Teman Baru

1170 Kata
Rasa lapar yang ia rasakan, jauh lebih menyakitkan dibanding kebenaran di foto itu. Dan sekarang, Lyra berada di depan sebuah minimarket. Dia sedang menikmati sebungkus roti, karena hanya itu yang cukup dibeli dengan pecahan uang kecil yang ditemukan di laci. “Hei, aku boleh duduk di sini?” Suara seseorang mengejutkan Lyra. Dia menoleh ke samping, dan mendapati seorang gadis cantik berambut pendek sedang tersenyum. “Hm? Duduk saja!” ucap Lyra, lalu menggeser kursi yang ia duduki. “Kamu sendirian?” tanya gadis itu dan diangguki oleh Lyra. “Omong-omong, nama kamu siapa?” “Aku Laura.” “Lyra.” Mereka saling berjabat tangan. Dan entah kenapa, obrolan singkat itu seakan membuat mereka terlihat akrab. Tiba-tiba tatapan Lyra tertuju pada hot dog yang dipegang oleh Laura. Dia meneguk salivanya sendiri, karena masih merasa lapar. “Kamu mau?” tanya Laura, tapi Lyra menggelengkan kepalanya karena merasa malu. “Aku punya dua! Nih, satu untukmu!” “Laura!” Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya. Laura berdiri, lalu dan melambaikan tangan ke arah sebuah mobil mewah. “Eh—aku pergi dulu ya! Bye Lyra!” Gadis itu pergi meninggalkan Lyra yang masih duduk di kursi. Dia menatap ke arah mobil yang dituju oleh Laura. Dan ada seorang laki-laki di kursi kemudi menatap ke arahnya. Entah apa yang dikatakan pada Laura, tapi sepertinya pria itu menanyakan tentang dirinya. Suara klakson terdengar, seolah menyapa dirinya. Lyra menatap ke arah mobil mewah itu dan melihat Laura melambaikan tangan. “Bye!” ucap Lyra membalas lambaikan tangan gadis itu. Setelah mobil mereka pergi, dia melirik hot dog yang masih terbungkus rapi. Lyra meneguk salivanya, lalu dia mengambil dan memakannya dengan hati-hati. “Semoga sampai malam aku bisa kenyang!” ucap Lyra. Meski dia sedang kelaparan, tapi ekspresi wajah gadis itu selalu terlihat ceria. Lyra kembali ke apartemen, dan seperti dugaannya jika ternyata Axa belum juga pulang. Ini sudah hari ke-3, sejak terakhir kali terjadi kesepakatan mereka. “Jad, Om Axa itu memang sahabat Papa ya?” tanya Lyra dengan pelan, sekarang dia sedang duduk sendirian di balkon. “Kalau Papa tahu tentang semua ini, apa dia akan membenciku? Atau dia akan membenci Om Axa?” Tujuan Lyra datang ke negara ini, dan kabur dari rumah adalah untuk meminta bantuan sahabat Papanya. Tapi, dia tidak menyangka, jika akan berakhir dengan cara seperti ini. “Apa aku beritahu Om Axa saja?” gumam gadis itu lagi. Dia sedang berusaha untuk mencari jalan keluar atas masalah yang dihadapinya saat ini. Sementara itu, Axa masih setia dengan pekerjaannya di kantor. Meski tadi Hazel sudah memintanya untuk pulang, tapi pria itu tidak mempedulikannya. Tiba-tiba ponselnya berdering, pertanda sebuah panggilan masuk. Dan ternyata itu dari dik kesayangannya. “Ha—” “Kak Axa!” Belum sempat dia menyapa, suara melengking dari seberang panggilan sudah terdengar. Axa sampai menjauhkan ponsel dari telinganya karena terlalu mengganggu. “Hei, Lau? Ada apa?” tanyanya dengan suara lembut. “Kak Axa, sudah satu bulan gak pulang ke rumah!” Axa menghela napas pelan. Dia sudah tahu kalau adiknya itu akan menerornya dengan pertanyaan yang sama, setiap kali menelpon. “Kakak sedang sibuk, Lau. Nnti kalau ada waktu pasti akan pulang.” “Padahal tadi aku ke apartemenmu, dan memang kosong!” “Ha?!” Axa terkejut mendengar ucapan adiknya itu. Seketika dia mengingat jika di apartemen ada Lyra. Jangan sampai mereka bertemu, karena itu akan menimbulkan masalah besar. “Kamu ke apartemen?” “Iya Kak! Tumben sekali loh apartemen Kak Axa rapi dan bersih!” “Hm—ya, kemarin baru dibersihkan.” Axa berusaha terlihat biasa saja. Jika Laura tidak menyinggung tentang keberadaan Lyra, berarti dia tidak mengetahuinya. “Ya sudah, Lau. Ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Nanti, Kakak mampir ke rumah.” “Oke! Aku tunggu loh!” Pria itu mengakhiri panggilan. Dia tampak menarik napas lega, karena rahasianya masih aman. Buru-buru Axa bergegas pulang, karena dia ingin memastikan apakah Laura mengetahui keberadaan Lyra atau tidak. Setibanya di apartemen, Axa mendapati keadaan sepi seperti biasa sebelum ada Lyra. ‘Mungkin dia sudah tidur,’ gumam pria itu dan berlalu menuju kamarnya. Tak lama berselang dia menuju dapur, memperhatikan semuanya masih bersih. Tapi, saat membuka lemari pendingin, Axa terdiam. “Semuanya habis?” Jarang sekali ia menyimpan sayuran segara, atau bahan masakan. Kalaupun ada, itu karena adiknya datang. Axa membuka lemari penyimpanan makanan kering, dan semuanya juga habis. Seketika dia sdar, jika memang kemarin hanya tersisa sedikit. “Apa dia makan?” Jauh di dalam hati, pria itu merasa khawatir. Tapi dia tidak akan menunjukkan secara terang-terangan. Seketika dia merasa jahat karena tidak mempedulikan gadis itu. Meski hubungan mereka tidak baik, setidaknya Axa masih punya hati untuk memberinya makan. Karena bagaimanapun, gadis itu adalah istri walau hanya di atas kertas saja. “Mungkin ini akan membantunya.” Axa meletakkan beberapa lembar uang di atas meja makan. Besok dia harus berangkat pagi, karena ada rapat di luar kota. Mungkin untuk beberapa hari kedepan dia tidak akan pulang. Lagi pula, meski keluar kota atau tidak dia tetap tidak akan pulang ke apartemen. Karena ingin menghindari Lyra. “Semoga dia tidak melakukan hal aneh-aneh!” ucap Axa lalu dia kembali ke kamarnya. Walau dia penasaran dengan ucapan Laura, tapi dia enggan mengusik Lyra. Pagi itu Lyra bangun dari tidurnya, seperti hari-hari sebelumnya dia tidak mendapati Axa di sana. Namun, gadis itu terkejut saat mendapati beberapa lembar uang di atas meja. “Tadi malam Om Axa pulang?” gumam Lyra, lalu dia memeriksa ke dalam kamar tapi tidak ada pria itu di sana. Ada sedikit rasa kecewa di dalam hatinya, karena tidak menemukan Axa di apartemen. Tapi, Lyra berusaha untuk tidak memikirkannya. Walau hatinya sendiri merasa janggal dan tidak nyaman. Lyra memutuskan untuk ke minimarket. Dia ingin membeli beberapa bahan masakan. Nanti ia akan mengatakan pada Axa kalau dia menggunakan uang di atas meja. “Lyra?” Mendengar namanya dipanggil, Lyra menoleh ke belakang. Dan dia terkejut mendapati gdis yang bertemu dengannya kemarin. “Laura?” “Kita bertemu lagi!” ucap Laura yang terlihat antusias. Dia bahkan menyentuh kedua pergelangan tangan Lyra. “Hehe—iya!” jawab gadis itu sambil terkekeh canggung. “Apa yang kau lakukan di sini?” “Aku sedang belanja! Kamu?” “Aku mau ke kampus, tapi mampir ke sini sebentar. Ada yang ingin kubeli!” Lyra menganggukkan kepala, lalu pandangannya tertuju pada seorang laki-laki di samping Laura. Dan sepertinya, gadis itu menyadari. “Ah—ya, kenalkan! Dia Kakakku, Matteo!” Pria itu mengulurkan tangannya pada Lyra, dia terus meliriknya dan tidak mengalihkan pandangan sekalipun. “Lyra.” “Matt.” Entah kenapa, Lyra sendiri merasa gugup saat ditatap seperti itu. Dan Laura menyadari jika Kakaknya itu tertarik pada Lyra, karena sekarang dia ikut tersenyum. “Lyra, sepertinya pertemuan kita bukan suatu kebetulan! Lain kali kita bertemu lagi ya, mungkin kita bisa menjadi teman baik!” Ucapan antusias itu membuat Lyra terdiam sebentar. Dan detik kemudian ia menganggukkan kepala, karena tidak menyangka akan dipertemukan dengan orang baik lagi. Dia berharap, Laura memang orang baik. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN