Ara dan Revan

1551 Kata
Malam ini jalanan nampak terlihat sepi. Masih pukul 7 tetapi langit sudah tampak gelap sekali menandakan akan turunnya hujan. Ara masih dalam perjalan pulang setelah mengantar kedua temannya. Di pertengahan perjalanan mobil yang Ara kendarai mengalami masalah. Menepikan mobil, Ara turun mengecek keadaan mobil. “Sial!” Umpat Ara saat melihat ban mobilnya pecah. Menoleh ke kanan kiri berharap ada yang bisa di mintaiin pertolongan. Namun nihil tidak ada pengendara yang lewat sama sekali. Masuk kembali ke dalam mobil untuk mencari ponsel dan betapa sialnya ia ponselnya telah mati. “Double s**t!” Sekali lagi u*****n keluar dari mulutnya. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan, ia hanya berharap seseorang dapat menolongnya.Berharap seorang pangeran tampan membantu putri pikirnya konyol. Suara gemuruh di langit menandakan sebentar lagi akan turun hujan membuat Ara kembali memasuki mobil. Pasrah dengan keadaan Ara hanya mampu menenggelamkan wajahnya pada stir mobil. Hampir saja dirinya tertidur karena merasa lelah hari ini, seseorang mengetuk kaca membuat Ara kaget dan langsung membuka dengan secercah harapan datang padanya. “Loh Ara?” Kaget Revan, Lelaki yang mengetuk kaca mobil. “Ban mobil lo pecah?” Hanya anggukkan kepala yang dapat Ara berikan. Dirinya terlalu lelah tetapi senang juga. Pikiran konyal yang tadi ia pikirkan benar-benar terjadi. Seorang pangeran datang menyelamatkan putrinya. Revan yang bingung Ara hanya tersenyum menatap dirinya melambaikan tangan diwajah Ara. “Ra? Ara?” “Eh iya Van. Ban mobil gua pecah.” Ujarnya dengan cengiran khasnya. “Di mobil ada ban serep sama dongkrak nggak?” Mengangguk, Ara keluar dari mobil kemudian membuka bagasi mobil disana biasanya terdapat banyak sekali alat-alat. Papanya selalu memasukkan barang-barang seperti itu takut dibutuhkan sewaktu-waktu, seperti sekarang. “Yang inikan?” Ucap Ara memberikan dongkrat kepada Revan yang sedang menurunkan ban serep dari mobil. Ara yang kini fokus menatap Revan yang sedang membetulkan mobil tidak berhenti tersenyum. Tanpa di duga hujan kembali membasahi bumi membuat Ara panik tetapi tidak dengan Revan. Lelaki itu masih tetap fokus membetulkan ban mobilnya. “Van hujan, berhenti dulu. Ayo masuk ke mobil dulu.” “Lo masuk aja ke mobil Ra biar gua selesaiin ini dulu.” Ara kembali ke dalam mobil mencari benda yang paling ia butuhkan saat ini. Seingatnya dirinya selalu menyediakan payung di dalam mobil. “Nah ketemu!” Serunya pada diri sendiri. Ara menghampiri Revan kemudian memayungkan kepada Revan dan dirinya. payung yang tidak terlalu besar tersebut membasahi tubuh bagian belakang Ara. Bisa saja dirinya terlalu dekat dengan Revan agar tubuh bagian belakangnya tidak basah. Tetapi dirinya tidak bisa terlalu dekat dengan Revan takut menggangu lelaki itu. Setelah Revan telah selesai mengganti ban, mereka berdua masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil ara mencari handuk kecil atau apa saja yang bisa di pakai untuk mengeringkan wajah ia dan Revan. Hanya ada tisu di dalam mobil, Ara mengambil beberapa helai untuk mengelap wajah Revan. Saat Ara tengah mengelap wajah Revan dari samping, tiba-tiba Revan menoleh menghadap dirinya kemudian memegang tangan Ara dengan senyuman yang sangat menawan membuat perempuan akan pingsan melihatnya. Ganteng. Ungkap Ara di dalam hati tetapi hanya itu saja tidak ada debaran yang begitu berarti saat bersama Revan berbeda saat ia bersama Daffa. Ara langsung menarik tangan yang di genggam Revan tadi. “Kita tadi romatis ya? satu payung berdua.” Kekeh Ara mengajak Revan berbicara untuk menghilangkan ke canggungan yang terjadi. “Haha baru kaya gitu aja sudah bilang romantis. Mau yang lebih romantis?” Tanya Revan. Ara merasa kini pipinya merah merona ditatap seperti itu oleh Revan. Bagaimana pun Revan adalah lelaki yang selama ini Ara kagumi. Jika ini jalan yang tuhan berikan untuk dirinya menjadi lebih dekat dengan revan, why not?. “Boleh. Boleh!” Nada yang Ara berikan memang terkesan seperti bercanda namun tidak dengan hatinya. Dirinya ingin memastikan bahwa Revanlah orang yang benar-benar Ara sukai bukan Daffa. “Ehmm. Makasih ya sudah mau bantuin gua. Enggak tahu apa jadinya gua kalau nggak ada lo.” “Sama-sama.” “Dengan cara apa gua bisa balas lo Van?” Ucap Ara menghadap kearah Revan demikian dengan lelaki itu yang juga menghadap Ara. “Boleh gua minta 2 hal?” Ara menganguk tanda menyetujui. “Pertama, bisakah kita pergi nonton?. Gantikan rencana kita yang sempat batal itu.” terlihat kesedihan di wajah Revan saat berbicara. Apakah lelaki ini seterluka itu saat ia membatalkan nontonnya?. “Maaf, kemarin gua benar-benar khawatir sama Daffa. Lo nggak usah khawatir rencana nonton kita pasti berjalan kok.” Ucap Ara memberikan harapan kepada Revan yang kemudia diangguki lelaki itu. “Yang kedua, bolehkan gua mengajak lo untuk dinner?.” Menganguk Ara menjawab “Gua bakal penuhi permintaan lo ini Van, dimulai dengan menonton lalu dinner sebagai ucapan terima kasih gua.” Hujan telah berhenti membuat Revan keluar dari mobil Ara menuju motornya yang berada tepat di depan mobil Ara. Ara kemudian menurunkan kaca mobil untuk mengucapkan terima kasih. “Terima kasih atas bantuannya Van.” Revan mengangguk dan mengacak rambut Ara dari luar mobil. “Hati-hati dijalan.” Menaikkan kaca mobil, Ara menginjak gas dan meninggalkan Revan. Lelaki itu kemudian menaiki motornya untuk segera pulang juga. **** Udara yang sejuk ditambah kicau burung menambah cerahnya pagi mengawali hari untuk selalu bersemangat hari ini. Daffa yang hari ini sudah kembali ke sekolah membuat banyak siswi menjadi heboh karena kehadirannya. Daffa dengan santai melangkah di koridor bersama Bagas menuju kelas. Beberapa meter di hadapan Daffa seorang gadis sedang berbicara bersama seorang lelaki. Seperti mengenal gadis itu, Daffa memincingkan mata. Ah ya benar itu Namara. Sahabatnya yang sejak kemarin tidak dirinya lihat. Ada rasa rindu yang kini menyerang dirinya. Berjalan dengan tenang, Daffa menghampiri Ara. Ketika telah berhadapan dengan gadis itu betapa terkejut melihat lelaki yang bersama Ara itu. Lelaki itu memang membelakangi Daffa sehingga ia tidak dapat dengan jelas wajah siapa yang ada di baliknya. “Daffa.. Lo sudah masuk? Kok nggak bilang?” Sapa Ara setelah menyadari dirinya ada di hadapannya kini. Mencoba menetralkan wajahnya kembali Daffa hanya tersenyum kemudian melirik Revan lelaki tersebut. “Tadinya mau kasih kejutan. Eh malah gua yang dapat kejutan.” Balas Daffa cuek sambil mengangkat bahunya. Kemudian berjalan menaiki tangga untuk menuju kelasnya diikuti Bagas di belakangnya. Ara yang bingung dengan perkataan Daffa hanya mampu menaiki alis dan membiarkan saja Daffa berpergi. **** Suara riuh yang berasal dari kelas Daffa menjadi hening ketika Daffa memasuki kelasnya. Melihat mejanya yang penuh dengan makanan dan bunga membuat Daffa hanya mampu menghembuskan nafasnya. Daffa yakin ini ulah Bagas yang memberi tahukan bahwa dirinya akan kembali bersekolah hari ini. Membuat beberapa penggemarnya disekolah mencoba berempati padanya. “Lo pastikan yang kasih tahu kemereka?” Tuduh Daffa kepada Bagas dengan sorot mata tajam. Lelaki itu menyengir dan hanya garuk-garuk kepala. “Damai bos. Damai.” Sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk kata peace. “Tanggung jawab. Bersihin itu sekarang!” Perintah Daffa. Bagas buru-buru mencari plastic untuk membukus semua makanan dan bunga yang ada di meja Daffa. Rekha yang hanya menatap sebentar sebelum melanjutkan bermain game di ponselnya. “Bantuin gua kenapa Kha.” Gerutu Bagas yang melihat temannya hanya cuek terhadap sekitar. “Enggak.” Singkat, jelas, dan padat yang Rekha berikan. “Astaga. Jangan cuek-cuek Kha kasian pacar lo nanti. Gua takut dia menjadi menggigil karena kulkasnya sedingin ini.” Bergedik ngeri dengan temannya yang satu ini. Bagas hanya mengedikkan bahu dan terus membersihkan meja Daffa. **** Jam istirahat Daffa manfaatkan untuk bertemu dengan pak Andi untuk membahas masalah kemarin yang sempat tertunda karena pak Andi mendapat panggilan dari kepala sekolah. Memasuki ruang guru Daffa mencoba mencari pak Andi. Beliau sedang membolak-balikkan buku nilai pada tgas murid-murid. “Permisi pak, boleh minta waktunya sebentar.” Sapa Daffa dengan sopan. “Eh Daffa. boleh, boleh. Silahkan duduk.” “Maksud kedatangan saya, saya ini membahas masalah yang kemarin pak. Maaf baru bisa hari ini.” “Iya tidak papa. Saya tahu kamu baru sembuh sakit.” “Jadi begini pak. Saya tidak bisa memenuhi permintaan bapak, saya merasa saya tidak bisa bermain basket.” Ungkap Daffa menjelaskan. “Saya tahu kamu pernah bermain basket saat SMP. Saya lihat juga kamu memiliki potensi untuk itu. Apa kamu tidak mau memberikan persembahan terakhir sebelum kamu lulus?” Ujar pak Andi mecoba membujuk Daffa. “Tapi-“ “Kita kekurangan orang yang memiliki skill seperti kamu Daf. Edo seorang playmaker namun dia tidak bisa mengikuti turnamen karena sedang mengalami cidera dengkul dan harus istirahat total selama 6 bulan. Sedangkan turnamen 2 bulan lagi. Kamu memiliki skill sebagai playmaker sekaligus shooter. Paket komplit ada di kamu. Apa saya harus memohon dulu kepada kamu?” Potong pak Andi cepat saat Daffa akan menolak menyetujui. Mendengar pernyataan terakhir pak Andi membuat Daffa merasa tidak enak. Beliau adalah seorang guru tidak sepantasnya memohon kepada murid seperti dirinya ini. Menghela nafas dan menghembuskannya pelan-pelan untuk memantapkan hatinya. “Baik pak saya bersedia. Namun saya sudah lama tidak bermain basket.” “Tidak apa-apa. Kita bisa latihan untuk kembali memulihkan fisik kamu. Kita bisa mulai besok untuk mengejar ketertinggalan kamu.” Ucap pak Andi meyakinkan Daffa. Daffa sendiri hanya menganguk kepalanya. “Kalau begitu saya permisi dulu pak.” Setelah mendapat anggukan persetujuan dari pak Andi, Daffa keluar dari ruangan tersebut. Tanpa mereka sadari di salah satu meja guru terdapat seorang gadis yang mendengarkan pembicaraan tersebut. Senyum terpancar jelas di wajahnya dan mengikuti Daffa keluar dari ruangan tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN