(Pov Aaris) Aku menarik napas dalam-dalam. Hari ini aku akan kembali mengambil langkah besar. Aku akan berusaha berinteraksi dengan Rara sebagaimana saran dokter Dian kemarin. “Ya Allah, bantu hamba ...” lirihku pelan, selirih suara pintu yang berdecit nyaring, lantaran aku lupa memberitahu mama kalo engsel pintuku kekurangan minyak. “Aaris, lo pasti bisa!” gumamku saat melangkahkan kaki keluar dari kamar. Ada Rara dan Sandrina di lantai bawah. Keduanya nampak sibuk bermain, hingga tidak menyadari aku yang melihat ke arah mereka. Aku kembali menarik napas dalam-dalam, tanganku mulai bergetar, napasku mulai terpaut pendek-pendek, meski begitu aku terus melanjutkan langkahku, menyakinkan diri kalo semua baik-baik saja, meski itu terasa sulit. “Kita pasti bisa,” gumamku pelan. Langkah

