Hujan

2109 Kata
Gumpalan awan putih yang menutupi matahari membuat langit seolah bersahabat pagi ini. Lapangan SMA Binar Mulya dipenuhi oleh siswa – siswi yang sedang melakukan olahraga salah satunya kelas Ara. Lapangan yang lebih di d******i oleh siswa laki-laki yang sedang bermain futsal sedangkan siswi perempuan lebih memilih duduk di pinggir lapangan. Ara dan ketiga temannya adalah salah satu dari siswi tersebut. “Panas banget woy. Kantik yok.” Ajak Vanessa yang dari tadi mengibaskan tangannya ke muka. “Nanti kalau Pak Andi datang gimana?.” Jawab Mita. “Bukannya kita sudah ambil nilai lari? Jadi sisa jam di bebaskan. Lagian guru – guru lagi pada rapat keless.” Ujar Stella. “Yoklah jangan pakai lama, keburu bel nanti yang ada bakalan ramen oh kantin.” Sambung Stella. “Let’s go!.” Teriak Vanessa. “Kalian duluan aja, nanti gua nyusul. Gua mau ke kamar mandi dulu.” Ungkap Ara kepada teman – temannya. “Oke. Kita duluan Ra.” Ucap Mita. **** Ara yang kini baru selesai membuang air kecil, sedang membilas kedua tangannya di wastafel sambil bercermin. Tidak lama kemudian seorang gadis keluar dari salah satu bilik kamar mandi lalu membasuh tanganya tepat di sebelah Ara. “Kak Ara beruntung ya..” Lirih Elisa, gadis yang berada disebelah Ara. Ara yang bingung dengan pernyataam Elisa hanya menatap dalam diam melalui cermin yang menatap wajah mereka. Elisa yang tahu Ara kini menatapnya melalui cermin melanjutkan bicaranya “Kakak beruntung bisa dekat sama kak Daffa. Apa yang harus aku lakukan kak, biar kak Daffa bisa sedikit aja melihat aku.” Ucapnya dengan wajah sedih. Ara menghela nafas lalu berbalik menghadap ke arah Elisa “Aku juga bingung harus bilang gimana sama kamu, tapi Daffa nggak suka sama cewek yang terlalu over ngedekatinya. Saran aku coba kamu dekatin Daffa layaknya seorang teman. Aku duluan ya” Setelah kepergian Ara, Elisa hanya terdiam mencerna perkataan Ara. Senyum sinis terbit di sudut bibir Elisa, ia memiliki satu cara untuk mendapatkan hati Daffa. **** Saat ini jam pelajaran kosong di karenakan guru – guru sedang mengadakan rapat, membuat para murid memanfaatkan waktu dengan melakukan berbagai macam aktifitas. Kantin menjadi salah satu tujuan murid – murid untuk mengisi jam kosong. Kantin saat ini di penuhi oleh murid – murid membuat kursi nampak penuh hingga tak tersisa. Bagas yang memang tadi pagi belum sempat sarapan mengajak Rekha untuk menemani dirinya untuk mengisi perut di kantin. Melihat kursi yang penuh membuat Rekha enggan untuk menemani Bagas. Bagas yang menyadari Rekha akan meninggalkan kantin, dengan cepat mengedarkan kedua bola matanya untuk mencari tempat duduk. Senyum terbingkai di wajahnya saat matanya menemukan kursi untuk dirinya dan Rekha langsung menarik Rekha memasuki kantin. “Halo.. girl’s!! ” Sapa Bagas. Tanpa disuruh Bagas langsung duduk dikursi tepatnya di hadapan Mita. Yah Bagas memutuskan untuk bergabung dengan teman – teman Ara tersebut. “Kita boleh ya duduk disini, kursinya sudah pada penuh.” Ungkap Bagas dengan membuat wajah bersedih. “Kalau kita bilang nggak boleh. Percuma jugakan? Lo sudah duduk duluan tanpa disuruh tuh.” Cibir Stella. “Gua anggap itu persetujuan.” Ujar Bagas kembali sambil menaik turunkan alisnya. Mita yang duduk berhadapan dengan Bagas hanya menggelengkan kepala begitu juga dengan Vanessa berbeda dengan Stella yang nampak kesal dengan ucapan Bagas. “Ayo duduk Ka.” Ajak Bagas yang melihat Rekha masih saja berdiri. Hanya anggukkan kepala yang diberikan Rekha sebelum duduk di kursi tepat di hadapan Stella. “Astaga, ngomong kenapa sih Ka?! Untung gua nggak duduk cuman berdua doang sama kulkas berjalan ini, bisa – bisa jadi es batu gua yang ada.” Kesal Bagas sambil mengelus dadanya. Rekha yang mendengar tetap diam sambil memainkan ponselnya. Mendengar perkataan Bagas, Stella yang duduk berhadapan dengan Rekha mencoba mencuri – curi pandangan. “Bener. Nih manusia dingin banget kaya kulkas, tapi tetap ganteng sih.” Batin Stella berbisik, tanpa sadar dia tersenyum sambil mengaduk minumannya. Bagas yang melihat Stella tersenyum malu – malu, mengernyitkan dahinya “Itu teman kalian ke sambet dimana?.” Tunjuk Bagas. Reflek semua yang duduk di meja menoleh ke Stella. Stella yang tersadar tengah ditatap teman – temannya menatap bingung. “Salahnya apa kalau gua senyum hah?! Lagian ngapain sih lo ngelihatin gua. Suka? Maaf gua nggak suka cowok modelan kaya lo!” Ucap Stella dengan sengit. “Santai neng santai. Mata digunakan untuk melihat kan? Dan gua nggak sengaja ngelihat lo lagi kesambet. Maaf deh kalau ganggu ritual loh.” Ujar Bagas dengan santainya disertai cengiran membuat Stella bertambah kesal. “Lo!!!...” Tunjuk Stella menggunakanya jari telunjuknya. “Sudah.. sudah La. Bagas cuman bercanda kok. Jangan di perpanjang ya.” Potong Vanessa membuat Stella langsung terdiam menahan kesalnya. Bagas yang mendengar perkataan Vanessa hanya tersenyum kagum kepada perempuan tersebut. “Ara kemana sih, kok lama banget ke kamar mandinya.” Omel Stella masih dengan kekesalannya terhadap Bagas. “Noh panjang umur tuh bocah.” Tunjuk Mita yang melihat Ara memasuki kantin. “Loh.. kalian kok cuman berdua, Daffa kemana?.” Reflek Ara bertanya saat mengetahui kedua teman Daffa yang tengah duduk bersama teman – temannya ini. Posisi Bagas dan Rekha membelakangi pintu masuk kantin membuat Ara tidak mengenali mereka. “Tanya yang ada aja sih Ra, jangan yang nggak ada yang di cari.” Sahut Bagas “Mau banget lo di cariin.” Cibir Stella masih kesal terhadap Bagas. “Daffa bilang dia mau tidur di kelas.” Ujar Rekha. Melihat Rekha yang menjelaskan membuat mereka terpaku dengannya. Bagaimana tidak selama ini Rekha adalah cowok yang tidak pernah mau bersusah payah menjelaskan hal apapun. “Duduk dulua Ra. Mau pesan apa?.” Ujar Mita yang menyadari Ara yang masih berdiri. “Es teh aja Ta.” Ara kini memilih duduk bersebelahan dengan Rekha yang kini memilih untuk diam. Dirinya kini tengah memikirkan perkataan Elisa, gadis itu benar – benar menyukai Daffa. Ara tidak mengerti dengan perasaannya harusnya ia merasa senang karena Daffa memiliki sesorang yang sepertinya tulus menyukainya. Tetapi entah bagaimana ada perasaan tidak rela yang menggajal dihatinya. ***** Sekolah yang telah usai sekitar 10 menit yang lalu. Banyak murid yang telah meninggalkan sekolah, baik menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum. Sebagian siswa pun masih ada yang menjalankan kegiatan ekstrakurikuler mereka. Cuaca sore hari ini sedikit mendung membuat banyak siswa yang menyegerakan dirinya untuk pulang takut jika terjadi hujan. Berbeda dengan Ara, ia harus sabar menunggu Daffa yang tidak kunjung keluar. Setelah mendapatkan pesan bahwa Daffa harus menemui Pak Andi terlebih dahalu. Entah masalah apa lagi yang dilakukan oleh Daffa kali ini membuat Ara bertanya-tanya. Anehnya mengapa pak Andi yang memanggilnya bukan guru BK?. Ara yang bosen menunggu Daffa di taman hanya mampu mengoyang-goyangkan kakinya untuk menghilangkan rasa jenuhnya. Tepukan di pundak Ara, membuat dirinya tersenyum dan langsung menoleh berfikir itu Daffa yang datang. Namun sosok Revanlah yang ada, keterkejutan itu hanya beberapa detik saja membuat Ara kembali tersenyum. “Hai Van. Sini duduk.” Sapa Ara sambil menepuk sisi kosong disebelahnya Revan hanya mengangguk lansung berjalan kearah yang disuruh Ara. Revan yang duduk di sebelah Ara kini menatap wajahnya dari samping. “Nungguin Daffa lagi?.” “Iya. Hehe.” Cengiran Ara membuat Revan geleng-geleng kepala. “Kenapa nggak pulang duluan aja Ra?.” Ucapnya dengan lembut. Ara hanya menggelengkan kepala sebelum menjawab pertanyaan Revan “Sudah kebiasaan.” Lagi-lagi Ara menjawab sambil menunjukkan giginya. “Setia banget ya nungguin Daffanya. Pasti Daffa orang yang special banget nih di hati. Mau dong jadi yang special.” Ungkap Revan tersenyum sambil menatap wajah Ara. “Apaan sih.” Ucap Ara sambil memukul bahu Revan dengan pelan. Ara menjadi salah tingkah sendiri mendengar ucapan Revan. Revan yang tertawa melihat Ara yang salah tingkah mencoba menormalkan kembali suaranya. “Kalau besok gua ajak Lo nonton, Ada yang marah nggak?.” “Apaan sih, siapa coba yang bakalan marah?.” Balas Ara dengan cepat. “Jadi?” “Apanya?.” Kebiasaan Ara menjadi lemot bila salah tingkah seperti ini. “Jadi, besok lo mau nggak nonton sama gua?.” Ulang Revan. Ara yang mendengar itu langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat tanpa berfikir lagi. Revan yang melihat tingkah Ara yang menggemaskan tanpa sadar tangannya terangkat mengelus rambut Ara. “Ekhm” Reflek mereka berdua menoleh kebelakang untuk melihat sumber suara. “Ayo pulang.” Ujar Daffa dengan wajah datarnya sambil berlalu meninggalkan mereka berdua. “Gua duluan ya Van.” Hanya anggukkan beserta senyuman yang Revan berikan kepada Ara. Setelah Ara berlalu, Revan mengepalkan tangannya dengan wajah yang kesal. “Sial. Selalu jadi pengganggu tuh bocah.” Desisnya. ***** Perjalanan pulang kali ini, entah mengapa membuat Ara berbunga-bunga sekali. Pasalnya Revan cowok yang selama ini ia suka mengajaknya pergi menonton. Bukankah itu sama saja Revan mengajak dirinya berkencan? Ah senangnya. Berbeda dengan Ara yang terlihat bahagia, Daffa tengah berperang dengan batinnya. Ia yang melihat Revan akhir – akhir ini mencoba mendekati Ara membuat perasaannya tidak senang. Ia yang tidak menyukai saat Revan mengelus kepala Ara. Itu karena kebiasaan yang menjadi favourit Daffa saat melihat tingkah gemas Ara. Cuaca yang memang sudah mendung daritadi akhirnya mengeluarkan airnya. Daffa dan Ara yang masih dalam perjalanan mencari tempat untuk menepi. Mereka akhirnya menemukan halte yang berada di pinggir jalan untuk berteduh. Melihat pakaian Ara yang kini memperlihatkan dalamannya membuat Daffa melepaskan jaket yang ia kenakan lalu menyuruh Ara memakainya. “Pakai” “Nggak usah lo aja.” Balas Ara menolah jaket yang diberikan Daffa sambil menggosok-gosokkan tangannya. “Dalaman lo kelihatan.” Ungkap Daffa tanpa menoleh kea rah Ara. Seketika Ara langsung melihat kepakaiannya yang memang menerawang. Ara langsung menarik jaket yang masih dipegang Daffa. “Tapi.. Lo gimana?.” Ucapnya ragu-ragu. Sambil menaikan bahunya Daffa membalas ucapan Ara “Pakai aja gua cowok, fisik gua lebih kuat dibanding lo. Lagian gua masih ada lapisan kaos hitam di balik seragam.” “Cih bawa-bawa gender.” Gerutu Ara sambil mencoba memakai jaket yang diberikan Daffa. Daffa yang melirik kesamping, melihat Ara yang kesusahan mengancingi jaket, menghela nafas. Di tepisnya tangan Ara lalu mengambil alih untuk mengancingi jaket hingg dagu Ara. Daffa melakukannya sambil terus menatap wajah tanpa menoleh kebawah sedikit pun. Ara yang terus ditatap Daffa seperti ini membuat detak jantungnya berdebar dengan kencang. “Makasih. Tapi nggak sampe dagu juga kali.” “Sama-sama.” Hujan yang semakin deras membuat keduanya kini larut dengan pikirannya masing-masing. 30 menit mereka berteduh hujan kini telah berhenti. “Ayo pulang. Sudah berhenti hujannya.” Ujar Daffa yang kini sudah berdiri di samping motornya sambil memakai helm. Ara yang berdiri kini mengadahkan tangan untuk sisa air hujan yang jatuh ketangannya melalui genting halte. ***** Ara yang kini sudah sampai di depan pagar rumah setelah turun dari motor Daffa berusahaan membuka jaket. Daffa yang akan menjalankan motornya mengurungkan niatnya saat melihat Ara yang kini berusaha melepaskan jaket yang ia berikan. “Kenapa di lepas?” Tanya Daffa yang bingung dengan tingkah Ara. “Mau gua balikin jaketnya untuk lo pakai. Biar lo nggak kedinginan. Lagian tuh baju lo sudah basah banget itu.” Ara yang kembali fokus membuka kancing jaket menjadi bingung saar tangan Daffa tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya untuk membuka jaket. Ara yang kaget menatap Daffa, bertanya melalui tatapan matanya. “Sudah pakai aja. Di dalam bukannya masih ada pekerja cowok? Emang nggak malu dilihatin pekerja sendiri?” “Tapi.. gimana sama lo?” Ucapnya bimbang “I’m okey. Ujanan kaya gini nggak buat gua sakit. Masuk gih jangan lupa mandinya pakai air hangat” “Lo hati-hati dijalan. Jangan kebut-kebut jalanan lagi licin” Daffa menganggukkan kepalanya lalu meninggalkan perkarangan rumah Ara. ***** 20 menit waktu yang dibutuhkan Ara untuk mandi. Ia yang merasa dirinya sudah jauh lebih hangat dan segar segera mencari benda pipih kesayangannya. Melihat 50 pesan grup dari sahabat-sahabatnya membuat Ara geleng-geleng kepala. Entah apa yang tengah mereka bicarakan pikir Ara lalu menutup aplikasi tersebut, Ara yang kini sudah membaringkan tubuhnya di atas kasur mulai memejamkan matanya. Namun bayangan Daffa melintas di fikirannya membuat ia kembali duduk. “Kira-kira Daffa sudah samapi belum ya?” Kembali membuka aplikasi chat, Ara mengirimkan pesan kepada Daffa menayai apakah lelaki itu sudah sampai. Ara yang melihat kontak Daffa tidak terlihat online akhirnya menutup kembali aplikasi chat tersebut lalu menaruh disampingnya. Ting.. Dengan secepat kilat dirinya mengambil ponsel yang ada disebelahnya. Dengan harapan Daffalah memberikannya pesan. Besok jadi nontonkan Ra? Harapan tinggal harapan itu bukanlah balasan dari Daffa. padahal ia sangat tahu kebiasaan Daffa yang akan sangat lama bila membalas pesan bahkan terkadang lelaki itu hanya membacanya saja. Pesan masuk dari nomor tidak di kenal. Tetapi Ara tahu Revanlah yang mengirimi dirinya pesan. Karena hanya Revan yang akan mengajaknya menonton besok. Ia yang terlalu senang menjatuhkan dirinya ke kasur dengan memeluk erat guling. Ara yang memang sejak tadi sudah mengantuk akhirnya jatuh tertidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN