“Silakan, Nona,” ujar seorang pelayan sambil memberi isyarat hormat.
Ia menuntun Diandra menyusuri lorong panjang menuju kamar yang akan ditempatinya selama berada di sana. Langkah Diandra pincang, kakinya terasa nyeri setiap kali menapak. Pelayan itu sigap menopangnya, memastikan ia tidak jatuh.
Diandra membiarkan dirinya dibantu.
Di balik pintu yang akhirnya terbuka, kamar itu menantinya—kamar yang luas, rapi, dan mewah.
Diandra melangkah masuk dengan perasaan campur aduk.
Untuk sementara, inilah tempatnya berpijak. Tempat yang sangat asing dan tak pernah terpikirkan sebelumnya.
“Sebaiknya Anda duduk, Nona,” ucap pelayan itu dengan suara lembut. “Saya akan mencoba mengobati kaki Anda.”
Diandra ragu sejenak, lalu mengangguk kecil. Ia duduk perlahan di tepi ranjang, meringis saat kakinya digerakkan.
Di detik berikutnya, Diandra menjerit pelan saat pelayan itu mulai mengurut kakinya.
“Aduh—!”
Namun anehnya, rasa nyeri itu perlahan menghilang. Ketegangan di kakinya mengendur, digantikan rasa hangat yang membuatnya terkejut sendiri.
Diandra menggerak-gerakkan kakinya sedikit, lalu menatap pelayan itu dengan mata berbinar.
“Wah… aku udah lebih baik,” katanya jujur. “Makasih…”
Pelayan itu tersenyum ramah. “Sama-sama, Nona. Kalau butuh sesuatu, panggil saya.”
Diandra mengangguk, lalu bertanya pelan, “Nama kamu siapa?”
“Aminah,” jawabnya sopan. “Biasa dipanggil Minah, Nona.”
Diandra tersenyum kecil.
“Terima kasih, Minah.”
Setelah Minah keluar, Diandra merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar yang tinggi, kosong, dan terasa begitu jauh.
Pikirannya menerawang, melayang tanpa arah, seolah menembus langit ketujuh—meninggalkan semua rasa lelah, marah, dan bingung yang sejak tadi menyesakkan dadanya.
Diandra menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan.
Di mansion asing itu, untuk sesaat, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam diam.
Kejadian beberapa jam yang lalu…
Diandra duduk di depan meja rias, menatap pantulan dirinya yang kini mengenakan gaun pengantin putih. Kainnya menjuntai anggun, riasannya sempurna—sebentar lagi ia akan sah menjadi seorang istri.
Namun pikirannya melayang jauh.
Dadanya terasa sesak. Di hari sepenting ini, ia ingin kedua orang tuanya hadir. Ia ingin ibunya membenarkan mahkotanya, ingin ayahnya tersenyum bangga sambil menggenggam tangannya.
Sayang, harapan itu hanya tinggal kenangan.
Keduanya telah tiada.
Kelopak matanya memanas.
“Diandra, pernikahan kamu sebentar lagi dimulai,” ujar sepupunya yang masuk ke kamar dengan senyum lembut.
“Iya,” jawab Diandra pelan. Suaranya nyaris tak terdengar.
“Tunggu ya, aku ke toilet dulu. Habis itu kita turun ke ballroom.”
Diandra mengangguk.
Namun begitu sepupunya menghilang dibalik pintu kamar mandi, Diandra justru bangkit. Entah dorongan dari mana, kakinya melangkah menuju kamar yang ditempati tantenya. Jantungnya berdetak aneh, firasat buruk merayap tanpa permisi.
Pintu kamar itu terbuka lebar.
Diandra melangkah masuk.
Dan seketika—
matanya membulat.
Tubuhnya membeku saat melihat pemandangan menjijikkan di hadapannya.
Tantenya… tengah b******u mesra dengan calon suaminya.
Tangan pria itu melingkar di pinggang wanita paruh baya itu, bibir mereka terlalu dekat, terlalu intim—pengkhianatan yang nyata di hari pernikahannya sendiri.
“Sayang,” ucap wanita itu manja, suaranya menusuk telinga Diandra,
“ingat, jangan pernah kamu jatuh hati padanya.”
Dunia Diandra runtuh dalam satu tarikan napas.
Gaun putih yang ia kenakan tiba-tiba terasa seperti ejekan.
Ronal adalah lelaki yang diperkenalkan oleh tantenya beberapa bulan lalu.
Rima—wanita yang selama ini ia percaya—yang meyakinkannya, berulang kali, bahwa pria itu adalah yang terbaik untuknya. Lelaki yang akan melindunginya, menggantikan peran orang tuanya yang telah tiada.
Katanya.
Tapi ini… apa?
Tubuh Diandra bergetar hebat. Dadanya terasa seperti diremas kuat saat melihat dan mendengar keduanya dari balik ambang pintu. Setiap sentuhan, setiap desahan, menjijikkan.
“Iya, dong, sayang,” jawab Ronal dengan suara rendah, disusul tawa kecil.
“Tapi aku juga dapat bagian, kan?” tanyanya santai, seolah sedang membicarakan bisnis biasa.
Rima tersenyum puas, tangannya menyusuri d**a pria itu.
“Tentu,” katanya manis—manis yang mematikan.
“Setelah kamu dan Diandra menikah, secepatnya buat dia menandatangani surat pengalihan harta atas nama aku.”
Diandra menahan napas. Dunia di sekelilingnya seakan berhenti.
“Lalu,” lanjut Rima tanpa ragu, nadanya dingin dan kejam,
“dia kita lenyapkan. Seperti kedua orang tuanya.”
Kaki Diandra melemas.
Kebenaran itu menghantamnya lebih keras dari apa pun.
Selama ini…
ia bukan hendak dilindungi.
Ia sedang dipersiapkan untuk dihabisi.
“Kamu memang licik,” kata Ronal dengan tawa rendah. “Dan aku suka.”
Ia mengangkat tangan Rima, lalu mengecupnya singkat. Senyum di wajahnya mengembang puas, penuh kesepakatan kotor.
“Dan pastikan hubungan kita tetap berjalan di belakang suamiku,” ujar Rima lagi, nadanya manja namun beracun.
“Tentu,” jawab Ronal santai sambil mencolek dagu Rima.
Rima tersenyum, lalu menyandarkan tubuhnya ke d**a Ronal. Wajahnya tampak tenang—bahkan bahagia—seolah semua yang mereka rencanakan hanyalah jalan lurus menuju kemenangan.
Di benaknya, bayangan harta, kekuasaan, dan kebebasan berkelebat jelas.
Sebentar lagi, pikirnya.
Semua usaha yang melelahkan ini akan terbayar lunas.
Rima mundur selangkah, lalu merapikan dasi Ronal dengan gerakan lembut namun penuh perhitungan.
“Sekarang kamu keluar duluan,” katanya pelan. “Jangan sampai suamiku—atau siapa pun—melihat kita di sini.”
Ronal mengangguk setuju. Ia berbalik, bersiap melangkah keluar.
Dan di detik itu juga—
langkahnya terhenti.
Senyum di wajah Ronal membeku. Matanya membelalak saat pandangannya bertubrukan langsung dengan sosok yang berdiri kaku di ambang pintu.
Diandra.
Wajahnya pucat, tubuhnya gemetar, mata yang biasanya lembut kini dipenuhi luka dan keterkejutan yang nyaris tak tertahankan.
Udara di dalam kamar seolah membeku.
Tak ada yang bersuara.
Tak ada yang bergerak.
Hanya tatapan Diandra—tajam, hancur, dan penuh pengkhianatan—yang menghantam Ronal tanpa ampun.
Begitu pula dengan Rima. Terlalu hanyut dalam kemesraannya dengan Ronal, ia sama sekali tak menyadari kehadiran Diandra—entah sejak kapan gadis itu berdiri di dalam kamarnya, menyaksikan semuanya.
Hingga keheningan yang tiba-tiba terasa ganjil.
Rima menoleh.
Dan seketika, senyum di wajahnya lenyap. Matanya membelalak saat pandangannya bertemu dengan tatapan Diandra yang pucat, bergetar, namun sarat luka.
Detik itu juga, Rima tahu.
Semua rahasia yang ia simpan rapi… telah terbongkar.
“Kalian jahat,” ucap Diandra akhirnya. Suaranya bergetar, tapi matanya menatap tajam tanpa ragu.
“Dan aku nggak mau nikah sama kamu!”
Kalimat itu meluncur tegas, memecah keheningan yang sejak tadi menyesakkan. Tangannya mengepal di sisi tubuh, dadanya naik turun menahan amarah dan luka yang bercampur jadi satu.
Ronal terpaku.
Sementara Rima menegang, wajahnya memucat sepersekian detik sebelum kembali mengeras.
Diandra melangkah mundur satu langkah. Air mata menggenang di pelupuk matanya, tapi ia menolak jatuh.
Dengan cepat Diandra berbalik lalu berlari secepat mungkin demi membatalkan pernikahannya.