Masa Lalu Daffa

1905 Kata
Tiupan angin kencang yang menerpa wajah tidak terlalu mengganggu baginya. Memejamkan mata dengan sebelah tangan menghalau sinar matahari di kedua matanya. Bagaikan menyatu dengan alam, dirinya hanyut terbuai dengan segala perasaan yang saat ini ia rasakan. Daffa, lelaki itu memilih untuk menghabiskan waktu istirahatnya dengan berada di rooftop sekolah dibandingkan pergi ke kantin bersama kedua temannya. Ia membutuh waktu untuk menenangkan diri dari perasaan aneh yang menyerang hatinya. Kemana gua harus ajak Ara pergi? Dirinya saja tidak tahu mengapa ia dengan spontan mengatakan hal itu. Rasa ketidaksukaan yang hinggap di hatinya membuat ia mengatakan hal demikian. “Sebenarnya lo punya masalah apa sama gua!” Daffa yang mendengar ada manusia lain selain dirinya di tempat ini, membuka mata. Revan lelaki itu menghadap kearah bawah gedung rooftop tersebut yang baru saja mengeluarkan suara. Daffa yang tidak tahu untuk siapa ucapan lelaki itu memilih tetap bungkam. Merasa sudah tidak mungkin mendapatkan keheningan lagi ia memutuskan untuk kembali ke kelas. “Apa menjadi bisu itu yang bisa lo lakukan!” Ucapnya tajam. Daffa kini mengerti ucapan lelaki itu untuk dirinya. Membalikkan badan dengan sorot mata tajam menatap Revan. “Maksud lo apa?!” “Kenapa lo selalu mengacaukan rencana gua sama Ara. Hah!” Ujar Revan menahan emosinya. “Lo suka Ara?” Tanya Daffa masih dengan wajah datarnya. “Kalau iya kenapa? Lo cuman orang yang lebih dulu kenal sama dia dan beruntung bisa jadi sahabatnya. Lo enggak punya hak atas dia men.” Ucap Revan dengan wajah meremehkan Daffa. “Gua peringatkan sama lo, jangan coba-coba untuk mempermainkan Ara. Saat itu terjadi, lo tahukan akan berhadapan dengan siapa.” Ucap Daffa sambil pergi meninggalkan Revan dengan senyum sinis terbit di wajahnya. “Gua nggak bakalan nyakitin Ara. Lo tenang aja!” Teriak Revan kesal. Namun tiba-tiba Daffa menghentikan langkahnya berbalik kembali menghadap Revan. “Untuk semua rencana lo yang selalu gagal itu, satu hal yang perlu lo ingat. Bahwa Lo Bukan Prioritas Dia.” Ucap Daffa penuh penekanan diakhir kalimatnya. Kemudian berjalan santai dengan tangan dimasukkan kedalam kantong celana, Daffa pergi meninggalkan Revan di atas rooftop. Sedangkan Revan mengepalkan tangannya menahan emosi mendengar ucapan terakhir Daffa. “Brengsek.” Makinya. “Lo lihat aja nanti.” Desisnya pada diri sendiri sambil menatap tajam Daffa yang telah berlalu. **** Ara yang merasa bingung dengan sikap Daffa pagi ini hanya menghembuskan nafas lelah. Mempunyai teman yang sangat tertutup dan sulit di mengerti memang membuat lelah. Namun Ara pun tidak menutupi bahwa ia pun sangat beruntung memiliki teman seperti Daffa. Menanti adalah hal yang sering Ara lakukan. Seperti halnya hari ini, waktu pulang sekolah adalah hal yang ia tunggu-tunggu. Terlalu penasaran akan kemana Daffa akan mengajaknya pergi. Pasalnya lelaki itu tidak memberitahu sebelumnya, hingga pagi ini ia mengatakan di hadapan Revan. Mengingat perkataan Revan tadi yang sudah kedua kali mengajaknya untuk pergi, lagi dan lagi selalu batal dan untuk kesekian kali dikarena Daffa. Merasa bersalah pada Revan ia meminta maaf dengan mengirimkannya pesan. Ara : Revan, maaf:( bisa kita atur ulang lagi rencana nontonnya? Revan : Ra, please jangan kasih gua harapan terus:( Melihat balasan Revan membuat dirinya semakin merasa bersalah. Dirinya tidak bermaksud untuk menolak atau bahkan mengingkari janjinya sendiri. Ara : Maafin gua Van:( Enggak ada maksud gua untuk mengingkari janji. Ara : Maaf bikin lo kecewa lagi dan lagi:( Revan : Mendekati lo memang harus ekstra berjuang ya Ra:) Melihat balasan Revan membuat dirinya hanya mampu tersenyum masam. Mendekatinya? Apa yang di maksud Revan yaitu lelaki itu ingin mengenalnya lebih jauh?. Dirinya begitu senang atas pemikirannya ini sekaligus sedih sering kali membuat lelaki itu kecewa atas dirinya yang tidak bisa menolak keinginan Daffa. Ara : Bagaimana kalau besok kita pergi nontonnya? Revan : Janji? Ara : Iya gua janji. Revan : Please. Jangan ingkari lagi Ra:( Tidak ada niatan untuk membalas pesan Revan, Ara hanya menganggukkan kepalanya seolah-olah Revan ada di hadapannya. **** Tidak sabar menemui Daffa di parkiran, Ara berjalan dengan tergesa-gesa hingga tidak memperhatikan sekitar membuat dirinya menabrak seseorang. Bruk. “Aduh. Maaf gua nggak sengaja. Gua buru-buru tadi.” Ucap Ara sambil mengangkat kepalanya. Betapa terkejutnya saat Elisa yang ia tabrak. “Aduh. Elisa Maafin gua ya. Gua buru-buru soalnya.” “Ia tidak apa-apa kak. Kak Ara mau kemana kok buru-buru?” Tanya Elisa yang sudah berdiri sambil membersihkan roknya. “Sudah di tungguin Daffa di parkiran. Eh lo nggak kenapa-kenapa kan?” Elisa hanya mengangguk menjawab pertanyaan Ara. “Kalau begitu gua duluan ya. Bye.” Ucap Ara melambaikan tangan pada Elisa Gua berharap suatu saat nanti gua bisa gantiin posisi lo kak. Ucap Elisa menatap punggung Ara yang semakin menjauh. Diparkiran Ara melihat Daffa seperti biasa sudah duduk di atas motor kesayangannya. Seperti orang yang tengah melamun. Ara menyadarkan Daffa dengan menepuk pelan bahunya. Benar Daffa sedang melamun terbukti Ara yang menepuk pelan bahunya dapat membuat Daffa kaget. “Kita jadi mau pergi?” Daffa hanya mengangguk. “Kemana?” “Ke suatu tempat. Cepat naik.” Ucap Daffa sambil memberikan helm membuat Ara hanya menghela nafasnya. Ara yang dari tadi hanya diam merasakan hembusan angin yang berbeda. Hembusan angin yang sejuk membuat Ara tersadar bahwa ini bukanlah jalan menuju ke arah rumahnya. Semakin lama jalan yang mereka lalui membuat Ara nampak asing dengan keadaan sekitar. “Sebenarnya kita ini mau kemana sih Daf?” Ujar Ara yang sudah penasaran daritadi. “Diam dan nikmati saja perjalanannya.” Ucapan Daffa. Rasanya Ara ingin sekali melempar Daffa ke kutub utara sana. Daripada kesal, Ara membuka kaca helm dan mencoba menikmati angin yang menerpa wajahnya yang tidak tertutup helm. Angin yang begitu damai ini membuat Ara begitu mengantuk selama diperjalanan. Ara merasa angin seperti ini tidak dapat ia temukan bila berada di tengah padatnya kota, hanya angin seperti ini yang dapat ia temukan di pedesaan. Apakah Daffa mengajaknya ke daerah pedesaan. Batin Ara bertanya–tanya. Akhirnya pertanyaan yang dari tadi ada di kepalanya terjawab sudah. Daffa mengajaknya ke bukit. Meletakkan motor di pinggir bukit, Mereka berjalan kearah ujung bukit untuk melihat pemandangan kota yang ada dibawah. Keduanya mencari posisi ternyaman untuk duduk. “Kenapa kita kesini Daf?” Daffa hanya mengangkat bahunya. “Pengen ganti suasana aja, Maybe.” “Lo tahu darimana tempat ini?” Tanya Ara yang pasalnya memang penasaran darimana Daffa tahu tempat seperti ini, karena lokasinya yang berada cukup jauh dari kota memakan perjalanan kurang lebih 1 jam. Ara yang tengah menatap ke depan melihat lampu-lampu kota yang sudah sebagian di hidupkan. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. “Gua pernah kesini waktu kecil hingga lulus Sd.” Ujar Daffa dengan senyum miris. Mendengar suara Daffa yang getir membuat Ara menoleh dan terlihat jelas ada luka dimatanya. “Oh yahh? Sama siapa?” Ucap Ara mencoba antusias berharap Daffa kali ini dapat bercerita. “Dulu, setiap akhir pekan biasanya keluarga gua akan datang kesini menghabiskan waktu bersama.” Ujar Daffa memandang jauh ke depan dengan tersenyum seolah bayangan itu nyata di hadapannya kini. Tetapi beberapa kali pula ia mencoba menarik nafas panjang membuat Ara yakin Daffa menyimpan beban yang teramat berat. “Saat itu gua merasa bocah paling beruntung memiliki keluarga bahagia seperti ini.” Lanjutnya sambil berhenti sejenak untuk menghela nafas. Daffa menoleh kesamping dan tersenyum melihat Ara yang antusias mendengarkan membuat ia sangat menggemaskan membuat ia merapikan rambut Ara yang berantakan karena tertiup angin. “Hingga pada saat gua memasuki SMP papa mulai berubah.“ Melihat tangan Daffa yang sudah mengepal, Ara langsung memegang tangan itu untuk menyalurkan kekuatan yang ia miliki dan di sambut oleh tangan Daffa. “Kalau nggak kuat, jangan di lanjutin.” Potong Ara pada Daffa. Menggeleng Daffa tetap melanjutkan ceritanya. “Kami berfikir papa terlalu sibuk dengan pekerjaan. Saat itu papa janji akan menghabiskan liburan bersama kami. Sehari sebelum kami berangkat tiba-tiba papa membatalkan janjinya dia bilang ia memiliki pekerjaan mendadak diluar kota. Dan lu tahu apa?” Ara hanya menggelengkan kepala. “Gua melihat papa sedang bermesraan di sebuah Mall dengan wanita yang gua dan mama kenal. Wanita itu merusak kebahagian kami. Setelah ketahuan, bukannya menyesali perbuatannya papa malah semakin jadi. Hingga membuat papa sedikit demi sedikit lebih mementingkan wanita itu daripada kami, disini mama yang paling tersakiti. Wanita yang menjadi teman baik mama rela menusuk dirinya.” Tidak sanggup melihat Daffa yang se-rapuh ini, Ara memeluknya dari samping dengan satu tangan yang tidak pernah melepas untuk memberikan kekuatan pada Daffa. “Nangis aja Daf enggak papa. Enggak ada yang pernah larang cowok buat nangis. Nangis kalau lo pengen nangis.” Hanya gelengan kepala yang Daffa berikan sambil menerima peluk yang Ara beri. “Kejadian itu sudah lama Ra. Gua nangis sekarang buat apa? Mengenang masa lalu yang pahit? Mau gua nangis darah pun masa lalu enggak bisa diulang atau bahkan bisa di ubahkan?” Tidak tahu harus menjawab apa, yang Ara lakukan hanyalah menjadi pendengar yang baik dan sesekali menjadi kekuatan saat Daffa bercerita. “Lo mau tahu kenapa gua enggak pernah suka basket lagi?” Ucap Daffa menjauhkan diri Ara lalu memegang kedua pundak Ara untuk menatap wajahnya. “Papa,” Mengambil nafas sedalam-dalamnya lalu menghembuskan dengan kasar. “Papa yang mengajarkan dan mengenalkan gua bagaimana cara bermain basket.” Melepaskan pegangan dan pandangan pada Ara Daffa menghadap lampu kota yang sudah berwarna-warni. “Gua mencoba menghilangkan semua hal yang berhubungan dengan papa Ra” Hancur sudah pertahan Daffa, langsung saja Ara memeluk erat-erat tubuh Daffa yang sudah bergetar karena menangis. Daffa memeluknya sangat erat seolah memberi tahu Ara bahwa lelaki ini sangat terluka. “Gua benci jadi anak lemah saat itu, yang nggak bisa melakukan apapun untuk mama.” “Please. Jangan pernah ninggalin gua Ra.” Ara hanya mengangguk meyakinkan. Diam. Hanya itu yang bisa Ara lakukan, dia tidak bisa membayangkan bagaimana bila dirinya yang berada di posisi Daffa. Menggosok-gosokkan punggung Daffa, Ara mencoba menenangkan. Bertahan dengan posisi yang saling berpelukan untuk menguatkan, Ara merasa Daffa sudah lebih tenang pun meleraikan pelukannya. Ara menghapus bekas air mata Daffa dengan menggunakan ibu jarinya. “Jangan membenci papa lo sendiri Daf. Membenci hanya akan menggerogoti hati lo sendiri. Maafkan, tapi tidak untuk dilupakan, jadikan itu sebagai pelajaran. Gua tahu itu susah. Gua berharap lo bisa pelan-pelan mencobanya.” Ara kembali memberikan pelukan pada Daffa. Mereka berdua kini diam sambil memandang kota yang indah dari atas bukit ini. “Mama lo cantik ya Ra.” “Iya dong. Lo nggak lihat anak yang ini juga cantik?” Ujar Ara dengan pedenya. “Mana ada Lo jelek.” “Ihh Daffa jahat. Ara ngambek ah.” Ucap Ara melipat tangannya di d**a membuang muka. “Hehe Gua bercanda kali Ra.” Ungkap Daffa sambil menoel-noel bahu Ara. namun gadis itu tetap pada posisinya membuang muka. Menghela nafas Daffa menggeleng kepala jika Ara sudah mulai seperti bocah. “Iya, iya. Lo cantik. Puas!” “Puas doang.” Jawab Ara sambil tertawa lalu menjulurkan lidahnya. Daffa hanya tersenyum geli melihat tingkah ajaib temannya ini. “Lo dekat sama Revan?” Tanya Daffa. “Iya. Akhir-akhir ini.” “Jangan melihat orang dari luarnya aja Ra. Yang baik belum tentu baik sebaliknya pun begitu.” “Maksudnya?” Bingung dengan Ucapan Daffa yang tidak tahu maksudnya apa. “Jangan terlalu dekat sama dia.” “Loh kenapa?” membingungkan setiap ucapan Daffa padanya. Kemudian Daffa berdiri lalu berjalan kearah motor. “Ayo balik. Sudah malam.” “Ihh Daffa lo belum jawab pertanyaan gua yang tadi!” Teriak Ara langsung berdiri dan mengejar Daffa yang sudah berjalan duluan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN