Lyra Bukan Gracia

1171 Kata
“Om mabuk?” tanya Lyra setelah mendekati Axa. Dia menatap pria itu yang terus memandangnya tanpa berkedip. “Gracia?” “Ha?” Lyra kebingungan saat pria itu memanggilnya dengan nama berbeda. Ditambah Axa datang mendekatinya dengan langkah pelan, seolah ingin menikmati pemandangan di hadapannya. “Gracia?” tanya Lyra yang kebingungan, “ini aku Om! Lyra!” ucapnya lagi, menatap pria itu dengan penuh kebingungan. Axa yang sudah mabuk dan berhalusinasi, menolak akal sehatnya. Dia terus berjalan mendekati Lyra dengan tatapan penuh kerinduan. “Om—eh?!” Gadis itu terhenyak, saat tiba-tiba Axa menarik tubuhnya dan memeluk dengan erat. Bahkan dia sampai kesulitan bernapas. “O—om! Le—pas!” ucap gadis itu dengan suara terputus-putus. Tapi tampaknya Axa sudah benar-benar gelap mata. Dia terus memeluk Lyra, menganggapnya sebagai Gracia, wanita yang ia cintai. “Cia, aku benar-benar merindukanmu! Tolong jangan pergi lagi Cia! Aku menunggumu selama ini!” ucap pria itu, melampiaskan semua yang ia pendam selama ini. “Siapa sih Gracia? Aku tidak mengenalnya! Om—ini Lyra!” Gadis itu berusaha mendorong tubuh kekar Axa, agar pelukan itu terlepas. Tapi, tenaganya benar-benar tidak sebanding. “Jangan pergi lagi, Cia! Aku sangat merindukanmu! Aku merindukanmu, aku mencintaimu!” Kelopak mata Lyra seketika membelalak, saat dia merasakan bagian lehernya dikecup pria itu. Dia mulai panik, saat kedua tangan Axa mulai mengusap bagian punggungnya. “O—om? Om Axa stop!” Lyra mengerahkan seluruh tenaganya, tapi tetap saja percuma dan setiap detiknya ia semakin dihantui ketakutan. “Jangan tolak aku Cia! Tolong, jangan tolak aku,” bisik pria itu hingga detik kemudian dia membungkam mulut Lyra dengan ciuman. “Om Axa!” pekik Lyra saat tubuhnya ditekan ke arah sofa bed yang berada di ruang tamu. Axa menindih tubuh gadis mungil itu, lalu menatap wajahnya Gracia yang sangat ia cintai. Dia membelai pipi Lyra yang sudah ketakutan. “Om—” “Sstt…, aku mencintaimu! Hanya ini yang bisa kulakukan, agar kamu tidak pergi lagi!” ucap pria itu, lalu dia melonggarkan sabuk pinggangnya dan memelorotkan celana sendiri. Tangan kekarnya juga bergerak, menarik bawahan Lyra dengan kasar hingga gadis itu menangis tersedu. “Om Axa!” Pekikan Lyra sia-sia, karena detik kemudian dia merasakan sesuatu menyakitkan di bagian bawahnya. “Aa—” dia hendak menjerit, tapi bibirnya segera dibungkam Axa dengan ciuman. Tubuhnya yang mungil benar-benar tidak sebanding dengan Axa. Pria itu seperti orang kesetanan bahkan sampai merobek kaus yang dipakai Lyra. “Om jahat!” ucap gadis itu dengan pilu, sementara Axa terlihat tak peduli. Dia terus bergerak di atas tubuh mungilnya. Bibirnya tidak berhenti menyebut nama Gracia, juga tak berhenti meninggalkan kissmark. Sementara yang ada di bawah tubuhnya adalah Lyra. Gadis polos yang ia tolong, karena rasa kasihan. “Gracia….” Hingga detik kemudian terdengar erangan berat dari bibir Axa. Tubuh pria itu tampak menegang, dan detik kemudian mencapai puncaknya. “Argh, Cia….” Terdengar lolongan panjang penuh kenikmatan. Wajah pria itu tampak memerah, sampai akhirnya dia jatuh tepat di atas tubuh mungil Lyra. “Aku sangat mencintaimu, Cia…,” bisik pria itu lagi dengan pelan. Hingga akhirnya dia benar-benar tertidur dia atas Lyra. “Om b******k!” ucap Lyra dengan suara tertahan. Ia menangis, tapi Axa terlalu larut dengan ketidaksadarannya. “Om jahat!” Lyra terus menangis. Dia memalingkan wajahnya ke samping, dan air mata yang tidak kunjung berhenti jatuh. Jika tahu akhirnya akan seperti ini, mungkin dia tidak akan mengambil keputusan kabur dari rumah secara diam-diam. “Apa salahku? Kenapa Om melakukan ini?” tanyanya dengan suara tangis yang nyaris lepas. Lyra mendorong tubuh Axa dengan sekuat tenaga, hingga pria itu berguling dan jatuh di lantai. Masih terus menangis, ia meraih robekan kausnya yang sudah tercecer di lantai. “Tujuanku ke kota ini untuk mencari sahabat Papa. Bukan malah berakhir seperti ini,” cicitnya dengan suara pilu. Lyra meringkuk di bawah sofa, dan di hadapannya ada tubuh Axa yang setengah telanjang. Hanya memakai kemeja, sedangkan celananya nyaris lepas dari kaki. “Apa yang harus kulakukan sekarang?” gumam gadis itu yang terlihat sangat frustasi. Kejadiannya terjadi begitu cepat, hingga dia nyaris tidak percaya jika Axa merenggut kesuciannya. Suara isak tangis mengganggu telinga Axa. Pria itu terusik hingga terbangun, dan detik kemudian dia mengerang pelan saat merasakan sakit di kepala. “Kepalaku,” cicitnya dengan pelan. Setelah sadar, ia berada di atas lantai di depan sofa. Namun, suara tangis itu masih terdengar sangat jelas. Axa memaksakan diri untuk bangun, tapi detik kemudian dia terkejut saat mendapati bagian bawahnya polos. “Apa yang terjadi?” gumamnya dengan panik. Dia panik, dan langsung memakaikan celana boxernya. Memaksakan diri untuk berdiri meski kepalanya masih pusing. “Ini?” Axa terhenyak, ketika melihat pakaian dalam serta robekan kasu tercecer di lantai. Pria itu benar-benar syok, dan segera berdiri. Tepat saat dia berdiri, Axa mendapati seorang gadis duduk meringkuk di belakang sofa sambil memeluk lututnya sendiri. “Lyra?” Axa mendekati gadis itu, ia tidak ingin berpikiran buruk menerka apa yang terjadi antara mereka. “Hei, apa yang terjadi?” Pertanyaan itu sontak membuat Lyra geram. Dia mendongak menatap Axa yang berdiri di belakangnya. Dalam beberapa detik, Axa terkejut melihat wajah sembab dan mata bengkak gadis itu. Entah sudah berapa lama ia menangis. “Om jahat!!” pekik Lyra dengan penuh emosi lalu mendorong kaki Axa untuk menjauh. Pria itu terpaku di tempat. Segala kemungkinan terburuk sudah ada dalam pikiran. Pandangannya tertuju ke arah sofa berwarna abu-abu, dan mendapati ada noda seperti darah di sana. ‘Apa yang terjadi antara kami?’ gumam Axa di dalam hati. Dan setelah menyadari sekitar, dia memahaminya. “s**t!” umpat pria itu dengan pelan tapi terkesan emosi. Lalu dia menghampiri Lyra dari berjongkok di hadapan gadis itu. “Lyra? Apa hal itu terjadi?” tanya Axa dengan hati-hati, karena dia ingat tadi malam dalam keadaan setengah mabuk. Dan bodohnya, dia memaksakan diri pulang ke apartemen. Bahkan lupa ada seorang gadis yang menumpang dengannya. “Stop!” pekik gadis itu, “Om jahat! Jangan sentuh aku!” teriaknya dengan suara serak. Lyra berdiri, dia tidak ingin berdekatan dengan pria jahat seperti Axa. Semua ini memang kebodohannya, tidak seharusnya dia percaya pada orang yang baru pertama kali ia kenal. “Lyra tunggu!” Axa meraih tangan gadis itu, tapi dengan cepat dihempaskan. Ia berdiri, sayangnya dia terjatuh hingga tersungkur di atas lantai. “Lyra!” Axa mendekatinya, lalu membantu gadis itu untuk berdiri. Tapi, Lyra segera menepis karena dia benar-benar membencinya. “Awas!” Meski kaki dan lututnya sakit sampai memar karena terjatuh, Lyra tidak peduli. Dia mendorong Axa lalu berdiri dan pergi menuju kamar. Axa terdiam di tempat. Dia meremas rambut bagian belakang, sambil memperhatikan ceceran pakaian di atas lantai dan noda darah di sofa. “b******k! Kenapa aku bodoh sekali!” umpatnya dengan marah sambil menggebuk sofa berkali-kali. “Apa yang harus kulakukan?” gumam pria itu sambil mengusap wajahnya dengan kasar, dan lagi-lagi berakhir meremas rambut bagian belakang. Tadi malam dia seperti bermimpi bertemu dengan Gracia. Ia pikir itu hanya mimpi karena terlalu merindukannya, tapi ternyata dia meniduri Lyra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN