bc

Melangkah di Tengah Badai

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
family
HE
age gap
arranged marriage
badboy
kickass heroine
heir/heiress
drama
sweet
bxg
city
childhood crush
brutal
like
intro-logo
Uraian

🌧️ #Bab01 #KehadiranYangMengganggu

Linda menunggu kepulangan ayahnya di tengah hujan, namun kedatangan seorang anak laki-laki bernama Bima justru mengusik ketenangannya.

Sejak saat itu, kehidupan Linda berubah—Bima tinggal di rumahnya, satu sekolah, bahkan satu kelas dengannya. Rasa cemburu dan tidak nyaman mulai tumbuh, membuat Linda bersikap dingin dan menjauh.

Di balik sikapnya, tersimpan rasa takut kehilangan perhatian sang ayah yang selama ini hanya miliknya. 💔

chap-preview
Pratinjau gratis
Kehadiran yang Mengganggu
Hujan deras mengguyur seluruh penjuru rumah sejak sore, membuat suasana menjadi lebih hening dan sejuk. Aku, Linda, duduk di tepi ranjang sambil memandangi jendela yang berembun. Hari ini terasa begitu panjang karena aku sedang menunggu kepulangan Ayah, Bapak Surya. Ayah sudah pergi selama dua hari ke kampung halaman. Beliau pergi khusus untuk menjenguk Nenek yang sedang kurang sehat. Sebenarnya, aku dan kedua adikku, Maya dan Rian, sangat ingin ikut. Bayangan bermain di sawah dan bertemu kerabat membuat kami bersemangat. Namun, rencana itu harus dibatalkan karena Ayah bilang besok kami sudah harus masuk sekolah. Akhirnya, kami bertiga harus tetap di rumah bersama Ibu, Ibu Anita, dan Mbak Siska, perawat kepercayaan Ibu yang selalu setia menemaninya. "Kak... Kak Linda!" Suara cempreng Maya memecah lamunanku. Gadis kecil itu berlari masuk ke dalam kamarku dengan napas terengah-engah. Wajahnya cerah, seolah membawa kabar sangat penting. "Ada apa, May? Kenapa terburu-buru?" tanyaku sambil tersenyum melihat tingkah lucunya. "Ayah! Ayah sudah sampai, Kak! Mobil Ayah baru saja masuk halaman!" serunya bersorak. Mendengar itu, jantungku serasa berdegup lebih kencang. Tanpa berpikir panjang, aku langsung berlari keluar kamar. Rasa rindu yang tertahan selama dua hari ini seketika meledak. Aku ingin segera memeluk dan mencium tangan Ayah. Saat aku sampai di teras rumah, pintu mobil terbuka. Sosok tegap Ayah keluar sambil tersenyum lebar menyambut kedatangan kami. Namun, mataku seketika tertuju pada sosok lain yang turun dari sisi penumpang. Seorang anak laki-laki. Dia terlihat sebaya denganku, berdiri dengan sedikit canggung sambil memegang tali tasnya sendiri. Pakaiannya rapi, tapi tatapannya terlihat sedikit takut dan bingung melihat lingkungan baru ini. "Linda, Maya, Rian... sini salim sama Ayah," panggil Ayah lembut. Kami segera mengelilingi Ayah dan mencium tangannya. Setelah saling bertanya kabar, pandanganku kembali tertuju pada anak laki-laki itu yang masih berdiri mematung di dekat mobil. "Yah, itu siapa?" tanyaku pelan sambil menunjuk ke arahnya. Ayah tersenyum, lalu memanggil anak itu untuk mendekat. "Ini, namanya Bima. Dia anak dari teman masa kecil Ayah di kampung." Ayah mengusap kepala anak itu dengan lembut sebelum melanjutkan, "Untuk sementara waktu, Bima akan tinggal bersama kita di sini." Aku mengangguk pelan, menatap Bima yang kini menundukkan wajahnya. Bima... gumamku dalam hati. Entah kenapa, aku merasa kehadiran anak laki-laki ini akan membawa banyak cerita baru dalam hidup kami. Ayah menjelaskan bahwa Bima akan tinggal bersama kami di Jakarta untuk waktu yang cukup lama. Bahkan, Ayah sudah mengurus segalanya agar Bima bersekolah di tempat yang sama denganku, SMK Nusantara 02. Mendengar hal itu, dadaku terasa sesak. Rasanya, ruang gerakku seolah mulai terganggu oleh kehadiran anak asing ini. Keesokan paginya, suasana di meja makan terasa canggung. Setelah selesai sarapan, Mas Untung—supir keluarga kami—sudah siap mengantarkan kami. Sepanjang perjalanan, aku hanya diam menatap ke luar jendela, mengabaikan keberadaan Bima yang duduk di sebelahku. Sesampainya di sekolah, aku terpaksa mengantarnya ke kantor Kepala Sekolah terlebih dahulu sebelum aku bisa masuk ke kelasku sendiri. Aku melakukannya bukan karena ikhlas, tapi hanya karena perintah Ayah. Namun, nasib sepertinya belum berpihak padaku. Saat bel masuk berbunyi dan aku sudah duduk di bangku, Bu Guru selaku wali kelas mengumumkan bahwa akan ada murid baru yang bergabung hari ini. Pintu kelas terbuka, dan sosok yang muncul membuatku mendengus kesal. Benar saja, itu Bima. "Perkenalkan, nama saya Bima. Salam kenal," katanya sopan sambil membungkuk. Bu Guru mempersilakannya duduk, dan kebetulan tempat kosong yang tersedia tepat di dekatku. Sial, batinku. Sekarang kami satu kelas. Hal ini semakin membuatku tidak menyukainya. Apalagi di rumah, sejak dia datang, seolah dialah putra kesayangan Ayah. Semua perhatian Ayah seolah berpindah padanya, membuatku merasa tersisihkan. Waktu berlalu cukup lambat bagiku. Akhirnya, bel pulang sekolah berbunyi. Aku segera merapikan buku-bukuku dan berjalan cepat keluar kelas, berniat langsung pergi. Tapi, langkahku dihadang. Bima muncul di hadapanku dengan wajah yang terlihat ingin sekali bicara. "Linda, boleh minta izin waktunya sebentar nggak?" tanyanya pelan, berusaha menahan langkahku. Aku menatapnya sinis, lalu menjawab dengan nada ketus, "Sorry ya, gue nggak ada waktu buat loe, anak emas barunya Ayah." "Tapi Lin..." Bima masih mencoba bersuara. "Loe nggak lihat apa? Loe nggak kasihan apa sama Mas Untung? Tuh, Mas Untung sudah nunggu dari tadi tahu!" potongku cepat, memanfaatkan situasi agar bisa pergi tanpa mendengar penjelasannya. Aku berjalan mendahuluinya menuju mobil. Benar saja, Mas Untung sudah berdiri menunggu di dekat kendaraan. Kami tidak langsung pulang ke rumah. Perjalanan kami masih panjang karena harus menjemput kedua adikku yang sekolah di tempat berbeda. Pertama, kami mampir ke SMP Nusantara 11 untuk menjemput Maya. Tak lama kemudian, kami melanjutkan perjalanan ke SDN Nusantara 01 guna mengambil Rian. Hal yang paling membuatku kesal adalah melihat interaksi mereka. Begitu melihat Bima keluar dari mobil, Maya dan Rian justru tampak sangat senang. Mereka menyambutnya dengan antusias, mengajaknya mengobrol, dan terlihat sangat akrab seolah mereka sudah lama berteman. Melihat mereka tertawa bersama di kursi belakang mobil, aku hanya bisa mendengkus kesal di pojok kursi. Apa sih yang spesial dari dia sampai semua orang jadi suka begitu? gerutuku dalam hati. ---- Seminggu kemudian... Suasana di sekolah menjadi lebih hidup karena kami mendapatkan surat edaran penting. Di sana tertulis jelas bahwa SMK Nusantara 02 akan mengadakan kegiatan camping atau kemah selama tiga hari penuh. Rasanya aku sangat ingin ikut, mungkin ini cara terbaik untuk menjauh sejenak dari Bima. Sesampainya di rumah, aku langsung menyerahkan surat itu kepada Ibu. Tak lama, Bima juga ikut memberikan surat yang sama. "Bu, ini surat edaran dari sekolah," kataku sambil menyodorkan kertas itu. "Surat apa ini, nduk?" tanya Ibu Anita dengan wajah lemas, beliau memang sedang tidak enak badan. "Ini surat edaran dari sekolah, Tante. Guru menginformasikan bahwa sekolah kami akan mengadakan acara camping selama tiga hari," jawab Bima dengan sopan, menjelaskan isi surat itu. Ibu membaca sekilas, lalu menghela napas pelan. "Oh, soal ini... Ibu tidak bisa memutuskan sendiri. Bima, Linda, kalian tunggu Ayah pulang saja ya, nanti biar Ayah yang putuskan." "Iya, Bu..." jawabku singkat. "Baik, Tante..." sahut Bima. Aku dan Bima akhirnya berjalan masuk ke dalam. Oh ya, ada yang berubah sejak Bima tinggal di sini. Kamar lamarku kini ditempati olehnya, jadi sekarang aku tidur satu kamar bersama Maya. Aku duduk di meja belajar, mencoba fokus mengerjakan tugas sekolah agar pikiranku tenang. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Pintu kamar terbuka, dan Bima masuk lagi. Lagi dan lagi, dia datang dengan tujuan yang sama seperti seminggu terakhir: ingin bicara berdua. Awalnya aku ingin menolak, tapi aku ingat kondisi Ibu di luar sana. Ibu sedang sakit, dan jika aku membentak Bima lagi, takutnya Ibu kaget dan batuknya makin parah. Penyakit Ibu ini sungguh membuatku khawatir; kalau batuknya kambuh, Ibu sering sampai muntah darah. Aku sudah berkali-kali ingin mengajak Ibu ke dokter, tapi Ayah selalu melarang dan bilang Ibu hanya lelah saja, bilang Ibu baik-baik saja. Padahal, aku bisa melihat kesakitan di wajah Ibu. Karena tidak tega membuat Ibu sedih, akhirnya aku mengiyakan ajakan Bima itu, meski dengan nada kesal. "Ya sudah, cepat apa? Gue nggak punya banyak waktu," pintaku ketus. Bima menghela napas, lalu menatapku serius. "Oke, saya tahu kamu belum bisa menerima keberadaan saya di rumah kamu ini. Tapi ada yang harus kamu tahu, Linda. Saya tidak bermaksud untuk merebut perhatian Om Surya, sungguh." Ucapannya itu justru memicu emosiku meledak. "Nggak usah begitu deh! Iya gue tahu, mungkin karena Ayah itu orangnya baik kali ya, jadi loe memanfaatkan kebaikan Ayah kan? Agar loe yang disayang, sementara gue enggak. Alah... lagu lama itu! Sudah kan ngomong sama gue-nya? Bye!" Tanpa menunggu dia menjawab, aku langsung mendorong tubuhnya keluar kamar. BRAK!!! Aku membanting pintu kamar dengan sangat keras. Suaranya bergema ke seluruh penjuru rumah, membuat Maya, Rian, Ibu, dan Mbak Siska yang sedang di ruang tengah langsung kaget. "Bima, sini kamu..." terdengar suara Ibu memanggil dengan lembut namun tegas. "Iya, Tante. Ada apa?" tanya Bima dari luar. "Kak Linda kenapa lagi?" tanya Rian polos. "Nggak apa-apa kok, Rian. Saya hanya mencoba berbicara dari hati ke hati sama Kak Linda," jawab Bima tenang. "Tapi diusir kan?" celetuk Maya. "Sudah Kak Bima, jangan ganggu Kak Linda dulu. Kak Linda begitu karena cemburu lho. Soalnya yang biasanya jadi anak emas Ayah itu kan Kak Linda, sekarang rasanya berubah." Bima tersenyum tipis mendengar penjelasan Maya. "Iya, ya sudah. Rian yuk kita main bola di teras aja." "Oke!" seru Rian antusias, lalu mereka berdua pergi meninggalkan ruangan, meninggalkanku yang masih mendongkol di dalam kamar.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
222.6K
bc

TERNODA

read
202.8K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
16.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.0K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook