Seorang gadis duduk di kursi taman sambil menangis dalam diam. Merutuki segala kebodohan yang dirinya perbuat barusan. Tatapan kecewa yang diperlihatkan sahabatnya membuat ia yakin bahwa dirinya memang sudah keterlaluan, namun nasi sudah menjadi bubur. “Nes” Mendengar seseorang memanggil namanya, Vanessa dengan cepat menghapus air matanya lalu memasang wajah datarnya. “Ngapain lo kesini.” Ketus Vanessa pada Bagas. “Menghibur seorang gadis yang berperan jahat.” Ledek Bagas pada Vanessa dengan wajah yang mengesalkan untuk Vanessa. Mendengar hal tersebut sangat menyedihkan untuk Vanessa, namun lagi-lagi ego mengalahkan semuanya. Dirinya tidak menjawab perkataan Bagas, ia lebih memilih diam dengan memandang kedepan. “Nes.” Panggil Bagas sambil mengambil tangan Vanessa dari pangkuan gadis

