"Hai.." sapa Dixie tersenyum berbinar melihat Maura.
"Kau???" Ucap Maura terkejut dengan adanya Dixie disitu
"Kalian mengenalnya?" Tanya Maura lagi pada Elsa dan Anna dengan bingung.
"Duduklah Maura, kami akan menjelaskan padamu." Ucap Anna namun Maura tak mau, dia malah kembali menatap Dixie dengan wajah sedikit ketakutan.
"Apa yang kalian sedang rencanakan? Apa kalian tahu jika suamiku bisa membunuh pria ini jika dia tahu aku bertemu dengannya lagi?!" Ucap Maura.
Elsa lalu berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Maura, menuntun Maura agar mau duduk. Elsa dan Maura duduk bersebelahan sedangkan Dixie dan Anna duduk bersebelahan di hadapan Elsa dan Maura.
"Maura, dia Dixie. Dia sahabat suami kami berdua. Maaf, sebenarnya kami sudah mengetahui tentang kekerasan yang selalu kau terima itu, sebelum kita berkenalan. Perkenalan itu memang awal dari rencana kami. Kami benar-benar tulus ingin menolongmu lepas dari suamimu yang sakit jiwa itu. Tentang perasaan Dixie yang menyukaimu sejak awal bertemu, itu terserah padamu. Kami hanya tidak tega melihatmu seperti tak ada yang mampu menolongmu. Maaf, tapi sepenuhnya ini murni rasa kemanusiaan kami sebagai sesama wanita. Kau bisa menerima penjelasan kami?" Ucap Elsa menjelaskan pada Maura.
Maura kembali menatap Dixie sesaat lalu menunduk menatap putri dalam gendongannya.
"Maaf, saya tidak tahu bagaimana harus bersikap dengan anda Tuan. Saya berterima kasih atas perasaan anda, dan juga pertolongan anda, tapi saya ini masih resmi istri Duke Benjamin, dan anda bisa saja terbunuh kapanpun jika ketahuan berbicara dengan saya apalagi bertemu dengan saya seperti ini." Ucap Maura lalu kembali menatap Dixie di hadapannya.
Dixie hanya membalasnya dengan senyuman.
"Maura, apa kau masih mencintai suamimu dan masih berharap rumah tangga kalian bisa kembali penuh cinta seperti awal dulu?" Tanya Anna.
"Aku....aku tak tahu apa yang aku harapkan saat ini, mengenai cinta pada suamiku....aku juga tak tahu, aku hanya khawatir pada putriku ini jika suatu saat aku harus mati ditangan suamiku." Sahut Maura kembali menunduk.
"Kalian jangan memaksanya, biarkan dia menentukan sendiri kemana hatinya ingin bersandar." Ucap Dixie pada Anna dan Elsa , dia tak ingin memberi tekanan lebih pada Maura.
"Terima kasih Tuan." Sahut Maura menatap dalam manik mata Dixie, Maura menemukan kelembutan, cinta dan rasa sayang di dalam tatapan Dixie. Hati Maura sempat luluh sejenak pada tatapan Dixie.
Anna dan Elsa saling menatap dan tersenyum melihat Maura dan Dixie yang saling menatap lama.
Drrttt...drrtt...
Smartphone Anna berbunyi, membuyarkan lamunan Dixie dan Maura. Dixie langsung tersenyum sinis pada Anna, sedangkan Maura tersenyum menunduk melihat ke putrinya lagi.
"Maafkan aku." Ucap Anna karena merasa telah mengganggu Dixie dan Maura. Elsa hanya tersenyum.
"Uncle Pete, ada apa?" Tanya Anna saat menerima panggilan telepon.
"Ada Duke Benjamin baru saja tiba disini." Sahut Pete.
"Apa?! Bagaimana mungkin?! Uncle Pete bisa kau tolong Maura untuk lolos lewat pintu lain?!" Tanya Anna panik.
"Ada pintu belakang dari hotel ini. Nona bawa Maura melalui pintu dapur segera, saya akan menjemput nona di belakang sana." Sahut Pete. Anna langsung menutup teleponnya.
"Duke Benjamin ada disini. Kita harus segera menyembunyikan Maura dan baby Quinzy. Uncle Pete sudah menunggu kita di pintu belakang hotel, kita lewat pintu dapur saja." Ucap Anna membuat Maura terkejut ketakutan dan segera memeluk putrinya lalu mengikuti Anna keluar lewat pintu dapur. Elsa dan Dixie tetap berusaha tenang berada di ruangan private restaurant hotel itu.
BRAAAKKK!!!
Pintu ruangan itu dibuka kasar oleh Duke Benjamin dan para pengawalnya. Dixie mengenali Kevin, kepala pengawal Duke Benjamin. Dixie segera berdiri dari kursinya, Elsa berusaha tetap tenang duduk di kursinya.
"Kita bertemu lagi, sepertinya kau tak bisa membuka pintu dengan baik-baik ya..., kali ini apa yang membuatmu datang kemari Tuan?" Sapa Dixie mencoba ramah berpura-pura tak mengenali siapa pria dihadapannya itu.
"Dimana Maura?" Tanya Ben.
"Maura? Siapa yang kau maksud dengan Maura? Istrimu? Kenapa kau selalu mencari istrimu padaku? " Tanya Dixie.
Elsa menoleh ke belakang melihat Duke Benjamin lalu berdiri dari kursinya. Elsa menunduk memberi hormat pada Duke Benjamin.
"Selamat siang Duke Benjamin. Maafkan teman saya yang tidak sopan karena dia tidak mengenali anda." Ucap Elsa.
Duke Benjamin merasa sedikit tersanjung dengan sapaan hormat Elsa yang sedikit meredam amarahnya.
"Nona Lambroche, apa yang sedang kau lakukan bersamanya?" Tanya Ben dengan tatapan menyelidik. Namun sebelum Elsa menjawab, muncul Xander di pintu.
"Selamat siang Duke Benjamin. Maaf saya datang terlambat sayang." Ucap Xander menyapa Ben dan langsung berjalan masuk melewati Ben lalu memeluk dan mengecup bibir Elsa. Elsa terkejut dengan kedatangan Xander yang mendadak namun juga lega.
"Ouw ternyata kau juga disini Tuan Lambroche, maaf saya sudah berpikir buruk tentang istri anda." Ucap Ben pada Xander.
"Kali ini saya maafkan anda, tapi tolong janganlah selalu berpikir buruk pada seorang wanita yang hanya duduk dan berbicara dengan seorang pria dalam satu ruangan, apakah anda tak memiliki sekretaris atau karyawan wanita? Apakah anda tak pernah berbicara pada wanita dalam satu ruangan?" Sahut Xander sengaja menyindir Ben dengan sangat menohok.
"Maaf Tuan Lambroche, baiklah saya pamit undur diri. Sekali lagi maafkan saya." Ucap Ben langsung meninggalkan ruangan itu dengan rasa malu.
Setelah memastikan Ben sudah keluar dari restaurant itu, Xander segera menutup pintu ruangan itu. Elsa langsung lemas duduk di kursi.
"Ach...akhirnya dia pergi juga, aku harus menghubungi Anna, semoga Maura baik-baik saja." Ucap Elsa langsung meraih smartphone nya dan menghubungi Anna.
"Bagaimana kalian?"
"Kami berhasil lolos kak, sekarang Maura sudah berada di rumahnya lagi. para pelayan dan pengawal sudah berhasil diajak kerjasama supaya mengatakan bahwa Maura tidak keluar rumah sejak pagi. Semoga Maura baik-baik saja."
"Syukurlah kalau begitu, untung Xander datang tepat waktu kemari jadi Ben tidak bisa curiga. Kalau begitu kau langsung pulang saja, kita bertemu nanti malam di rumahmu."
Sambungan telepon pun dimatikan. Elsa langsung memeluk Xander yang sudah duduk di sampingnya.
"Terima kasih sayang, tapi bagaimana kau bisa mendadak hadir disini?" Tanya Elsa.
"Mike, langsung menghubungiku saat dia dan Pete melihat bahwa Ben datang kemari dengan mendadak. Aku takut terjadi sesuatu pada kalian, jadi langsung menyusul kesini." Sahut Xander.
"Terima kasih sobat." Ucap Dixie.
"Kau harus pandai menjaga sikapmu Dixie, bagaimanapun dia seorang Duke. Kau tak bisa menghadapinya selalu dengan emosi menantang seperti tadi." Sahut Xander mengingatkan sahabatnya.
Mereka bertiga memang bersahabat sejak kecil, namun hanya Xander dan Brandon yang berusia sama 37 tahun sedangkan Dixie berusia lebih muda dari mereka semua yaitu 32 tahun, maka dari itu Xander dan Brandon sering menasehatinya.
"Iya, maafkan aku." Sahut Dixie tersenyum. Xander hanya menggelengkan kepala tersenyum juga.
Mereka bertiga lalu meninggalkan restauran itu setelah selesai makan siang. Xander dan Dixie kembali ke kesibukan di kantor masing-masing, sedangkan Elsa menjemput Justin di rumah pantai diantar oleh Mike.
***
Di mansion kediaman Duke Benjamin dan Duchess Maura, semua tampak normal saat Ben tiba di rumahnya. Maura menyambut Ben dengan baby Quinzy di gendongannya.
"Kau pulang lebih cepat dari jadwalmu? Kenapa tidak menghubungiku supaya bisa kujemput?" Sapa Maura bersikap wajar pada Ben. Ben memperhatikan Maura, namun Maura tetap tenang dan bersikap wajar.
"Pertemuannya batal, jadi aku pulang cepat. Maaf tak memberitahumu." Sahut Ben lalu mengecup bibir Maura.
"Aku merindukan kalian, aku merasa bersalah atas kejadian malam itu, maafkan aku Maura, aku dibuat mabuk oleh para kolegaku sehingga tak sadar membawa wanita itu pulang kemari." Ucap Ben berusaha baik dihadapan Maura.
"Sudahlah, aku sudah tak apa. Lain kali kumohon kau jangan mengulanginya lagi. Karena hatiku sangat sakit melihatmu dengannya." Sahut Maura.
"Apa kau masih mencintaiku seperti dulu Maura?" Tanya Ben menyelidik.
"Tentu Ben, apa kau meragukan aku?" Sahut Maura padahal dalam hatinya terasa nyeri mengatakan itu.
"Apa kau tak pernah tertarik pada Dixie?" Tanya Ben, Maura langsung mengernyitkan keningnya berpikir.
"Dixie? Siapa dia? Aku bahkan tak mengenalnya?" Tanya Maura berpura-pura.
"Kau tak ingat Dixie?" Tanya Ben dan Maura hanya menggelengkan kepala pura-pura tak mengingat.
"Pria yang katamu telah menyelamatkan Quinzy. " Sahut Ben.
"Tidak, aku bahkan lupa dengan wajahnya." Ucap Maura bersandiwara lagi.
"Baiklah lebih baik kita tidak membahasnya lagi. Aku lapar, bisa kau siapkan makan siang untukku?" Ucap Ben dan Maura tersenyum mengangguk.
Saat sedang menyiapkan makanan di meja, Maura melihat Ben sedang bermain bersama baby Quinzy dengan senang. Maura tersenyum bahagia. Maura merasa semua sikap Ben hari ini bagai sebuah mimpi, tersenyum, lembut dan penuh kasih sayang terhadap Maura dan baby Quinzy.
Mungkinkah semua mimpi ini akan terus sampai esok dan keesokan harinya seterusnya???