Sakit

1393 Kata
Fajar telah menampakkan dirinya. Daffa yang merasa pagi ini kurang enak badan memaksakan diri untuk tetap berangkat sekolah. Terburu-buru untuk bangun membuat kepala Daffa pusing hingga membuat ia kembali duduk di atas kasur. Istirahat beberapa menit membuat pusing di kepala Daffa sedikit berkurang, kemudian dirinya bergegas untuk mandi dan menjemput Ara takut perempuan itu menunggu terlalu lama. Setelah selesai mandi dan memakai seragamnya, Daffa berjalan kearah laci untuk mengambil kunci motornya. Sepanjang perjalanan Daffa mencoba berkonsentrasi pada jalan. Daffa melihat Ara sudah berdiri di depan rumah. Perempuan itu memang gadis yang rajin dan taat aturan. Apa jadinya jika dirinya tidak memiliki sahabat seperti Ara. Mungkin dirinya tidak akan bersekolah dengan taat aturan. Gadis inilah yang menjadi alasan dirinya masih tetap bersekolah. Sosok Ara mengingatkan ia pada sosok mamahnya. “Ayo berangkat.” Ujar Daffa sambil memberikan helm kepada Ara. ***** Setelah mereka berdua tiba di sekolah, Daffa yang merasa kini kepalanya semakin pusing menyuruh Ara untuk duluan masuk ke dalam. “Duluan aja Ra. Gua mau ketemu pak Mamang dulu. Ada yang mau gua bicarain.” Aliba Daffa. Pak Mamang adalah satpam sekolah mereka yang memang dekat dengan Daffa. “Muka lo pucat banget Daf. Lo sakit?.” Ujar Ara hendak menyentuh kening Daffa, tetapi langsung di tepis olehnya. “Gua baik-baik aja.” Ucapnya menyakinkan. Ara yang percaya ucapan Daffa memutuskan untuk masuk duluan dan meninggalkan Daffa yang masih di parkiran. Setelah Ara telah berlalu, Daffa memijit keningnya. Alasan Daffa menyuruh Ara masuk terlebih dahulu, ia tidak ingin Ara mengetahui kondisinya. Setiap pagi Ara selalu bercerita hal apapun, ia hanya tidak mampu mendengar atau bahkan menjawab pertanyaan Ara. Jika hal itu terjadi Ara akan mengetahui kondisinya. Ia hanya tidak ingin gadis itu menjadi khawatir. Memastikan Ara sudah mulai menjauh kini Daffa mulai melangkah masuk kedalam. Di koridor Daffa merasakan pusingnya semakin jadi. Pandangannya kini menjadi berputar-putar dan tubuhnya semakin lemas saja. Daffa yang sudah sangat lemas merasakan tubuhnya akan jadi jatuh. Namun ada tangan lain yang menahannya bahunya. “Lo!” Ucapnya lemas saat melihat tangan siapa yang menahannya. Saat Daffa mencoba melepaskan tangan tersebut lagi-lagi tubuhnya akan terjatuh. “Kali ini aja kak jangan egois!. Kakak lagi sakit, kakak butuh bantuan aku. Aku anterin ke UKS ya?.” Benar, ia tidak boleh egois. Dirinya butuh istirahat sekarang. Hanya anggukan yang dapat dirinya lakukan. ***** Daffa yang kini sudah sampai di UKS hanya tertidur dengan lemas. Suster yang hari ini berjaga di UKS baru saja pergi setelah memeriksa kondisi dirinya. Daffa mengalami demam setelah semalam dirinya kehujanan bersama. Untungnya gadis itu baik-baik saja. “Minum teh dulu kak.” Elisa gadis yang tadi menolong dirinya kini menyodorkan secangkir teh ditangannya. Daffa mencoba untuk duduk dari tidurnya. Melihat Daffa yang kesulitan untuk bangun, Elisa meletakkan tehnya di meja lalu membantu dirinya. Elisa juga yang membantunya untuk minum. “Makasih.” Ucap Daffa dengan lemahnya. Setelah minum teh, Daffa kembali membaringkan dirinya. “Tadi aku mau ke kelas kakak. Tapi di jalan aku ketemu kak Bagas, jadi aku minta tolong kak Bagas untuk izinin kakak.” Daffa mengangukkan kepalanya “Lo nggak masuk kelas?.” “Aku tadi sudah izin juga sama guru piket kalau aku mau jagaiin kak Daffa yang lagi sakit. Sama, aku sudah minta tolong Melisa untuk izinin aku ke guru jam pertama di kelas aku sih.” Ucapnya lembut disertai senyuman. “Sorry sudah ngerepotin lo,” Elisa hanya mengangukkan kepalanya. “Dan maaf untuk kejadian waktu itu. Gua terlalu kasar sama lo.” “Aku bakalan maafin kakak, asal kakak janji sama aku kalau kita akan menjadi teman.” Ucapnya tanpa ragu-ragu. “Hem” Hanya gumaman yang diberikan Daffa membuat Elisa bersorak senang di hatinya. Percakapan terakhir membuat Daffa kembali memejamkan matanya. Ia yang benar-benar lemas dan tak sanggup untuk terlalu lama berbicara. **** Ara yang pada jam isirahat pertama lebih memilih menghabiskan waktunya di perpustakaan untuk membaca novel. Terlalu fokus pada novelnya membuat Ara tidak memperhatikan sekitar. Hingga tepukan di bahu membuat ia menghentikan aktivitasnya. Menghela nafas dirinya menutup buku dan menoleh kebelakang. Revan yang berdiri dengan menyandarkan dirinya ke rak buku dengan tangan di lipat di d**a. Tersenyum saat Ara menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya. Ara merasa, akhir-akhir ini Revan selalu saja berada di sekitarnya. “Ada yang bisa saya bantu mas?” Ujar Ara dengan nada bercanda. “Gua ganggu ya?” Ungkap Revan dengan wajah seolah bersedih. “Eh, enggak gitu maksud gua. Gua cuman bercanda kok tadi.” Ujar Ara dengan rasa bersalah. “Haha” Ara yang bingung melihat Revan tertawa kini menyadari bahwa ia telah di tipu oleh Revan. Membuatnya mengelengkan kepalanya merasa bodoh hingga mampu tertipu dengan mudahnya. “Sialan lo.” Ujar Ara. “Hehe. Sorry, sorry. Ehm.. Nanti jadikan nonton?” Ungkap Revan dengan menggaruk belakang telinganya menandakan dirinya sedang salah tingkah. Seperti terhipnotis dengan kesalah tingkahan Revan, Ara pun menjadi malu-malu. Sehingga hanya mampu mengangukkan kepalanya saja. Dirinya tidak tahu harus menjawab seperti apa. Terlalu senang itu yang dirasakannya saat ini. “Kalau gitu, sampai bertemu setelah pulang sekolah. Gua tunggu di parkiran ya.” Lagi-lagi hanya anggukan yang diberikan Ara. Saat Revan sudah berbalik untuk meninggalkannya, seketika Ara langsung bergembira dengan memeluk novel yang ia pegang. “Oh iya satu lagi,” Ucap Revan membuat Ara menjadi diam seperti semula. “Jangan lupa kabarin Daffa kalau lo pulang sama gua.” Setelah Revan benar-benar menghilang, barulah Ara tersenyum kegirangan dengan memuturkan badannya seperti berjoget. Merasa dirinya di perhatikan oleh murid yang berlalu lalang di sekitarnya membuat Ara berhenti. Dengan cepat dirinya meletakkan novel yang tidak lagi menarik minatnya ini. Lagian waktu istirahat akan segera berakhir 10 menit lagi. Saat Ara berjalan kearah kelasnya, ia mengingat kata terakhir yang di ucapkan oleh Revan tadi untuk mengabari Daffa. Ara yang dulu selalu mengikuti kemana Daffa saat jam istirahat, kini memutuskan untuk tidak selalu mengikuti kemana Daffa pergi semenjak duduk di bangku SMA. Ia berfikir bahwa mereka memiliki privasi masing-masing. Entah belum berjodoh atau bagaimana, selama bersekolah tidak sekali pun Ara pernah sekelas dengan Daffa. Tapi walaupun begitu terkadang dirinya atau Daffa akan bertanya saat tidak melihat satu sama lain di kantin. Saat ingin mengecek ponselnya, Ara baru menyadari bahwa ponselnya tertinggal dikelas. Saat dirinya sudah sampai di kelas, ia segera mencari ponselnya untuk melihat apakah ada notif yang Daffa berikan kepadanya. Namun, tak satu pun notif yang ia terima dari Daffa membuat dirinya bertanya-tanya. Apakah Daffa juga tidak pergi ke kantin?. Tidak terlalu diambil pusing, kini Ara membaca pesan dari Mita yang menanyakan dimana dirinya. Saat akan membalas pesan tersebut, teman-temannya sudah kembali ke kelas membuat Ara mengurungkan niatnya kembali. “Loh Ara, lo di kelas?” Ucap Stella berlari kearahnya saat menyadari Ara berada di kelas di susul Mita dan Vanessa. “Gua baru balik dari perpus sih. Ada apa?” “Pesan gua kenapa nggak di balas Ra?” “Sorry Ta. Ponsel gua ketinggalan di kelas. Saat gua mau balas kalian sudah nonggol aja.” “Sudah dengar soal Daffa?” Ungkap Mita dengan hati-hati. Ara yang bingung dengan maksud Mita hanya mengernyitkan dahinya. Mita yang dapat menyimpulkan bahwa temannya ini belum mengetahui keadaan Daffa. “Lo nggak tahu Daffa sakit?” Pekik Stella kaget. “Daffa sakit?!” Ketiganya kini kompak menganggukkan kepalanya. “Gua pikir tadi lo nggak ke kantin karena nungguin Daffa di Uks Ra.” Ucap Vanessa yang entah mengapa menghela nafas lega. Ara yang kini menjadi panik, hendak meninggalkan kelasnya untuk menemui Daffa di Uks. Namun tanggan Mita menghentikannya. “Mau kemana?” Ujar Mita “Gua mau ke Uks jenguk Daffa. Lepas Ta.” Ujar Ara dengan panic “Lo nggak dengar bel sudah bunyi? Lagian Daffa sudah diantar pulang sama Bagas tadi pas istirahat. Lo bisa jenguk dia setelah pulang sekolah.” Jelas Mita kepada Ara. Ara langsung lemas di tempat. Kakinya seperti jeli yang tidak bisa menopang badannya sendiri. Kini Ara hanya bisa terduduk sambil merasa bersalah. Sahabat macam apa dirinya sehingga tidak peka kalau tadi pagi muka Daffa memang sudah pucat. Dirinya benar-benar bodoh percaya ucapan Daffa yang menutupi kalau dirinya baik-baik saja. Lo sakit? Kenapa nggak bilang sih! Ara yang tidak tahu harus berbuat apa hanya mengirimi Daffa pesan. Berharap lelaki itu akan membalasnya. Ara yang terlalu cemas dengan keadaan Daffa berharap waktu cepat berlalu. Ia ingin segera menemui Daffa untuk mengecek keadaannya. Ara tidak sabar menunggu pulang sekolah yang terlalu lama bagi dirinya hari ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN