Selama 2 hari terakhir, Lyra tinggal sendirian di apartemen mewah milik Axa. Semua persediaan sudah habis, dan sayangnya dia tidak memiliki uang.
“Dasar Om-om tidak tanggung jawab! Dia hilang begitu saja entah kemana!” sungut gadis itu, menatap isi kulkas yang benar-benar kosong.
“Sisa ini saja?”
Dia mengambil satu buah tomat yang tersisa. Lalu menghela napas kasar, karena sekarang perutnya sudah keroncongan.
“Aku tidak mau mati kelaparan.”
Lyra meringis pelan, lalu dia berjalan menuju kamar Axa. Pria itu sudah melarangnya untuk masuk kesana, tapi saat ini ia merasa sangat kelaparan.
Mungkin ada makanan atau uang di sana. Nanti dia akan minta maaf pada Axa karena sudah masuk ke kamarnya.
“Ya ampun! Ternyata seperti ini rasanya jadi orang kelaparan.”
Gadis itu menatap seisi kamar Axa. Rapi dan elegan, menggambarkan karakter Axa yang cukup dewasa.
“Setidaknya Om itu meninggalkan selembar uang di sini!”
Dia menarik laci nakas, bukannya menemukan uang tapi ia justru menemukan beberapa lembar foto.
“Ini?” gumam Lyra, ketika dia melihat gambar Axa bersama seorang wanita cantik, “apa dia yang bernama Gracia?”
Pantas saja Axa sangat tergila-gila pada gadis itu. Dia benar-benar cantik seperti model, rambutnya panjang dan terlihat halus meski hanya melalui gambar.
“Ayolah! Setidaknya satu lembar uang! Aku lapar!”
Dan lagi-lagi, Lyra malah mendapatkan selembar foto lainnya. Dia sampai berdecak kesal karena hal itu.
“Foto lagi? Ya ampun—”
Seketika sungutan Lyra terhenti, saat dia menyadari gambar terakhir. Jantungnya berdetak tidak karuan, bahkan lembaran foto itu sampai terjatuh.
“Papa?” gumamnya, lalu memungut foto yang terjatuh itu dengan tangan bergetar.
“Tidak! Aku pasti salah lihat!”
Lyra memberanikan diri untuk melihatnya kembali. Dia bahkan sampai menahan napas, karena benar-benar takut.
“Aku pasti salah lihat!” ucapnya lagi, meyakinkan diri jika dia benar-benar hanya salah lihat.
Tapi saat ia memperhatikan gambar itu dengan seksama, Lyra kembali terdiam. Jantungnya terasa jatuh ke lantai, karena dia memang tidak salah lihat.
“Papa? Dan ini?”
Di gambar itu terlihat tiga orang pria, Papanya dan juga Axa serta seorang yang lain. Mereka berdiri di sebuah lapangan memakai seragam basket.
“Ta—tapi….”
Lyra benar-benar syok. Dia terduduk lemas di pinggir kasur Axa. Wajahnya yang sudah pucat karena lapar, kini semakin pucat.
Tujuan Lyra melarikan diri dari rumah, hanya untuk mencari kedua sahabat Papa. Karena dia ingin meminta bantuan mereka.
Tapi, Lyra tidak menyangka akan berakhir di rumah salah satu sahabat Papanya. Dan mereka—argh! Gadis itu bahkan tidak bisa mencerna kejadian mengejutkan ini.
“Apa-apaan ini?” gumam Lyra dengan suara bergetar, “bukannya nama sahabat Papa itu Bastian dan Hazel? Kenapa Om Axa?”
Rasa lapar dalam perutnya lenyap begitu saja. Lyra menangis sampai sesenggukan, bahkan rasanya dia benar-benar ingin menenggelamkan diri di lautan.
“Apa yang harus kulakukan?”
Dan sekarang Lyra menjadi istri dari sahabat Papanya, meski hanya menikah secara formalitas saja.
Sementara itu, Hazel dibuat bingung dengan tingkah Axa. Dia berdiri, menatap sahabatnya itu yang terlihat berbeda beberapa hari ini.
“Sudah berapa hari kau tidak pulang?”
Namun, Axa hanya mendongak sekilas dan kembali fokus dengan pekerjaannya. Hazel menghela napas, lalu dia menarik kursi dan duduk di seberang meja.
“Jadwalmu tidak begitu padat. Kau punya masalah apa sampai tidak pulang?”
“Tidak ada.”
Dan jawaban singkat itu adalah bukti, jika Axa sedang menutupi sesuatu. Dia berusaha untuk terus fokus, sedangkan Hazel sudah sangat paham bagaimana pria itu.
“Di suruh menikah sama Om dan Tante lagi?”
Itu adalah salah satu alasan kenapa Axa jarang pulang ke rumah. Orang tuanya pasti akan mendesaknya untuk terus menikah.
“Bukankah biasanya kau pulang ke apartemenmu?”
“Aku bosan!” ucap pria itu dengan cepat. Dia tidak akan menceritakan masalahnya pada Hazel, karena dia tahu akan semakin menambah masalah lainnya.
“Bosan?” tanya Hazel yang terlihat curiga. Pertama kalinya Axa mengatakan bosan di apartemennya sendiri.
“Xa—”
Ucapan Hazel terhenti, saat ponselnya tiba-tiba berdering. Pria itu mencebikkan bibir dan tidak punya pilihan selain menjawab panggilan.
Padahal dia ingin sekali mengoceh, karena Axa selalu saja egois dengan kesehatannya sendiri. Pria keras kepala itu memang susah diberitahu.
“Jaden?”
Mendengar nama itu disebut, Axa mendongak menatap Hazel. Sudah lama sekali mereka tidak bertukar kabar dengan Jaden.
“Jaden?”
“Hm! Sebentar!” kata Hazel lalu menjawab panggilan itu, “Jaden! Apa kabar? Kemana saja kau selama ini?”
Terdengar suara kekehan dari seberang panggilan, dan detik kemudian Axa ikut tersenyum karena dia tahu betul itu adalah Jaden.
“Biarkan aku menyapamu dulu, Haz! Pertanyaanmu banyak sekali!”
Mereka larut dalam obrolan, melepas rindu satu sama lain melalui panggilan itu. Sesekali Axa tersenyum tipis, karena bagaimanapun dia sangat merindukan sahabatnya itu.
“Dimana Bastian? Apa dia sudah ada rencana menikah?”
“Diam Jade! Aku mendengarmu!” ucap Axa, karena dari semua orang yang mengenalnya hanya Jaden yang memanggilnya dengan sebutan ‘Bastian.’
“Owh Dude! Astaga!”
Suara tawa renyah Jaden benar-benar menggambarkan kepribadian pria itu yang humble. Mungkin setelah ini Hazel akan mengomelinya karena menghilang cukup lama.
Ketiga mengobrol dengan rasa campur aduk. Dalam beberapa menit, Axa seolah lupa akan keadaannya yang rumit saat ini.
“Omong-omong, bulan depan aku akan pulang.”
“Serius?” tanya Hazel yang tampak terkejut, “ada apa? Kau sudah bosan berada di luar negeri?”
Jaden terkekeh. “Tidak! Aku—” pria itu menghentikan ucapannya, “nanti saja kalau sudah bertemu aku ceritakan semuanya!”
Axa dan Hazel saling tatap. Dari cara bicara Jaden, mereka sudah tahu pasti pria itu sedang menghadapi masalah besar.
“Oke! Cepatlah pulang! Kami sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu!” ucap Hazel dan detik kemudian terdengar kekehan dari bibir Jaden.
“Omong-omong, apa kabar Emily dan Lily? Mereka baik-baik saja?”
“Aku kabari nanti lagi, ya!”
Panggilan itu terputus. Sepertinya Jaden memang sengaja menghindari percakapan tentang istri dan putrinya.
Hazel menatap ponselnya yang berada di atas meja. Panggilan itu benar-benar berakhir, namun keduanya masih terlihat kebingungan.
“Aku rasa, dia benar-benar sedang menghadapi masalah besar.”
“Hm. Kita tunggu saja nanti saat dia sudah di sini.”
Axa kembali fokus pada pekerjaannya. Sedang Haz sendiri, masih memikirkan Jaden. Entah masalah apa yang dihadapi pria itu, tapi yang pasti mereka akan selalu ada untuknya.
“Xa?”
“Hm.”
“Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu, kan?” tanya Hazel dengan tiba-tiba, dengan tatapan curiga.
Mendengar hal itu, Axa terdiam. Sedikit jelas dia mulai panik, tapi berusaha untuk tidak menunjukkannya. Karena Hazel benar-benar tahu kapan dia berbohong.
“Tidak!” jawab Axa dengan cepat, dan berusaha sebiasa mungkin.
Tapi Hazel terus memicingkan mata, karena dia benar-benar ahli membaca gestur Axa. Apalagi, kalau pria itu sudah menghabiskan lebih banyak waktu di kantor, dia pasti sedang menghadapi masalah.
“Aku harap kau tidak melakukan hal bodoh yang tidak masuk akal!”
“Kau sangat cerewet Haz!” celetuk Axa, tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya.
Dan ternyata, firasat Hazel memang benar. Axa menyembunyikan seorang gadis kecil di apartemennya.