Joana mengerjapkan matanya beberapa kali, seingatnya tadi setelah dia kembali dari taman, Louis mengantarnya ke kamar, lalu dokter yang kemarin memeriksanya datang dan memberikan beberapa vitamin, lalu dirinya terlelap begitu saja. Tubuhnya terasa lebih rileks, mungkin percakapan dengan Louis memberikan pengaruh yang baik, walau dia harus menggunakan sedikit uratnya.
Joana melirik jam weker di atas nakasnya, sudah pukul lima sore, pantas dirinya merasa lapar, sejak hamil mood makannya naik turun, kadang dia tidak berselera makan, namun hari berikutnya dia bisa makan sampai empat kali.
Pintu yang terbuka membuat Joana sedikit tersentak kaget, seorang wanita muda, yang sepertinya seumuran dengannya, datang dengan senyum menawannya. Dengan seragam maid yang familiar bagi Joana. Sama seperti Anna.
“Selamat sore, Nyonya. Saya Emily, pelayan pribadi anda.” Emily menundukkan kepalanya lalu menatap Joana dengan senyum merekah, membuat Joana mengangguk juga tersenyum tipis. Pria itu benar-benar menepati ucapannya.
“Saya akan menjadi pelayan setia Anda, jangan sungkan untuk mengatakan apapun yang anda butuhkan dan anda rasakan, Nyonya.” Emily kembali berbicara, masih dengan senyum manisnya.
“Kau bisa memanggilku, Joana. Cukup panggil namaku.” Joana meminta Emily untuk duduk di tepi ranjangnya, namun Emily menggeleng.
“Saya akan melakukan apapun untuk anda, namun untuk panggilan itu, saya tidak bisa, Nyonya. Atau saya akan menerima akibatnya. Sangat buruk.” Emily menundukkan wajahnya, membuat Joana mendesah, pria itu benar-benar kejam.
“Baiklah, tapi cukup gunakan Bahasa informal saat denganku, yang aku butuhkan adalah teman, aku tidak ingin kita terasa canggung saat berbicara.”
“Baik, Nyonya. Saya akan melakukannya jika kita hanya berdua.”
“Informal, Emily.” Joana mengingatkan, membuat Emily tertawa kikuk dan mengangguk.
“Aku akan menyiapkan air untukmu mandi, Nyonya. Atau kau ingin melakukan sesuatu yang lain?” Tanya Emily membuat Joana mengangguk.
“Aku merasa lapar, sepertinya aku akan makan saja, tapi aku ingin sesuatu yang asam dan manis, mungkin salad buah.”
“Baiklah, aku akan meminta koki menyiapkannya untukmu, kau ingin turun ke bawah?”
“Tidak, aku ingin makan di balkon saja.”
“Oke, aku akan menyiapkannya, mari aku antar ke balkon dulu.” Emily dengan pelan-pelan menuntun Joana menuju balkon yang memang memiliki kursi santai di sana.
“Aku bisa berjalan sendiri, kau bisa pergi dan ambilkan salad buahku.” Joana tersenyum, membuat Emily mengangguk dan bergegas keluar dari sana.
Joana menikmati langit sore yang begitu cerah, perasannya begitu membaik, dia kembali mengusap lembut perutnya yang masih datar. Sesaat merasa sedih karena telah membahayakan calon bayinya.
“Mommy berjanji sayang, kau akan sehat selama dalam kandungan, Mommy. Kita berjuang bersama ya.” Joana tersenyum dengan perasaan yang lebih damai. Dia harus menjaga bayinya dan melahirkannya dengan sehat dan selamat. Itu adalah tujuan hidupnya kini.
Emily membawa salad buah permintaan Joana, lalu duduk di sisi wanita itu.
“Apa kau sudah lama bekerja di sini, Emily?” Tanya Joana memulai pembicaraan, dia ingin mengenal Emily lebih dekat.
“Ya, Nyonya, mungkin sekitar lima belas tahun yang lalu, aku adalah keponakan Bibi Anna.” Jawaban Emily membuat Joana sedikit terkejut.
“Kau keponakan, Anna? Kalian sangat bertolak belakang sekali.” Joana terus menguyah salad buah yang terasa begitu nikmat. Ah, rasanya semua makanan di sini adalah makanan paling nikmat yang pernah ia makan. Rasanya tidak pernah gagal apalagi mengecewakan.
“Ya… Haha… Dia memang terlihat ketus dan hampir tidak memiliki ekspresi, cocok dengan Mister Louis.” Emily kembali tertawa kecil, membuat Joana juga membalasnya dengan tawa, dia sangat setuju dengan itu.
“Lalu, di mana kau bekerja selama ini? Aku sepertinya tidak pernah melihatmu sebelumnya.”
“Ahh, itu … aku mendapatkan tugas khusus, sejak sepuluh tahun yang lalu, hanya saja aku tidak yakin bisa mengatakannya padamu atau tidak, mungkin kau bisa bertanya langsung pada Mister Louis.” Emily terlihat bersalah, namun Joana tidak mengambil pusing dan hanya mengangguk mengerti. Dia bisa mencari tahunya lebih dalam lagi nanti, seiring berjalannya waktu.
“Apa dia sendiri yang memintamu untuk menjadi pelayan pribadiku?” Tanya Joana, membuat Emily terlihat berpikir.
“Maksudmu Mister Louis? Ya … dia yang memintanya langsung padaku. Awalnya aku merasa agak aneh, biasanya Liam, sekertarisnya yang akan berbicara menyampaikan perintah Mister, hanya saja tadi dia langsung mengatakannya padaku.” Jawaban Emily lagi-lagi membuat Joana penasaran.
“Apa yang dia katakan?” Joana menatapnya antusias.
“Dia memintaku menjagamu dan melayani semua kebutuhanmu, tidak hanya itu, dia mengatakan karena kau sedang hamil, maka aku harus memastikan kau selalu sehat, atau jika ada sesuatu yang salah terjadi padamu, nyawaku akan melayang.” Emily meringis mengatakannya dan Joana juga bergidig ngeri.
“Apa ucapannya adalah kebenaran? Kenapa dia mudah sekali membunuh orang?” Joana yang masih belum mengetahui siapa Louis merasa tidak percaya.
“Tentu saja, Nyonya. Kau tidak tau siapa suamimu? Ya Tuhan, darah dan kematian adalah teman dekatnya.” Kini Emily yang bergidig ngeri mengatakannya.
“Ma…maksudmu?” Tanya Joana sedikit bergetar karena takut, Emily yang tau dia sudah melewati batas langsung memukul mulutnya yang tidak tau diri.
“Bukan apa-apa. Aku tidak memiliki hak untuk mengatakan lebih lanjut, yang ingin kukatakan adalah suamimu orang yang baik, Nyonya. Walaupun terlihat kejam, dia sangat mencintai keluarganya dan seseorang yang akan menjadi keluarganya, termasuk dirimu, dia sangat perhatian walau kadang melakukannya diam-diam.” Emily kembali menjelaskan, dari ucapan Emily, Joana tau wanita itu mengetahui lebih banyak tentang siapa Louis dan keluarga pria itu.
“Apa katamu tadi? Suami?” Joana baru menyadarinya, bagaimana Emily bisa mengatakan jika dia adalah suami pria itu.
“Ya, Mister mengatakan padaku jika kau istrinya. Aku diminta bukan hanya menjadi pelayannya, tapi juga teman mengobrolmu, tempat bercerita apa saja, namun aku tetap harus tau batasanku.”
“Dia mengatakan itu?” Joana sampai menutup mulutnya tak percaya, bagaimana pria itu bisa melakukan hal tak terduga? Di saat tadi pagi saja dia masih menolak untuk menikahinya? Dan mereka belum resmi menikah!
“Ya, bukankah sudah kukatakan? Dia diam-diam adalah orang yang penuh perhatian. Kau akan tersentuh nantinya. Percaya padaku.” Emily kembali menambahkan dengan senyum bangganya, namun ada senyum sendu di akhir yang hanya sekejap dia tampilkan. Sedangkan Joana masih mencerna dan berusaha memahami bagaimana watak pria itu.
***
Joana sedang membaca novel yang tadi diberikan oleh Emily, wanita itu begitu perhatian, bertanya apa yang dia sukai dan tidak dia sukai, dan saat dia mengatakan suka membaca novel, Emily langsung membawakan beberapa novel, wanita itu mengatakan untuk menemaninya sebelum tidur.
Pintu yang tiba-tiba terbuka mengalihkan atensinya. Dia melihat Louis yang masuk dengan tatapan datar khas pria itu.
Lalu Louis menyodorkan selembar dokumen ke arahnya, membuat Joana langsung melihatnya, dan membaca tulisan yang cukup besar di bagian atas itu. “Akta Pernikahan.” Hatinya tiba-tiba kembali merasa terharu, Louis benar-benar membuktikan semua ucapannya.
“Sesuai permintaanmu. Kita sudah menikah dan sah secara hukum. Namun, jika kau menginginkan pesta pernikahan, tentu itu hal yang mustahil.” Louis melipat tangan di dadanya, memperhatikan ekspresi Joana yang berubah haru, namun detik berikutnya terlihat sendu, sedang mengamati ekspresi sebenarnya dari wanita itu, namun sepertinya dia gagal.
“Ini lebih dari cukup.” Bisik Joana, dia merasa senang, namun hatinya tersentil dan merasa sedih saat pria itu mengatakan jika pernikahan ini sesuai permintaannya, seolah-olah dia seperti pengantin yang tak diinginkan. Walau kenyatannya memang seperti itu.
“Sudah makan malam?” Tanya Louis, membuat Joana mendongak dan mengangguk, saat itu Louis bisa melihat wajah Joana yang terlihat begitu polos namun memancarkan aura kecantikannya sendiri. “Vitamin dan obatmu sudah diminum?” Louis kembali melanjutkan pertanyaannya, dan Joana kembali mengangguk.
“Bagaimana Emily? Kau cocok dengannya?” Louis kembali bertanya, membuat Joana terdiam untuk sesaat, seolah sedang membuktikan ucapan Emily tadi, yang mengatakan jika pria di depannya kini sebenarnya diam-diam begitu perhatian. Dan itu yang dia lihat saat ini.
“Y..ya.. Dia baik, teman ngobrol yang asik dan menyenangkan.” Jawab Joana akhirnya, membuat Louis mengangguk mengerti.
“Besok kita sarapan bersama. Ada yang kau inginkan untuk sarapan besok?” Tanya Louis lagi, Joana hanya menggeleng sebagai jawaban.
“Jangan berpikir macam-macam. Jaga pikiranmu tetap tenang. Tidurlah.” Lalu Louis berlalu dari sana, membuat Joana seketika merasa kehilangan, entah karena apa.
“Terima kasih,” bisik Joana yang membuat Louis menghentikan langkahnya, namun pria itu tidak menoleh, dan kembali melanjutkan langkahnya.