Bad Day

1260 Kata
Sudah biasa, ya Joanna benar. Ia memang sudah terbiasa melakukan apa-apa sendirian termasuk membalut luka fisik dan psikis. Joanna mampu tertawa di muka umum, tapi menangis saat sepi. Sekali lagi, itu sudah ter-bia-sa. ‘Kenapa harus sedih? Bukankah ucapan Kennan ada benarnya? Gue kasar, bar-bar dan gak punya sisi lembut seorang cewek. Jangankan Kennan yang punya paras tampan paripurna serta kaya raya, kakek-kakek penjual sayur kaki lima saja belum tentu menyukaiku,' batinnya bersenandika. Ia bangkit untuk mengganti baju rumah sakit dengan baju lusuh miliknya. Seorang perawat masuk dan memindai tubuh Joanna. “Lho, kok Anda ganti baju Nona?” Joanna menoleh. “Eh, suster. Saya mau pulang, kasihan nenekku sendirian di rumah, beliau dalam keadaan sakit.” “Aduh, gak bisa. Anda masih dalam proses pemantauan, bahkan semua hasil medical chek-up nya, belum semua keluar.” Joanna terdiam sesaat. “Saya janji, gak akan menyalahkan pihak rumah sakit jika terjadi sesuatu padaku.” Suster terdiam. **** Setelah percakapan yang cukup alot dengan dokter dan pihak rumah sakit, akhirnya Joanna diberi izin namun harus bersedia menandatangani surat perjanjian, jika ia tidak akan menyalahkan pihak rumah sakit karena keluar sebelum waktunya. Cuaca sore itu sangat mendung, gadis itu yakin jika hari akan turun hujan. Angin dingin menyusup ke celah kain dan terasa perih menusuk, mungkin akibat efek luka yang belum sepenuhnya sembuh. Ia merogoh celana jeans dan mengecek berapa uang yang dimiliki. ‘Ck! Gak cukup buat naik taksi.’ Tanpa pikir panjang, ia berjalan ke arah jalan raya untuk menaiki angkutan umum. Bertepatan dengan itu, mobil Kennan masuk ke pelataran rumah sakit. Langkah panjangnya dengan cepat menuju ruangan VIP, tempat Joanna dirawat. Namun, ia terkejut mendapati ruangan itu tampak rapi dan bersih. Lalu, ia menanyakan pihak rumah sakit, di mana keberadaan Joanna. Lututnya terasa lemas, saat akhirnya mengetahui jika gadis itu sudah pulang. Notifikasi chat dari Joanna muncul. [Ken, gue udah pulang. Jadi, jangan ke rumah sakit lagi dan jangan dulu ke rumahku, soalnya mau full istirahat. Semua biaya administrasi yang udah lo keluarin, gue janji akan menggantinya. Makasih.] Kennan memijat pangkal hidungnya, ia melangkah gontai keluar dari rumah sakit. **** Siang tengah mengajak angin bergurau, mengganti gelap dari sisa malam yang panjang. Kennan menuruni anak tangga dengan wajah memelas. Tapi cukup terkejut, saat menatap pemandangan yang tidak biasa. Ya, di meja makan. Tampak ayahnya – Hans, beserta ibunya duduk satu meja dan sarapan bersama. Sebuah pemandangan yang sangat langka. “Pagi, Kennan. Bagaimana suasana hatimu pagi ini?” tanya Hans. Kennan berusaha tersenyum. “Baik, Pa.” Hans menaruh garpu yang dipegangnya lalu bersedekap. “Papa minta maaf, soal makan malam kita waktu itu. Klien dari Jepang tiba-tiba datang, karena begitu penting papa gak bisa meninggalkannya begitu saja. Bahkan keesokan paginya, kami harus sama-sama ke bandara untuk terbang ke Jepang, untuk kelanjutan bisnis kami. Jadi, baru hari ini papa sempat pulang dan sarapan pagi bersama dengan kalian,” terang Hans panjang lebar. Kennan bergeming, ia meratakan selai kacang ke roti miliknya lalu dengan cepat dimasukkan ke mulut dan didorong dengan segelas s**u. “Pulang cepat ya Ken, papamu ingin bicara hal penting pada kita nanti,” ucap Rose dengan bibir sedikit bergetar, raut wajahnya pun tampak tak biasa. “Kenapa gak sekarang aja ngomongnya?” ujar Kennan kemudian. Hans melap mulutnya dengan serbet. “Gak bisa Nak, Papa buru-buru harus ke kantor. Ada meeting penting.” Ken mendengkus pelan. Pikirnya, hanya ada dua yang ada di otak Hans, pekerjaan dan wanita lain. Ia bangkit sambil menatap tajam ke arah ayahnya. “Jangan dikira Papa saja yang sibuk. Sama, aku juga sibuk bahkan urusanku jauh lebih penting karena menyangkut masa depanku. Beda dengan Papa yang kebanyakan hanya untuk kesenangan pribadi dibanding mementingkan kebahagiaan kami.” Kennan berlalu meninggalkan mereka. “Kennan!” ujar Hans setengah membentak. Rose mendongak - menatap wajah suaminya. “Sudahlah Pa. Biarkan dia pergi.” “Tapi sampai kapan, dia bersikap seperti itu? Aku papanya bukan?” Rose menghentikan suapannya. “Wajar saja Kennan bersikap seperti itu, jangan menuntut apa pun padanya, setelah apa yang telah kamu perbuat.” Hans hanya bisa menghela napas panjang. **** Sangat-sangat tidak bersemangat pagi itu. Kennan berjalan di rerumputan kampus dan menendang sembarang batu kerikil yang tak sengaja ia temukan. Tanpa sadar, ia berpapasan dengan Laura. “Kebetulan kita ketemu di sini Ken,” ucap wanita itu. Kennan mematung – menatapnya dengan datar, kedua tangan dimasukkan ke saku celananya. “Saya dan papamu akan segera melangsungkan pernikahan,” sambung Laura. Kennan membuang muka, sambil mengangkat sebelah sudut bibirnya. “Sekarang aku paham, kenapa papa ingin bicara padaku sepulangnya dari kuliah.” Kennan menjeda ucapannya. “Kalian sengaja gak nikah sejak dulu, mau menghancurkan kami dulu ya? Hebat.” Laura menggeleng. “Jangan salah paham. Kami selama tiga tahun menundanya, karena ....” “Oh aku tau. Menunggu mama ikhlas menceraikan papa? Kubur saja keinginanmu, sampai kapan pun beliau gak akan menceraikan papa. Dan sayangnya, papa juga gak bisa cerai, karena terkait janji dengan keluarga dari pihak mama. Ini, pil pahit buat kita semua, telan saja,” desis Kennan. Laura mendunduk dalam-dalam. Ucapan Kennan memang semua benar, ia menunda pernikahan sebab ingin menjadi istri satu-satunya buat Hans. Tapi, semua menjadi sulit saat Hans tidak bisa menceraikan Rose, karena jika itu semua terjadi, semua perusahaan atas nama Rose yang dipegang Hans, akan diambil. Artinya, laki-laki yang ia agungkan selama ini, tidak akan punya apa-apa. Tanpa mengucap kata apa pun lagi, Kennan pergi meninggalkannya. **** Jimmy mendekat saat Kennan tengah duduk di kursi kayu tepat di bawah pohon pinus. Iris mata pemuda itu, terus menatap kelas Joanna. “Muka lo kusut, lupa gak disetrika ya,” seloroh Jimmy. Kennan menoleh sekilas seraya mencebik. “Hari ini sempurna banget hidup gue. Papa bakalan nikah sama Laura, hebat kan?” Jimmy duduk bersisian dengannya sambil menepuk bahu sahabatnya, mencoba menguatkan. “Hingga detik ini lo masih kuat kan? Jadi, jangan takut, Tuhan akan membantumu dengan caraNya.” Kennan mengangguk. “Thank’s, Tuan bijaksana.” Hening. “Gue perhatiin, lo lihat kelas itu terus, ngapain?” “Joanna kuliah di sini, dia adik tingkat kita,” jawab Kennan. “Wow, kejutan baru. Tapi dia gak mungkin kan kuliah hari ini, karena masih sakit? Jadi ngapain lo lihat kelasnya terus menerus.” Kennan hanya mengangguk. ‘Iya juga ya,' batinnya. “Lo, kayaknya akrab sama dia, udah lama kenal?” tanya Jimmy kemudian. Tanpa sadar, senyum terbit di bibir Kennan. “Belum lama. Gak sengaja ketemu pas dia lagi dipukuli para preman.” “Pertemuan yang aneh.” Kennan terkekeh pelan. Pikirannya kembali menerawang saat bertemu gadis itu. Jimmy kembali menoleh ke arahnya. “Kennan yang gue kenal itu, irit senyum. Sekalinya ngomong suka nyelekit, dan kaku kayak es kutub utara. Tapi pas lagi sama Joanna, lo meleleh kayak cokelat kepanasan, jujur deh sama gue, lo suka kan sama Joanna?” Kennan mengangkat bahu dramatis diiringi tawa yang terdengar hambar. “Hati gue kan udah mati.” Jimmy mengibas tangan di dekat wajah Kennan untuk menyanggah. “Halah! Mulut dan hati lo beda, yakin gue!" “Entahlah. Tapi jujur ya, gue pengen dekat terus sama dia. Sayangnya ....” “Sayangnya apa?” “Kayaknya, Joanna bakalan terus menjauh dari gue. Ada ucapanku yang buat dia tersinggung kemarin." Jimmy berdecak. "Gue udah duga gara-gara ini muka lo kisut!" "Lupakan. By the way, lo punya ide gak, gimana caranya biar gue bisa tetap dekat sama dia?” tanya Kennan kemudian. Jimmy mengetuk-ngetuk dagunya. “Hmm, lo mesti cari tau siapa teman dekatnya di kampus.” Alis Kennan bertaut. “Siapa ya? Trus habis itu ngapain?” Jimmy tersenyum penuh arti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN