Mushibatun (Ujian)

1577 Kata
Mengisi mata kuliah menjadi rutinitas yang dilakukan Naya. Ia tak pernah bersedih lagi dengan kepergian Aditya. Meski sesekali termenung sendiri, merindukan sang kekasih ternyata menjadi hal tersulit yang harus dialami. Menahan rasa ingin bertemu, dan mengolahnya agar tak larut dalam derita yang membelenggu. Namun, ia tak pernah merasa jauh dari lelaki itu. Hampir setiap hari mereka berkomunikasi melalui chatting di whatsaap atau melakukan video call. Jarak yang terpaut memisahkan, memasung rindu menggebu. Menjejal penuh sesak rasa yang tak tertuntaskan. Resah dalam setiap deru napas mengalunkan harap. Waktu yang terasa lambat ingin segera tertambat. Menunggu tiba masa yang dinanti, bertemu sang kekasih hati. Memadu cinta yang memburu di jiwa. Sesekali, perempuan itu mengunjungi kediaman orang tua Aditya hanya untuk melihat keadaan mereka. Orang tua sang kekasih begitu menerimanya dengan hangat. Sebagai anak tunggal, kepergian anak lelaki satu-satunya dalam keluarga merupakan hal tersulit bagi orang tua. Namun, sejak kehadiran Naya, kerinduan terhadap putra semata wayang itu sedikit terobati. Ia bahagia karena bisa diterima di keluarga kekasihnya. Sudah tak lagi sungkan berbaur dengan Yanuar dan Sita, orang tua Aditya. Mereka terlihat akrab meski baru beberapa hari bertemu. “Sesekali menginaplah di sini, Sayang,” pinta Sita ketika ia berkunjung ke rumah mereka sore itu, sepulang mengisi mata kuliah di kampus. “Insyaallah, Ma. Mungkin saat libur, Naya akan menemani Mama di sini,” ucapnya membuat wajah perempuan yang sudah berusia lima puluh enam tahun itu berseri. Naya menggenggam tangan Sita dengan lembut. Mereka terlihat begitu dekat. Sesekali ia mengajak calon ibu mertuanya itu makan di restoran atau sekadar jalan-jalan ke mal, saat Yanuar tengah sibuk mengurus bisnis. Bagi mereka, Naya adalah sosok istri yang tepat untuk putranya. Terlebih lagi, mereka saling mecintai. Jadi, tak ada halangan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat, mereka akan menjadi sebuah keluarga yang bahagia. Waktu bergulir dalam setiap denting yang berdetak. Mengalunkan suara hati yang berdendangkan sepi. Pijar cahaya di langit cakrawala, sibakkan tirai kelabu dalam jelang waktu yang tersisa. Menanti dalam ruang hampa bergumam canda. Mengalun rasa, menyanyikan serenade kerinduan. Sisa hari terlewati, bagai dua sisi antara penantian dan masa depan. Karena sejatinya cinta tidak hanya tentang berdua. Banyak hal yang harus diselesaikan. Menjalani aktivitas rutin sebagai dosen, salah satu cita-cita yang perempuan itu impikan selama ini. Hal itu merupakan bukti pengabdian yang ingin ia jalankan sebagai seorang manusia yang bisa memberikan manfaat untuk anak didiknya. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Dengan tergesa, Naya melangkahkan kaki menyusuri koridor rumah sakit. Dia terkejut mendengar kabar dari bundanya, jika sang ayah dirawat karena pingsan sepulang dari Surabaya. Mata kuliah yang belum habis jamnya itu ditinggalkan. Waktu yang tersisa hanya diisi dengan mengerjakan tugas, lalu segera pergi menuju rumah sakit. Mempercepat laju mobil agar segera sampai di sana. Tak lagi dipedulikan bau obat yang menyeruak masuk melalui Indra penciumannya. Segera menuju ruangan yang diberitahukan Bunda saat bicara lewat ponsel beberapa saat lalu. Perempuan itu masuk ke ruang VIP 2, membuka pintu kamar dengan hati-hati. Tampak perempuan yang selalu terlihat cantik dalam balutan gamis syar'i, tengah duduk sambil melantunkan surat Al-Fatihah menghadap ayahnya yang terbaring di tempat tidur. “Assalammualaikum, Bunda,” ucap Naya pelan seraya mencium punggung tangan perempuan itu. “Waalaikummussalam." Senyum terlukis di bibir perempuan paruh baya yang terlihat anggun dan bersahaja. “Bagaimana keadaan Ayah, Bun?” tanyanya seraya meletakkan tas di atas sofa. “Alhamdulillah, tekanan darahnya sudah stabil, tapi masih harus tetap dikontrol,” terang Nurul, sang bunda dengan wajah sendu. Naya mendekati sang ayah yang terlelap. Kasihan Ayah, pasti begitu kelelahan harus pergi dari satu tempat ke tempat lain untuk mengisi kajian yang diadakannya, bisik Naya dalam hatinya. “Kamu sudah selesai mengajar, Sayang?” tanya Nurul sembari meletakkan Al-Qur’an kecil di samping kepala suaminya. “Tadi tinggal setengah jam lagi, Bun. Naya izin setelah mendengar Ayah sakit.” “Maaf, ya, tadi Bunda panik.” “Apa yang Bunda lakukan sudah tepat, segera memberi kabar tentang keadaan Ayah." “Beberapa minggu ini, ayahmu memang agak sibuk mengisi kajian ke berbagai daerah, sampai Bunda juga khawatir akan keadaan Ayah. Kata dokter, Ayah kelelahan." “Ayah harus mau mengurangi kegiatan ke depannya nanti. Semua demi kesehatannya.” “Iya, Nak. Nanti kita bicarakan itu setelah Ayah sembuh.” Selama sang ayah dirawat di rumah sakit, Naya tak lagi mengunjungi orang tua Aditya. Selesai mengajar, ia akan langsung ke rumah sakit untuk bergantian menjaga ayahnya. l Yanuar dan Sita memahami kondisi yang terjadi. Mereka bahkan mengunjungi Ali, ayah Naya di rumah sakit. Orang tua Naya dan Aditya dipertemukan dalam sebuah acara amal, jauh sebelum dua sejoli itu bertemu. Dari sanalah mereka saling mengenal, sehingga perempuan itu tak perlu canggung lagi dengan pertemuan dua keluarga yang sepakat menjalin hubungan sebagai besan. *** “Kanaya ...," panggil seorang lelaki di belakang perempuan dengan gamis hitam motif bunga tulip putih. Kerudung coklat muda yang menjuntai, tampak berkibar tertiup semilir angin. Naya yang tengah berjalan di selasar rumah sakit, menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Tampak lelaki muda dengan pakaian dinas tengah menghampiri. Ia dokter yang merawat sang ayah sekaligus teman satu universitas saat kuliah di Yogyakarta. Mereka dikenalkan oleh Fitri, teman sekampusnya saat tengah mengikuti seminar kesehatan. “Reza ...." Dokter muda itu mengembangkan senyuman. Tubuh tinggi tegap khas lelaki jawa dengan ketampanan yang memikat, mampu membuat siapa saja yang melihat terpikat. “Kau baru datang?” tanya Reza menghentikan langkah, dan berdiri tepat di hadapan Naya. “Iya, aku baru mau menemui ayahku di kamarnya.” “Bisakah kita bicara sebentar?” Naya tampak berpikir sejenak. “Tentu. Memangnya kau tak ada jam praktik?” “Sudah selesai. Tinggal malam nanti ada jadwal untuk operasi." “Baiklah kalau begitu, kita mau bicara di mana?” “Di taman belakang saja, di sana suasananya cukup nyaman.” Naya mengangguk. Melangkah menuju taman belakang rumah sakit. Di sana, perempuan itu mengambil tempat duduk di sebuah kursi yang sudah tersedia, sementara Reza duduk tak jauh di sebelahnya. “Ada masalah apa, Za? Apa ini ada hubungannya dengan Ayah?” tanya Naya mulai khawatir. Reza menggeleng. Ditatap terlebih dulu wajah perempuan yang tengah menunggunya bicara. “Ini sama sekali tak ada hubungannya dengan ayahmu, Nay.” Reza diam sejenak. Dialihkan pandangannya ke seluruh taman. “Lalu apa?” Naya makin penasaran. Tak biasanya Reza mengajaknya bicara berdua. Mereka memang jarang ngobrol selama di kampus. Selain kuliah yang berbeda jurusan, Naya pun disibukkan dengan Unit Kegiatan Mahasiswa yang diikutinya. “Aku sudah lama ingin mengatakan hal ini, tapi aku tak pernah punya keberanian untuk bicara denganmu,” ucap Reza hati-hati. “Bicara tentang apa?” Reza kembali terdiam. Dikumpulkannya keberanian untuk mengeluarkan isi hati yang selama ini terpendam. “Aku mencintaimu dari sejak kita di Jogja dulu.” Naya tertegun. Dihirup napas dalam-dalam yang tiba-tiba saja ia rasa begitu sesak, kemudian mengembuskannya perlahan. “Maafkan aku, Nay. Aku tak bisa memendam perasaan ini lebih lama lagi. Setelah kurang lebih tiga tahun kita tak bertemu, ternyata rasa itu masih tetap sama seperti dulu. Hingga kita dipertemukan lagi empat hari yang lalu, aku harus memberanikan diri untuk mengungkapkannya sekarang.” Naya masih termenung dalam diam. Ia bingung harus mengatakan apa pada Reza, tak ingin lelaki itu tersinggung dengan penolakannya. “Maafkan aku, Reza, kau terlambat mengatakan perasaanmu. Hatiku telah diisi seseorang dan aku mencintainya,” ucap Naya meloloskan kata-kata itu begitu saja. Reza bergeming. Ia tampak terkejut dengan ungkapan perempuan itu. Namun, ia sudah bersiap, jika Naya sudah memiliki lelaki lain dalam hidupnya, maka ia harus ikhlas menerima kenyataan. “Kau sudah menikah?” tanya Reza lirih. “Belum, aku tengah menunggunya pulang. Ia sedang menjalankan bisnis di Dubai. Insyaallah, dua bulan lagi kembali.” Lelaki itu menunduk, memainkan jemarinya seolah mengalihkan kegaduhan yang kini menguasai hati dan pikiran. Ia tak berani menatap perempuan yang ternyata tak memiliki perasaan yang sama dengannya. Ia yang salah, seharusnya tak secepat itu mengungkapkan perasaannya. Dalam kurun waktu tiga tahun pasti banyak hal yang sudah terjadi. Meski rasa cinta untuk Naya ternyata masih sama seperti dulu. “Maafkan aku Reza,” ucap Naya sekali lagi. Ada rasa sesal di hati karena telah melukai perasaan lelaki ituz tetapi Reza harus tahu, jika kini ia sudah ada yang memiliki. Lelaki itu mendongak, ditatapnya sekilas perempuan yang selama ini dicintainya dalam diam. “Tidak apa-apa, Naya. Kau tak perlu minta maaf. Aku yang terlambat mengungkapkan perasaan. Maaf karena telah mengatakan ini.” “Kau berhak mengatakan perasaanmu itu. Setidaknya kau sekarang lebih lega. Mungkin suatu saat jika kau mencintai seseorang, segeralah ungkapkan, jangan sampai cintamu datang terlambat dalam hatinya.” Reza mengangguk seraya mengulum senyum. Membenarkan kata-kata Naya. Entah sampai kapan ia bisa berhenti mencintai perempuan yang sudah memberikan kesan mendalam, hingga membuatnya jatuh hati. "Maaf, Reza, aku harus melihat keadaan Ayah," ucap Naya sambil berdiri. Perempuan itu mohon pamit pada lelaki itu yang masih tertegun. Suasana hati yang tak menentu juga dirasakan Naya. Ia baru saja menolak seorang lelaki, sudah pasti hatinya terluka, tetapi apa daya, selain mengatakan yang sebenarnya. Reza hanya mengangguk. Mempersilakan Naya pergi seraya menyunggingkan seulas senyum. Meyakinkan perempuan itu jika ia baik-baik saja. Meski hatinya bergemuruh, menahan rasa kecewa karena cinta yang tak terbalas. Itu sudah menjadi risikonya sejak awal. Ia tahu, Naya tak begitu menanggapi saat mereka berteman dulu. Mungkin cinta perempuan itu bukan untuknya. Ia harus ikhlas merelakan kenyataan. Mencoba melepaskan perasaan yang kini bersarang agar bisa kembali menjalani kisah cinta yang lain. Naya berbalik dan melangkah menjauhi Reza yang menatapnya sendu. Semoga kau bahagia dengan pilihan hatimu, Naya, bisik Reza perih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN