Demand (Permintaan)

2247 Kata
“Kamu belum hamil juga, Nay?” Pertanyaan itu, entah sudah berapa ratus kali Naya dengar keluar dari mulut mama mertuanya. Ia sudah jengah dengan sindiran halus yang dilontarkan Sita. “Sudah lima tahun kau belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Mama sudah kangen sekali untuk menimang cucu,” ucap perempuan yang masih terlihat gurat kecantikannya itu dengan wajah sendu. Dalam hati, Naya tak tega melihat kerinduan akan kehadiran seorang cucu yang begitu diinginkan oleh mama mertuanya. Namun, apalah daya, ia dan sang suami sudah berusaha maksimal selama ini. Berbagai cara mereka lakukan hanya untuk ia bisa hamil. Semua upaya sudah dicoba, tetapi Allah belum juga mempercayakan benih itu tumbuh dalam rahimnya. “Tidak adanya ovulasi di dalam rahim, hal itu yang menyebabkan Ibu Naya tidak bisa hamil. Terjadinya anovulasi ini diakibatkan karena adanya sindrom ovarium polikistik yaitu suatu kondisi ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron.” Begitu yang diterangkan dokter Malik, dokter spesialis kandungan, ketika Naya dan Aditya pertama kali memeriksakan kondisi kandungan empat tahun yang lalu. “Apa maksud, Dokter?” tanya Aditya mulai cemas. “Tidak adanya sel telur yang bisa dibuahi dalam rahim Bu Naya, itu yang menyebabkan tidak adanya pembuahan, Pak.” “Maksud Dokter, saya mandul?” tanya perempuan yang sejak masuk ruangan dokter terus menggenggam tangan suaminya itu resah. “Belum tentu, Bu. Bagi sebagian penderita anovulasi, memang kecil kemungkinan ia bisa hamil. Namun, di zaman modern seperti sekarang ini, banyak alternatif pengobatan yang bisa menyembuhkan penderita anovulasi seperti yang Ibu alami. Kita harus tetap berusaha.” Dokter itu mencoba menguatkan Naya, tetapi ia tak bisa membuat air mata itu tertahan. Derai bulir bening sudah telanjur jatuh mengalir ke pipinya. Rasa sesak serasa menghimpit d**a. Penjelasan dokter telah meluluhlantakkan harapan yang ia yakini selama ini. Astagfirullah. Lirih perempuan itu mengucap istighfar di sela derai air mata. Aditya yang sedari tadi menyimak penjelasan dokter, hanya bisa menggenggam tangan sang istri. Mencoba mengalirkan kekuatan, agar perempuan yang selalu dikasihinya itu tak merasa terpukul. “Solusi apa yang bisa kami lakukan saat ini, Dokter?” tanya lelaki itu penuh pengharapan. “Kita akan memulai dengan memberikan obat Clomiphene citrate atau clomid, yang berfungsi untuk mengobati jenis masalah kesuburan seperti yang dialami Bu Naya.” “Apa obat itu akan membuat istri saya bisa hamil, Dok?” “Tergantung, Pak. Kita berdoa saja, semoga dengan jalan obat kesuburan ini, akan memicu sel telur yang dihasilkan Bu Naya agar bisa dibuahi dengan baik. Untuk itu, Bu Naya harus melakukan istirahat yang cukup, jangan stres dan mengonsumsi makanan yang bergizi.” Perempuan itu masih belum bisa berkata apa-apa. Hanya bisa memperhatikan penjelasan dokter. Ia berharap, pengobatan yang akan dijalaninya bisa membuahkan hasil. Kejadian empat tahun lalu, kembali hadir dalam memorinya. Dokter Malik yang sudah berusaha memberi harapan dengan berbagai metode pengobatan, ternyata tak juga mencipta benih di rahimnya. Naya menahan kesedihan yang menyeruak dari dalam d**a. Kini ia mencoba menguatkan hati yang sedari tadi dihujam oleh perkataan sinis dari mama mertuanya. Berdosakah ia yang tak bisa membahagiakan suami, dengan ketidakberdayaannya karena tak bisa memberikan Aditya keturunan? Berdosakah ia yang belum bisa menciptakan tawa bahagia dalam bibir mama mertuanya yang sangat menginginkan seorang cucu? Apa yang harus ia lakukan untuk menebus semua kekecewaan mereka? Perempuan itu tahu, dalam hati suaminya pasti sangat mendambakan seorang anak yang bisa ia gendong dan diajak bermain. Resah memikirkan itu semua. Hatinya seperti tersayat sembilu, perih dan terluka. “Jika kau tak mampu memberikan suamimu keturunan, ikhlaskan dia untuk menikah lagi,” ujar Mama Sita membuat perempuan di depannya itu terkejut. Tak pernah sedikit pun terlintas dalam pikirannya untuk merelakan sang suami menikah lagi agar bisa mendapat kesempatan untuk memiliki keturunan. “Kami sedang berusaha untuk bisa mendapatkan keturunan, Ma. Doakan saja agar hasilnya sesuai dengan harapan kita,” ucap Naya menahan pedih. “Selama ini, bukankah kalian sudah berusaha ke sana kemari, tapi hasilnya apa? Pikirkan sekali lagi saran Mama tadi. Mama tak ingin kalian berpisah, tapi ikhlaskan Aditya untuk menikah lagi agar ia punya kesempatan untuk memiliki keturunan.” Perempuan itu terdiam. Tak bisa berkata apa-apa, juga tak bisa memikirkan apa pun. Haruskah ia mendengar ucapan mama mertua yang memintanya untuk merelakan sang suami menikah lagi? Sanggupkah ia menghadapi hal itu nanti? Berpikir saja ia tak mampu apalagi harus menjalani. Pasti akan sangat menyakitkan bila hal itu terjadi. Namun, ia tak bisa egois. Jika ia memang tak bisa memberikan keturunan, merelakan sang suami menikah lagi adalah satu-satunya jalan. Ia tak bisa membuat suami dan mertuanya menunggu lebih lama, menunggu keajaiban datang. Sesulit apa pun yang terjadi nanti, ia harus segera mengambil keputusan. Yaa Allah, kuatkanlah hamba untuk menjalani takdir-Mu, bisik perempuan itu perih. *** Naya menangis tersedu-sedu di atas sajadah yang ia gelar untuk menunaikan salat tahajud. Sementara suaminya masih tertidur lelap di kamar. Ia sengaja tak membangunkan Aditya untuk salat tahajud berjamaah, seperti yang biasa mereka lakukan setiap malam. Ia ingin mencurahkan semua isi hatinya pada Sang Maha Pemilik Hidup, sendiri. Perempuan itu ingin menumpahkan semua rasa sedih yang ia tahan selama ini, bahkan yang disembunyikan dari suaminya sendiri, karena hanya Allah yang memahami perasaan yang ada di hati saat ini. Hanya kepada Sang Mahakuasa ia mengadu dan memohon pertolongan, agar diberi kekuatan menjalani setiap takdir yang diberikan. Jika sudah begitu, ia akan lebih tenang menjalani hari esok, termasuk menghadapi keinginan Mama Sita untuk merelakan Aditya menikah lagi. Naya sudah memikirkan perkataan itu matang-matang. Ia akan siap menerima segala konsekuensinya. Meski sulit, tapi ia percaya Allah akan selalu bersama. Memberi kekuatan untuk tetap bertahan di sisi suaminya. “Sayang ….” Panggilan Aditya terdengar samar dari balik ruang kecil tempat biasa mereka melaksanakan salat berjamaah. Perempuan itu segera menyapu air mata yang sudah membasahi pipi. Mencoba bersikap wajar di depan sang suami. “Sayang …,” panggil lelaki itu lagi seraya membuka tirai tipis, penghalang antara ruang salat dan ruang keluarga. Naya menoleh dan menyunggingkan seulas senyum. “Kau tidak membangunkanku untuk salat tahajud berjamaah?” tanyanya sembari menghampiri sang istri yang masih duduk bersimpuh. “Maaf Mas, tadi aku lihat kau tampak kelelahan. Aku jadi tak tega membangunkanmu,” ucap perempuan itu berbohong. Aditya mengusap lembut kepala istrinya yang masih mengenakan mukena. “Kau menangis, Sayang?” tanya lelaki itu sembari memperhatikan mata sang istri yang sembap. Naya tersenyum getir. Meraih tangan lelaki yang sebentar lagi akan ia relakan untuk perempuan lain. “Aku menangisi dosa-dosaku, Mas. Sebagai seorang manusia, aku masih belum ada apa-apanya di hadapan Yang Maha Kuasa,” ujar Naya, masih menggenggam tangan suaminya. “Ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku, Sayang?” tanya Aditya menatap lekat wajah perempuan yang tengah menatapnya sendu. Perempuan itu menggeleng seraya tersenyum. “Kau yakin?” “Ya, Mas. Jika ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu, aku pasti sudah mengatakannya.” “Belakang ini, kau pasti sangat tertekan. Apa lagi dengan sikap Mama padamu akhir-akhir ini. Aku mohon, jangan kau ambil hati.” “Iya, Mas. Kau tak usah khawatir. Aku akan baik-baik saja selama kau di sampingku.” Aditya merengkuh sang istri dalam pelukan. Ada rasa nyeri dalam hati perempuan itu. Mencoba mengikhlaskan sesuatu yang dicintai, ternyata begitu sulit. Ia hanya manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Tak mudah merelakan apa yang sudah menjadi haknya untuk dimiliki orang lain. *** Naya melihat dari dalam mobil, seorang perempuan di depannya itu tengah menolong ibu tua yang hendak menyeberang jalan. Perempuan itu mengenakan kerudung putih yang dililitkan ke leher. Wajah cantik rupawan dengan senyum terhias indah di bibir. Pakaian putih-putih membungkus tubuhnya yang mungil. Ia tampak tersenyum saat kedua pasang netra bersirobok. Naya hanya membalas seraya menganggukkan kepala. Lampu sudah berganti hijau. Naya menginjak gas dan berlalu pelan menyusuri jalanan panjang ibu kota. Sebelum berlalu, ia sempat melihat perempuan tadi masih berbicara dengan ibu tua yang ditolongnya. Mobil yang dikendarainya melaju membelah jalanan yang penuh dengan hilir mudik kendaraan. Rasa sesak tiba-tiba menghimpit d**a. Ia mulai gelisah dengan apa yang akan dikatakan Dokter Malik nanti. Sudah beberapa kali ia memeriksakan kondisi kandungannya. Sudah beberapa pengobatan juga dijalani selama ini, tapi tak kunjung ada kabar baik dari hasil pengobatan itu. Kali ini ia pasrah dengan apa pun yang akan dikatakan Dokter Malik nanti. Ia sudah tak berharap lebih jika pada akhirnya hanyalah kekecewaan yang didapat. Apalagi desakan Sita untuk mengizinkan sang suami menikah lagi, membuatnya tak bisa memiliki kesempatan lebih banyak untuk tetap berusaha agar ia bisa mengandung. Tak terasa, mobil Toyota Yaris warna silver milik Naya sudah memasuki parkiran rumah sakit. Sejenak perempuan itu terpaku di selasar bangunan sedan putih itu. Tampak hanya beberapa orang yang lalu lalang. Ia masih ragu untuk melangkahkan kaki menuju ruangan dokter. Rasanya terasa makin dekat jarak untuk merelakan sang suami menikah lagi. Selama beberapa saat, termenung dalam kegelisahan. Menit kemudian, ia tersadar dan harus segera menuju ruangan dokter. Dengan langkah gontai menyusuri koridor rumah sakit yang terasa menyesakkan. Langkahnya terhenti ketika tubuhnya bertabrakan dengan seseorang, saat ia akan berbelok menuju ruang dokter kandungan. Naya meringis karena merasakan ngilu di bagian lengannya. Perempuan yang bertabrakan dengannya pun tampak meringis kesakitan. Mereka saling bertatapan sejenak. Ia terkesiap saat mengingat wajah cantik itu. Perempuan yang ia lihat saat berhenti di lampu merah tadi. “Maaf Mbak, tadi saya terburu-buru,” ucap perempuan itu seraya merapikan tumpukan kertas yang jatuh berserakan di lantai. “Saya juga minta maaf, karena saya agak melamun,” ujar Naya ikut membantu merapikan kertas-kertas dan memberikannya pada perempuan itu. “Mbak mau periksa atau menjenguk seseorang?” tanyanya setelah merapikan berkas. “Saya mau periksa.” “Ke bagian mana kalau boleh tahu? Mungkin, nanti bisa saya bantu.” “Saya sudah janji dengan Dokter Malik.” “Baiklah kalau begitu, saya mohon pamit, mau melanjutkan pekerjaan." “Silakan.” Perempuan itu pun melangkah pergi setelah mengulas senyum tipis. Naya masih menatap sosok mungil yang sudah semakin jauh melangkah. Cantik, sopan. Itulah gambaran perempuan yang ternyata seorang perawat itu. *** “Belum ada kemungkinan saya bisa hamil, Dok?” tanya Naya penuh pengharapan, setelah dokter Malik memeriksa kondisnya. “Kemungkinan itu selalu ada, Bu. Namun, memang untuk saat ini, kemungkinan untuk Ibu bisa hamil masih sebesar lima persen saja. Sel telur yang Ibu hasilkan belum berhasil dibuahi,” ucap Dokter Malik sembari menuliskan sesuatu di selembar dokumen. Perempuan itu manarik napas dalam, lalu membuangnya perlahan. “Ibu harus tetap bersemangat, jangan putus asa. Saya ingin menyarankan alternatif akhir untuk Ibu bisa mengandung,” ujar dokter Malik memberi harapan. “Apa itu, Dok?” “Program bayi tabung.” Naya terdiam. Memang sering sekali didengarnya mengenai program bayi tabung bagi pasangan yang sulit memiliki anak. Namun, jika masalah sel telur Naya yang sulit untuk dibuahi, apa masih bisa berhasil dengan program bayi tabung yang disarankan dokter? Perempuan itu tersenyum getir. Ia hanya pasrah dengan apa yang akan dilakukan dokter Malik. Meski harapan dalam lubuk hatinya masih selalu ada, tapi ia memang harus bersiap untuk kondisi yang terburuk. Jika pada akhirnya, ia harus mengikhlaskan sang suami untuk menikah lagi, dan memiliki anak dari perempuan lain. “Jika Bu Naya dan Pak Aditya setuju dengan program bayi tabung ini, kita akan memulainya segera.” “Saya akan bicarakan hal ini dengan suami saya dulu, Dok. Pada dasarnya, kami akan melakukan apa pun agar saya bisa hamil. Semoga hasilnya akan sesuai dengan harapan.” “Aamiin. Kita tetap berusaha dan berdoa ya, Bu.” “Terima kasih, Dokter.” Setelah selesai berkonsultasi, Naya melangkah pelan keluar dari ruangan dokter. Saat ini, ia enggan untuk pulang ke rumah. Ingin menghindar sejenak dari suaminya. Tanpa sengaja, ia kembali melihat sosok perempuan itu di taman yang letaknya di samping rumah sakit. Tengah membujuk seorang anak kecil yang duduk di kursi roda. Di sisi lain, tampak seorang perempuan yang mungkin itu ibu dari sang anak. Perempuan itu begitu gigih membujuk gadis kecil yang entah apa masalahnya. Dari sikap yang ditunjukkan, tampak keramahan dan kebaikan hati terpancar dari sosok cantik itu. Tengah asyik memperhatikan perempuan itu, gawai Naya terdengar melantunkan salah satu selawat, yang dibawakan penyanyi dari grup musik gambus yang tengah naik daun, Nisa Sabyan. Sebuah nama yang tertulis di layar. Suamiku. Perempuan itu diam sejenak, ragu untuk mengangkat telepon dari Aditya. Ia belum siap mendapat pertanyaan mengenai hasil pemeriksaannya. Naya meletakkan kembali gawai dalam tas berwarna hitam yang ia selempangkan di pundaknya. Kembali melihat ke arah taman. Mereka sudah tak ada di sana. Naya melangkah pergi. Meninggalkan rumah sakit yang tiba-tiba saja merasa bosan berada di dalamnya. Segera menuju tempat parkir, masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin, kemudian berlalu dari sana. Hanya satu tujuan, rumah orang tuanya. Sudah cukup lama ia tak bertemu dengan mereka. Selama ini, mereka hanya berkomunikasi lewat telepon atau pesan whatsaap saja. Perempuan itu rindu menyandarkan kepalanya yang terasa berat, oleh beban yang selama ini menghimpit jiwa. Ingin merebahkan kepala sejenak di pangkuan sang bunda. Ia rindu nasihat sang ayah yang mampu menenteramkan hati. Ia menyesal, selama ini sudah terlalu sibuk mengurusi masalahnya, sehingga lupa mengunjungi mereka. Dua bulan tak datang menemui mereka. Begitu sangat rindu. Meski Aditya selalu menyarankan berakhir pekan di rumah orang tuanya, tapi ia selalu menolak. Rasanya tak sanggup, menumpahkan kesedihan di depan mereka. Terlebih lagi, jika itu dilakukan di depan Aditya. Namun, kini ia sangat merindukan mereka. Ingin melabuhkan diri dalam pelukan mereka, seperti saat masih kecil dulu. Jika sudah seperti itu, masalah apa pun akan terasa lebih ringan dihadapi. Perempuan itu melajukan mobil berlawanan arah dengan rumahnya. Menuju kediaman orang tuanya. Ia hanya mengirimkan pesan singkat lewat whatsaap pada Aditya. [Maaf Mas, aku sedang dalam perjalanan menuju rumah orang tuaku. Tiba-tiba, aku sangat merindukan mereka. Insyaallah, sore nanti aku pulang.]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN