Pada detik berikutnya, Leon tiba-tiba mengangkat tubuhnya. Terkejut, Diandra refleks melingkarkan tangannya di tengkuk Leon, berpegangan erat seolah hidupnya bergantung pada itu.
Tanpa menoleh lagi, Leon melangkah cepat, hampir berlari, membawanya keluar menuju mobil hitam yang sudah menunggu di depan.
Pintu terbuka.
Leon memasukkan Diandra ke dalam mobil, lalu ikut masuk sesaat sebelum pintu tertutup keras—meninggalkan teriakan dan kekacauan di belakang mereka.
Begitu pintu mobil tertutup, dunia di luar seakan teredam.
Diandra terduduk di jok dengan napas tersengal. Dadanya naik turun tak beraturan, jemarinya masih gemetar. Suara mesin mobil terdengar pelan namun stabil, kontras dengan detak jantungnya yang masih berlari tak karuan.
Belum sempat ia benar-benar tenang—
Brak!
Sebuah hentakan keras mengguncang pintu mobil.
“TURUNKAN DIA!”
Suara tantenya menggema dari luar. Wajah wanita paruh baya itu terlihat jelas di balik kaca, penuh amarah dan ambisi. Tangannya menghantam jendela sekali lagi, membuat Diandra reflek memeluk lengan Leon seakan memohon perlindungan.
Namun tidak dibalas dan tidak juga ditolak.
Detik berikutnya, mobil melaju.
Hentakan di pintu terhenti. Sosok tantenya perlahan menjauh, mengecil di kaca spion, hingga akhirnya benar-benar hilang dari pandangan.
Diandra menghembuskan napas panjang, hampir terisak.
Detik berikutnya, pandangan Diandra tertarik pada kaca spion.
Memastikan bahwa ketegangan benar-benar sudah berlalu, tapi yang ada ia kembali dikejutkan.
Sebuah mobil melaju di belakang mereka.
Awalnya ia mengira hanya kebetulan. Namun semakin lama, jaraknya tak berubah—terlalu dekat, terlalu konsisten. Ada sesuatu yang terasa familiar.
Jantung Diandra mencelos.
Ia menoleh ke belakang untuk memastikan.
Dan benar saja.
Mobil itu—mobil tantenya.
Wajah Diandra seketika pucat. Napasnya tercekat, jemarinya mencengkeram ujung kursi dengan kuat. Mereka belum benar-benar lolos.
Mereka sedang dikejar.
“Mereka ngejar kita,” suara Diandra bergetar.
“Bukan kita,” balas Leon santai, bahkan tanpa menoleh. “Tapi kamu.”
Diandra menatapnya bingung. Namun detik berikutnya, ia sadar—kata-kata Leon memang benar.
“Mama, Papa…” Gumamnya.
Sesekali ia berbalik ke belakang memastikan ia sudah aman, tapi tidak juga.
“Tuan… Om… Kakek… apa pun itu,” suaranya nyaris pecah. “Tolong selamatkan aku. Kita sudah kerja sama, kan?” mohon Diandra sambil menggenggam tangan Leon semakin erat.
Tak ada jawaban.
Keheningan itu justru membuat panik Diandra kian menjalar. Dadanya terasa sesak, tenggorokannya kering. Sesekali ia masih menoleh ke belakang, memastikan jarak mobil itu—dan setiap kali pandangannya bertemu dengan mobil tantenya, jantungnya seolah jatuh.
Diandra memejamkan mata, bibirnya bergerak pelan.
Berdoa.
Berharap… semoga kali ini, tantenya berhenti mengejarnya.
Tapi sepertinya itu tidak mungkin.
“Tuan, Tuan Leon. Jangan biarkan mereka menangkapku. Aku mohon,” Diandra mengguncang lengan Leon berharap pria ini bisa menemukan solusi untuknya.
Dan saat itu tatapan asistennya bertemu dengan tatapan elang Leon di kaca spion, kemudian detik berikutnya mesin mobil meraung.
Tubuh Diandra terdorong ke sandaran kursi saat kecepatan meningkat drastis. Jalanan di depan berubah jadi garis-garis buram, lampu-lampu kota terlewati dalam kilatan cahaya.
“Leon—” Diandra refleks mencengkeram lengannya. “Aku—aku takut.”
Mobil di belakang ikut menekan gas. Klakson meraung.
Tinn tinn tinn
Jarak semakin dekat.
Sedangkan Leon terlihat biasa saja seolah hal seperti ini bukan apa-apa baginya.
Detik berikutnya, asistennya membelokkan setir tajam ke kiri.
Mobil berdecit keras.
Lalu berbelok ke kanan.
Tubuh Diandra terlempar ke samping, napasnya tercekat, jantungnya nyaris meloncat keluar. Ia memejamkan mata, jemarinya mencengkeram erat apa pun yang bisa diraih.
Leon.
Satu tangan Leon menahan tubuhnya, menjaga agar kepalanya tak terbentur. Mobil melesat masuk ke jalur sempit, lalu berbelok lagi dengan kecepatan gila.
Di belakang, suara klakson memudar.
Diandra membuka mata perlahan.
Mobil tantenya tak lagi terlihat di kaca spion.
Napasnya tersendat sebelum akhirnya luruh.
Namun tiba-tiba, mobil melambat lalu berhenti total.
Jantung Diandra kembali berpacu.
“Kok berhenti?” tanyanya bingung, suaranya nyaris bergetar.
Tak ada jawaban.
Leon justru membuka pintu dan turun dari mobil, diikuti asistennya. Diandra menelan ludah. Kepalanya langsung dipenuhi pikiran buruk—pikiran yang membuat dadanya terasa sesak.
Mungkinkah… Leon akan menyerahkannya pada tantenya?
“Enggak!” ucapnya panik, hampir berteriak.
Saat itu juga, pintu mobil di sisinya terbuka. Leon berdiri di sana. Namun bukan untuk menyuruhnya turun sendiri—ia kembali mengangkat tubuh Diandra begitu saja.
“Jangan serahkan aku… aku mohon,” pintanya terisak, jemarinya mencengkeram jas Leon erat-erat.
Leon tidak menjawab.
Detik berikutnya, Diandra sudah dimasukkan ke dalam mobil lain.
Mobil putih.
Berbeda dari mobil hitam yang mereka tumpangi sebelumnya.
Tak lama, Leon ikut masuk, disusul asistennya. Pintu ditutup cepat.
Dari balik kaca, Diandra melihat sesuatu yang membuat napasnya tercekat.
Mobil hitam itu—mobil yang barusan mereka tumpangi—didorong perlahan… lalu meluncur jatuh ke dalam jurang.
Hilang.
Diandra terdiam. Tubuhnya membeku, otaknya butuh waktu untuk mencerna apa yang baru saja terjadi.
Mobil pun melaju dan kini Diandra menatap Leon dengan perasaan horor.
Tapi Leon biasa saja seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Justru membuat Diandra semakin yakin bahwa pria yang menolongnya bukan orang sembarangan.
Lalu bagaimana nanti hidupnya, apakah masalah akan selesai atau malah lebih rumit?
Mobil terus melaju membelah jalanan yang gelap diterangi lampu jalanan.
Digiring dengan isi pikiran Diandra yang berkecamuk karena merasa ia akan masuk ke dalam jurang yang lebih dalam.