Sedang asyik berbicara mengenai drama korea yang saat ini sedang booming, tiba-tiba Stella datang menghampiri Ara dan teman-temannya. Gadis itu berjalan kearah mereka dengan sedikit berlari. Masih dengan nafas yang masih tersenggal-senggal, Stella mengambil asal minuman yang ada di atas meja.
“Pelan-pelan La.” Ucap Mita memperingati.
“Gua punya berita heboh.” Salah satu kebiasaan Stella jika ingin bergosip, dirinya rela berjalan bahkan berlari dengan cepat untuk memberikan informasi tersebut.
“Kalian tahu Edo anak Ips 2?” Tanya Stella, hanya Vanessa yang menganguk. Tidak untuk Mita dan Ara.
“Emang ada apa sama dia? Diputusin atau mutusin?” Ucap Mita seperti ogah-ogahan.
“Lo sama Ara serius nggak tahu Edo itu siapa?” Tunjuknya kepada mereka berdua. Ara dan Mita menggeleng kompak.
“Nes kasih tahu.” Suruh Stella memberi kode lewat dagunya. Vanessa yang bingung langsung menunjuk dirinya sendiri.
“Kenapa jadi gua La. Kan yang tahu informasinya itu lo.” Gemas Vanessa melihat tingkah temannya ini. Stella menepuk jidat merutuki kebodohannya sendiri.
“Ohiya lupa guys. Sorry” Ucapnya sambil mengancungkan 2 jari membentuk peace.
“Jadi gini. Edo itu tim basket sekolah kita. Nah dia nggak bisa ikut turnamen yang akan datang karena cidera lutut. Jadi-“
“To the point La!.” Kesal Mita memotong omongan Stella.
Stella menarik nafas melihat gadis itu memotong ucapnya. “Jadi yang akan menggantikan Edo itu adalah Daffa.” Yah gadis yang mendengar pembicaraan Daffa dan pak Andi adalah Stella sang ratu gossip di sekolahnya.
“Wah makin seru nih pangeran sekolah ikut pertandingan.” Ucap Vanessa dengan berbinar-binar.
Sedangkan Ara, ia mengerti mengapa Daffa saat itu dipanggil pak Andi. Daffa memang memiliki bakat dalam bermain basket. Dulu Daffa adalah salah satu anggota tim basket saat masih di bangku SMP dan ia pun sangat menyukai olahraga ini. Entah apa yang membuat lelaki itu tidak pernah lagi bermain basket. Terlalu banyak rahasia yang Daffa sembunyikan darinya.
****
Ara yang hendak keluar dari toilet, tidak sengaja mendengar percakapan dua orang lelaki yang berdiri tidak jauh dari tempatnya. Suara yang amat sangat Ara kenal membuat ia penasaran sehingga memutuskan untuk menguping di balik pintu kamar mandi.
“Lo benaran gabung di tim basket?”Daffa hanya menganguk.
“Bagus. Gua harap lo bisa mengatasi trauma masa lalu lo. C’mon man lo harus bisa mengatasi ketakutan terbesar dalam diri lo. Ketakutan itu harus lo dekati bukan di jauhi. Semakin lo mendekati semakin lo tahu harus bagaimana mengatasinya.” Ujar Bagas menepuk pundak Daffa kemudian meninggalkan lelaki itu.
Ara yang bingung dengan maksud perkataan Bagas terdiam di balik pintu kamar mandi, hingga suara perempuan membuyarkan lamunan Ara.
“Permisi kak, Saya mau keluar.” Pekiknya membuat Ara tersadar dan memberikan perempuan itu jalan. Ara kini menatap kembali kearah Daffa berdiri tadi, lelaki itu masih disana yang kini menatapnya dengan tatapan tajam. Karena sudah tertangkap basah Ara tidak dapat lagi menghindar membuat ia menghampiri lelaki tersebut.
“Hai.” Sapanya sambil melambaikan tangan. Terlihat sekali dirinya gugup saat ini, namun Ara mencoba untuk biasa saja. Tidak ada jawaban yang diberikan oleh Daffa.
“Lo kenapa bisa ada disini?” Mencoba untuk berbasa-basi Ara mengatakan pertanya tersebut.
“Lo mendengar semuanya?” Bukannya menjawab Daffa balik memberikan pertanyaan dengan sorot mata dingin.
Ara mengambil nafas dalam-dalam kemudian menghebuskan dengan kasar sebelum menjawab.
“Enggak semuanya. Hanya mendengar satu kalimat panjang yang Bagas ucapankan sebelum dia pergi.” Jujur Ara yang menghilangkan kepura-puraannya tergantikan wajah serius dengan menatap mata Daffa dalam.
Baru saja Daffa akan berbicara, tangan Ara sudah terangkat keatas untuk menyuruhnya diam. “Gua minta maaf nggak sengaja dengar pembicaraan kalian. Gua juga nggak bakalan maksa lo buat cerita kok. Gua bakalan nunggu lo cerita segalanya sama gua, saat lo sendiri sudah siap.” Atau bahkan gua sendiri yang akan cari tahu ada apa dengan lo. Tambah Ara dalam hati. Setelah berkata seperti itu Ara pergi meninggalkan Daffa.
****
Stella yang baru saja keluar dari perpustakaan, tidak sengaja melihat Rekha yang berjalan sendirian. Mengikuti kata hatinya, Stella seperti penguntit yang mengikuti Rekha dari belakang. Rekha berjalan kearah taman dan disana Rekha meniduri dirinya diatas rumput.
Bersembunyi dibalik pohon besar, membuat Stella bingung apa yang harus dirinya lakukan. Haruskah dirinya hanya berdiam diri seperti ini? Memberanikan diri untuk menyapa Rekha disana. Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba ada seorang perempuan yang lebih dulu menghampiri Rekha. Stella kembali mundur dan bersembunyi di balik pohon.
Menatap nanar pada pandangan yang sedang ia saksikan membuat Stella hanya mampu menundukkan kepalanya sambil memegang dadanya yang terasa sakit. Selama ini ia berfikir tidak ada satu gadis yang akan mendekati Rekha karena sifatnya yang terlalu acuh terhadap sekitar. Bodohnya ia, Rekha salah satu cowok popular di sekolahnya sangat mustahil bila tidak ada yang mencoba mengambil hatinya. Rekha memang dingin tetapi ia tidak pernah bersikap kasar terhadap perempuan.
Jadi gini rasanya patih hati. Baru aja mencoba berjuang tapi sudah di patahkan aja. Ujar Stella di dalam hati.
“Ternyata ada cewek bodoh yang sedang patah hati toh disini.” Ucapan Bagas yang membuat Stella terkejut.
Bagas berbicara namun matanya menatap kearah Rekha dan perempuan itu. Mendengar itu Stella menoleh ke belakang, betapa terkejutnya ia melihat Bagas sedekat itu padanya. Jika dilihat, mereka seperti sedang berpelukkan dengan Bagas yang memeluknya dari belakang. Menyadari hal itu, cepat-cepat Stella mendorong tubuh Bagas agar sedikit menjauh darinya takut membuat orang yang melihat mereka menjadi salah paham.
“Loh apa-apaan sih! bisa nggak jangan bikin kaget orang. Datang itu ucapin salam kek, nyanyi kek atau apalah yang penting jangan bikin kaget.” Omelan Stella membuat Bagas menutup kupingnya.
“Lagian lo juga ngapain ngintipin Rekha sama Melisa?”
“Melisa?” Tanya Stella bingung.
“Iya. Itu perempuan yang sama Rekha namanya Melisa. Lo nggak tahu tuh cewek? Ckck.” Jelas Bagas pada Stella
“Haha jangan-jangan lo suka sama Rekha kan?” Tunjuknya kepada Stella.
Stella yang panik mencoba mencari alasan untuk mematahkan ucapan Bagas. “Gua?” Tunjuknya pada diri sendiri.
“nggak mungkinlah. Gua tadi cuman lewat kali, enggak sengaja lihat Rekha sama cewek itu. Karena penasaran ya gua ngintip dari balik pohon ini,” berhenti sejenak untuk mengambil nafas.
“Ada-ada aja lo” lanjut Stella sambil tertawa hambar sambil berjalan melewati Bagas.
Bagas yang tidak percaya omongan perempuan itu kini mensejajarkan langkahnya untuk mengajak Stella berbicara. “Yakin?”
“Lo kenapa ngikutin gua terus sih!” Kesal dengan Bagas yang terus mengikuti dirinya untuk menanyakan hal-hal yang sensitif menurutnya.
Bagas berdiri di depan Stella untuk membuat gadis itu berhenti sekaligus untuk melihat reaksi Stella saat mendengar perkataan yang akan ia ucapakan.
“Rekha dan Melisa sudah bersahabat sedari kecil. Gua rasa sih Rekha punya perasaan deh sama tuh cewek.”
Terkejut dan sedih. Itu yang pertama kali Bagas lihat saat ia mengatakan kalimat barusan. Namun perempuan itu dengan cepat merubah raut wajahnya agak terlihat biasa saja. Bagas hanya tersenyum melihat perempuan dihadapnnya ini tidak berkutik. Gadis bawel dan bar-bar ini memang benar-benar menyukai sahabatnya.
“Terus apa hubungannya sama gua?.”
“Enggak ada hubungannya sih sama lo.” Sambil mengedikan bahunya ia menatap gadis di hadapannya ini. Menggemaskan, baik saat mengomel atau kesal seperti saat ini.
Stella hanya diam menatap wajah Bagas dengan tidak bersahabat, yang di tatap tetap pada sikap tengilnya. Bagas memajukan wajahnya untuk membisikkan sesuatu di telinga Stella.
“Kalau suka jangan gengsi. Akui aja. Berjuang dulu baru lo akan tahu hasilnya.”
“Astaga, tom sama jerry sudah nggak berantem lagi. Wahh senangnya.” Teriak Vanessa yang tidak sengaja melihat kedekatan keduanya.
Bagas dengan kalemnya hanya mengedikan bahunya kemudian berbalik untuk meninggalkan ketiga gadis itu. Dalam hati menertawai kepolosan Stella. Atau mungkin saja memang gadis itu yang bodoh mau saja tertipu oleh perkataannya mengenai Rekha dan Melisa.
****
Menutupi hatinya yang sedang gundah, Stella mencoba tetap tersenyum saat Vanessa mengajaknya berbicara melihat tingkah konyol Budi teman sekelasnya. Saat ini jam kosong, bu Rina guru Fisika mereka sedang sakit sehingga mereka hanya disuruh mengerjakan buku latihan di buku paketnya.
Vanessa dan Ara sedang bertukar tempat saat ini. Karena tahu kelas akan gaduh jika tidak ada guru membuat Vanessa meminta Ara bertukar tempat, ia ingin bergosip dan menertawakan sikap teman kelasnya yang seperti cacing kepanasan itu.
Ara dan Mita jika sedang fokus tidak bisa di ganggu, mereka akan mengerjakan tugas hingga selesai terlebih dulu baru bisa bergabung untuk mengobrol. Sehingga Vanessa dan Stella leih cocok jika seperti ini.
“Tumben banget La nggak ikut neriakin?” Tanya Vanessa saat melihat Stella hanya tersenyum dipaksakan.
“Ada masalah?”
“Enggak ada kok Nes. Cuman lagi konsentrasi aja sama tugas Fisika ini. Gua mau nyelesaiin ini dulu biar pulang sekolah nggak ada tugas lagi. Mau lanjut ngedrakor tsay..” Ucap Stella seperti biasanya untuk menutupi hatinya yang sedang berkecambuk dengan perkataan Bagas tadi.
“Ehm. Nes, lo kenal Melisa?”
“Melisa? Melisa siapa?” Bukannya menjawab dengan pernyatan Vanessa justru balik bertanya membuat Stella menghembuskan nafasnya kasar.
“Lupakan.” Bodoh nama Melisa pasti bukan hanya satu doang di sekolah ini.
Apa benar Rekha suka gadis itu? Lalu bagaimana dengan dirinya. apakah ia harus menghapus perasaan ini?. Memikirkan itu saja membuat Stella lemas. Dengan pikiran yang berada di awang-awang, Stella tidak sanggup menjawab soal Fisiki yang diberikan.
Menoleh ke belakang Stella mengetuk meja Ara. “Ra gua nyontek dong, please.”
“Lo kenapa? Enggak biasa nggak bisa jawab soal di latihan kaya gini. Itu soalnyakan sudah ada rumusnya dihalaman sebelumnya tinggal masukin aja.” Ungkap Ara. Membuat Vanessa memutar kursinya menghadap Mita dan Ara.
“Pikiran gua lagi nggak pada tempatnya.” Jawab Stella lemas.
“Kenapa?.” Kini Mitalah yang bertanya setelah mendengar keluhan Stella pada Ara.
“EHm..” Ucap Stella Ragu-ragu.
“Gu- Gua lagi suka sama seseorang,” Menarik nafas mencoba tetap santai saat bercerita.
“Tapi gua lihat dia lagi dekat sama perempuan.” Lirihnya sambil menundukkan kepalanya.
“Siapa cowok itu La.” Ucap Vanessa dengan gembira.
“Sorry. Belum saatnya kalian tahu.” Lirih Stella merasa bersalah. Ia dirinya belum cukup berani mengungkap lelaki yang ia sukai.
“Dekat belum tentu punya hubungan La. Cari tahu dulu kebenarannya, setelah itu semua keputusan ada di tangan lo. Tetap menyimpan perasaan atau move on.” Nasihat Ara. Semua mengangukkan menyetujui ucapan Ara barusan. Jika menyangkut hati hanya diri sendiri yang tahu baiknya kerah mana.
Mendengar ucapan Ara membuatnya sedikit lebih lega, namun tetap saja tidak bisa mengembalikan moodnya untuk mengerjakan tugas Fisika, dirinya akhirnya tetap saja menyalin jawaban Ara. Ditengah lamunanya, ia mengingat kembali perkata Bagas. Kalau suka jangan gengsi. Akui aja. Berjuang dulu baru lo akan tahu hasilnya. Yah benar yang dikatakan Ara dan Bagas.
Cari tahu kebenaranya lalu berjuang dulu baru gua akan tahu hasilnya. Ucap Stella dalam hati.
****
Parkiran seperti biasa akan selalu ramai bila jam pulang telah berbunyi. Ara yang biasanya akan menunggu hingga parkiran kosong, kini terburu-buru untuk pulang. Orang tuanya hari ini akan pulang setelah hampir 1 bulan menjalankan pekerjaan bisnisnya di Bali.
Saat Ara akan membuka pintu mobilnya, ada sebuah tangan yang menahannya. Membuat Ara menatap tangan itu.
“Ada apa?”
“Lo marah sama gua.” Daffa lelaki yang kini menahannya untuk masuk ke mobil.
“Marah? Apa yang membuat gua harus marah?” Sembari melepaskan tangan yang di pegang Daffa.
“Untuk pembicaraan yang tadi lo dengar-“
“Itu hak lo Daf. Perkataan gua masih sama jika lo belum siap gua sama sekali nggak maksa lo. Jika lo benar-benar sudah siap, kapanpun gua akan mendengarkannya.” Benar kapapun dirinya akan siap mendengarkan kisah Daffa. Tersenyum tulus Ara mengelus wajah Daffa yang masih terlihat sedikit pucat.
“Gua balik duluan ya.” Ucapnya setelah menurunkan tangannya dari wajah Daffa.
“Mulai besok, gua jemput lo lagi ya. Hari ini Bagas maksa buat tetap bareng sama dia.” Daffa yang mengacak rambutnya membuat Ara hanya menganguk saja.
Daffa membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Ara masuk. “Hati-hati dalam berkendara. Kabarin jika sudah sampai.” Lagi-lagi Ara hanya menganguk. Begitulah Daffa jika bersama Ara. Dirinya bisa menjadi sehangat matahari namu terkadang dingin seperti salju.