Pagi menunjukkan pukul 8, Green masih cuti kerja karena menikah, jadi ia masih tetap di rumah dan nggak kemana-mana.
Tapi pagi ini sepi, biasanya sudah ada teriakan atau minimal sindiran. Tapi sekarang, tak ada suara.
Green memilih turun tangga pelan, rambut diikat asal, matanya sedikit sayu karena baru bangun.
Green sejenak berhenti melangkah di anak tangga terakhir.
Pantas saja tenang dan sepi, ternyata Felix sudah ada di dapur memunggunginya dan sedang fokus kelihatannya.
“Lo masak?”
“Ya.” Felix nggak menoleh.
Green menyipitkan mata. "Aneh."
Felix menghela napas pelan.
"Apa sih yang nggak aneh dari rumah ini?"
Green melangkah masuk ke area dapur dan tetap jaga jarak.
"Kok lo nggak nyebelin sih hari ini?"
Felix akhirnya menoleh, tatapan mereka bertemu sesaat, rasanya canggung. Lalu Felix cepat mengalihkan pandangan.
"Capek."
Green mengangkat alis. "Capek apa lo? Di rumah aja lo diam nggak ngapa-ngapain."
Felix nyengir tipis, tapi dipaksakan.
"Capek digebukin lo tiap hari.”
"Lebay."
Felix lalu menuang makanan ke piring.
"Eat."
Green melipat tangan. "Gue nggak pesen."
Felix menaruh piring itu di meja. "Free."
Green melirik makanannya, lalu duduk, karena ia lapar. Kayaknya tak akan rugi mencoba makanan buatan Felix.
"Kelihatannya nggak beracun." Green mendesah napas.
Felix lalu duduk di seberangnya. "Belum tentu."
"Jangan bercanda soal itu,” ujar Green dengan tatapan sinis.
"Okay, sorry." Felix mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
Green lalu perlahan makan, merasakan masakan Felix, seolah perutnya sedang mencerna.
Felix memperhatikan Green, dan Green menyadari itu, lalu berhenti.
"Kenapa lo liatin gue? Lo mau lihat gue mati gitu?”
Felix refleks jawab. "Gue nggak—"
"Lo liatin kok tadi."
Felix menghela napas. "Ya udah, gue liatin."
"Ngapain?"
Felix menatapnya, kali ini lebih jujur. "Gue masih kepikiran."
Green langsung berhenti makan. Jantungnya sedikit naik.
"Kepikiran apa lo?"
"Yang kemarin."
Green langsung meletakkan sumpitnya.
"Itu kecelakaan."
“I know.” Felix mengangguk.
"Dan nggak akan terjadi lagi."
“Okay."
Green bangkit dari duduknya. "Makan sendiri!”
"Green—"
"Apaan lagi?"
Felix mendekat satu langkah. "Tatap gue."
"Ngapain sih, Lix?"
Felix sedikit kesal sekarang. "Kenapa lo jadi aneh?"
"Lo yang aneh!" Green langsung melawan.
"Gue?"
"Iya! Biasanya lo nyebelin, sekarang malah kayak gini!"
"Kayak gimana?"
“Ya kayak bukan lo."
Felix tersenyum tipis. "Lo lebih suka gue nyebelin?"
"Iya!"
"Oke."
Tiba-tiba, Felix melangkah lebih dekat. Green refleks mundur.
"Lo mau ngapain sih?"
Felix berhenti sejenak, ia sengaja berhenti di jarak yang bikin tegang.
"Ngetes."
"Ngetes apa?"
Felix menatap bibir Green sebentar. Green langsung sadar.
"JANGAN—"
Felix langsung mundur. "Tuh kan."
"Tuh kan apaan?! Lo jangan macam-macam ya, Lix. Lo harus ingat kontrak kita.”
“Ya gue ingat kok, lebay banget sih.”
Green langsung kesal. "GUE NGGAK LEBAY!"
"Sure."
Kali ini Green yang mendekat, emosinya tiba-tiba naik. "Lo kira gue takut sama lo?"
Felix langsung menjawab pelan. "I think you’re not ready."
"NOT READY FOR WHAT?!"
Felix nggak jawab, cuma menatap dan itu lebih menyebalkan.
Green mendorong bahunya. "Ngomong yang jelas!"
"Kalau gue beneran nyium lo lagi. Lo bakal marah?"
"Yes."
Felix mengangguk. "Okay."
Green mengerutkan kening. "Okay apa?"
"Berarti gue nggak boleh."
"Ya jelas nggak boleh!" Green semakin kesal dibuat Felix.
"But, you didn’t say you don’t want it."
Green langsung diam dan Felix melihat reaksinya. Dan, itu cukup buat dia.
Green langsung mendorong Felix lagi.
"LO SOK TAU BANGET SIH!"
"Lo gampang kebaca." Felix tertawa.
"STOP ANALYZING ME!"
"I can’t. It’s fun." Felix menggelengkan kepala dan berusaha tenang, ia harus menahan nafsunya, ciuman semalam membangkitkan sisi prianya.
Green benar-benar frustrasi sekarang.
"Kenapa sih lo nyebelin banget?!"
Felix mendekat lagi, kali ini lebih pelan. "Because it works on you.”
Green terdiam. Nafasnya mulai nggak stabil. Felix sadar dan dia langsung mundur.
"Oke, enough."
Green langsung bingung. "Lah?"
Felix mengusap rambutnya. "Gue nggak mau ribut pagi-pagi."
"Sejak kapan lo waras?"
"Sejak gue sadar satu rumah sama lo itu udah cukup chaos."
Green hampir tersenyum, tapi berusaha ditahan.
"Dasar."
Felix duduk lagi. "Makanan lo habisin."
Green duduk lagi. Tapi suasana berubah. Lebih … aneh.
***
Sore hari. Green lagi di ruang tamu. Felix datang, duduk lagi. Kali ini, ia nggak duduk terlalu dekat.
Green langsung komentar.
"Kok jauh?"
"Takut lo panik lagi,” jawab Felix.
"GUE NGGAK PANIK!" Suara Green kembali memekakkan telinga.
"Yeah, yeah,” angguk Felix.
"Tadi itu refleks."
"Oh? Jadi bukan karena gue?”
Green langsung sadar. “Jangan gede kepala."
“Too late.” Felix tersenyum tipis.
"Felix."
"Hm?"
Green nggak menatapnya.
"Kalau … kita beneran harus kelihatan mesra di depan orang—”
Felix langsung fokus. “Yeah?"
“Jangan aneh-aneh."
Felix mengangguk pelan. "I’ll behave."
"Gue nggak percaya." Green menyesap kopinya.
"Good. Jangan percaya gue." Felix tertawa kecil.
Green akhirnya menatapnya. "Kenapa sih lo bantu gue?"
"Because I want to."
Green mengerutkan kening. "Itu bukan jawaban."
"Itu satu-satunya jawaban yang gue punya." Felix menjawab dengan santai.
***
Malamnya. Green di balkon sendirian, tak lama kemudian, Felix datang dan berdiri di sampingnya.
Nggak terlalu dekat dan nggak terlalu jauh. Tapi jarak saat ini aman lah.
"Nice view," kata Felix.
Green mengangguk pelan. "Better than people."
"Agreed."
Green melirik Felix. "Lo nyesel?"
"Lo?"
"That’s your answer."
Green mendengus pelan. "Nyebelin."
Felix melihat ke depan, kali ini nggak terlalu canggung dan entah kenapa jarak di antara mereka mulai terasa lebih dekat. Walaupun mereka masih pura-pura, but everything is normal.
Padahal jelas, nothing is normal anymore.
"Besok gue kasih lo uang," ujar Green.
Jujur saja ini menyakiti harga diri Felix, mengapa Green mau memberikannya uang?
"Simpan uang itu buat lo sendiri."
"Felix, lo udah bantuin gue, jadi gue harus ngasih bagian ke lo."