Bab 6 | Stress Kehamilan dan Pendarahan

1844 Kata
Joana bangun dari tidurnya dengan perasaan berat, seperti biasanya, yang dia lakukan hanya mengurung diri di kamar, tidak pernah keluar walau Anna sudah membujuknya dan mengajaknya berjalan-jalan untuk tour mansion mewah di tengah hutan milik Louis itu. Semenjak kehamilannya, Anna menjadi lebih manusiawi dan memberikan perhatian untuknya, namun Joana menolak semua itu. Walau Anna sedikit berubah, namun dia melihat wanita itu lebih mirip robot yang tidak memiliki sifat keibuan dan hanya menjalankan tugasnya, yang tentu diperintah oleh Louis. Sudah satu bulan sejak dirinya meminta Louis untuk menikahinya, akhirnya sudah bisa ditebak, pria itu tentu tidak akan mengabulkannya, siapa dirinya? Louis hanya menganggapnya pelayan. Morning sickness yang dialaminya tidak begitu menyiksa, namun dia merasa tertekan, dia tidak memiliki persiapan apapun tentang kehamilannya, dia tidak tau apa yang harus dilakukan sebagai calon ibu, dia tidak bisa keluar dan terkurung di mansion sialan mewah itu, dan dia tidak memiliki teman untuk sekedar bercerita. Semua itu menumpuk menjadi satu di kepalanya dan membuatnya stress, kadang Joana menangis memikirkan itu. Dia tau seharusnya dia tidak boleh bersedih dan stress, tapi hal itu bukan sesuatu yang bisa dikontrol, pikiran-pikiran buruk juga ketakutan yang bertumpuk menjadi satu mengacaukan dirinya, di saat dia membutuhkan seseorang untuk berbagi cerita, berbagi apa yang dia rasakan dan dia inginkan, dia tidak memilikinya satu pun. Pintu yang terbuka membuat Joana tersentak, namun saat itu juga dia menyadari perutnya sakit. “Anna …da…rah.” Joana menyadari seprainya telah berubah warna dan ada darah di sana. Membuat wajahnya panik, pun dengan Anna. Wanita itu langsung menelpon seseorang dan meminta Joana untuk tenang. Hanya dalam waktu sepersekian detik pintu kembali dibuka, Louis datang dengan wajah paniknya, Joana sudah menangis dan hanya tau Louis langsung membopong tubuhnya dan berlari, menuju lift dan tau-tau dia keluar dari lift di ruangan yang serba putih, beberapa orang membawa brankar dan Louis langsung sigap meletakkannya dengan hati-hati. Joana terlalu lelah mencerna dimana dirinya berada, membuat kesadarannya pelan-pelan menghilang. *** “Bagaimana? Bayinya baik-baik saja kan?” Tanya Louis pada Kate yang terlihat tengah memeriksa Joana yang masih tidak sadarkan diri. “Beruntung janinnya baik-baik saja. Dia mengalami pendarahan ringan, biasanya dipicu karena stress, namun jika ini terjadi lagi, akibatnya bisa lebih buruk. Seperti yang saya sarankan sebelumnya, Mister. Mungkin anda bisa mulai dengan menanyakan apa yang dia inginkan, dan mengajaknya berbicara, terkadang ibu hamil memang akan lebih mudah manja, lebih emosional dan membutuhkan teman bicara. Saya harap anda mempertimbangkannya, demi kesehatan calon bayi dan ibunya.” Kate lalu menganggukkan kepalanya dan pamit undur diri. Meninggalkan Louis bersama Joana di ruangan itu. Louis lalu bergerak ke toilet di ruangan itu, membasuh wajahnya dengan emosi yang naik, ingin memaki Joana yang sudah lancang berani membahayakan calon anaknya. Namun, mengingat ucapan Kate tadi membuatnya menahan hal-hal kejam yang ingin ia lakukan pada Joana, bagaimana pun dia tidak boleh gegabah dan harus bisa mengontrol emosinya demi keselamatan anaknya. “Siall!!!” Louis menonjok dinding di depannya, dia tidak pernah kalah dari seseorang, dan tidak akan pernah mau mengalah, tapi karena wanita itu, dia harus menekan semuanya. “Brengsekk!! Dia memang penghalang semuanya. Andai saja …. Argghhh.” Sekali lagi Louis menonjok dinding di depannya, hingga buku-buku jarinya lecet dan mengeluarkan darah. Dia lalu kembali membasuh wajahnya, dan mengeringkannya dengan bath towel yang tersedia di sisi wastafel. Dia ingat sejak Joana menginginkan permintaan gila tentang pernikahan, lalu kemarahan wanita itu yang tidak terima disebut b***k. Sejak hari itu Louis tidak pernah berbicara lagi dengan wanita itu. Dia hanya berusaha untuk mengendalikan emosinya untuk tidak melontarkan kata-kata yang bisa memicu kemarahan Joana, karena dia tau itu berbahaya bagi kandungan wanita itu. Namun, dia tidak benar-benar melepaskan Joana, dia selalu melihat wanita itu setiap pagi dan malam, saat wanita itu terlelap, dan meminta Anna memastikan keadaannya, namun sepertinya Anna juga gagal, karena dari laporannya, wanita tua itu mengatakan Joana tidak berbicara banyak dan lebih sering menyuruhnya pergi. Mengingat kejadian fatal ini membuat Louis kembali mengumpat, dia tidak pernah menginginkan adanya pernikahan dalam hidupnya, semua ini di luar rencanya dan kejadian tak terduga ini menghambat dan memainkan emosinya dengan gila. Louis menggeram dan merogoh ponselnya, menelpon Liam untuk mempersiapkan sesuatu. -Liam, dapatkan dokumen-dokumen pribadi tentang identitas Joana.- Liam lalu keluar dari toilet, dan mendapati Joana sudah sadar namun wajah wanita itu sembab, Louis mendekat di sisi ranjangnya, menaikkan ranjang Joana agar wanita itu setengah duduk. Tatapan matanya lekat dan tanpa kata menghapus air mata di wajah Joana. Namun Joana justru menangis semakin kencang dan menutup wajahnya. “Tidak bisakah kau melepaskanku saja? Tolong…Aku bisa gila dengan semua ini. Aku bukan budakmu, breengsek! Apalagi b***k s*x-mu yang harus melahirkan anakmu!! Jika kau tidak bisa memperlakukanku sebagai manusia, lepaskan aku!! Kehamilan ini saja membuatku gila, namun aku tidak memiliki siapapun di rumah itu! Kau mengurungku layaknya aku tawanan, bahkan sejak tiba di sana, aku tidak pernah tau lagi bagaimana kehidupan di luar! Jangankan kehidupan di luar!! Bahkan kakiku tidak pernah menginjak tanah lagi!! Kau sangat kejam!!” Joana kembali membabi buta, membuat Louis langsung menenangkan wanita itu, membopongnya dan meletakkannya di kursi roda, membawa Joana keluar dari sana. Membuat Joana seketika terdiam kaku, membiarkan Louis membawanya keluar, melewati lorong asing yang terlihat seperti rumah sakit, tapi seingatnya Louis tidak membawanya ke rumah sakit tadi. Lalu Louis kembali membawanya menaiki lift yang familiar, dia mencoba mencocokkan setiap kemungkinan jawaban di kepalanya. Saat lift membawanya naik dan berhenti di lantai yang sangat dia kenali, lantai di mana dia merasakan nikmatnya masakan dari koki pribadi. Semua orang seolah sudah berdiri di posisinya, memberikan hormat dan sedikit menundukkan kepalanya. “Kemana kau akan membawaku?” Joana mendongak, namun tatapan Louis masih lekat menatap ke depan, dua orang dengan pakaian maid yang berdiri di depan pintu dengan sigap membukakan pintu untuk mereka. Saat itu Joana bisa melihat sinar matahari yang menyapanya, dia tersenyum, akhirnya bisa kembali merasakan dunia luar, bukan hanya dinding putih yang membuatnya tertekan. Louis terus mendorong kursi rodanya ke tempat yang Joana merasa familiar, taman cantik dan luas yang selama ini hanya bisa dia liat dari balkon kamar, pelan-pelan senyum terbit dari bibir Joana, hatinya tersentil dan merasa haru dengan apa yang dilakukan Louis. Lalu Louis berhenti, mengangkat tubuh Joana untuk duduk di kursi taman, membuat Joana mengernyit, untuk apa pria itu melakukannya? Duduk di kursi roda dan kursi taman apa bedanya? Lalu dia melihat Louis duduk di sampingnya. “Sudah menginjak tanah sekarang?” Suara dingin Louis membuat Joana mengernyit bingung, namun langsung menyadarinya dan hanya bisa melongo dibuatnya, lagi-lagi pria itu unpredictable. Lalu dia melihat kakinya yang memang sudah menginjak rumput taman itu. “Apa yang kau pikirkan tentang semua ini?” Tanya Louis lagi, membuat Joana tidak mengerti ke mana arah pembicaraan pria itu. “Sejak bertemu denganku dan kau berakhir di sini, Joana Edeline. Ungkapkan semuanya padaku.” “Apalagi? Kau sudah tau persis semua yang kurasakan!! Aku terus berteriak padamu, jika kau yang sejak awal memperkosaku, merusakku dan menghancurkan hidupku, lalu aku berakhir menjadi tawanan di mansion tengah hutan ini.” Joana kembali berapi-api, membuat Louis langsung memegang kedua bahu wanita itu dan meminta wanita itu untuk tenang melalui tatapan matanya. “Setidaknya kau harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku, bukan menjadikanku tawanan dan memenuhi segala kebutuhan fisikku, semua itu tidak ada harganya. Lalu mulut brengsekmu justru mengatakan aku hanyalah b***k, pelayan. Siapa dirimu yang menghakimiku, hah?! Aku bukan budakmu, apalagi b***k s*x-mu yang harus melahirkan anakmu.” “Kau tidak tau rasanya bagaimana tiba-tiba mendapatkan kenyataan kehamilan ini, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan! Aku tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang menghadapi kehamilan sebelumnya! Aku tidak memiliki teman berbicara dan semua ini membuatku gilaa!” Joana kembali berteriak, membuat Louis langsung kembali mencengkram bahu wanita itu dan memegang dagunya, hingga tatapan mereka begitu lekat dan mengunci satu sama lain. “Kau memiliki Anna yang bisa kau ajak bicara.” Louis mendesis, mendengar itu Joana hanya mendecih. “Dia tidak memiliki hati, dia hanya robot yang ditugaskan olehku untuk berpura-pura menjadi teman bicaraku, b******k!” Joana kembali mengumpat, membuat Louis memejamkan matanya, berusaha meredam emosinya, dia benar-benar tidak menyangka ada di titik ini, di mana dia harus menekan amarah dan egonya untuk seorang wanita yang bahkan dia kenal belum lama. “Kau tau apa yang kau lakukan, hah?! Kau hampir membunuh bayiku!” Louis kembali mendesis, dan ucapan Louis sangat menyentil Joana, membuat Joana reflek memegang perutnya dan meminta maaf kepada calon bayinya. “Aku … aku juga tidak menginginkan ini terjadi. Dia juga bayiku! Namun semua ini juga membuatku tertekan.” Joana kembali menangis, menutup wajahnya, membuat Louis kembali menarik napasnya panjang, menarik tangan Joana dan menangkup wajah wanita itu untuk menangkapnya. “Oke, dengar. Mulai saat ini … kau bisa mengatakan apapun yang kau inginkan. Apapun. Tapi aku tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi. Jika hal seperti ini terjadi lagi setelah semua yang bisa kau dapatkan sesuai keinginanmu, maka kau harus membayarnya dengan mahal, Joana. Deal?” Louis menatapnya lekat, dia tidak pernah menyangka dalam hidupnya akan menuruti keinginan seseorang, di saat seumur hidupnya adalah semua keinginanya yang akan dituruti dan harus terwujud bagaimana pun carany. “O..Oke, deal. Aku juga tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi.” Joana menjabat tangan Louis namun masih dengan kepala yang menunduk, dia juga tidak menyangka akan memiliki obrolan yang panjang dengan Louis, terlebih pria itu kini terlihat lebih manusiawi. “Oke, katakan apa yang kau inginkan.” Louis kembali pada mode datarnya. “Aku … aku ingin pernikahan… bagaimana pun aku adalah wanita baik-baik, dan semua ini salahmu yang memperkosaku, setidaknya bertanggung jawab dan pulihkan namaku, nikahi aku!” Permintaan Joana masih sama, membuat Louis memijat pelipisnya yang terasa pening, baru permintaan pertama sudah memusingkan untuknya. “Oke, kita akan menikah. Ada lagi?” Tanya Louis. “Aku ingin pelayan pribadi, bukan Anna. Aku ingin dia benar-benar manusia yang bisa diajak bicara dan berdiskusi, aku butuh teman untuk bicara.” Joana kembali mengutarakan perasannya, membuat Louis memutar bola matanya jengah, dia pikir Anna tidak memiliki hati. Anna adalah pelayan paling setia selama puluhan tahun untuk keluarga Canning. “Oke, aku akan menyiapkannya untukmu. Ada lagi?” Louis mengumpat mulutnya yang terus menawarkan sesuatu pada Joana, dan mendengar itu membuat Joana mengangguk dengan senyum malu-malu, membuat Louis mengernyitkan keningnya bingung, namun juga waspada. “Aku …. Aku.. terbiasa sarapan bersama-sama di panti asuhan sejak kecil, aku … ingin kita juga memiliki sarapan bersama setiap pagi.” Louis cukup terkejut dengan permintaan ketiga wanita itu, semakin melunjak dan membuatnya ingin melampiaskan sesuatu. “Kau benar-benar pandai memanfaatkan situasi, Nona.” Louis menatapnya jengkel, namun Joana menggidikkan bahunya acuh. “Aku … aku hanya tidak ingin kesepian dengan makan sendiri. Lagi pula kita … kita akan menjadi suami istri dan keluarga, sudah sewajarnya …” “Aku tidak tertarik dengan kehidupanmu dan pemikiranmu. Jadi tutup mulutmu!” Louis memotong ucapan Joana, dia tidak menyangka menghadapi perempuan hamil benar-benar menyusahkan, mood-nya benar bisa berubah dalam sepersekian detik. Louis kembali membopong Joana dan meletakannya di kursi roda, Joana hanya diam dan menurut. “Sudah waktunya kau kembali dan istirahat.” Ucap Louis lalu mendorong kursi roda itu kembali memasuki mansion besarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN