Hope

1799 Kata
Lelaki blasteran Perancis dari sang ibu, asik bercermin merapikan rambut cokelatnya - pada kaca mobil yang baru saja ia naiki. Tepi matanya bisa melihat mobil BMW hitam milik sang ayah, di bagasi yang terbuka. Pemuda itu memilih acuh tak acuh, dan melenggang masuk ke rumah. Tampak Hans tengah duduk di sofa ruang tamu, ditemani koran dan secangkir kopi warna pekat. Entah kenapa, hati Kennan merasa senang jika ayahnya berada di rumah. Namun, gengsinya terlalu tinggi untuk sekedar menyapa lelaki paruh baya itu. “Baru pulang, Ken?” “Hm,” jawab Kennan pendek. Hans sudah sangat terbiasa dengan sikap Kennan yang sejak tiga tahun lalu banyak berubah, semakin dingin dan acuh tak acuh padanya. “Besok ulang tahunmu kan, kita harus merayakannya. Mau hadiah apa dari papa?” Kennan mengangkat sebelah sudut bibirnya. Hans lupa atau bagaimana? Usia anaknya bahkan sudah menginjak dua puluh tiga tahun, tapi ia masih menanyakan hadiah ulang tahun! “Anakmu bukan anak TK. Lagi pula, harusnya papa tau kalau aku gak suka acara ulang tahun.” Terdengar helaan napas dari Hans. “Oke. Tapi, sekedar makan malam keluarga mau dong!” Mata Kennan terbelalak tak percaya. ‘Apa katanya? Makan malam keluarga? Seseorang harus menampar pipiku!’ batinnya. Sekali lagi, ia terlampau gengsi untuk sekedar mengekspresikan kebahagiaan. Entah kapan, terakhir ia dan kedua orang tuanya makan bersama. Sehingga, ia nyaris tak percaya, jika kalimat itu meluncur dari mulut ayahnya. “Papa yakin?” “Of course. Sudah lama juga kan, kita gak makan bareng, mengobrol dan bercanda,” cetus Hans. Tanpa sadar, Kennan tersenyum tipis. “Oke. Anggap saja, ini hadiah darimu,” ucap Kennan kemudian. Hans mendekat dan menepuk bahunya. “Oke Boy! Nanti kita akan makan malam di restoran Cherry Blossom. Pastikan besok jam tujuh malam, kamu dan mamamu bersiap. Pakailah, baju terbaik kalian, karena kita juga perlu berfoto untuk kenang-kenangan. Sekarang, papa mau ke bengkel dulu ya, mobil papa lagi merajuk.” Kennan hanya mengangguk. Tak lama Bi Mui muncul hendak merapikan meja, namun pandangannya teralihkan pada wajah Kennan yang berseri. “Apa yang membuat wajah Den Kennan tampak ceria?” Kennan menoleh ke arahnya. “Papa mengajak aku dan mama makan malam bersama, di hari ulang tahunku besok. Itu amazing bukan? Entah kapan terakhir kami makan bertiga di meja yang sama.” “Syukurlah Den, bibi ikutan seneng. Ada yang perlu bibi siapkan?” “Gak perlu Bi. Papa mengajak kami makan di luar.” “Oh, begitu. Baik Den, semoga kalian bersenang-senang.” Masih dengan senyuman. Kennan melangkah menaiki anak tangga. **** pagi, selalu menghantarkan langkah awal, menikmati apa yang akan terjadi selanjutnya. Joanna masuk ke gerbang kokoh di universitasnya yang baru. Ia santai mengenakan kaos hitam oversize dan celana jeans model wide length. Matanya menyapu tiap sisian bangunan kampus dengan d******i abu, dengan suasana alam. ‘’Huff, segarnya. Kayaknya gue bakalan betah tinggal di sini.” Minuman kaleng bersoda ia teguk untuk terakhir kali, dan hendak dibuang ke tempat sampah. Namun urung, karena netranya tak sengaja menatap seorang gadis cantik yang tengah diganggu dua orang lelaki muda. Jaraknya cukup jauh, bahkan posisi mereka berada di pojok dekat pohon rindang. ‘Gue gak bisa kalau gak ikut campur!’ batinnya. Ia berlari ke arah mereka, dan saat di posisi tepat Joanna melempar kaleng minuman tepat di kening salah satu dari mereka. Tung! “Aaargh!” ‘Yes! Tepat sasaran,' batin Joanna bersorak. “Siapa yang ....” ucapan terhenti di udara saat menatap Joanna yang sibuk melonjak-lonjak. “Heh! Sini lo!” bentaknya. Joanna menunjuk hidungnya. “Iya. Emang siapa lagi yang berdiri di situ kecuali lo!” “Oh, hehe. Oke.” Joanna tanpa rasa takut mendekati kedua lelaki itu. Tanpa mereka sadari, gadis yang diganggu kedua lelaki itu pergi begitu saja. “Lo kan yang lempar botol kaleng ini ke gue?” ucap lelaki bernama Mark. Joanna membuka mulutnya berpura-pura terkejut. “Ya ampun, sorry. Padahal aku mau lempar ke tong sampah yang di situ, kok bisa nyasar ke jidatmu ya,” ujar Joanna di sela tawa. “Wah, ngeles ni orang. Padahal udah ganggu kesenangan kita-kita, enaknya kita apain nih, Bray,” ucap teman Mark bernama Sean. Joanna mencoba memberanikan diri menatap kedua lelaki itu. Mereka memindai tubuh Joanna. “Bingung juga mesti diapain. Orangnya aja gak jelas, cewek apa cowok,” cetus Sean. Kedua lelaki itu terbahak. “Kita seret aja keluar kampus.” Lalu kaos di bagian dadda Joanna ditarik, membuat Joanna terkesiap dan sontak memukul pipi lelaki itu hingga nyaris tersungkur. “Heh! Rese lo!” bentak Mark sambil mengelus rahangnya yang kesakitan. “Kalian yang rese! Di kampus aja, berani ganggu-ganggu cewek. Gue laporin ke dosen kalian, baru tau rasa!” tantang Joanna. Mereka bukannya takut, malah sengaja semakin maju. Satu kepalan tangan melayang dan nyaris ke arah wajah Joanna, namun seseorang dengan cepat menangkapnya. Joanna menoleh dan membulatkan mata, saat tahu siapa orangnya. “Kalian bikin ulah lagi?” tanya Kennan. Kedua lelaki itu beringsut, dan mundur beberapa langkah. “Ma-maaf Ken. Tadi ... kita cuma iseng kok,” ucap Mark takut-takut. “Alasan klasik. Udah berapa kali kalian bikin ulah di kampus ini.” “Kami pastikan ini yang terakhir.” Kennan diam sejenak. “Tetap akan kulaporkan kelakuan kalian, kuharap pihak kampus masih bisa bertindak lebih tegas.” Air muka keduanya tampak pucat, dan berhambur mendekatinya. “Tolong Ken, jangan sampai kami di drop out.” Kennan mendecih. “Kalian gak mau keluar, tapi masih bikin onar. Apa itu gak ngelunjak? Kita lihat aja nanti, oke!” Kennan memegang tangan Joanna dan menjauh dari kedua orang itu. “Siallan! Kalau sampai kita benar-benar didrop out dari kampus, habis sudah!” ujar Mark. “Iya, terakhir dikasih surat peringatan aja, gua dibogem sama bokap.” Sean menimpali. Napas Mark memburu menatap tajam ke arah Kennan dan Joanna yang semakin menjauh. “Mentang-mentang orang tuanya penyumbang dana terbesar, dia bisa berbuat seenaknya di kampus ini. Kita lihat, gua gak akan tinggal diam gitu aja!” desis Mark. **** Kennan terus menarik lengan Joanna menuju kantin. “Udah lepasin! Kita udah jauh dari mereka.” Joanna mencoba melepas paksa pergelangan tangannya. Matanya mendelik tidak suka. Namun, yang ditatap tidak membalas dengan senyuman seperti biasanya, wajahnya dingin dan datar. Lelaki itu memberi isyarat pada Joanna untuk duduk di kursi, berhadapan dengannya. Sejurus kemudian, ia memesan ramyeon dua mangkuk. Hening menyelimuti, sampai pesanan mereka datang. “Makasih. Tapi, lo gak perlu bantu gue tadi,” ucap Joanna sambil memutar sedotan di gelas berisi es jeruk miliknya. Kennan berdecak kesal. Ia menyilangkan tangan di dadda. “Awal kita ketemu, lo lagi dikeroyok sama tiga preman. Dan sekarang wajahmu nyaris kena pukul dua lelaki tadi. Gue heran, lo itu kenapa sih suka ikut campur urusan orang lain?” tukas Kennan dengan nada penekanan. Ya, senyuman manis itu sirna, hanya aura dingin sedingin es. Joanna menghentikan menyeruput air itu. “Lo gak lihat? Kalau tadi gue gak bantu, pasti tubuh cewek tadi habis digerayangi. Mata liar mereka tak lepas dari tubuh seksi tu cewek. Gak mungkin diam aja dong!” “Itu salah si cewek, kenapa pake rok yang terlalu pendek. Padahal jelas-jelas peraturan kampus melarang. Tapi, perbuatanmu tadi nyaris mencelakai dirimu sendiri. Berhentilah jadi tukang kepo!” cecar Kennan meradang. “Dan mana cewek itu? Malah pergi ninggalin kamu, tanpa berterima kasih!” imbuhnya. Joanna terdiam sesaat. Dari ucapan pemuda itu, ia yakin jika Kennan memperhatikannya sejak awal. “Lo tuh, yang kepo! Selalu aja nguntit gue kayak paparazzi!” Joanna beranjak dari tempat duduknya, obrolan mereka membuat selera makannya hilang. Mendengar ucapan itu, Kennan mengerjap dan mencoba menahan dengan tangannya. “Eh, mau ke mana?” “Gue harus balik ke kampus, mau nyari kelas. Malas ngomong sama lo!” jawabnya sambil membuang muka. “Wait. Lo mahasiswi baru di kampus ini?” “Iya.” Mendengar itu, seolah ada angin segar menerpa wajah Kennan. Bibirnya melengkung tanpa sadar. “Sorry. Tadi udah marah-marah, gue cuma khawatir sama lo, takut dipukuli sama orang kayak waktu itu. Dan kalau Oma Elle tau, beliau juga pasti mengkhawatirkanmu,” ucap Kennan bernada rendah, membuat sikap Joanna ikut melunak. “Makan dulu, baru kita pergi. Gue juga mahasiswa di situ, jurusan akuntansi semester akhir. Kalau lo?” “Gue jurusan ekonomi, semester enam.” Kennan tersenyum tipis seraya menggasak surai mullet milik Joanna, “Lo adik tingkat gue berarti.” Sikap Kennan membuat Joanna membeku seketika. **** Brukk! “Eh, sorry. Aku buru-buru,” ucap Joanna yang tidak sengaja menabrak seorang gadis. “Kamu ... cewek yang tadi diganggu dua orang lelaki kan?” tanya Joanna dengan mata membola. Gadis itu menelan saliva lalu mengangguk pelan. “Maaf ya, tadi aku pergi gitu aja. Soalnya, takut banget.” Joanna tersenyum. “Gak apa-apa kok, santai aja. Mungkin lain kali, kamu lebih memperhatikan pakaianmu.” Gadis itu mengangguk sambil tersenyum kikuk. “Aku Joanna, kamu?” Mereka saling menjabat tangan. “Aku Bella. Anak baru ya?” “Hu’um. Aku anak ekonomi semester enam, lagi nyari kelas.” Bella terkekeh. “Kebetulan kita satu kelas. Ayo, kuantar.” “Waah, thank you.” Joanna melirik Bella sebelum ia duduk di kursi putih miliknya. ‘Gadis yang baik dan cantik.’ “Aku duduk di depan sini lho, kamu di belakangku. Jadi, kita bisa saling mengobrol satu sama lain,” ucap Bella ramah. “Kamu baik banget, sekali lagi makasih.” “Sama-sama. Kayaknya, kita bisa berteman.” Joanna tertawa senang. Bisa dibilang, Bella satu-satunya teman perempuan yang ia miliki saat ini. Sementara di kelas akuntasi, Kennan dengan terburu-buru merapikan buku dan memasukkan laptop ke ranselnya. “Jim, gue duluan ya.” “Langsung pulang?” tanya Jimmy. “Hm. Ada perlu sedikit.” “Lo masih punya hutang sama gue, soal cewek jadi-jadian itu,” cetus Jimmy. Kennan sontak melotot ke arahnya. “Eh, ma-maksud gue, cewek yang tomboi itu.” Kennan menghela napas kasar. “Ya, tar pasti gue cerita.” Dasya datang mendekat. “Ken, ke perpus yuk! Nyari referensi bahan skripsi.” “Gak sekarang ya, aku buru-buru.” “Eh?” Pemuda itu langsung berlari keluar kelas, sambil tak lepas tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Langkahnya terhenti di pintu yang terbuka, sembari sibuk mengatur napasnya yang senin-kamis. Satu persatu mahasiswa keluar, namun yang dicari tak kunjung ia temukan. ‘Apa Joanna sudah lebih dulu keluar?’ batinnya bertanya-tanya. Klung! Satu notifikasi chat muncul di ponselnya. Ia merogoh benda pipih yang berpendar itu, lalu membukanya. [Nak, jangan telat pulang ya. Kan, nanti akan makan malam istimewa. Gak lupa dong.] Chat dari Rose – ibunya, membuatnya tersadar. Nyaris saja lupa akan momen penting itu, ia pun berlari ke arah parkiran. Siulan kecil menemani perjalanannya, hatinya gembira karena keluarganya akan bertemu dalam satu hari yang istimewa. ‘Moga ini awal yang baik.' Dalam hati ia berharap, sosok Laura enyah dalam hidup mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN