bc

Endless Love

book_age16+
680
IKUTI
3.3K
BACA
kickass heroine
inspirational
CEO
drama
campus
office/work place
slice of life
love at the first sight
teacher
sacrifice
like
intro-logo
Uraian

Kanaya harus memperjuangkan pernikahannya kala sang ibu mertua meminta untuk mengizinkan Aditya, suaminya, menikah lagi agar bisa memberikan keluarga mereka keturunan. Kondisi kandungan yang bermasalah, membuat Kanaya harus ikhlas menerima perempuan lain yang dipilihkan ibu mertuanya.

Kehadiran seorang bayi perempuan tak membuat sikap dingin Aditya pada Viona, istri keduanya berubah. Hal itu yang membuat Viona terluka, hingga menutupi kecelakaan yang menimpa Kanaya.

Akankah Kanaya bisa sembuh total pasca kecelakaan dan kembali lagi pada Aditya? Apakah masa lalu Kanaya yang ternyata adalah anak kandung seorang konglomerat terungkap?

chap-preview
Pratinjau gratis
Liqa (Pertemuan)
Semburat garis lengkung terlukis indah di bibirnya yang merah meski tanpa pulasan, pipi merona dengan hidung lurus sempurna, lentik kelijak menghiasi mata bulat menyerupai kacang almond, mencipta wajah bercahaya dalam siluet mentari pagi yang bersinar cerah. Kerudung panjang tergerai menutupi sebagian pakaian gamis yang menjuntai indah. d******i warna biru muda membalut tubuh tinggi semampai. Aura kecantikan seorang bidadari terpancar dari sosok sederhana nan memesona. Kanaya Zivana. Sebuah nama yang mengandung doa kedua orang tua untuk sang putri tercinta. Dengan harapan, Naya, begitu panggilan yang tersemat sejak kecil, akan menjadi seorang perempuan tangguh dan memenangkan setiap pertarungan hidup yang Allah takdirkan. Sejak kecil, Naya selalu menjadi kebanggaan dalam setiap senyuman kedua orang tuanya. Ia anak yang cerdas dan aktif mengikuti berbagai kejuaraan akademik. Prestasi yang diraih pun sudah tak terhitung lagi. Tak hanya itu, ia pun sudah pandai melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan tilawah yang menyayat hati sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejak usia empat tahun, ia sudah dimasukkan ke sekolah khusus Tahfidzul Qur'an oleh kedua orang tuanya. Dua puluh empat tahun lalu, Ali Hasan dan Nurul Fatimah, sang istri, membawa dengan penuh cinta, bayi mungil nan cantik jelita ke dalam kehidupan mereka. Karena infertilitas yang dialami Nurul, mereka pun memutuskan untuk mengambil alternatif terakhir. Menghadirkan tangis dan tawa dalam rumah yang sudah mereka bangun lima tahun lamanya. Kehadiran Naya menjadi pelengkap kebahagiaan yang sudah lama dirindukan. Naya kecil tumbuh menjadi gadis cantik dan periang. Kecerdasannya mampu membuat orang-orang berdecak kagum. Seiring pertumbuhan, wajah yang terpahat itu mirip dengan sang ibu, sementara kecerdasan yang dimiliki sama persis dengan ayahnya. Seiring waktu, gadis kecil pembawa bahagia itu telah menjelma menjadi perempuan cantik yang memegang teguh prinsip dalam hidupnya. Tumbuh menjadi perempuan yang salehah, berhati lembut, dan sangat menghormati orang tua. Tak pernah sekali pun membantah apa yang dikatakan ayah dan bunda. Apa yang diucapkan mereka adalah sebuah titah yang harus dijalankan dengan penuh keikhlasan. Itulah mengapa Ali dan Nurul begitu menyayangi putri yang telah mereka bawa dan didik dengan penuh cinta. Kehadirannya merupakan anugerah terindah yang dititipkan Allah untuk menjadi penyempurna kehidupan. Perempuan berlesung pipi itu pun bahagia memiliki orang tua yang sangat menyayanginya, mengajarkan agama dan budi pekerti yang baik, sehingga ia menjelma menjadi perempuan yang berakhlak mulia. Selepas menempuh program studi Pendidikan Agama Islam di Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta, Naya melanjutkan pendidikan di Brunei Darussalam dengan program studi yang sama. Semua itu ia tempuh dengan jalur beasiswa prestasi yang diraihnya. Lulus dengan hasil memuaskan, salah satu universitas Islam di Jakarta memintanya untuk menjadi dosen di sana. Sebuah pencapaian yang terbilang mudah bisa mendapatkan apa yang diimpikan selama ini. Sejak kecil, Naya memang bercita-cita menjadi tenaga pendidik. Mengambil jurusan yang disukai, dengan harapan bisa menjadi bagian dari pendidikan Islam generasi muda yang membutuhkan banyak pengetahuan tak hanya secara teori, tetapi juga praktik di kehidupan nyata. Meski banyak relasi bisnis sang ayah yang seorang pengusaha travel haji dan umroh, tetapi perempuan itu tak pernah memanfaatkannya untuk mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Ia percaya dengan kemampuan yang dimiliki tanpa harus ada campur tangan orang lain di dalamnya. Hal itu dapat dibuktikan dengan pekerjaannya sekarang. Kelayakan seseorang dalam pencapaian hidup adalah ketika bisa mencapai sesuatu yang diinginkan, dengan usaha dan kerja kerasnya sendiri. Sebagai seorang dosen, kegiatan Naya tak hanya mengisi mata kuliah saja, kegiatan yang berhubungan dengan keagamaan dan sosial pun diikutinya, sebagai sarana untuk menambah pengetahuan serta menjalin silaturahmi dengan sesama muslim. Ia dikenal sebagai sosok perempuan yang disegani, ramah dan berjiwa sosial tinggi. Tak heran jika perempuan penyuka warna biru muda itu memiliki hubungan dekat dengan para mahasiswa seperti layaknya teman. Bisa menjadi bagian dari berbagai aktivitas mahasiswa, membuat hidupnya terasa lebih berwarna. Ia seakan masuk kembali ke dalam dunia anak muda yang penuh semangat dan gairah yang membara. Naya ingin turut serta dalam memperjuangkan arti dan nilai keislaman yang sudah semestinya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai seorang muslim, terutama dalam diri anak muda yang terkadang masih memiliki jiwa labil. Bagaimana ia melihat anak muda zaman sekarang yang begitu bebas dalam pergaulan tanpa batas, sehingga tak sedikit yang cita-citanya harus kandas karena dituntut untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Jika sudah begitu, hanya tinggal penyesalan yang tersisa di ruang hampa. Meninggalkan masa muda yang seharusnya diisi dengan hal-hal berguna bagi kemaslahatan. Namun, selalu ada waktu untuk mengubah keadaan, karena tak ada kata terlambat untuk memperbaiki kesalahan. Hanya terkadang, kesempatan selalu datang di saat hati belum siap untuk menerima kenyataan, dan menjalani dengan penuh keteguhan. Naya selalu ingin memberikan pemahaman pada mahasiswanya mengenai arti dan nilai yang terkandung di setiap ayat dalam Al-Qur'an. Karena hidup itu berkaitan erat antara manusia dengan agama. Keterkaitan itu disebut dengan Syariat Islam yang mengatur hubungan antara manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan manusia lainnya. Perempuan itu belajar banyak hal justru dari lingkungan sekitar. Betapa Allah menentukan hubungan antar manusia sebagai upaya untuk belajar memperbaiki diri. Bagaimana cara beretika saat berkomunikasi dengan orang lain. Sebagai manusia, sudah seharusnya menjaga akhlak dengan baik sesuai dengan ketentuan agama. Karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling baik akhlaknya. Naya tak pernah puas untuk mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya. Selama itu berhubungan dengan ketaatannya pada Sang Khalik, akan terus dicari dan gali lebih dalam lagi. Ibarat ladang gersang yang membutuhkan siraman air, seperti itulah ia mengumpamakan pemahaman tentang agama. Selalu ingin belajar tentang arti sesungguhnya iman dan takwa. *** Naya tengah merapikan tugas-tugas mahasiswa yang baru saja dikumpulkan di atas meja, ketika penjaga keamanan kampus memberitahukan jika ada seseorang yang ingin menemuinya. Penjaga keamanan yang bernama Cahyo itu pun mempersilakan orang yang dimaksud untuk masuk ke ruangan dosen. “Assalammualaikum,” sapa seseorang yang sudah berdiri di ambang pintu. “Waalaikummussalam,” jawab perempuan itu menoleh. Seorang bapak berusia sekitar setengah abad itu tersenyum. Dengan menggunakan setelah baju safari hitam, ia terlihat sopan. Cahyo segera mohon pamit setelah Naya bertemu dengan orang yang mencarinya. "Silakan duduk, Pak." Naya mempersilakan seraya menunjuk ke arah kursi di hadapannya. Bapak tua itu pun segera duduk di sana. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanyanya tanpa basa-basi. Wajah ramah dan senyuman yang tak pernah lepas itu mampu membuat sang bapak terdiam sesaat. “Maaf, saya Rudi, sopir pribadi Pak Aditya Wibisana. Saya diminta Bapak kemari untuk menjemput Bu Kanaya.” Tak perlu mengingat lama, sebuah nama yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya itu muncul. Dua hari yang lalu, seorang perempuan yang mengaku sebagai sekretaris Aditya wibisana menelepon, pimpinan Perusahaan Wibisana Corporation itu memintanya untuk bertemu di kantor. Aditya Wibisana adalah seorang pengusaha muda yang sukses. Bisnis di bidang properti merupakan usaha yang digelutinya selama tujuh tahun terakhir. Tentu saja, sang ayah berperan besar dalam terciptanya Wibisana Corporation. Namun, kabar yang beredar, perusahaan itu hampir bangkrut di tahun 2013, ketika gejolak perekonomian nasional mulai menguasai. Salah satu indikatornya terlihat jelas pada nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Aditya sebagai generasi penerus satu-satunya yang saat itu baru saja lulus menempuh pendidikan Magister Bisnis di Prancis, segera didaulat menggantikan sang ayah untuk mengelola perusahaan yang hampir kolaps. Di tangannya, Wibisana Corporation kembali bangkit dan berkembang pesat. Tak heran, lelaki itu dijuluki "The Savior". Ia termasuk salah satu pengusaha muda yang tengah naik daun. Para mahasiswa menginginkan lelaki itu untuk jadi pembicara dalam kegiatan Seminar Nasional Ekonomi Islam yang diadakan kampus. Sebagai penanggung jawab acara, Naya diminta untuk mewakili mereka menyampaikan maksud tersebut. Tiba waktu yang dijanjikan sekretarisnya untuk mereka bisa bertemu. Namun, ia tak menyangka jika akan dijemput oleh sopir pribadi pimpinan perusahaan itu. “Jika Bu Kanaya sudah siap, bisa kita berangkat sekarang?” tanya Rudi membuyarkan lamunannya. Seketika Naya tersadar dan meminta Rudi untuk menunggu sebentar. Jam mata kuliahnya sudah selesai beberapa menit yang lalu dan ia sudah siap untuk menemui Pimpinan Wibisana Corporation. “Mari kita berangkat sekarang, Pak,” ajak Naya setelah mengambil tasnya. Rudi mempersilakan perempuan dengan gamis warna pastel itu untuk berjalan terlebih dulu. Dengan anggun, ia pun melangkah menuju parkiran diikuti lelaki itu di belakangnya. Sampai di sana, Setengah berlari menghampiri mobil Mercedes Benz S-Class warna silver, Rudi membukakan pintu belakang dan mempersilakan Naya masuk. Perempuan itu agak canggung mendapat perlakuan yang istimewa. Meski orang tuanya pun dari keluarga berada, tetapi ia tak pernah mau diperlakukan lebih oleh sopir pribadi sang ayah. Dengan tak enak hati, ia pun memasuki mobil, sementara Rudi segera berlari dan duduk di balik kemudi, lalu menjalankan si kuda besi keluar dari area parkir kampus. Selama dalam perjalanan menuju perusahaan, Naya hanya terdiam sambil sesekali melantunkan ayat suci yang sudah berkali-kali dihapalnya. Mencoba menghilangkan debar di d**a yang tiba-tiba menguasai. Mobil mewah itu terus melaju membelah jalanan yang terik dan macet. *** Ketika sampai di lantai dua belas gedung perkantoran Wibisana Corporation, seorang perempuan dengan jilbab motif garis-garis warna peach menyambutnya hangat. Ia begitu manis dan ramah dengan senyum yang mampu menenteramkan siapa saja yang melihat. Sekretaris yang bernama Arini itu menuntunnya menuju sebuah ruangan. Tampak tulisan di depan pintu, CEO. Naya mencoba menata perasaan yang mulai tak menentu. Meski sering kali berhadapan dengan relasi bisnis sang ayah, tetapi situasi saat ini terasa berbeda. Ini pertama kalinya ia meminta kerja sama, dengan seorang pemimpin perusahaan untuk diminta jadi pembicara dalam seminar mahasiswa. Pintu ruangan itu terbuka. Tepat berada di belakang Arini, Naya mencoba melihat dari balik punggung perempuan di depannya, tampak sosok lelaki tengah berdiri tegap menghadap jendela. “Maaf Pak, Bu Kanaya sudah datang,” ucap Arini dengan suara lembut. Lelaki itu berbalik. Ketampanan yang dimilikinya mampu meluruhkan hati Naya sebagai perempuan biasa. Segera menundukkan pandangan saat Arini mempersilakannya masuk, sambil beristigfar sebanyak mungkin agar tak terbuai dengan pesona itu. Postur tubuhnya tinggi tegap dengan tatanan rambut gaya pompadour. Dibalut setelan jas lengkap warna abu-abu tua, semakin menambah ketampanan yang dimiliki wajah khas turki itu. Sikap dingin dan berwibawa kian menampakkan ciri khas yang memesona. "Assalammualaikum ...," sapa Naya dengan ramah sambil menentralisir perasaan di hatinya. "Waalaikummussalam," jawab Aditya seraya menyunggingkan seulas senyum. “Tinggalkan kami berdua,” lanjut suara bariton itu pada Arini. Perempuan itu pun memohon diri dan berlalu pergi. Tinggal mereka berdua di ruangan yang didesain dengan nuansa mewah minimalis. Ruang kerja yang didominasi warna abu-abu, dilengkapi interior biru muda, membuat kesan rileks dan hangat. Namun, entah kenapa suasana itu tak bisa membuat hati Naya lebih tenang saat ini. Ia makin salah tingkah saat Aditya menatapnya. Mencoba mengendalikan diri dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa dalam hati, meski tak bisa dipungkiri, debaran aneh itu tiba-tiba menguasai. “Silakan duduk,” ucap lelaki itu seraya mengisyaratkan tangannya pada kursi sofa yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Naya mengikuti langkah Aditya. Mengambil tempat duduk tepat di hadapan lelaki yang mulai terlihat bersahabat. “Saya tak menyangka, jika Ibu Dosen Kanaya Zivana ternyata secantik ini,” puji Aditya membuat perempuan itu tersipu. “Sebentar, saya pesankan dulu minuman untuk Anda,” lanjutnya, hendak berdiri. “Tak usah repot-repot, Pak, kebetulan saya sedang puasa,” ucap Naya segera. “Oh, maaf.” Lelaki itu kembali duduk. Ia merasa tak enak hati. Hening sesaat mencipta deru napas yang tiba-tiba begitu menyesakkan. Keduanya seolah terhipnotis oleh kekaguman akan pemandangan yang disuguhkan di depan. Saling menilai dan berbicara dalam hati masing-masing. Hingga kesadaran itu segera menguasai dan memulai pembicaraan yang sempat terhenti. “Anda dosen Pendidikan Agama Islam?” tanya Aditya seraya menata posisi duduknya, mulai serius. Naya mengangguk. “Saya kagum, di usia muda sudah menjadi dosen," ucapnya tulus. “Justru saya yang salut pada Anda, di usia muda seperti ini sudah menjadi pengusaha yang sukses," puji Naya apa adanya. “Saya menjalani proses yang panjang untuk sampai di sini. Hanya tinggal melanjutkan usaha yang sudah ayah saya mulai,” ujarnya merendah. “Anda benar-benar contoh nyata bagi generasi muda untuk bisa sesukses sekarang.” “Proses untuk sampai di sini, itu yang harus menjadi kuncinya.” “Ya, saya setuju." Naya mengakui jika lelaki itu memiliki kharisma yang luar biasa. “Jadi, apa yang bisa saya bantu, Bu Kanaya?” tanya lelaki itu mulai ke pokok permasalahannya. Naya menggeser posisi duduk. Mencoba menata senyaman mungkin agar leluasa untuk bicara. “Seperti yang sudah disampaikan dalam e-mail yang dikirimkan minggu lalu, kampus kami hendak mengadakan seminar nasional ekonomi Islam. Maka dari itu, kami meminta Pak Aditya untuk menjadi salah satu pembicaranya. Melihat Bapak sebagai pengusaha muda yang sukses dan selalu mengingatkan akan kunci kesuksesan itu terletak pada sedekah.” Aditya terdiam sesaat. Tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengemukakan pendapat. “Saya hanya menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim. Bukankah sudah jelas dalam Al-Qur’an, bahwa sebagian dari harta yang kita punya terdapat hak anak yatim dan duafa.” “Saya sangat setuju dengan pemikiran Anda. Memang Allah akan menjamin bagi setiap hamba yang senantiasa menyisihkan sebagian rezekinya, dengan balasan yang berlipat ganda.” “Saya hanya berpedoman pada keyakinan itu, karena saya sendiri sudah merasakan manfaatnya." "Alhamdulillah. Saya ikut bangga dengan keyakinan Anda." “Terima kasih." Lelaki itu menghela napas sejenak, lalu melanjutkan ucapannya. "Sepertinya, lain waktu kita bisa banyak membahas mengenai hidup dalam pandangan Islam, ya, Bu Kanaya?” Aditya tak kalah kagum dengan pemikiran perempuan di depannya. “Insyaallah, Pak.” Hening kembali menguasai. Aditya tampak memperhatikan perempuan di depannya. Pandangan mereka bersirobok, terpaku sesaat, kemudian terurai dengan senyuman. “Jadi, bagaimana dengan permintaan kami, Pak?” tanya Naya memberanikan diri, memulai kembali obrolan yang terjeda karena perasaan tak menentu. “Jika penanggung jawabnya seperti Bu Kanaya, maka tak ada alasan untuk saya menolak menjadi pembicara dalam seminar yang diadakan kampus Anda. Saya bersedia.” Perempuan itu tersenyum lega. “Alhamdulillah. Terima kasih banyak, Pak Aditya.” “Sama-sama, Bu Kanaya,” balas lelaki itu dengan lengkung tipis di bibir. Beberapa saat mereka terlibat dalam pembicaraan seputar pekerjaan masing-masing. Ketika tak ada lagi yang dibicarakan, Naya pun mohon pamit. Ia menolak ketika Aditya memintanya untuk diantar sopir. Tanpa memaksa, lelaki itu mengantarnya hingga ke depan pintu ruangan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook