PERGI

1387 Kata
Siang ini Maura makan bersama Ben dengan baby Quinzy di antara mereka. Ben selalu tersenyum pada Maura juga Quinzy, bahagia keluarga ini. Selesai makan siang Ben menggendong Quinzy masuk ke dalam kamar dan mengajaknya bermain disana. Semua nampak penuh cinta dan bahagia, saat Ben bisa tersenyum. Namun saat menjelang malam hari, Ben mendadak mendapatkan sebuah pesan di ponselnya, entah dari siapa. Ben mengecup Quinzy sebelum menyerahkannya ke gendongan Maura, lalu segera bersiap pergi dengan alasan ada pekerjaan penting yang harus dia selesaikan.      Maura menanti suaminya, namun esok paginya Ben baru pulang lagi dengan keadaan lusuh dan berantakan. Maura khawatir melihat keadaan Ben. "Ben, kau darimana? Apa kau baik-baik saja? Mengapa penampilanmu sangat berantakan seperti ini?" Tanya Maura. Namun bukan jawaban yang didapatkan Maura, melainkan langsung sebuah tamparan di pipinya. Plak!!! Ben menampar pipi Maura dengan kasar. Maura yang semalaman tak tidur mendadak limbung hampir pingsan mendapat tamparan keras di pipinya, beruntung Maura sempat bersandar pada tembok disampingnya.   "KAU TAK USAH MENUDUHKU MACAM-MACAM!!! SUDAH KUBILANG AKU MENGURUS PEKERJAAN YANG PENTING!!!" bentak Ben berteriak di wajah Maura yang masih limbung pandangannya agak kabur dan berputar. Ben langsung pergi meninggalkan ruangan tengah dan langsung naik ke kamarnya, tak peduli dengan Maura.  Para pelayan yang mendengar keributan itu langsung menghampiri Maura setelah memastikan Ben masuk ke kamarnya, lalu membantu Maura untuk duduk bersandar di sofa dan segera memberinya minum. Maura sangat berterima kasih pada para pelayan itu, sejak tidak ada Louisa, kepala pelayan yang membenci Maura itu,  kini para pelayan di rumah itu selalu menolong Maura.  Saat Lidya, asisten pribadi Maura tiba, Maura langsung meminta Lidya untuk menjaga Quinzy di dalam kamarnya, karena Ben sedang dalam emosi yang sangat buruk. Maura lalu masuk ke dalam kamarnya, dia menemukan Ben sudah tertidur di bed mereka. Maura melihat ponsel Ben yang tergeletak begitu saja. Perlahan Maura mengambil ponsel itu, dan bersyukur Ben tidak mengaktifkan password-nya seperti biasa. Maura penasaran pesan apa yang Ben terima semalam sehingga dia langsung pergi dan pulang di pagi hari dalam keadaan berantakan.   From : Ellyane To: Ben Malam ini datanglah ke apartment, aku kesepian.. aku merindukan sentuhanmu. I want to c*m with your touch.   Maura langsung tersayat hatinya membaca pesan itu. Maura kembali membaca pesan lain dari wanita itu, dan semakin terkejut karena isinya hanya semacam sexchat dan kemesraan lainnya, juga beberapa foto kemesraan Ben bersama wanita itu. Wanita yang beberapa malam lalu dibawa pulang oleh Ben. Maura tak sanggup lagi untuk terus membacanya, Maura segera mengembalikan keadaan ponsel itu seperti semula tadi. Maura langsung keluar dari kamar itu perlahan supaya tidak membangunkan Ben. Maura langsung berlari ke kamar Quinzy, dan setelah Lidya membukakan pintu, Maura langsung berhambur ke pelukan Lidya dengan menangis, Lidya segera menutup pintu dan kembali menguncinya dari dalam.   "Ada apa Nyonya? Kenapa kau menangis seperti ini? Apa kau dipukul lagi oleh Tuan?" Tanya Lidya khawatir dengan tangisan majikannya itu. Maura tak sanggup berbicara, dia hanya terus menangis di pelukan Lidya. Lidya pun hanya bisa menepuk-nepuk punggung Maura membantu menenangkan. Maura segera melepaskan diri dari pelukan Lidya, menghapus air matanya dan segera mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu menghubungi Elsa, setelahnya Maura meminta Lidya untuk segera berkemas pakaian dan perlengkapan baby Quinzy. Maura memutuskan untuk pergi dari rumah itu segera sebelum Ben terbangun dari tidurnya.  Maura sudah meminta bantuan pada Elsa untuk segera menjemputnya beberapa meter dari mansion nya. Maura hanya mengajak baby Quinzy juga Lidya dan membawa perlengkapan baby Quinzy saja, dia tak peduli dengan kebutuhannya. Maura hanya ingin segera pergi dari Ben.   Kevin, kepala keamanan Ben langsung mencegat Maura dan Lidya yang tampak terburu-buru akan pergi. "Maaf Nyonya, anda akan kemana? Apakah Tuan sudah mengetahui kepergian anda ini?" Tanya Kevin. "Kevin, kau harus menolongku keluar dari sarang iblis ini. Kumohon Kevin, aku tak mau mati konyol disini. Aku tahu kau pasti mengetahui perselingkuhan Tuanmu itu dan perlakuan kasarnya padaku. Kumohon bantulah aku, anggap aku sebagai saudara perempuanmu. Kumohon Kevin.... tolong bebaskan aku. Aku hanya ingin anakku selamat." Pinta Maura memohon dengan menangis, tak peduli lagi martabatnya sebagai Duchess dimata Kevin.   Kevin langsung merasa iba, dia memang mengetahui segala perlakuan Tuannya baik didalam rumah ataupun diluar rumah, karena Kevin selalu berada disamping Tuannya. Kevin lalu bergeser menyingkir dari hadapan Maura, membiarkan Maura lewat. "Terima kasih Kevin, aku tak akan melupakan kebaikanmu ini. Maafkan aku, Semoga kau bisa menghadapi amarah Tuanmu nanti." Ucap Maura sebelum melangkah melewati Kevin. "Jangan khawatir Nyonya, aku sudah terbiasa menghadapinya. Lidya, jagalah Nyonya dan nona Quinzy dengan baik. Kalian berhati-hatilah." Sahut Kevin tersenyum lalu Maura segera keluar dari rumah itu dengan sedikit berlari supaya lolos keluar dari pintu gerbang dengan cepat.   Kevin memberi kode pada para pengawal untuk membiarkan Maura lewat dan menutup mulut jika Tuannya bertanya nanti. Para pengawal itupun menuruti perintah Kevin. Kevin segera menghapus rekaman CCTV yang merekam kepergian Maura dan segera mengeditnya dengan kondisi rumah yang sepi, seakan tak ada apapun yang terjadi.   Maura terus melangkah cepat agak berlari hingga dia melihat mobil Elsa dengan Mike yang menunggunya di depan mobil. Maura sambil menggendong Quinzy dan Lidya segera masuk ke dalam mobil Elsa dan Mike membantu memasukkan perlengkapan Quinzy ke dalam bagasi. Mobil itu segera pergi meninggalkan tempat itu. "Ada apa Maura? Pipimu ditampar lagi oleh b******n itu?" Tanya Elsa seraya menyentuh pipi Maura yang memerah dengan bekas tangan. Maura hanya mengangguk. "Elsa, apa kau tahu tempat aman untukku dan Quinzy bersembunyi dari iblis itu?" Tanya Maura "Aku tahu tempat paling aman dan tidak akan diketahui olehnya. Kau bisa menenangkan dirimu disana. " Sahut Elsa menggenggam tangan Maura. "Lidya, kau juga sebaiknya tidak pulang dulu ke rumahmu, karena Duke Benjamin pasti akan mencarimu juga. Apa kau memiliki keluarga di rumahmu?" Tanya Elsa. "Tidak, aku hanya hidup seorang diri, suamiku sudah lama meninggal. Pernikahan kami juga tidak dikaruniai anak." Sahut Lidya dan membuat Elsa iba sekaligus lega, itu brarti hanya perlu Maura, Quinzy, juga Lidya yang harus disembunyikan. "Maafkan aku Lidya, aku tak bermaksud mengungkit masa lalumu." Ucap Elsa dan Lidya hanya tersenyum mengangguk.   Mobil yang mereka gunakan kini memasuki sebuah lingkungan perumahan pantai. Ya benar, Elsa akan menyembunyikan Maura, Quinzy, juga Lidya di dalam rumah pantai milik Dixie. "Ini rumah siapa? Bukankah ini perumahan umum? Apakah benar aman berada disini Elsa?" Tanya Maura sedikit khawatir.   Elsa tersenyum, lalu mengajak Maura untuk segera masuk ke dalam rumah, dan ternyata Anna sudah ada di dalamnya. "Hai Maura..." Sapa Anna tersenyum menyambut Maura lalu memeluknya. Maura masih bingung dengan Elsa dan Anna, meragukan keamanan rumah ini, dan juga tak mengetahui siapa pemilik rumah ini. Elsa dan Anna saling menatap dan tersenyum seolah dapat membaca kekhawatiran di pikiran Maura.   Elsa dan Anna lalu mengajak Maura menuju tangga, namun bukannya naik melalui tangga itu tapi justru turun melalui tangga yang mendadak terbuka dibawah sebuah pintu kecil di dalam salah satu dinding rumah itu, seperti menuju ke ruangan bawah tanah yang tersembunyi. "Mari Maura, aku kutunjukkan tempat persembunyianmu." Ajak Elsa.   Rumah pantai Dixie tak pernah ditempati, dan juga memiliki sebuah ruangan dibawah tanah dengan pemandangan bawah laut yang indah, yang tidak diketahui oleh banyak orang, hanya tiga sahabat itu, Pete, Mike dan kini para istri mereka juga mengetahuinya. Maura mulai turun ke dasar tangga itu, dan sangat kagum dengan apa yang dia lihat, sebuah ruangan dengan kaca besar memperlihatkan pemandangan laut yang sangat indah.  "Indah sekali dibawah sini. Rumah siapa ini?" Tanya Maura. "Ini rumah Dixie. Tenang saja, Dixie tidak tinggal disini, dan harus kau tahu bahwa rumah ini sudah dilengkapi dengan penangkal sinyal satelit apapun, sehingga segala aktifitas di rumah atas maupun keberadaan ruang di bawah tanah ini tidak bisa terdeteksi oleh satelit apapun, maklum Dixie adalah seorang  mafia yang sangat butuh tempat persembunyian. Jadi kau sangat aman berada disini." Ucap Elsa tersenyum. "Dixie??? Jadi dia juga tahu kalau aku kabur dari rumah?" Tanya Maura, Elsa dan Anna hanya mengangguk tersenyum. "Ach.... Aku baru sadar, rupanya kalian sengaja ingin mendekatkan ku dengan Dixie ya..? "ucap Maura menghela nafas berat, mengetahui tujuan utama dari setiap rencana para sahabatnya ini, dan sekali lagi Elsa dan Anna hanya mengangguk tersenyum.   Maura hanya menoleh menatap ke Lidya yang terlihat lebih bingung karena tak mengerti apa yang tiga wanita ini bicarakan dan siapa Dixie. "Dixie sudah menyiapkan kamar untukmu, mari aku tunjukkan." Ajak Anna lalu menuju ke sebuah pintu dan membukanya. Sebuah kamar juga dengan pemandangan dasar laut yang sangat indah. "Maura, ada pesan dari Dixie, katanya maaf kalau kamarnya terlalu maskulin, tapi kau bisa mengubahnya sesuai dengan seleramu." Ucap Anna lagi dengan tersenyum. "Eh tak apa, aku juga suka dengan ini, lagipula siapa aku? sampai berhak mengubah dekorasi kamar ini." Sahut Maura. Sekali lagi Elsa dan Anna hanya saling menatap lalu tersenyum. Tentu saja mereka tahu siapa Maura di hati Dixie.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN