Kesepakatan

1157 Kata
Setelah memikirkan jalan keluar, Axa menghampiri Lyra yang masih mengurung diri di kamar. Dia mengetuk pintu beberapa kali. “Lyra? Keluar sebentar, saya ingin bicara.” Namun, tidak ada sahutan dari dalam. Gadis itu benar-benar marah pada Axa atas apa yang sudah terjadi. “Lyra?” Setelah mengetuk beberapa kali, Axa memutuskan untuk membuka pintu. Dan detik kemudian, ia terkejut karena mendapati Lyra berdiri tepat di depannya setelah pintu terbuka. Jadi sejak tadi dia berdiri di sana, tapi tidak berniat membukakan pintu untuknya? “Ada yang ingin saya bicarakan denganmu.” “Mau bicara apa Om? Mau perkosa saya lagi?” tanya gadis itu dengan suara serak, dan mata bengkak karena menangis sepanjang malam. “Hei! Saya tidak memperkosa kamu!” ucap Axa dengan tegas. Ia cukup terkejut mendengar tuduhan itu. “Lalu apa? Om memaksa saya! Bahkan merobek kaus yang saya pakai!” Mendengar itu Axa terdiam. “Saya tidak sadar Lyra. Saya mabuk!” jelas pria itu, berharap Lyra tidak menyebutnya sebuah pemerkosaan. “Sama saja!” sahut gadis yang masih terus menangis itu. Axa menarik napasnya dengan pelan. Dia harus tenang, menghadapi masalah ini. Karena bagaimanapun, semua ini adalah kesalahannya. “Ayo kita bicarakan!” Lyra menyeka air matanya. Dia menatap Axa yang berusaha untuk mencari solusi. Sejujurnya, pada pertemuan pertama dia sudah mengagumi pria itu. “Saya akan tanggung jawab!” ucap pria itu dengan cepat, meski dari ekspresinya jelas ini sebuah paksaan. Gadis itu terdiam sesaat. Masih dengan menatap Axa, dia tidak tahu harus berkata apa. Pria yang baru dikenalnya itu, benar-benar serius atas masalah yang mereka hadapi. “Tanggung jawab?” “Ya! Tapi, saya tidak bisa menikahimu. Saya sudah mencintai seseorang, dan saya sedang menunggunya pulang. Selain itu, saya harus menjaga reputasi juga nama baik keluarga.” Mendengar ucapan itu, Lyra tahu kemana arah tujuan perkataan Axa. Namun, untuk saat dia memilih diam dan menyimak. “Saya akan berikan apapun yang kau inginkan! Semua kebutuhanmu akan saya penuhi, kau bisa tinggal di sini selama yang kau inginkan!” Pada akhirnya, Lyra hanya menanggung kesakitan ini sendirian. Dia benar-benar tidak menyangka, jika Axa akan mengambil keputusan yang membuatnya lebih sakit lagi. “Saya harap kau setuju dengan keputusan ini, Lyra!” “Tidak!” jawab gadis itu dengan tegas, dan cukup membuat Axa terkejut. “Aku memang salah, menganggap Om orang baik!” “Maksudmu?” tanya Axa, yang merasa tidak terima dengan ucapan gadis itu. “Semua ini salahku. Tapi, untuk apa yang terjadi tadi malam, bukan kesalahanku! Om yang merenggut, Om yang memperko—” “Saya tidak sadar Lyra! Saya mabuk!” sahut Axa dengan tegas, “saya memiliki adik perempuan seusiamu! Tidak mungkin saya melakukan hal b***t seperti itu, jika dalam keadaan sadar!” Lyra terdiam. Sedangkan Axa berdiri dan membelakangi gadis itu sambil berkacak pinggang. Meski mabuk, tapi ingatan itu sedikit samar dalam pikirannya. Tapi yang jelas, dia seperti bermimpi bertemu dengan Gracia. “Asal kau tahu, bukan hanya kau yang kehilangan keperawanan tapi saya juga kehilangan keperjakaan!” ucap pria itu, “bahkan saya tidak tahu bagaimana rasanya pertama kali,” cicitnya lagi dengan pelan. “Pilihan ada ditanganmu. Saya tidak akan memaksa, tapi pikirkan lagi di kota ini kau tidak memiliki tujuan.” Gadis itu mengepalkan tangannya dengan erat. Dia benci mengakui ini, tapi dia tidak punya pilihan lain. ‘Sampai aku bertemu dengan sahabat Papa, aku akan bertahan di sini.’ “Tapi, setidaknya Om harus menikahiku!” “Hei!” Axa sangat terkejut mendengar ucapan itu. Dia berbalik dan menatap Lyra dengan tajam. Bukankah dia sudah menjelaskannya? “Saya sudah katakan, saya mencintai wanita lain!” “Aku tahu! Tapi, Om sudah mengambil keperawananku! Jika kita tinggal bersama di sini, aku yakin Om tidak bisa menjamin tidak akan menyentuhku lagi! Lebih tepatnya memaksaku!” Bibir Axa hendak mengucapkan sesuatu, tapi dia berhenti karena menyadari Lyra tidak bercanda. Sial! Egonya terluka saat gadis itu menuduh hal buruk tentangnya. ‘Gadis ini! Apa dia benar-benar orang baik? Atau hanya mencari kesempatan saja!’ Seketika Axa merasa menyesal telah menolong Lyra. Entah kenapa dia merasa, jika gadis itu sengaja menyodorkan diri tadi malam. “Lalu kau memanfaatkan situasi ini untuk kunikahi?” “Lebih tepatnya realistis!” ucap Lyra lalu memalingkan wajahnya dari pria itu. Meski ia baru saja menangis, tapi dia tidak akan direndahkan dengan cara seperti ini. “Aku tidak peduli dengan reputasi Om. Aku akan mencari orang tua Om, dan mengatakan kalau Om Axa sudah memperkosaku—” Axa langsung membekap mulut gadis itu. Rasa malunya semakin menjadi-jadi setiap kali Lyra menyebutkan kata itu. “Saya tidak memperkosa kamu Lyra! Semua itu terjadi tanpa sadar!” ucap Axa dengan geram, bahkan rahangnya sampai mengatup saat berbicara. Tapi Lyra terlihat tidak peduli, dia malah memutar bola matanya dengan malas. Sementara mulutnya dibekap Axa menggunakan telapak tangan. ‘Gadis ini! Aku menyesal sudah menolongnya!’ sungut Axa di dalam hati. Apalagi ketika dia melihat tingkah Lyra yang terkesan menyebalkan. “Oke!” ucap pria itu pada akhirnya, karena dia benar-benar tidak punya pilihan lain. “Hanya status di catatan sipil!” tegas Axa, karena dia hanya tidak ingin dicap sebagai pria b******k. Perlahan dia menarik tangannya yang membekap mulut Lyra. Rasa iba kemarin, kini berubah menjadi rasa jengkel. “Bersiap-siaplah! Kita ke kantor catatan sipil sekarang.” Axa berbalik dan pergi, sedangkan Lyra terlihat jengkel sendiri. Dia menatap punggung kokoh pria yang menghilang di balik pintu kamar. “Bahkan dia tidak meminta maaf atas apa yang terjadi.” Gadis itu menyeka air matanya yang tersisa. Dia terlihat sangat terluka, tapi berusaha untuk tegar. ‘Kalau Papa tahu apa yang terjadi padaku? Apa dia akan marah?’ gumam Lyra di dalam hati. Tapi untuk sekarang, dia tidak ingin memikirkan hal itu dulu. Urusan catatan sipil sudah selesai. Axa meletakkan selembar kertas di atas meja, saat Lyra duduk di ruang makan. “Ini yang kau inginkan.” Gadis itu mendongak, menatap pria yang tidak memandangnya sedikitpun. Mungkin Om Axa benci padanya atas permintaan itu. “Terima kasih Om.” Axa berbalik dan hendak pergi, tapi tiba-tiba ia berhenti. Lalu dengan posisi membelakangi gadis itu. “Kau bisa lakukan apapun yang kau mau. Tapi, jangan pernah sebut nama saya diluar. Jika kita bertemu tanpa sengaja, anggap saja kita tidak saling kenal.” “Oke!” jawab gadis itu dengan cepat dan tentu saja tanpa ragu sedikitpun. “Satu lagi. Jika nanti Gracia kembali, kau harus angkat kaki dari sini. Dan statusmu sementaramu berakhir.” “Oke!” Entah kenapa rasanya telinga Axa jengkel sekali mendengar jawaban singkat itu. Dia berbalik dan menatap Lyra yang juga memandangnya dengan kebingungan. “Kenapa Om?” “Dasar bocah!” ucap Axa yang terlihat geram, lalu dia pergi. “Eh—om mau kemana?” “Keluar! Bisa naik darah tinggi saya jika di sini terus!” jawab pria itu dan benar-benar meninggalkan unit apartemen. Lyra yang ditinggal sendirian terlihat kebingungan. Tapi dari ekspresi wajahnya dia terlihat bodo—amat. Terkesan tidak peduli dengan Axa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN