Mansion

1214 Kata
Mobil itu menepi mendadak. Seorang wanita paruh baya dan seorang pria seusianya turun bersamaan dari dalam kendaraan. “Mereka kecelakaan, Pak,” lapor salah satu anak buah dengan suara tergesa. “Sial!” umpat pria paruh baya itu, rahangnya mengeras. Wanita di sampingnya mengepalkan tangan. “Diandra harus ditemukan. Aku tidak mau seluruh harta orang tuanya disumbangkan ke panti asuhan. Semua itu seharusnya jatuh ke tangan kita.” Pria itu mengangguk tegas. “Turun ke bawah sana. Cari dia. Sekarang.” *** Diandra menatap mansion megah di hadapannya. Bukan kagum yang ia rasakan, melainkan tekanan yang membuat dadanya terasa sesak. Ketika itu, pintu mobil di sisinya terbuka. Leon membungkuk, hendak mengangkat tubuh Diandra kembali. Namun Diandra ragu. Tangannya refleks menahan pintu. “Kenapa kamu bawa aku ke sini?” tanyanya bingung, nada suaranya bercampur curiga. Leon menatapnya singkat. “Lalu ke mana?” ucapnya dingin. “Ke hadapan Tante dan Om-mu?” Diandra mendengus kesal. “Ya nggak gitu juga, Ferguson!” Tatapan keduanya beradu sejenak. Diandra menatapnya dengan kesal, sementara Leon tetap dingin tanpa ekspresi. “Ini rumah siapa, sih?” Diandra menyipitkan mata. “Kamu bukan agen rahasia, kan? Atau—” ia menunjuk Leon curiga, “penjual organ tubuh?!” Leon mendengus pelan. Bukan tawa—lebih seperti ejekan tipis. “Kalau aku penjual organ,” katanya datar, “kamu sudah tidak sadar dari tadi.” Diandra terdiam, kesal sekaligus waspada. “Iya juga sih.” Leon meluruskan tubuhnya, menatap mansion di hadapan mereka. “Ini rumahku.” Alis Diandra terangkat. “Rumah kamu?” “Iya.” Tatapan Leon kembali padanya. “Dan sebelum kamu menuduh macam-macam lagi, dengarkan baik-baik. Selama kamu di sini, Tante dan Om-mu tidak akan bisa menyentuhmu.” Diandra mengepalkan tangan. “Awas kalau kamu macam-macam!” “Kamu tidak punya banyak pilihan,” jawab Leon dingin. “Kecuali kamu memang ingin kembali ke mereka.” Keheningan jatuh di antara mereka. Diandra menelan ludah, menatap mansion itu lagi—kali ini dengan perasaan yang jauh lebih rumit. “Ucapanmu bisa dipercayakan?!” “Terserah, mau percaya atau—” “Oke, kita punya kesempatan!” potong Diandra cepat. Kemudian Leon kembali membungkuk, tanpa ijin langsung mengangkat Diandra dan itu membuat sang empu kesal. Namun karena takut terjatuh ia pun reflek melingkarkan tangannya di tengkuk leher Leon. Pintu utama mansion terbuka. Dua orang pelayan berseragam rapi langsung berdiri tegak di sisi pintu. “Selamat datang, Tuan Leon,” ucap salah satunya sopan, sedikit terkejut melihat Tuan mereka yang terbiasa dingin malah menggendong seorang wanita pulang. Leon hanya mengangguk singkat dan melangkah masuk. Ruang tamu mansion terbentang luas. Lantai marmer mengilap, lampu gantung kristal berkilauan di langit-langit tinggi, sementara perabot berwarna gelap tersusun rapi, memancarkan kemewahan yang dingin dan berjarak. Langkah Leon menggema pelan. Diandra refleks mencengkeram jas Leon. Tatapannya berkeliling—lukisan mahal, aroma wangi khas, dan keheningan yang membuat asing. “Udahlah, turunin aku. Nggak sopan banget pegang-pegang,” protes Diandra sengit. Ia menatap Leon penuh tuduhan. “Jangan-jangan kamu suka lagi sama aku! Cari kesempatan!” Leon berhenti melangkah. Tanpa sepatah kata pun, ia langsung melepaskan pegangannya. Bruk. Diandra terjatuh ke lantai marmer. “Aduh…” ringisnya sambil memegangi pinggang. Leon menatapnya dari atas, datar tanpa rasa bersalah. Beberapa pelayan saling berpandangan, pura-pura sibuk menahan ekspresi. Diandra mendongak, matanya menyala marah. “Kamu itu—!” “Honey!” Suara itu meluncur dari arah lift yang baru saja terbuka. Diandra refleks menoleh. Seorang wanita melangkah keluar dengan penuh percaya diri. Tubuhnya tinggi semampai, kaki jenjang terbalut gaun pas badan berwarna merah marun yang menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sempurna. Rambut hitam bergelombang jatuh rapi di bahu, wajahnya cantik tajam—cantik tipe model yang sadar betul akan pesonanya. Make-up-nya flawless, senyumnya terlatih. Setiap langkahnya terdengar mantap, seolah mansion itu adalah panggung runway miliknya. Wanita itu langsung menghampiri Leon, matanya berbinar manja. “Honey, kamu lama sekali,” ujarnya lembut, lalu pandangannya turun—berhenti tepat pada Diandra yang masih setengah terduduk di lantai. Senyumnya merenggang tipis. “Dia siapa?” tanya wanita itu, suaranya halus namun sarat selidik. Tatapannya menyapu Diandra perlahan. Dari rambut yang sedikit berantakan, wajah pucat, hingga pakaian sederhana yang kontras dengan kemewahan mansion. Tatapan itu bukan sekadar menilai—melainkan mengukur, seolah Diandra adalah sesuatu yang tak seharusnya berada di tempat itu. Sudut bibirnya terangkat tipis, senyum angkuh milik orang yang terbiasa berada di atas. Diandra merasakan panas merambat ke dadanya. Bukan malu—lebih ke tidak terima. Leon belum menjawab. Keheningan menggantung, berat, sementara wanita itu masih berdiri dengan sikap sempurna, seolah menunggu penjelasan yang layak untuk kehadiran Diandra. “Dia seseorang yang akan membantuku mendapatkan warisan lebih cepat,” kata Leon tenang, tanpa ekspresi. Hening. Wajah wanita itu menegang sepersekian detik—Senyum angkuhnya masih terpasang. “Warisan?” ulang Diandra bingun, spontan menoleh ke Leon. “Hei—aku nggak pernah—” Leon memotong tanpa menatapnya. “Kamu tidak perlu mengerti.” Tatapan wanita itu kembali menyapu Diandra, kali ini lebih tajam. Bukan lagi sekadar menilai—melainkan mengancam. “Oh,” ucapnya ringan, seolah baru paham. “Jadi… alat.” Diandra tersentak. “Aku bukan—” Leon akhirnya menoleh. “Ingat kita bekerja sama!” Wanita itu menyilangkan tangan di d**a, kuku-kukunya yang rapi mengetuk perlahan. “Menarik,” katanya dingin. “Kamu selalu bilang tidak butuh siapa pun, Honey.” Leon mengangkat bahu tipis. “Situasi berubah.” Tatapan mereka beradu. Udara di ruang tamu terasa menyesakkan. Diandra menelan ludah. Ia baru sadar—masuk ke mansion ini mungkin bukan penyelamatan, melainkan awal dari permainan yang jauh lebih berbahaya. “Setelah semuanya jatuh ke tanganku,” kata Leon mantap, “kita akan hidup bersama.” Nada suaranya tenang, namun ada keyakinan keras di baliknya—seolah masa depan itu sudah pasti miliknya. Leon lalu mengalihkan pandangan pada para pelayan. “Bawa wanita ini ke kamarnya,” perintahnya singkat. “Siap, Tuan,” jawab salah satu pelayan sambil membungkuk hormat. Dua pelayan mendekati Diandra. Ia masih setengah duduk di lantai, tubuhnya kaku, matanya menatap Leon tak percaya. Namun Leon sama sekali tidak menoleh lagi. Ia melangkah begitu saja—melewati Diandra, seolah keberadaannya tak lebih dari lantai marmer yang diinjaknya—untuk mendekati Hilda. Diandra mengepalkan tangan. “Bener-bener ya orang ini… ngga ada sopan santunya, dia pikir aku apa disini? Lantai?” Diandra mengepalkan tangan, menahan amarah yang mendidih di dadanya. Jika bukan karena terpaksa dia tidak akan mau bekerja sama dengan orang aneh seperti Leon. *** Cahaya layar laptop memantul di wajah wanita tua itu. Rambutnya disanggul rapi, perhiasan sederhana namun jelas mahal melekat di leher dan jarinya. Ia duduk tegak, sorot matanya tajam dan penuh perhitungan. Oma. Terdengar suara Leon dari speaker. “…setelah semuanya jatuh ketanganku.” Tatapan Oma mengeras. Senyum tipis yang sempat muncul perlahan menghilang, digantikan ekspresi dingin yang sulit diterjemahkan. “Jadi begitu,” gumamnya pelan memperhatikan cara Leon melangkah melewati Diandra, caranya mendekati Hilda, nada suaranya—terlalu yakin, terlalu berani. Penuh ambisi. “Anak bodoh,” katanya lirih, bukan marah—melainkan kecewa. “Kamu pikir aku tidak akan tahu?” Ia bangkit berdiri, berjalan menuju jendela besar. Dari pantulan kaca, wajahnya tampak tenang, namun matanya menyimpan keputusan yang telah bulat. Jika Leon mengira ia bisa ditipu demi warisan, maka ia baru saja membuat kesalahan besar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN