Hari ini adalah hari ulang tahun Nenek Belina. Puncak dari segala formalitas keluarga Atmadja. Dan Green tahu, di sana nanti, dia bukan hanya akan menghadapi tatapan menghakimi dari ayahnya, Prabu Atmadja, tapi juga senyum berbisa dari Renata dan sindiran tajam dari Lita, saudara sambungnya yang selalu merasa lebih berhak atas segala hal yang dimiliki Green.
"Woi, lo mau dandan berapa abad lagi? Keburu nenek lo ulang tahun, tahun depan kalau lo nggak keluar sekarang!"
Suara bariton yang sangat dikenal itu menggelegar dari balik pintu, menghancurkan lamunan Green.
Green menggeram, tangannya mengepal kuat pada gantungan baju.
"SABAR, FELIX! MULUT LO BISA DI-MUTE BENTAR NGGAK?!" teriak Green, suaranya melengking tinggi, memecah kesunyian rumah.
Green membuka pintu kamar dengan hentakan keras.
Di sana, Felix bersandar di dinding koridor. Penampilannya sedikit berbeda.
Pria itu mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh.
Meski Green menganggapnya pengangguran miskin, ia tak bisa menampik bahwa Felix punya postur tubuh yang membuat pakaian murahan pun terlihat mahal di badannya.
Felix menatap Green dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Pandangannya berhenti cukup lama di wajah Green yang sudah terpoles riasan bold.
"Gila. Lo mau ke pesta ulang tahun atau mau ikut audisi antagonis di sinetron?" Felix terkekeh, senyum miringnya yang menyebalkan itu muncul lagi.
“Apaan sih lo.”
“Lipstik merah ituz lo sengaja biar kalau lo gigit orang langsung kelihatan berdarah?"
Green melangkah maju, memperpendek jarak hingga hidungnya hampir bersentuhan dengan d**a Felix.
"Dengar ya, Felix si Pengangguran. Hari ini lo punya tugas satu, jadi suami yang berguna. Jangan bikin malu gue di depan Lita dan semuanya. Kalau lo sampai salah ngomong atau kelihatan miskin banget di depan bokap gue, jangan harap sisa uang warisan gue bakal netes ke dompet lo!"
Felix tidak mundur. Justru dia membungkuk sedikit, menatap lurus ke mata Green yang berapi-api.
Aroma parfum maskulin yang samar namun elegan, entah dari mana Felix mendapatkannya, menyergap indera penciuman Green.
"Lo terlalu banyak mikirin duit, Greeny. Santai aja. Gue bakal akting jadi suami yang paling cinta mati sama lo. Sampai mungkin, lo sendiri bakal lupa kalau ini cuma pura-pura," bisik Felix dengan nada rendah yang mendadak membuat bulu kuduk Green meremang.
"Najis!" Green mendorong d**a Felix kuat-kuat.
“Haha.” Felix tertawa.
"Ayo berangkat. Pakai mobil gue, lo yang nyetir. Anggap aja lo jadi supir merangkap suami hari ini."
Felix mengangkat bahu, mengikuti langkah Green yang menghentak-hentak menuju garasi.
"Supir, suami, pelayan, apa pun buat lo, Nyonya Atmadja. Asal makanannya enak."
Perjalanan menuju kediaman besar keluarga Atmadja di kawasan elit Jakarta Selatan dipenuhi dengan perdebatan tidak bermutu.
Green terus-menerus memberikan instruksi tentang siapa saja yang harus Felix hindari, sementara Felix lebih sibuk mengomentari cara Green yang terlalu tegang memegang tas clutch-nya.
"Lita itu ular, Lix. Dia pasti bakal nanya-nanya soal pekerjaan lo. Lo jawab aja lo lagi managing investasi atau apa lah yang kedengarannya keren tapi abstrak. Jangan bilang lo cuma nungguin Wi-Fi di rumah!" pesan Green dengan nada mendesak.
"Kenapa nggak bilang gue bos mafia aja? Lebih keren, kan? Kayak judul novel yang sering lo baca," sahut Felix santai sambil memutar kemudi dengan satu tangan.
"Gue serius, Felix! Ini soal harga diri gue!"
"Harga diri lo atau ketakutan lo kalau Lita bakal menang karena dia bentar lagi nikah sama pengusaha dan lo cuma sama gue?" Felix melirik Green tajam.
Green terdiam. Kalimat Felix menghantam telak di ulu hatinya.
Benar, Lita sebentar lagi akan bertunangan dengan seorang arsitek ternama, dan fakta bahwa Green mendadak mengganti Yudi dengan Felix yang asing di mata keluarga adalah amunisi empuk bagi Lita.
"Sampai," gumam Felix saat mobil mereka memasuki gerbang tinggi kediaman Atmadja.
Rumah itu sudah ramai. Mobil-mobil mewah berderet di halaman luas.
Di depan pintu masuk, Prabu Atmadja berdiri bersama Renata yang terlihat elegan dengan kebaya modernnya.
Dan, di samping mereka, Lita berdiri dengan gaun berwarna soft pink yang sengaja dipilih agar terlihat lebih manis dibandingkan Green.
Green menarik napas dalam. Tangannya gemetar. Tiba-tiba, sebuah tangan yang hangat dan besar menggenggam tangannya.
"Atur napas lo, Greeny. Jangan kelihatan kayak mau dieksekusi mati. Smile," bisik Felix.
Tangannya yang lain dengan posesif melingkar di pinggang Green, menarik tubuh gadis itu agar menempel pada sisinya.
"Felix! Tangan lo!" protes Green berbisik, mencoba melepaskan diri.
"Ingat pasal 5, sayang. Kita harus mesra di depan publik. Lo mau warisan atau mau lepas dari pelukan gue sekarang?" ancam Felix pelan, namun matanya menatap tajam ke arah keluarga Atmadja yang mulai menyadari kehadiran mereka.
Green menyerah. Dia memaksakan senyum paling manis yang dia punya, menyandarkan kepalanya sedikit di bahu Felix.
"Oke, lo menang kali ini."
Mereka melangkah mendekat. Prabu Atmadja menatap Felix dengan tatapan menyelidik, sementara Renata tersenyum tipis yang tidak mencapai mata.
"Akhirnya datang juga, pengantin baru," suara Lita terdengar cempreng dan penuh sarkasme.
Matanya menatap Felix dari atas ke bawah. "Jadi, ini pria yang bikin Green sampai tega buang Yudi di hari pernikahan? Siapa namanya tadi? Felix?"
Felix tersenyum, tipe senyum ramah namun menyimpan aura d******i yang aneh. "Felix. Senang bertemu kamu, Lita. Green sering cerita soal kamu, katanya kamu sangat perhatian sama urusan orang lain ya?"
Muka Lita memerah seketika. "Maksud lo apa?"
"Maksud suami gue, lo itu saking baiknya sampai urusan suami gue pun lo teliti banget. Padahal mendingan fokus sama acara tunangan lo nanti yang katanya lagi sibuk itu, kan?"
"Sudah, sudah," geleng Prabu menengahi, suaranya berat dan penuh wibawa.
Green memilih diam.
"Selamat datang, Felix. Kita bicara di dalam. Ada banyak relasi yang ingin bertemu suami Greeny."
Green melirik Felix dengan cemas. Relasi? Itu artinya Felix akan diinterogasi oleh para hiu bisnis.
Green meremas jas Felix, memberi kode untuk hati-hati. Felix hanya membalas dengan remasan lembut di pinggang Green, seolah berkata dia yang akan pegang kendali.
Di dalam aula besar yang dihias mewah, Nenek Kiswa duduk di kursi kebesarannya.
Green segera menghampiri, mencium tangan wanita tua yang sangat menyayanginya itu.
"Nek, ini Felix, suami Green," ujar Green pelan.
Nenek Kiswa menatap Felix lama melalui kacamatanya.
Felix membungkuk hormat, mencium tangan sang nenek dengan sopan santun yang sempurna, sangat berbeda dengan Felix yang suka nyolong handuk di rumah.
"Matamu mengingatkanku pada seseorang," gumam Nenek Kiswa misterius. "Jaga Greeny ya. Dia anak yang keras kepala, tapi hatinya rapuh."
"Saya tahu, Nek. Dia lebih galak dari macan kalau lapar, tapi saya pastikan dia nggak akan pernah lapar selama sama saya," jawab Felix yang langsung mendapat injakan di kaki dari stiletto Green.
Pesta berlangsung dengan tensi yang tinggi. Lita tidak menyerah.
Lita kembali mendekati mereka saat Green sedang mengambil minuman.
"Lix, gue denger-denger lo itu pengangguran ya? Kasihan banget Green, harus menafkahi suami. Apa nggak malu tuh sama kolega Papa?" tanya Lita cukup keras sehingga beberapa tamu menoleh.
Renata ikut menimpali sambil mengelus bahu Lita. "Lita, jangan gitu. Mungkin Felix punya potensi lain yang kita nggak tahu. Green kan pemilih banget soal cowok."
Green sudah siap meledak, namun Felix lebih cepat.
Pria itu justru tertawa ringan, menarik segelas sampanye dari nampan pelayan yang lewat.
"Pengangguran itu relatif, Lita," ujar Felix tenang.
“Apa?”
“Ada orang yang kerja 24 jam tapi hasilnya nggak seberapa. Ada orang yang kelihatan diam saja, tapi asetnya bekerja buat dia. Saya tipe yang kedua. Saya lebih suka menikmati hidup bersama istri cantik saya daripada pusing mikirin kantor orang lain."
"Aset? Aset apa? Tanah di kuburan?" ejek Lita.
"Lita, cukup!" Prabu datang mendekat, namun matanya tetap menatap Felix dengan penasaran. "Sebenarnya Felix ini berasal dari keluarga mana? Saya dengar orang tua kamu di luar negeri?"
"Benar, Om," angguk Felix
“Dimana mereka?”
"Orang tua saya di Jerman. Mereka sedang mengurus beberapa lini bisnis di sana, jadi belum bisa hadir. Tapi mereka kirim salam buat keluarga Atmadja."
Green menahan napas. Felix jago banget bohong! Orang tua di Jerman? Dia bahkan belum pernah lihat Felix video call sama siapa pun.
"Bisnis apa di Jerman?" kejar Renata.
"Oh, cuma beberapa manufaktur kecil," jawab Felix merendah. "Bukan apa-apa dibanding kerajaan bisnis Atmadja."
Saat suasana makin tegang, tiba-tiba seorang tamu penting, seorang kolega bisnis Prabu dari luar negeri, berjalan mendekat.
Wajahnya terlihat kaget melihat Felix.
"Mr. Seno? Is that you? I thought you were in Berlin for the—"
Felix dengan cepat memotong kalimat pria itu dengan jabat tangan erat. "Ah, Mr. Hans! Senang bertemu Anda di sini. Saya sedang dalam masa cuti panjang bersama istri saya. Mari bicara nanti, ini acara keluarga."
Mr. Hans terlihat bingung namun kemudian mengangguk patuh setelah melihat kode mata dari Felix. Green membeku.
Mr. Hans? Orang itu panggil Felix 'Mr.' dengan nada hormat?*
"Siapa dia, Lix?" bisik Green saat mereka menjauh sedikit dari kerumunan.
"Cuma orang yang pernah gue bantu benerin Wi-Fi-nya," jawab Felix asal, kembali ke mode menyebalkannya.
"Lo jangan bohong ya! Dia tadi mau ngomong sesuatu soal Berlin!"
"Berlin itu kan indah, Greeny. Lo mau bulan madu ke sana? Nanti gue usahain kalau warisan lo cair," ujar Felix mengedipkan sebelah matanya, membuat Green ingin sekali menenggelamkan pria ini ke kolam ikan Nenek Kiswa.
Debat mereka terhenti saat Lita kembali memprovokasi dengan membawa-bawa nama Yudi, menyebutkan betapa sedihnya Yudi karena Green membeli suami demi menutupi malu.
Green tidak tahan lagi. "Lita, kalau lo kangen banget sama Yudi, ambil aja bekas gue itu. Cocok kok, ular sama pengkhianat emang jodohnya di selokan."
“Apa?” Lita kesal dan menghentak heelsnya.
Suasana pesta mendadak hening. Prabu menatap Green tajam.
Namun, sebelum suasana makin kacau, Felix menarik Green ke pelukannya, mencium pelipisnya di depan semua orang.
"Sabar, Sayang. Orang sirik emang gitu. Ayo, kita kasih selamat sekali lagi buat Nenek, terus pulang. Gue kangen berantem sama lo di sofa kita sendiri," ujar Felix dengan suara yang cukup keras agar didengar Lita.
Green hanya bisa terpaku, jantungnya berdegup kencang, bukan karena marah pada Lita, tapi karena Felix yang hari ini seolah menjadi tameng yang paling kokoh, meski Green masih curiga, siapa sebenarnya pria yang sedang mendekapnya ini?
Acara ulang tahun itu baru setengah jalan, tapi bagi Green, pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai.
Di dalam mobil saat perjalanan pulang nanti, dia bersumpah akan menginterogasi Felix sampai pria itu mengaku siapa dirinya sebenarnya.
Tapi untuk saat ini, dia hanya bisa menikmati akting mesra ini, yang entah kenapa, mulai terasa sedikit terlalu nyata.