Dalam bayangan setiap orang menjadi anak tunggal sekaligus anak pemilik perusahaan besar yang orang tuanya sibuk dengan pekerjaan merasa sangat kesepian dan membosankan. Pada awalnya memang Ara merasa kesepian, namun saat bertemu Daffa ia merasakan kehidupan baru penuh warna.
Ara yang dituntut keadaan harus bersikap dewasa. Ia yang kini membuktikan diri bahwa ia mampu bersikap dewasa meskipun hanya pada beberapa situasi tertentu. Pada kenyataanya Ara hanyalah gadis biasa yang masih ingin menikmati masa remajanya dengan bermanja-manja ria pada keluarga dan sahabat-sahabatnya.
Dengan perasaan rindu yang membuncah, Ara mempercepat langkahnya memasuki rumah menemui kedua orang tuanya yang selama hampir sebulan tidak bertemu. Melihat papanya yang sedang duduk dengan di temani berkas-berkas yang sedang ia kerjakan membuat Ara menggelengkan kepala.
“Papa…” Teriak Ara berlari kearah pelukan papanya. Masih dengan manjanya Ara tidak mau melepaskan pelukan sang papa. Hingga mamanya muncul dari arah dapur dengan tangan membawakan satu toples kue kering kesukaan ia dan papanya.
“Wah anak gadis mama sudah pulang,” Ujarnya sambil menaruh kue di atas meja dihapadan mereka.
“Enggak kangen mama nih? Masa mamanya nggak di peluk sih.” Ara langsung berdiri dan memeluk sang mama dengan perasaan rindu yang sangat dalam.
“Aku kangen banget sama kalian.” Ucapnya tanpa melepas pelukan sang mama.
Papanya mengelengkan kepala melihat tingkah putrinya yang masih seperti bocah. Padahal umur sudah memasuki usia dewasa. Papanya kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda akibat kepulangan putrinya ini. Ara yang melihat papanya kembali berkutik pada berkas-berkas di meja melepaskan pelukan sang mama.
“Papa sudah sebulan ya kerja diluar. Tapi saat pulang pun masih kerja juga?” Ucap Ara tak habis pikir dengan papanya mengapa dirinya begitu gila kerja. Padahal papanya memiliki karyawan yang kompeten.
Melihat anaknya yang mulai merajuk, papa akhirnya mengalah dan menutup semua pekerjaan yang tengah ia lakukan demi sang putri.
“Iya, iya. Ini papa sudah nggak kerja lagi kok. Anak papa yang cantik jangan marah gitu dong.” Usaha papa membujuk dirinya membuat ia mau tidak mau tersenyum dan kembali memeluk papanya.
“Kamu ganti baju dulu gih sana. Habis itu kita makan siang sama-sama. Mama sudah masak makanan favourite kamu.”
“Wah asik..” Girang Ara saat mendengar mamanya memasak makanan favoritenya. Dengan cepat Ara menaiki tangga menuju kamarnya untuk berganti baju.
Setelah selesai mengganti bajunya, Ara segera turun menuju meja makan. Kedua orang tuanya sudah duduk manis di meja makan, melihat mama yang sedang mengambilkan papa nasi membuat Ara tersenyum. Moment seperti ini yang selalu Ara tunggu-tunggu, berkumpul dan menikamati makan bersama. Sesimple itu kebahagiaannya.
Duduk di hadapan mama, lalu mama mengambilkan dirinya nasi membuat kebahagian tersendiri baginya. Ia ingin seperti mamanya yang selalu setia pada papanya dan menjadi ibu yang perhatian pada anak-anaknya kelak. Berharap mendapatkan pasangan seperti papanya, yang setia dan selalu mencintai mamanya.
“Sekolah kamu gimana?” Tanya papa pada dirinya.
“Seperti biasa tanpa ada masalah dan kendala sedikit pun.” Jawab Ara sambil mengunyah makanannya.
“Berajar yang rajin agar nilai kamu bagus.” Mengangguk kepala sebagai jawaban yang Ara berikan.
“Kamu sudah tahukan papa mau melebarkan bisnis di Amerika?”
“Yah aku tahu.”
“Papa berharap kamu menepati janji untuk ikut kami ke Amerika melanjutkan kuliah disana.” Hanya mampu mengangguk yang Ara lakukan, Ini adalah janji yang telah ia buat saat itu agar papanya mau membantu orang tua Vanessa. Papanya orang yang sangat cerdik, kesempatan sekecil apapun akan ia manfaatkan.
“Kemarin tante Mona nelfon mama loh. Ia bilang akan segera kembali ke Indonesia.” Ujar mama memecahkan keheningan.
“Ohyah? Kapan tante Mona akan pulang ma?” Antusias yang Ara tunjukan membuat mamanya geleng-geleng kepala sambil menahan senyuman. Tante Mona adalah adik kandung mamanya yang tinggal di Amerika dengan satu orang putranya yang sangat menggemaskan masih berumur 5 tahun.
“Mama juga belum tahu. Kemungkinan dalam waktu dekat ini.”
“Wah aku nggak sabar nunggunya. Aku udah kangen banget sama Rio!.” Rio adalah putra tante Mona. Bocah 5 tahun itu sudah dianggap seperti adik kandunganya sendiri.
*****
Pagi ini Ara bangun lebih awal dari biasanya, selesai mandi ia hanya menggunakan kaos oblong dan celana pendek lalu pergi kearah dapur. Saat turun ia sudah melihat mamanya disana, ia dan mamanya berencana membuat makanan untuk sarapan. Kebiasaan yang selalu ia dan mamanya lakukan jika sedang bersama.
Bukan sarapan yang mewah yang Ara dan mamanya buat. Hanya nasi goreng biasa yang mereka sajikan. Namun kebersamaan dan ketulusanlah yang membuat makanan yang mereka hidangkan akan terasa mahal dan istimewa. Karena sangat jarang mereka bisa berkumpul dan memasak seperti ini. Setelah sarapan sudah tersedia di meja makan, Ara segera pergi menuju kamarnya untuk berganti pakaian seragamnya.
Ara yang tengah menikmati sarapan bersama kedua orang tuanya, melirik arloji yang melingkar di tangannya. Dengan tergesa-gesa Ara menghabiskan sarapan dihadapannya, biasanya jam segini Daffa akan segera sampai di rumahnya.
“Ma, Pa. Aku berangkat dulu.” Ucapnya sambil mencium tangan kedua orang tuanya.
“Ara. Tunggu itu-“ Terdengar suara motor Daffa di depan, membuat Ara buru-buru berlari keluar tanpa mendengarkan ucapan mamanya lagi.
Di depan Daffa sudah menunggu diatas motornya. Berjalan dengan sedikit berlari Ara menghampiri Daffa.
“Sorry, Udah nunggu lama ya?” Jelas saja Daffa mengeleng kepala. Dirinya baru saja sampai Ara pun tahu itu.
Daffa memberikan helm yang langsung ia terima untuk digunakan. Saat satu kakinya akan menaiki motor, mamanya memanggil dirinya membuat ia mengurungkan menaiki motor.
“Ada mah?”
“Kamu lupa bawa bekal ini,” Sambil menyodorkan wadah bekal pada Ara.
“Kata kamu, kamu bikin buat teman kamu.” Lanjut mama.
Daffa yang mengetahui bahwa dihadapannya ini mama Ara, ia menstandarkan motor, melepaskan helm untuk memberi salam.
“Halo tante. Saya Daffa temannya Ara.” Ucap Daffa sambil menyodarkan tangannya untuk menyalimi mama Ara.
Ada sedikit keterkejutan di wajah Daffa saat melihat wajah mama Ara yang menghadap dirinya saat ini. Mencoba menetrakan wajah, Daffa menyalimi tangan wanita cantik di depannya.
“Halo. Saya Almira, mamanya Ara,” sambil menerima uluran tangan Daffa.
“Wah teman kamu ganteng banget Ra. Kalian pacaran ya?” Goda Almira kepada mereka berdua.
“Mama apaan sih. Ini Daffa sahabat aku yang pernah aku ceritain.” Ucap Ara yang menjadi salah tingkah.
“Oh kamu toh yang sering Ara ceritakan. Yang membuat Ara selalu tidak sabar untuk pergi sekolah saat itu.” Ucap mama Ara sambil tertawa menggoda.
“Mama ihh.” Kesal Ara. Daffa hanya tersenyum mendengar penuturan wanita ini.
“Sudah, sudah. Pergi sana nanti terlambat.” Usir mama pada Arad an Daffa. lalu Daffa menghidupkan motor dan segera berangkat sekolah.
****
Daffa yang sejak meninggalkan perkarangan rumah Ara menjadi diam dengan segala pikiran yang tengah berkecambuk di kepalanya. Betapa terkejutnya ia saat melihat wajah Almira yang sangat mirip dengan seseorang di masa lalunya. Wajah yang sangat ia benci yang kini membuat luka lamanya terbuka lagi.
Mengapa takdir bisa selucu ini, disaat ia hampir melupakan wajah perempuan di masa lalunya, kini sosok yang begitu mirip hadir untuk mengingatkan ia kembali. Mencoba mengontrol emosi yang kapan saja siap meledak, Daffa melampiaskan dengan cara diam tanpa menjawab satupun ucapan gadis dibelakangnya.
Tiba di parkiran sekolah, Daffa mencari tempat untuk memarkirkan motornya. Tidak terlalu sulit karena parkiran sekolah mereka cukup luas. Gadis itu dengan setia masih menunggunya untuk berjalan bersama menuju kelas masing-masing.
“Nih buat lo.” Ucapnya menyodorkan bekal yang tadi sempat di bawa Almira. Menatap datar pada kotak bekal tersebut Daffa tidak kunjung mengambilnya.
“Lo benaran nggak mau nerima ini?” Kesal Ara. Lagi-lagi Daffa hanya diam menatap bekal itu.
“Iyaudah kalau lo nggak mau. Gua kasih ke-” Sambil mengedarkan matanya Ara mencari orang yang mungkin ia kenal.
“Revan.” Daffa yang mengikuti pandangan Ara seketika langsung menarik bekal yang ada di tangannya.
“Kalau emang niatnya buat gua, kenapa harus kasih ke orang!” Ucapnya tajam sambil menatap lelaki yang kini berjalan kearahnya.
“Hai Ra.” Sapa Revan sambil melirik Daffa yang memancarkan aura permusuhan.
“Hai Van.”
“Arah kelas itu kesana. Kenapa lo malah jalan kearah sini!” Desisnya tajam pada Revan.
“Sengaja. Gua memang mau nemui Ara. Enggak papakan Ra?” Ucap Revan seperti meremehkan saat membalas Daffa, namun dengan nada berbeda saat berkata pada Ara.
“Iya nggak papa Van.” Ucap Ara yang berada ditengah-tengah keduanya membuat ia bingung melihat kedua lelaki ini menampilkan aura permusuhan.
“Gua mau ajakin lo nonton sehabis pulang sekolah. Bisakan?” Dengan lembut Revan bertanya kepada Ara menghiraukan tatapan tajam Daffa kepadanya.
“Enggak bisa! Ara pulang sekolah mau pergi sama gua.” Ucapnya berlalu meninggalkan mereka berdua.
Entah mengapa dirinya tidak pernah menyukai lelaki itu berada disekitar Ara. Revan seperti hanya ingin bermain-main saja kepada Ara. Ia tidak ingin sahabatnya di permainkan oleh lelaki seperti Revan.
“Maksudnya apa tadi?” Ucap gadis itu dengan kesal.
“Yang mana?” Jawabnya cuek. Ia tahu gadis ini bingung dengan pernyataan barusan. Jangankan Ara, dirinya sendiri pun bingung mengapa tiba-tiba ia berkata seperti itu tanpa rencana.
“Yang lo bilang mau pergi sama gua pulang sekolah.” Ucapanya geregetan sendiri.
“Iya gua mau ajak lo pergi. Enggak mau? Lo lebih milih pergi sama Revan lo itu? Iyaudah silahkan.’ Ucapnya jutek.
“Lo kenapa sih! Aneh banget hari ini, lagi PMS kek cewek tahu nggak sih. Gua belum jawab lo udah jawab sendiri aja.” Ara yang menaiki sedikit nada bicaranya karena kesal dengan sikap Daffa pagi ini.
Saat gadis itu akan berlalu pergi meninggalkannya, Daffa langsung mencekal pergelangan tangan Ara agar berhenti.
“Gua mau ajak lo kesuatu tempat Ra. Mau enggak?” kini nada bicara Daffa sudah kembali melembut seperti biasanya.
“Iya gua mau. Puas!” Teriak Ara yang masih kesal padanya, lalu menghentakkan tangan agar terlepas dari cekalannya dan benar-benar pergi meninggalkan dirinya di koridor.
Daffa tersenyum melihat tingkah Ara. Sekesal apapun gadis itu padanya, ia akan selalu mengiyakan apapun yang dirinya mau. Perasaan menghangat itu hadir kembali saat dirinya bersama Ara.