Waktu yang di nantikan oleh Ara akhirnya tiba. Dengan tergesa-gesa Ara membereskan buku-bukunya dan segera meninggalkan kelas. Stella, Mita dan Vanessa membereskan bukunya dengan cepat juga untuk mengejar Ara. Mita yang selesai terlebih dahulu langsung berlari untuk menghentikan Ara.
“Ra, Tunggu!”
Hap.
Mita yang kini sudah berhasil menghentikan Ara, kini membalikkan tubuh Ara.
“Ra tenang. Kita kesana bareng-bareng. Oke?”
“Tarik Nafas buang Ra.” Ucap Stella tiba-tiba setelah berlari mengejar keduanya. Namun ucapan barusan seperti untuk dirinya sendiri. Saat Stella berkata seperti itu justru dirinyalah yang menarik nafas dan membuangnya.
“Ra, emang lo tahu rumahnya Daffa?” Tanya Vanessa.
Ara hanya menggelengkan kepalanya. Selama iniDaffa tidak pernah memberi tahu dimana rumahnya. Membuat Ara seketika frustasi.
“Kita bisa Tanya Bagas.” Ungkap Ara dengan semangat saat mengingat bahwa Bagas yang mengantar Daffa pulang tadi.
Semuanya kini bergegas langsung berjalan kea rah kelas Bagas. Mereka semua kaget mendengar teriakkan Stella dibelakangnya.
“Oh My Gosh!. Astaga gua lupaa.” Pekik Stella panic membuat ketiganya temannya kini menoleh kearahnya.
“Gua lupa, tadikan gua chatan sama Bagas. Bagas bilang dia nggak balik lagi ke sekolah setelah mengantar Daffa. Alias dia ikutan bolos juga.”
“Kenapa nggak bilang daritadi.” Kompak Mita dan Vanessa menjawab dengan gemasnya melihat ke lemotan temannya yang satu ini.
“Maaf, maaf. Gua tadi juga panic. Jadi nggak sempat berfikir hehe.” Jawab Stella dengan menyengir.
Lemas. Itu yang Ara rasakan saat ini, harapan satu-satunya kini telah pupus. Mita yang melihat Ara tersenyum untuk menegarkan hatinya merasa iba. Mita mencoba mencari jalan keluar untuk masalah mereka sekarang. Satu ide terlintas di fikiran Mita.
“Kenapa kita-“
“Kalian pada ngapain disini?” Belum sempat Mita memberikan solusi, Rekha kini berdiri di depan kelasnya. Seperti mendapatkan pencerahan, wajah Ara kini bersinar berharap Rekha dapat menjadi penolongnya kali ini.
“Ehm. Rekha lo mau jenguk Daffa jugakan?” Tanya Ara dengan cemas. Rekha hanya mengangullan kepalanya tanpa mengeluarkan kata-kata.
“Kita ikut ya. Please.” Bujuk Ara dengan menempelkan kedua tanganya sambil memohon kepada Rekha.
“Gua bawa motor Daffa.” Jawabnya sambil menunjukkan kunci motor.
“Biar Ara yang ikut lo.” Uajar Mita dengan spontan.
“Kalian bisa chat Bagas untuk minta alamat rumahnya.”
“Kenapa alamat rumah Bagas?” Ucap Vanessa bingung.
“Daffa ada dirumah Bagas.”
Setelah mengatakan itu Rekha berjalan meninggalkan perempuan – perempuan itu. Ara yang kini mensejajarkan langkah kakinya dengan Rekha menghela nafas panjang, seperti bebannya terangkat saat ini. Ternyata Bagas mengantar Daffa ke rumahnya dengan menggunakan mobil Rekha. Karena hari ini Rekha dan Bagas berangkat bersama.
Saat mereka sampai di parkiran, Ara melihat Revan yang sedang menunggu dirinya. Karena terlalu sibuk memikirkan Daffa, Ia melupakan janji dengan Revan. Kini Ara berjalan kearah Revan yang di mana motor Daffa terparkir tidak jauh dari motor Revan.
“Sudah siap? Ayo kita pergi.” Ucap Revan dengan semangat sambil memberikan dirinya helm.
Ara yang saat ini merasa bersalah karena tidak memberi tahu Revan sebelumnya bahwa ia tidak bisa pergi menonton hari ini. Membuat dirinya bingung harus bagaimana meminta maaf kepada Revan.
“Revan, maaf,” Lirih Ara sambil menatap mata Revan.
“Gua nggak bisa pergi. Daffa lagi sakit gua mau jenguk dia. Maaf sudah bikin lo nunggu lama” Melihat tatapan Revan yang seperti kecewa membuat Ara merasa bersalah.
Ia juga tidak ingin membuat Revan kecewa terhadap dirinya. Namun, ia tidak bisa meninggalkan Daffa saat ini. Dirinya sendiri belum mengetahui bagaimana keadaan Daffa sekarang. Jika ia memaksakan diri untuk pergi bersama Revan akan sangat percuma karena hanya raganya yang disana namun jiwanya tetap menghawatirkan Daffa.
“It’s Okey, Ra. Salam buat Daffa, semoga cepat sembuh.”
Ara hanya mengangukkan kepalanya lalu menerima helm yang diberikan oleh Rekha. Dan segera meninggalkan parkiran sekolah diikuti mobil Vanessa dibelakangnya.
“Brengsek.” Umpat Revan sambil meninju angina.
****
Ara dan Rekha telah sampai di rumah Bagas. Rumah dengan 2 lantai yang memiliki gaya modern ini menampilkan kesan yang nyaman. Ara dengan sopan memasuki rumah Bagas, tetapi entah sedang dimana pemiliknya. Rekha mengajaknya menaiki tangga ke lantai 2, dimana ada 2 kamar disini. Rekha membuka salah satu kamar yang didalamnya ada Daffa yang sedang tertidur.
“Lo masuk aja kedalam. Gua nunggu teman-teman lo dibawah dulu.” Ucap Rekha. Ara hanya mengangukkan kepalanya.
Berjalan dengan pelan, Ara terus menatap wajah Daffa yang terlihat pucat. Duduk di tepi kasur dengan sangat hati-hati, ia takut membangunkan Daffa. Saat tangan Ara terulur untuk memegang keningnya, Daffa membuka matanya.
“Hai.” Sapa Daffa dengan tersenyum.
“Kenapa nggak bilang kalau sakit? Kenapa maksaiin diri buat datang ke sekolah?!” Nampak raut kesal bercampur cemas yang kini Ara tunjukkan.
Daffa tersenyum lemah mendengar ucapan gadis di depannya ini. “Gua nggak tahu klao bakalan seperti ini.”
“Setidaknya tadi pagi lo bisa bilang ke gua kalau lo lagi sakit. Bisakan?!” Entahlah mengapa dirinya bisa se-panik ini. Seharusnya dia cukup lega karena Daffa sudah terlihat baik-baik saja sekarang walaupun masih terlihat lemas.
“Gua cuman demam, Ra. Jangan khawatir.”
“Siapa juga yang khawatir. Gua cuman takut kalau misalnya tadi pagi lo pingsan dijalan gimana? Kan membahayakan nyawa kita Daf.”
“Bilang aja khawatir Ra. Gengsi amat.” Ujar Daffa sambil terkekeh.
“Siapa yang gengsi coba?. Tau ah bodo amat.” Ucap Ara denga kesal. Saat Ara sudah berdiri dan hendak pergi meninggalkan Daffa. Tiba-tiba tanganya di tarik oleh Daffa membuat dirinya tidak seimbang sehingga jatuh tepat di atas tubuh Daffa membuat dirinya dapat mendengar detak jantung Daffa yang berdebar sangat cepat.
Saat Ara mencoba untuk berdiri, ia menyadari bahwa dirinya terlalu dekat dengan wajah Daffa. Waktu yang kini seolah berhenti, membuat tatapan mereka berdua terpaku pada satu sama lain. Entah siapa yang memulai, kini wajah mereka semakin mendekat sehingga menipiskan jarak di antaranya.
“Oh my gosh!!.” Teriakan Stella membuat Ara mendorong d**a Daffa dan buru-buru menjauhkan dirinya. Ara langsung berdiri menjauhi ranjang Daffa. Ara hanya memegangi jantungnya yang berdebar sangat cepat sama seperti jantung Daffa tadi. Bukan sekali dua kali jantungnya berdebar seperti ini saat di dekat Daffa. Ada apa dengan jantungnya ini?.
Ara kini menjadi salah tingkah setelah teman-temannya memergoki dirinya yang hampir saja berciuman dengan Daffa. Malu itu yang tengah Ara rasakan.
“Cieileh. Sakit aja masih bisa modus lo Daf.” Ucap Mita dengan nada menggoda keduanya.
“Daf buru-buru amat bikin ponakan buat guanya.” Ucapan Bagas sontak saja membuat Mita dan Stella tertawa dengan keras sedangkan Rekha dan Vanessa hanya mampu tersenyum menanggapinya.
“Keluar sana lo pada. Gua mau tidur kepala gua pusing.”
“Cie ada yang salting nih. Tau deh yang mau berduaan sama Ara. Ayo guys kita keluar, takut ganggu.” Sambil tertawa Stella menggoda keduanya.
“La!” Ara yang teriak tertahan memcoba menghentikan godaan dari Stella. Bisa dipastikan wajahnya pasti memerah karena menahan malu. Melihat Daffa yang terlihat biasa saja membuat ia menghembuskan nafas agar menjadi sedikit rileks.
****
Mereka semua kini tengah berada di ruang tamu menghabiskan cemilan yang sengaja di beli oleh Bagas saat mengetahui mereka semua akan datang. Vanessa yang menyadari Daffa yang kini akan menuruni tangga, langsung berdiri untuk membantunya.
“Sini gua bantu.” Belum sempat Daffa menjawab, Vanessa sudah memegang lengannya.
“Terima kasih.” Ucapnya setelah ia sudah duduk di salah satu sofa. Vanessa tersenyum dan mengangukkan kepalanya.
“Kenapa turun?” Tanya Rekha.
“Bosen.”
“Dasar bandel bukannya istirahat.” Sindir Ara sambil memutarkan bola matanya.
Hening. Itu yang kini terjadi di ruangan ini. Tidak ada obrolan yang terjadi, membuat Stella yang memang pada dasarnya tidak bisa diam menjadi bosan sendiri.
“Main ToD yok.”
“Gak!!” Kompak Bagas, Mita dan Vanessa menjawab. Membuat Stella memanyunkan bibirnya. Permainan yang seru tapi cukup mematikan.
“Dih pengecut!.”
“Tadi di parkiran Revan benaran nungguin lo?” Tanya Vanessa yang penasaran.
“Ada apa dia nungguin lo?” Ucap Stella dengan semangat melupakan kekesalannya tadi.
Ara melirik kearah Daffa terlebih dahulu. Lelaki itu sedang menutup matanya “Gua ada janji nonton sama dia.”
“Hah?!” Kompak Mita, Stella dan Vanessa yang kaget.
“Sejak kapan lo dekat sama Revan?” Tanya Mita.
“Cewek-cewek kalau ngobrol kaya gini toh ternyata.” Ucap Bagas mengalihkan fokusnya dari bermain game online bersama Rekha ke perempuan-perempuan di depannya ini.
“Diam deh lo, main game aja sono. Nggak usah ikut obrolan cewek.” Sengit Stella kepada Bagas.
“La, jangan terlalu membenci nanti jatuh cinta loh.” Ucap Vanessa dengan tersenyum geli.
“Ogah.”
“Sdah, sudah. Jadi lo benar-benar sudah dekat sama Revan?” Lerai Mita menghentikan ucapan Stella dan Bagas.
“Enggak tahu Ta. Baru aja mau kencan sudah gagal” Jawab Ara sambil tertawa. Disisi lain Daffa mendengarkan semua obrolan teman-temannya ini. Dirinya hanya terlalu lemah untuk ikut mengobrol.
“Guys ayo balik sudah sore.” Semuanya kini menganggukkan kepala menyetujui ucapan Vanessa.
“Daff kita semua balik dulu ya. cepat sembuh.” Ucap Vanessa mewakili teman-temannya.
“Gua balik dulu ya. obatnya diminun, jangan ke sekolah kalau belum sembuh. Jangan membantah!” Perintah Ara seperti ibu yang memarahi anaknya dan Daffa hanya bisa pasrah dengan mengangukkan kepalanya.
“Cepet sembuh.” Ucap Ara dengan tulus sambil mengelus kepala Daffa.
“Ayo gua anterin Ra.”
“Gua balik bareng Vanessa aja Kha. Makasih.” Tolak Ara kepada Rekha.
“Bagas, Rekha gua titip Daffa ya. Marahin aja kalau dia bandel.” Pesan Ara setelah sampai di pintu keluar.
“Siap bu Boss. Laksanakan! Noh dengerin tuh kata Ara” Jawab Bagas patuh.
Ara kini sudah menghilangkan di balik pintu. Dan tanpa mereka sadari Daffa tersenyum penuh makna setelah melihat perhatian Ara tersebut.