. Haruskah dia berbohong atau berkata jujur.
“Kalau kamu belum ingin jujur, tidak masalah Lyra. Lagipula, kita baru kenal. Hal yang wajar jika kamu was-was.”
Lyra tersenyum tipis. Karena Matteo benar-benar dewasa baik dari sikap, maupun cara bicaranya.
“Omong-omong dimana Laura?”
Dia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Karena Lyra sedikit tidak nyaman jika diungkit hal pribadi.
“Dia ada urusan diluar! Dan aku baru saja pulang kerja.”
“Ah pasti lelah sekali ya?”
“Hu-um!”
Keduanya semakin larut dengan obrolan ringan, sampai Lyra tidak sadar kalau mereka sudah berada di depan Gedung apartemen.
“Kamu tinggal di sini?” tanya Matteo, karena dia tahu jika Kakaknya tinggal di salah satu unit apartemen mewah itu.
“Hanya menumpang!” jawab Lyra dengan cepat, “kita harus berpisah di sini, Matt!”
“Lyra—tunggu!” ucap Matteo sambil menahan pergelangan tangan gadis itu, “aku boleh minta nomor ponselmu?”
Lyra menarik tangannya dengan cepat. Dia merasa gugup dan canggung, apalagi saat Matteo menatapnya dengan intens.
“Aku tidak punya ponsel, Matt! Maaf ya!”
Dengan cepat dia berlari menuju lift, meninggalkan Matteo yang terdiam di tempat. Pria itu tampak kecewa, tapi akhirnya dia tersenyum tipis.
“Gadis yang menarik!” gumamnya pelan menunjukkan ketertarikannya pada Lyra.
Dia tidak tahu, kalau gadis yang ia sukai itu adalah istri Kakaknya, Axa. ***