Masalah Vanessa

1876 Kata
Ara yang bersiap akan tidur, tiba-tiba saja fikirannya melintas membayangkan kejadian siang tadi. Membuat dirinya tidak bisa menghentikan senyumannya hingga pipinya kini merona merah. Menyadari kebodohannya Ara cepat-cepat mengetuk-etuk kepalanya menyadarkan dirinya. “Apa yang lo pikirin sih Ra?” Omelnya kepada diri sendiri. Entahlah hanya dengan memikirkan hal itu saja membuat jantungnya kembali berdegup sangat kencang itu yang Ara rasakan saat memegang dadanya saat ini. Bingung dengan dirinya sendiri membuat Ara menjadi semakin dilema. Astaga apa yang tengah hatinya ini inginkan? “Apa iya gua suka sama Daffa?” Tanyanya pada diri sendiri. Ara yang merasa setiap kali bersama Daffa ia merasakan ke nyaman. Daffa lelaki pertama yang membuat Ara merasa ingin mengenal lebih dalam saat itu. Bukan, bukan karena parasnya yang tampan tetapi ada hal yang membuat Ara saat itu benar-benar ingin berteman dengannya. Seolah memang mereka ditakdirkan untuk bertemu satu sama lain untuk saling melengkapi. “Arrgghh!!” Teriak Ara frustasi sambil tanganya mengacak-acak rambutnya. “Daffa sahabat lo Ara! Jangan ngerusak persahabatan karena fikiran konyol lo ini deh.” Ucap Ara sambil menarik nafas sedalam-dalamnya dan membuangnya perlahan. “Lo suka Revan. Iya Ara, lo suka Revan bukan Daffa. Lo harus bisa lupakan kejadian siang ini, Harus!” Mencoba menenangkan dirinya sendiri dari ke bimbangan yang tengah ia rasakan malam ini. Ara memutuskan untuk tidak pernah menganggap kejadian siang tadi itu ada. Kemudian ia memaksakan diri untuk memejamkan matanya dengan segala fikiran yang ada. ***** Hari ini Ara berangkat sekolah sendiri menggunakan mobilnya. Mobil yang diberikan orang tuanya saat Ara genap berusia 17 tahun. Tetapi karena selama ini Ara selalu berangkat bersama Daffa membuat dirinya jarang menggunakannya. Ara yang berjalan di koridor dengan tenang sambil memainkan ponselnya untuk mengirimkan Daffa pesan. “Gimana, sudah baikan? Cepat sembuh.” Memasukkan kembali ponsel ke dalam kantong seragamnya, Ara terus berjalan kearah kelasnya. Di kelasnya seperti biasa terjadi kegaduhan. Mulai dari sang ketua kelas yang memeriksa kebersihan kelas hingga salin menyalin tugas. Ara terus berjalan tanpa memerdulikan kegaduhan itu hingga duduk di kursinya. “Bawa mobil Ra?” Tanya Mita sembari melepaskan earphone-nya. Ara menoleh pada temannya itu, kemudian ia menganggukan kepalanya. Matanya kini beralih ke gadis yang duduk di sebelah Mita, tampak murung. Ara yang bertanya kepada Mita melalui matanya hanya mendapatkan gelengan kepala. “Nes? Lo baik-baik aja?” Ujar Ara hati-hati takut membuat gadis itu marah. “Gua baik kok.” Jawab Vanessa tersenyum. Ara yang melihat gadis ini memaksakan diri untuk tersenyum tetapi matanya terlihat sayu membuat Ara menyadari temannya ini tengah memiliki masalah yang tidak ingin ia ceritakan. Tidak ingin memaksa Vanessa untuk bercerita Ara hanya mengangukkan kepalanya lalu menghadap ke depan kembali. temanya ini butuh waktu untuk sendiri. “Morning Class!.” Teriak Stella di depan pintu. Seperti menjadi kebiasaan Stella, gadis itu ketika sampai kelas akan selalu berteriak. Entah ada yang menjawabnya atau tidak ia tidak peduli. Gadis itu berkata itu adalah semangat dirinya ketiga pagi untuk melalui hari ini. Stella yang berjalan dengan santai layaknya model di atas panggung kearah tempat duduknya. Baru saja menjatuhkan bokongnya, sang ketua kelas mendatangi kursinya membuat Stella masa bodoh. Stella yang tahu sang ketua kelas menyukainya dengan pedenya mengibaskan rambut dengan gaya angkuhnya. “Ada apa?” Ujarnya dengan nada yang sok jual mahal. “Lo hari ini piket. Kenapa datangnya siang-siang?.” Ucap sang ketua kelas dengan tegas. Stella yang mengira sang ketua kelas akan mencari perhatian seperti biasanya kini menahan malu. Dirinya lupa bahwa hari ini jadwal dirinya piket. Ketua kelas mereka adalah orang yang professional tidak pernah mengistimewakan temannya yang melanggar aturan bahkan orang ia sukai pun tidak ada tolerin dalam kamusnya. “Mampus. Kepedean sih lo.” Ledek Ara sambil tertawa sedangkan Mita dan Vanessa hanya geleng-geleng saja. “Diem Ra,” Ucap Stella menoleh ke teman sebangkunya itu. “Iya. Iya. Ini gua mau piket. Sabar kenapa, gua cuman mau taro tas dulu.” Ketus Stella kepada sang ketua kelas. Ia yang merasa malu hanya menutupi dengan cara menjawab dengan ketus. **** Bel pulang telah berbunyi, secepat kilat pula para murid berjalan keluar setelah guru dikelas keluar. Berbeda dengan Ara dan ketiga temannya, mereka lebih memilih berdiam diri di kelas terlebih dahulu. Mereka terlalu malas untuk berdesak-desakan di parkiran saat pulang sekolah. “Ke mall yuk. Sudah lama nih kita nggak hangout.” Ucap Stella. “Gua sih ayok ayok aja.” Balas Mita. “Lo gimana Nes?” Tanya Ara kepada Vanessa yang hanya diam seharian ini. “Kalian aja. Gua balik aja deh.” Jawabnya lemah. “Yah. Nggak seru kalau kita nggak lengkap Nes. Lo tahu sendiri Mita nggak suka terlalu lama mutar-mutar. Ara masih mending sih, tapi ya nggak seperti lo yang bisa ngimbangin gua. Apalagi kalau sudah lihat diskonan.” Ucap Stella sambil tertawa. “Tapi La. Gua-” “Ayolah Nes Please. Gua lagi pengen cuci mata nih, cuman lo yang se-frekuensi sama gua” Ujar Stella menyakinkan dengan senyum yang tidak pernah pudar di bibirnya. “Nah benar tuh kata Stella. Lagian lo hari ini kaya mayat hidup tahu nggak, nggak kaya Vanessa yang biasanya.” Mau tidak mau Vanessa mengangguk lirih. Dirinya tahu temannya ini hanya ingin membuat dirinya melupakan masalahnya sejenak. “Yes!!” Dengan cepat Stella langsung memeluk Vanessa. “Gua mau ke toilet dulu deh. Tungguin gua di parkiran ya.” Ujar Stella berjalan meninggalkan kelas. “Ikut” Teriak Mita menyusul Stella. Kini tinggalah Ara dan Vanessa di kelas. Ara yang sedari tadi hanya diam memperhatikan teman-temannya berbicara. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Vanessa, membuat Vanessa yang tahu dari tadi Ara terus menatapnya merasa risih. “Ada Ra?” Tanya Vanessa hati-hati. “Gua tahu lo lagi ada masalah. Jangan sungkan untuk cerita sama gua Nes. Ingat lo nggak sendirian, gua selalu ada buat lo. Hubungi gua kalau lo benar-benar butuh teman, kapanpun itu.” Ucap Ara sambil menggenggam tangan Vanessa. Gadis itu hanya terus menunduk dan mengangguk. **** Mereka telah tiba di mall. Diantara mereka hanya Stella dan Vanessa yang biasanya paling semangat untuk berbelanja. Namun kali ini Vanessa benar-benar tidak bersemangat, tubuhnya berada disini namun entah dimana jiwanya. Jadi mereka hanya duduk di salah satu café yang berada di dalam mall ini. “Nes, ada masalah? Tumben banget nggak semangat hari ini?” Ucap Mita hati-hati. Vanessa yang tersadar dari lamunannya kaget saat Mita memegang pundaknya. “Eh iya kenapa Ta?” Vanessa balik bertanya. “Cerita aja Nes. Kita siap dengarin cerita lo, jangan di simpan sendirian.” Ujar Stella menimpali. Vanessa yang memang belum siap untuk cerita hanya menggelengkan kepalanya. Membuat mereka mengerti bahwa gadis ini butuh waktu. “Gua.. Gua balik duluan ya.” Ucap Vanessa langsung mengambil tasnya dan meninggalkan ketiga temannya tersebut. “Nes.. Vanessa!!” Teriak Stella membuat semua pengunjung kini menatap kearah mereka. “Gua punya perasaan nggak enak. Ayo kita ikutin aja dari belakang.” Ungkap Ara tiba-tiba membuat semuanya menyetujui saran Ara. Mita dan Stella sedari awal memang sudah berangkat bersama Ara. Kini mereka mengikuti Vanessa dari belakang menggunakan mobil Ara. Mereka semua mengkhawatirkan kondisi Vanessa, tidak biasanya Vanessa tidak pernah cerita masalahnya. Selama ini Vanessa selalu cerita apapun masalahnya. “Vanessa balik ke rumah ternyata.” Ucap Stella merasa lega temannya ini pulang kerumah dan tidak berbuat yang macam-macam. Begitu juga dengan Mita yang bisa menarik nafas lega, tetapi tidak untuk Ara. Seperti ada yang aneh Ara langsung turun dari mobil dan memasuki rumah Vanessa. Mita dan Stella yang bingung ikut turun mengejar Ara. “Ra, kenapa?” Panik Stella saat sudah menyamai langkah Ara. “Sssttt” bisik Ara sambil menunjuk kedalam rumah Vanessa. Di rumah Vanessa terdapat banyak lelaki dewasa memaki pakaian serba hitam. Seperti preman yang ada di televisi, badan mereka besar dan tegap ditambah otot yang tercetak jelas di bajunya. Mereka kini berada disamping pintu masuk yang tidak terlihat oleh orang yang ada di dalam membuat posisi mereka aman. ­“Kalau kalian tidak bisa membayar dalam waktu satu minggu. Bos kami ingin anak anda sebagai gantinya!” Wajah kaget tampak jelas di wajah Ara, Mita dan Stella. Vanessa adalah anak tunggal, jadi yang dimaksud salah satu preman tersebut adalah Vanessa. “Tolong jangan ganggu anak saya. Biarkan saya saja sebagai gantinya” mohon papa Vanessa. Disana nampak Vanessa dan mamanya sedang berpelukan mencoba menguatkan satu sama lain, isak tangis mama Vanessa terdengar lirih di telinga mereka. Setelah berkata seperti itu lelaki itu pergi meninggalkan rumah Vanessa. Ara, Mita dan Stella menghampiri keluarga Vanessa. Vanessa yang kaget mengetahui teman-temannya berada di rumahnya. Mencoba tegar mamanya Vanessa tersenyum menyambut kedatangan teman anak tersebut. “Nessa, ajak teman kamu ke kamar ya.” Ucapnya sambil membelai rambut anaknya dengan sayang. Vanessa menaiki tangga menuju kamarnya diikuti mereka semua. Setelah sampai di kamar Stella langsung memeluk Vanessa yang menahan tangis. Pecah sudah air mata yang dari tadi Vanessa tahan untuk menguatkan mamanya. “Masalah apa Nes, cerita ke kita. Lo sudah nggak bisa bilang nggak ada masalah. Kita sudah lihat dan dengar sendiri.” Ujar Ara dengan bijak setelah Vanessa sudah merasa tenang dan bisa di ajak berbicara. “Papa..” Ujar Vanessa terputus-putus karena sesak di dadanya. Stella tidak pernah melepaskan pelukannya dari Vanessa mencoba menguatkan temannya itu. “Papa punya utang sama rentenir. Perusahaan papa hampir bangkrut karena ketipu oleh temannya sendiri sehingga papa meminjam uang dari rentenir itu.” Ungkapnya sambil menangis. “Berapa?. Lo bisa minjem duit papa gua dulu Nes” “Banyak Ra. Bukan cuman ratusan juta, papa meminjam uang 1 milyar. Itu belum sama bunganya, belum lagi bayar karyawan.” Balas Vanessa lirih. Mendengar itu membuat Ara, Stella dan Mita memikirkan jalan keluarnya. “Sorry Nes, keluarga gua nggak sekaya itu. Bokap gua cuman punya perusahaan kecil” Sedih Mita sambil menggenggam tangan Vanessa. Ara benar-benar bingung harus bagaimana. Ia mengambil ponsel yang berada di tas di atas kasur Vanessa. Kemudian berjalan kearah balkon kamar untuk menelpon papanya. “Papa gua bakal investasi di perusahaan papa lo. Dan dia mau meminjamkan uang membayar hutangnya ke papa lo. Hutang bisa di bayar setelah kerjasama ini berjalan lancar Nes.” Kaget mendengar pernyataan Ara, Vanessa langsung berdiri dan menghampiri Ara. “Lo serius Ra?” Hanya anggukan yang diberikan Ara, membuat mereka bernafas lega kali ini. “Ayo kita bicaraiin sama orang tua lo.” Ajak Ara. “Beda ya kalau punya teman kaya mah. Tinggal telfon urusan selesai.” Canda Stella setelah menghapus air matanya. Mita hanya geleng-geleng kepala melihat temannya yang satu ini. Ara hanya tersenyum saat Stella berbicara seperti itu. Selalu ada hal yang harus dikorbankan bukan untuk bisa memenuhi itu semua?. **** Setelah berbicara dengan kedua orang tua Vanessa, mereka semua memutuskan untuk pamit pulang. Vanessa mengantarkan mereka semua sampai kearah mobil Ara yang terparkir diluar pagar rumah. “Ara, gua mau bilang makasih banyak untuk semua ini Ra. Gua nggak tahu kalau nggak ada lo nasib keluarga gua gimana.” “Itu gunanya sahabat Nes. Selalu ada di saat lo susah maupun senang.” Ungkap Ara sambil memegang kedua pundak Vanessa. Kini mereka berpelukkan di susul Stella dan Mita. Ara melepaskan pelukannya “Lain kali kita harus lebih terbuka. Beban akan terasa ringan saat kita mau berbaginya. Jangan malu untuk bercerita mau seberat apapun itu. Kita bisa sama-sama cari solusinyakan?” Mereka semua menganggukkan kepalanya dan kembali berpelukkan lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN