Bab 8 | Siapa Wanita Itu?

1654 Kata
“Selamat pagi, Nyonya.” Joana mengernyit dan menggeliat pelan dalam tidurnya, lalu tersenyum pada Emily yang sudah siap di sisi ranjangnya. Lalu Joana melirik jam weker di atas nakasnya, masih pukul lima pagi. Kebiasannya yang memang bangun jam segini, tapi bagaimana Emily mengetahuinya? Selama ini yang dia tau tidak ada seorang pun yang tau, karena yang dia lakukan setelah bangun hanya membersihkan diri dan relaxing di balkon kamarnya. Ah, pasti itu. “Bagaimana kau tau aku bangun jam segini dan kau sudah siap di sini?” Tanya Joana masih penasaran. “Anna mengatakan padaku jika kau bangun sangat pagi dan biasanya melakukan exercise dulu. Mister Louis biasanya sarapan jam enam pagi. Kau masih memiliki banyak waktu. Ada yang ingin kau inginkan?” “Sejak kapan kau di sini, Emily?” “Mungkin sekitar lima belas menit yang lalu.” “Aku ingin sedikit melakukan peregangan saja di balkon dan menghirup udara segar.” Lalu Joana beranjak dari ranjangnya, di luar terlihat masih petang, langit tepat menunjukkan pergantian dari gelap ke terang, suasana seperti ini sangat Joana sukai, udaranya masih sangat sejuk walau cukup dingin, langit gelap yang pelan-pelan memudar dan berganti terang, walau perubahannya hanya dalam waktu sebentar, tapi bagi Joana itu moment yang sangat berharga, sambil menunggu sunrice. “Ada yang kau inginkan untuk sarapan?” Emily menghampiri Joana, yang terlihat tengah menikmati udara pagi itu dan menghirup udara dengan begitu tenang. “Entah, Emily. Jika ada yang aku inginkan, aku akan mengatakannya. Memang menu sarapan pagi ini apa?” Tanya Joana lagi. “Tadi Anna mengatakan jika Mister Louis menginginkan avocado scrambled eggs. Apa kau juga menginginkannya?” Tanya Emily lagi, membuat Joana terlihat berpikir. “Ya, Emily, aku juga mau, tapi selain itu aku juga ingin yang lain.” Ucap Joana, memikirkan makanan yang sejak kecil ingin sekali dia makan, sebuah menu sarapan sajian tradisional Inggris yang telah ada sejak jaman dulu, namun sayang menu itu tidak bisa ia nikmati dari kalangan sepertinya. “Apa itu, Nyonya?” “Aku ingin Full English Breakfast. Apa bisa?” Tanya Joana menatap Emily penuh harap, emosinya begitu mudah berubah saat ini, dia ingin menangis jika dia benar-benar bisa memakan itu pagi ini. Full English Breakfast adalah menu sarapan lengkap yang terdiri dari sosis, bacon, baked beans, telur mata sapi, hash brown, black pudding, jamur tumis dan tomat goreng. “Tentu Bisa, Nyonya. Saya akan mengatakan pada koki untuk membuatkannya. Ada lagi yang anda inginkan?” Tanya Emily, membuat Joana menggeleng. Lalu Emily berlalu dari sana, meninggalkan Joana yang tanpa sadar meneteskan air matanya, mengusap perutnya yang sudah terasa lapar. Saat turun ke bawah menuju ruang makan, Joana sudah mendapati Louis duduk di sana, begitu rapi dengan setelan jasnya, dia penasaran di lantai berapa kamar pria itu. Siapa maid yang menyiapkan pakaian kerjanya? Seharusnya dia kan sebagai istri yang membantunya mempersiapkan kebutuhan pria itu? Joana mengejek dirinya dalam hati, dia hanya istri di atas kertas, dan pria itu bahkan tidak menginginkannya. “Sadarkan dirimu, Joana.” Joana membatin dalam hati. “Hai,” sapa Joana membuat Louis yang tengah fokus dengan tabletnya langsung mendongak. “Hai,” balasnya dengan nada yang kelewat datar seolah tidak ikhlas membalasnya. Membuat Joana kesal dalam hati. “Kau yakin akan menghabiskan semua itu?” Louis menatapnya sanksi saat melihat ada dua piring dengan menu yang berbeda di depan Joana, Joana yang melihatnya hanya bisa tersenyum kikuk dan mengangguk. “Tentu saja, aku mudah lapar sekarang dan selera makanku meningkat.” “Bagus jika begitu.” Tanggapan dari Louis membuat Joana bersorak senang, pria itu seolah memahami pola makannya yang berubah karena kehamilannya. Dalam diamnya, Joana mengagumi karisma dan ketampanan Louis yang bisa dia lihat dalam jarak yang begitu dekat. Garis rahangnya yang sempurna dan kokoh, kulitnya yang begitu halus dan bersih. Matanya yang tajam dan bibirnya yang merekah, dengan hidung yang mancung begitu sempurna dan proporsional, seolah Tuhan memang menciptakan setiap detail dari wajah pria itu dengan sempurna. Ekspresinya yang tenang namun terlihat berbahaya menambah kesan misterius yang membuat orang semakin penasaran. Joana menelan ludahnya susah payah, menyadari betapa tampan ciptaan Tuhan di depannya kini. Tiba-tiba Louis mendongak dan menatap Joana, membuat wanita itu gelagapan dan langsung menyendokkan scrambled eggs-nya. “Mengangumiku, Nona? Atau mulai memujaku?” Louis menatapnya semakin lekat, membuat Joana langsung menggeleng dan mendelik kesal. Kenapa kepalanya berisi kekaguman pada pria itu di waktu yang tidak tepat begini. Louis lalu mengambil napkin-nya, lalu menyeka mulutnya, dan meminum air putih, menandakan dia sudah selesai dengan sarapannya. Dia terus memperhatikan Joana yang masih menghabiskan sarapannya, wanita itu terlihat memiliki selera makan yang cukup bagus. Dalam sekejap telah menghabiskan scrambled eggs-nya dan kini beralih ke full english breakfast-nya. Louis jadi teringat dengan artikel yang dia baca, mengenai perubahan mood swing juga selera makan wanita hamil yang bisa meningkat karena harus memenuhi asupan dua nyawa, dan pagi ini dia melihat hal itu ada di Joana. Entah mengapa dia menikmati bagaimana wanita itu melahap suapan demi suapan makanan yang ada di depannya, satisfying dan membuatnya yakin jika calon bayinya akan sehat dan tidak kekurangan gizi melihat napsu makan Joana. “Kau tidak mengalami morning sickness?” Tanya Louis membuat Joana menghentikan kunyahannya, entah mengapa Louis merasa bersalah untuk itu, seharusnya dia jangan mengajak wanita itu mengobrol. “Yeah, aku mengalaminya, namun tidak begitu buruk. Sepertinya doktermu sangat jenius.” Joana menggidikkan bahunya acuh lalu kembali menikmati makanannya. Louis kembali melihat Joana, memikirkan bagaimana kehidupannya dan emosinya berubah sejak kemarin. Sejak melihat dia hampir kehilangan calon bayinya. Louis tidak menyangka jika efeknya akan sedahsyat ini mempengaruhi hidupnya. Dia tidak pernah membayangkan memiliki hubungan dengan wanita, tidak pernah membayangkan dan tidak menginginkan akan memiliki anak, dan tidak pernah membiarkan emosi dan hatinya bermain peran. Namun, Tuhan seolah menunjukkan kekuasannya, mampu mengubahnya begitu mudah. Walau dia tidak pernah menginginkan adanya kehadiran anak dan sebuah hubungan rumit dengan seorang wanita, namun tetap saja, hatinya ternyata masih bekerja dengan cukup baik, hati dan perasannya mengambil peran besar untuk menekan egonya, demi menyelamatkan calon bayinya. Sesuatu yang mustahil dilakukan seorang Louis Christoper, namun hal itu kini sudah terjadi. “Kau tidak berangkat?” Joana bertanya saat melihat Louis terus menatapnya dan sebenarnya membuatnya gugup. “Setelah kau selesai.” Balas Louis, singkat dan datar seperti biasanya, namun dalam hati Joana merasa senang sekali lagi, pria itu memahami apa yang diinginkan, walau kemarin mengatakan tidak peduli. Louis menemaninya sarapan. *** Joana tengah merajut syal dengan warna dominant merah maroon, dia tadi pagi memikirkan kegiatan apa yang bisa dia lakukan selain menonton film dan bersantai. Dia sebenarnya merasa sangat bosan dan mati gaya karena tidak melakukan apapun. Padahal sebelumnya dia begitu sibuk dan mengurus dirinya sendiri, namun kini dirinya tidak memiliki pekerjaan dan memiliki pelayan yang akan melayaninya dua puluh empat jam. Perubahan ini tentu membuatnya pusing, namun dia berusaha menyesuaikan, dia ingin lebih fokus dengan kehamilannya dan melakukan yang terbaik. Dia ingat di panti asuhan dulu selalu merajut untuk anak-anak panti, syal ataupun sarung tangan untuk musim dingin, kini dia ingin melakukannya lagi, untuk membunuh bosan dan ingin memulai untuk membuat topi bayi, syal, sweater dan lainnya. Dia membayangkan bayinya nanti akan memakai buatan ibunya, pasti akan sangat hangat. Emily datang dengan membawa cemilan berupa salad buah sesuai permintaannya, lalu tanpa diminta Emily menyuapinya seolah begitu peka. “Emily,” panggil Joana, dia teringat akan sesuatu yang terus mengganjal pikirannya. “Ya?” “Aku ingat, saat aku mengalami pendarahan kemarin, aku dibawah turun menggunakan lift, dan saat keluar aku melihat ruangan serba putih dengan beberapa dokter dan perawat yang langsung siaga membawa brankar dan memberikan pertolongan padaku. Tapi aku yakin aku tidak dibawa ke rumah sakit, karena ruangan itu terasa masih satu tempat dengan mansion ini. Sepertinya di bawah tanah, tapi aku tidak yakin apa itu benar-benar rumah sakit?” Joana menatap Emily dengan kebingungannya, membuat Emily tersenyum tipis dan meletakkan mangkuk saladnya. “Mansion ini memiliki rumah sakitnya sendiri, Nyonya. Bukan rumah sakit yang besar, namun peralatannya sudah sangat canggih dan sekelas rumah sakit internasional. Dokter-dokter yang bekerja pun merupakan pilihan dari yang terbaik, dan Mister Louis sudah membayar mahal mereka. Mister Louis tidak pernah ke rumah sakit dan jika terluka akan langsung ke sana.” Penjelasan dari Emily membuat Joana menganga, dia tidak menyangka jika pria itu benar-benar memiliki kekuasaan dan kekayaan tiada tara. “Bagaimana bisa? Kenapa dia tidak pergi ke rumah sakit saja? Dan apa yang dilakukan para dokter itu juga mereka tidak memiliki pasien?” Joana masih tidak mengerti, kenapa pria itu harus memiliki rumah sakit sendiri, dan mempekerjakan dokter dengan bayaran selangit, padahal pasiennya mungkin hanya pria itu. Dan pria itu juga terlihat baik-baik saja. “Dia juga memiliki beberapa rumah sakit, yang terbesar di kota ini dan beberapa kota lain. Namun dia tidak suka keadannya terendus public apalagi dengan menggunakan fasilitas umum. Mungkin terlalu berbahaya. Dan ada pasien di sana, pasien yang sangat penting untuk Mister Louis, para dokter bekerja ekstra untuk memastikan keadaan mereka dan mempertahankan mereka untuk tetap hidup dan bisa sadar.” Penjelasan Emily selanjutnya membuat Joana bungkam, menyadari pria yang kini menjadi suaminya benar-benar misterius. “Siapa pasien itu?” “Saya tidak memiliki kapasitas untuk menjawabnya, Nyonya.” “Apakah perempuan?” Tanya Joana lagi. “Ya.” Jawaban Emily membuat hati Joana sesak, entah karena apa. Pasien perempuan yang sangat penting untuk pria itu? Apakah kekasihnya? Atau justru istrinya? Jika begitu apakah dia telah menjadi istri ke dua dan merusak rumah tangga seseorang? Memikirkan itu membuat suasana hatinya bertambah sedih. “Nyonya, maaf saya benar-benar lancang. Tidak seharusnya saya mengatakan ini. Mohon lupakan yang saya ucapkan tadi, dan jangan tanyakan apapun pada Mister Louis tentang Golden Hospital.” Emily menggenggam tangan Joana dengan tatapan memohon. Dia mengumpat dirinya yang begitu mudah terpancing dan menceritakan hal-hal yang tidak seharusnya dia ucapkan. “Aku tau, Emily. Aku tidak akan bertanya apapun padanya. Kau tenang saja.” Joana tersenyum meyakinkan pada Emily. Dalam hati membatin. ‘Jadi nama rumah sakit di bawah itu Golden Hospital?’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN