Bab 14. Informasi

1014 Kata
"Ibu!" Elea terkejut ketika melihat Milly dan Lisa ada di depan kampus seraya bersedekap d**a melihat ke arah gadis itu. "Mau apa lagi mereka?" ujar Ryandra tidak suka. Milly dan Lisa mendekati ke dua orang itu. Segera Ryandra menggeser tubuh Elea agar berlindung di belakang tubuhnya. Sudah tak heran dan bahkan sering, Ryandra mendapati Elea yang diperlakukan kasar oleh ibu dan kakak tirinya. "Minggir, saya mau bicara sama Elea!" hardik Milly. "Mau bicara apa? Bicara saja di sini," ujar lelaki itu dengan nada dinginnya. "Tidak usah ikut campur urusan orang lain," ketus Milly yang memaksa menarik tangan Elea dan dibantu oleh Lisa. "Bu!" rintih Elea kesakitan. Segera Ryandra merampas tangan Elea yang dicengkeram oleh Milly dan Melisa. "Jangan pernah kasar sama Elea!" tegas Ryandra yang terlihat marah. "Kamu..." Ryandra tak memberi ruang pada Milly dan Lisa untuk menyakiti Elea. Dia menatap dua orang itu dengan penuh amarah. "Apa yang kalian inginkan pada Elea?" tanya Ryandra dengan nada dingin. Sementara tangannya mengenggam Elea dengan erat. "Memangnya kamu sanggup memenuhi apa yang kami mau?" Milly tersenyum mengejek. Sejak menikah dengan Edzard, dia dan Elea memang seperti putus kontak dan tak pernah saling berkomunikasi satu sama lain. Hal itu membuat Milly kesusahan meminta uang pada gadis itu. "Katakan saja!" sahut Ryandra. "Berikan saya uang 200 juta!" pintanya sambil menengadahkan tangan ke arah Ryandra. Elea terkejut mendengar angka uang tak sedikit yang disebutkan oleh Milly. Dia menggelengkan kepala agar Ryandra tak mengabulkan permintaan ibu tirinya itu. "Baik!" Lelaki itu mengambil cek di dalam tasnya lalu menulis angka uang di sana. "Ambilah! Jangan pernah ganggu Elea lagi. Atau kalian berdua akan tahu akibatnya!" ancam Ryandra menyedorkan cek tersebut. Bukannya takut Milly dan Lisa malah langsung berbinar menatap cek di tangan Ryandra. Secepat kilat Milly merampas cek tersebut, jiwa matrenya meronta-ronta. "Kak!" "Tenanglah," ucap Ryandra tersenyum lebar. Setelah menerima uang dari Ryandra, kedua wanita itu pergi begitu saja. "Kak, uangnya banyak sekali?" Elea takjub dengan angka uang yang disebut oleh ibu tirinya tadi. "Tidak apa-apa," sahut Ryandra lembut. "Eh tangan kamu merah." Pria itu melihat tangan Elea merah dan bahkan sedikit tergores luka terkena kuku Milly. "Tidak apa-apa, Kak. Ini sudah biasa," sahut Elea seraya menampilkan rentetan gigi putihnya. "Bagaimana kalau aku antar pulang saja?" tawar Ryandra. Sejenak Elea terdiam. Jika lelaki itu mengantarnya pulang, maka Ryandra akan tahu di mana tempat tinggalnya. Sementara itu Edzard sudah menegaskan agar tidak boleh mengatakan pada siapapun, bahwa mereka sudah menikah. "Yaya, kenapa diam?" Ryandra melambaikan tangannya di depan gadis itu. "Tidak ap–" Hingga keduanya dikejutkan dengan suara klakson mobil yang baru saja datang dan berhenti di depan mereka. "Om Edzard," gumam Elea. Edzard menurunkan kaca mobil. Tatapannya tertuju pada Ryandra yang mengenggam tangan sang istri. "Masuk!" perintahnya. "Kak, Lea duluan ya. Sudah dijemput." Sebenarnya Elea tak enak menolak Ryandra. "Kamu hati-hati, jangan lupa kabarin aku kalau sudah sampai. Dan..." Ryandra sejenak memeluk Elea. Tadi, dia benar-benar takut jika Elea disakiti lagi oleh Milly dan Lisa. "Kakak." Elea terkejut. Gadis itu hanya diam saja. Tidak menolak, tetapi tidak juga membalas. Edzard menekan klakson mobilnya dengan keras dan berulang kali. Sehingga Ryandra melepaskan pelukannya. "Kak, Lea pulang ya," pamitnya. Elea melambaikan tangannya dan masuk ke dalam mobil. Sejenak dia melirik sang suami yang terlibat kesal dan marah. "Om," panggil Elea. "Kenapa?" tanya Edzard ketus. "Yaellah, ketus amat sih, Om, istri sendiri," protes Elea memutar bola matanya malas. Sejenak Edzard melirik tangan istrinya yang merah. "Kenapa tangannya? Akibat digenggam laki-laki tadi?" Nada suaranya terdengar marah dan tak suka. "Namanya Kak Iyan, Om. Bukan laki-laki itu," ralat Elea. "Eh kenapa Om jemput Lea? Bukannya ada supir pribadi yang Om tugaskan?" Gadis itu menatap suaminya dengan wajah bingung. Edzard tak menjawab. Dia malah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Wajahnya selalu datar tanpa ekspresi. Elea menghela napas panjang. Gadis itu merasa berbicara dengan patung hidup karena tak direspon dan tak dijawab oleh suaminya. "Dia pacar kamu?" tanya Edzard kemudian. "Pacar?" Kening Elea mengerut. "Laki-laki tadi," ujarnya. "Om pengen tahu?" Elea menatap penuh selidik. "Saya suami kamu. Wajar saya tahu." "Om lupa ya? Tidak boleh ikut campur urusan masing-masing. Jadi, mau dia pacar Lea atau bukan Om tidak berhak untuk tahu. Jangan sampai Om melanggar ucapan Om sendiri!" * * * "Aku yakin kalau dia bukan om-nya Lea. Sifatnya aneh sekali!" Ryandra masih menatap mobil Edzard yang menjauh dari kampus. "Tapi dia siapa?" gumamnya. Tak sengaja lelaki itu melihat Stefanie dan Ivonny yang baru saja keluar dari kampus. Segera dia berjalan menghampiri dua gadis tersenyum. "Stef, Iv," panggilnya. "Eh, Kak Ryan!" Keduanya tersenyum malu. "Boleh aku bertanya?" "Wah boleh, Kak. Tanyakan apa saja, Kak. Kami berdua siap menjawab," tukasnya tersenyum genit sambil mengedipkan mata jahil. "Ini tentang Elea," sahut Ryandra seketika dingin. Memang hanya Elea gadis normal di matanya. Semua gadis di kampus ini sama saja, selalu menatap dirinya dengan damba dan Ryandra tidak suka hal tersebut. Kening Stefanie dan Ivonny mengerut secara bersamaan. Kedua gadis itu melihat satu sama lain sebelum akhirnya melontarkan pertanyaan. "Elea kenapa, Kak?" tanya Stefanie. "Apa kalian tahu siapa laki-laki yang selalu mengantar jemputnya setiap hari?" Ryandra menatap kedua gadis itu secara bergantian. Keduanya menggeleng kompak karena memang mereka tidak tahu. "Tapi Elea pernah menyebut nama om Edzard, Kak," jawab Ivonny. "Edzard Elbagata Rosching," sambungnya kemudian. "Edzard Elbagata Rosching?" ulang Ryandra memastikan. Nama itu terus terngiang di kepalanya. Dia berusaha mengingat, tetapi hasilnya selalu nihil. "Pengusaha muda yang lagi terkenal itu lho, Kak. Dia juga rekan bisnis papaku," jawab Ivonny. "Apa benar dia om-nya Elea?" tanya Ryandra lagi yang sepertinya belum puas. "Kalau masalah itu kami tidak tahu, Kak. Tapi setahu aku, om Edzard itu anak tunggal. Tidak punya saudara!" Setelah mendengar informasi dari Stefanie dan Ivonny, Ryandra memilih masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kampus. Lelaki itu benar-benar tampak penasaran. "Siapa laki-laki itu? Kenapa aku curiga kalau dia memiliki hubungan lebih dari om dan keponakan? Sifatnya sangat aneh, dia terlihat cemburu saat aku memeluk Elea." Sebagai sesama laki-laki, tentu Ryandra bisa menerjemahkan tatapan Edzard pada Elea. Ada raut kecemburuan yang terlihat jelas dari bola mata lelaki itu. "Aku harus selidik siapa dia. Aku tidak mau dia merebut Elea dariku!" Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN